26/01/2025
Rindu itu menyeruak saat mengenang masa-masa di Pondok Pesantren, tempat saya menimba ilmu agama selama tujuh tahun. Berbekal kitab kuning, para guru kami, dengan penuh keikhlasan, membimbing kami memahami ilmu-ilmu yang menjadi bekal kehidupan dunia dan akhirat. Semoga setiap ilmu yang mereka ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya di hadapan Allah.
Salah satu tradisi yang begitu lekat di Pondok adalah Muzakarah, sebuah forum diskusi ilmiah untuk membahas problematika yang dihadapi umat. Tradisi ini menghidupkan semangat intelektual santri, sekaligus mendidik mereka memahami beragam sudut pandang ulama. Salah satu tema yang menarik yang diangkat oleh Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dalam Muzakarah kali ini adalah “Ta’addud al-Jum’ah,” atau pelaksanaan lebih dari satu shalat Jumat dalam satu desa.
Forum ini berlangsung dengan nuansa keilmuan yang kental, di mana pendapat-pendapat ulama dikaji mendalam melalui kitab-kitab kuning yang tertumpuk di meja narasumber. Kitab-kitab tersebut menjadi saksi dialog antara gagasan para ulama terdahulu dan konteks zaman yang terus berkembang. Dengan metode ini, santri diajak melihat persoalan secara komprehensif dan mendalam, melahirkan wawasan yang kaya dan terbuka.
Alhamdulillah, rasa syukur itu membuncah ketika saya kembali diberi kesempatan merasakan momen ini. Pagi itu, di hari Ahad, saya duduk bersama Abuya, Pimpinan Pondok, mengikuti Muzakarah yang membahas isu ta’addud al-jum’ah. Isu ini kerap diperbincangkan karena menyangkut dinamika umat. Berbilangnya shalat Jumat dalam satu desa bisa terjadi karena berbagai sebab: keterbatasan daya tampung masjid, konflik internal masyarakat, atau sekadar kebiasaan yang diwariskan turun-temurun.
Bagaimana pandangan para ulama terhadap fenomena ini? Kitab-kitab klasik menjadi saksi jawaban yang dirumuskan dengan hati-hati, mengakomodasi kebutuhan umat tanpa melupakan esensi syariat.
Momen ini mengingatkan saya akan betapa pentingnya menghidupkan tradisi ilmiah di tengah masyarakat. Semoga keberkahan ilmu terus menyinari langkah-langkah kita, sebagaimana cahaya hikmah yang terpancar dari diskusi para ulama.