26/10/2024
Palgunadi sang otodidak
Otodidak berarti belajar sendiri tanpa bimbingan dan dorongan dari pihak luar. Orang yang belajar otodidak biasanya akan bergelut dalam bidang tertentu, seperti seni, sastra, arsitektur, dan kerajinan tangan.
Dalam kisah pewayangan, wayang purwo Bambang Ekalaya / Palgunadi merupakan tokoh yang memiliki semangat belajar mandiri "swadidik" tak terbatas. Sesuai dengan namanya Ekalaya (sansekerta = Ekalavya secara harfiah berarti "ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu/mata pelajaran.")
Dikisahkan ia sangat ingin menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Keinginan tersebut membuat ia ingin berguru kepada Begawan/Resi/ Guru Drona, akan tetapi keingiannya menjadi murid sang resi ditolak. Alasan Sang Resi menolaknya adalah sudah memiliki perjanjian hanya menerima murid dari keturunan Baratha/ Dinasti Kuru (Pandawa dan Kurawa) Penolakan dari sang guru idolanya tidak menyurutkan keinginannya untuk menjadi pemanah terbaik di dunia, maka segera ia membangun visual sang Guru Drona (Patung Sang Guru Drona) dari tanah lumpur bekas pijakan kaki sang guru. Semangat belajarnaya bangkit ketika ia melihat dan memperlakukan patung itu seolah benar-benar pribadi Drona sebagai Guru virtualnya, seolah-olah ia berlatih benar-benar dihadapan sang guru.
Suatu saat dalam momen berburu antara pandawa dan Kurawa Bambang Ekalaya medengar suara anjing yang terus menerus menggonggong dan ia melepaskan panahnya dan panah-panah itu berhasil menyumpal mulut anjing sehingga tidak lagi bisa menggonggong, namun panah-panah tersebut tidak membuat sang anjing mati. keahllian panahan seperti itu hanya dimiliki oleh Arjuna murit kesayangan Guru Drona, maka semua peserta mencari cari sang pemanah hingga diketahui bahwa yang memanah anjing itu adalah Bambang ekalaya (palgunadi), ketika ditanya siapa gurunya, maka jawabnya adalah Guru Drona. mendengar jawaban itu marahlah sang Drona, karena sejak awal sang Guru menolaknya menjadi murid dan tidak pernah ia mengajarinya.
Mengetahui kegundahan Arjuna bahwa ada orang lain yang bisa memiliki kehalian yang sama dengannya, Sang Guru Drona membuat permintaan kepada Ekalaya, jika mau diakui sebagai murid maka ia harus mempersembahkan guru-daksina (persembahan paling berarti sebagai ucapan terima kasih kepada sang guru, bahwa ia telah selesai menempuh pendidikan. Meskipun dian tahu ketika memtong jrmpol kanannya akan membuat kemapuan memanahnya akan berkurang, ia tetap mempersembahkan jempol kanannya sebagai hadiah yang paling berharga kepada Sang Drona. dengan demikian Sang Drona bisa menepati janji kepada Arjuna bahwa hanya Arjuna adalah pemanah terhebat di dunia.
Terlepas upaya Drona menjegal dan memperdaya Ekalaya sehingga menjadi pemanah terbaik dunia. Bambang Ekalaya telah terbukti memiliki kemampuan yang melebihi murid resmi Drona (Arjuna) Terbukti ketika Arjuna mencari-cari kesempatan untuk bertanding dengan Ekalaya dinyatakan arjuna kalah dan meningal dunia.
Tanpa Arjuna kisah perang mahabaratha tidak akan terjadi, karenanya Arjuna dihidupkan kembali oleh Sang Kresna/ Krisna. kemudian Kresna menyelinap dibalik patung guru drona dan membuat seolah-olah patun g itu hidup dan meminta cincin ampal yang tersemat dijari jemari sang Ekalaya, begitu cincin terlepas dari jari maka terlepas juga nyawa sang Ekalaya.
Mengabaikan bagaimana liciknya orang disekitar dan berada dijaman apa kita berada saat ini. Penting bagi kita untuk terus belajar mengembangkan diri kita, menumbuhkan potensi diri. kita harus bisa memiliki sikap tulus seperti merpati, namun tetap harus cerdik seperti ular. Sikap Tulus diperlukan dalam meraih mimpi dan keingian tulus semata-mata untuk kemulian Tuhan, sikap ini membuat diri kita berupaya dan iklas melakukan yang terbaik yang kita miliki sepenuh kemampuan kita. Tidak hanya tulus, namun juga harus memiliki sikap cerdik seperti ular. Cerdik disini tidak sama artinya dengan licik, cerdik diartikan pintar cepat mengerti tentang situasi, dan pandai mencari pemecahannya.
Jika Sang Bambang mau mengembangkan sikap cerdiknya, mampu menganalisa dengan pikiran sehat bagaimana seorang guru bisa meminta jempol tangannya yang merupakan komponen utama keahliannya maka ia akan menjadi pemanah yang terbaik. Jika Sang Ekalaya tidak mengabaikan akal sehatnya bagaimanamungkin patung berbicara maka ia tidak akan kehilangan nyawanya.
Namun semua yang ada di dunia ini adalah kembali kepada sang pencipta. Sebagai apa engkau dicipta sang penjunan, maka berfungsilah sebagaimana tujuan yang ditetapkan penciptamu. Itulah kepenuhanmu dinyatakan didalam hidupmu.
Bambang Ekalaya menginpirasi kita walau belajar secara otodidak sebagi inspirasi bahwa hasilnya bisa melebihi orang yang memiliki fasilitas yang serba mendukung. Tetap semangat
tetap belajar. tetap tulus seperti merpati, tetaplah cerdik juga, pandai-panadilah melihat musim hidupmu.
Tuhan memberkati.