09/05/2021
akhirnya viral
$AF (Pengasuh PPM Alfatih Klaten)
Puasa Ramadhan itu hidangan istimewa. Lezat bagi jiwa, bukan untuk raga. Menu spesial dari dzat yang serba maha. Hanya disuguhkan untuk kaum beriman.
Jangankan orang-orang kafir, kaum munafikin tak akan diizinkan oleh Allah swt untuk menikmati lezatnya ibadah di bulan suci ini. Maka tak perlu heran jika kita masih saja menemukan sebagian orang yang mengaku muslim namun dengan santainya tak mau berpuasa.
Puasa Ramadhan itu tak hanya menghanguskan dosa namun juga menyingkap tabir kemunafikan.
Yang asli akan makin menawan, sedangkan yang palsu akan ketahuan. Yang murni akan makin mengkilap, sementara yang imitasi akan tersingkap. Dan Allah swt selalu memiliki cara yang tak terduga.
Mempopulerkan makanan khas Nusantara sebagai kekayaan Indonesia adalah tindakan mulia, tapi meng-endorse makanan haram di bulan mulia adalah tindakan kurang etika. Apalagi jika disarankan untuk dikonsumsi di hari raya Iedul Fitri yang menjadi hari raya umat Islam sedunia.
Itulah cara Allah swt yang tak terduga. Apa yang tersimpan di hati dan otak akan keluar melalui kata-kata.
Bagaimana bisa seorang kepala negara muslim terbesar di dunia tidak peka dengan konsep halal haram yang merupakan aksioma dalam agama?
Jika yang keseleo lidah seperti ini bukan seorang kepala negara maka tak terlalu jadi persoalan. Tapi bagi seorang kepala negara, hal ini memalukan karena setiap kata yang meluncur dari lidah kepala negara akan dicatat oleh media, dalam dan luar negeri. Dan pastinya akan didokumentasikan oleh negara.
Seorang kepala negara tak boleh salah ucap, maka dia dibantu oleh juru bicara dan tim komunikasi yang digaji oleh negara. Setiap kata-katanya harus disusun sebaik dan setepat mungkin, bahkan dituliskan dengan ejaan yang paling sempurna.
Apakah beliau tidak memahami bahwa puasa selama satu bulan ini adalah sebuah pendidikan dari Allah swt agar kita mampu membatasi diri dari hal-hal yang halal. Jika makanan dan minuman yang halal saja mampu kita hindari dan kita batasi, apalagi makanan dan minuman yang haram.
Lagi p**a, tradisi lebaran itu bukan soal kulineran belaka namun soal perjumpaan keluarga yang penuh getaran emosional yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bukan sekedar soal makan bersama, namun soal penguatan jalinan silaturrahim antar anggota keluarga.
Ada p**a yang menyarankan; daripada mudik menghabiskan sekian banyak biaya lebih baik uangnya ditransfer untuk keluarga di kampung halaman.
Eh, tong sejak kapan umat Islam kamu ajari cara hidup yang materialistis ala barat seperti ini? Hidup yang diukur hanya dengan waktu dan uang. Hidup yang hanya berkisar seputar materi dan dollar.
Orang tua dan sanak saudara di kampung lebih menanti kehadiran kita daripada uang kita. Itulah watak asli orang Indonesia. Watak mulia yang tak silau dengan dunia.
Bahkan kadang sebagian kita membawa kembali berbagai oleh-oleh dari orang tua yang lebih banyak nilainya daripada yang dia bawa untuk hadiah orangtuanya. Dan orang tua tetap bahagia karena bisa jumpa dengan anak-anak dan cucu-cucunya.
Itulah makna mudik bagi orang Indonesia. Siapa saja yang tak mampu menyelami jiwa umat Islam Indonesia maka boleh diragukan keindonesiaannya dan yang tak peka dengan halal haram maka patut diragukan keislamannya.