27/12/2021
Bismillahirahmannirohiim
Masih belum bisa move on dengan KIP kemarin. Paparan kisah narsumnya terlalu mempesona, sayang jika tidak diikat dengan tulisan. Sangat menginspirasi ❤️
Kali ini mau nulis insight dari paparan materi dari salah satu narasumber KIP, yaitu ibu Sri Haryati. Banyak kisah yang beliau ceritakan, namun saya hanya ingin mengangkat satu hal yang paling penting dan berharga untuk pengingat diri saya sendiri.
Meskipun satu kalimat, maknanya sangat dalam maknanya buat saya, yang artinya bisa jadi menurut orang lain biasa aja, wajar ya karena fokus kita berbeda.
Ibu Sri mengingatkan life spend seorang manusia. Dari awal sendiri, kemudian berpasangan, memiliki anak, dan ketika anak makin besar, mereka akan meninggalkan kita, ntah karena urusan sekolah atau menikah. Tinggallah kita hanya dengan pasangan. Kemudian menua, dan salah satunya akan meninggal, kembali kita seorang diri lagi.
Dalam perjalanannya, akan ditemui ketidaksingkronan antara ekspektasi diri dengan kebutuhan anak maupun keluarga. Oleh karena itu, butuh skill yang memadai untuk menjalani semua peran tersebut, mangkanya Ibu Sri mengingatkan pentingnya wanita memiliki well educated, agar bisa merancang kurikulum kehidupan untuk dirinya, pasangan, dan keluarga.
Ada kesamaan ibu sri dengan saya, yaitu s**a merenung, seneng mikir, mencari tahu mengapa saya dihadapkan dengan situasi yang saya alami saat ini. Ternyata menurut beliau itu salah satu cara memelihara intellectual curiosity.
Ibu Sri mengajak kami berefleksi dengan merasakan betapa Allah itu sayang kita. Allah membuat kita bergerak, menjalani tugas kehidupan. Allah sudah pantik potensi dalam diri kita, Allah sudah kasih bekal agar kita mampu menghadapi segala ujian kehidupan. Tidak ada yang salah dengan kehidupan yang tengah kita jalani. Ayat-ayat (petunjuk) Allah sudah berserakan. Tinggal kitanya peka atau tidak untuk menemukan titik balik dan bangkit menjadi lebih baik.
Saya merenung lebih dalam, merefleksikan dengan kehidupan yang tengah saya jalani. Ok, kalau dengan suami, banyak pemakluman yang kadang membuat saya merasa "baik-baik" saja. Tapi tidak untuk anak, Alhamdulillah Umar cerdas, disamping itu keras