Bukan Aku Yang Mandul

Bukan Aku Yang Mandul Membaca kisah menarik

Ternyata bos baru yang datang itu mantan yang dulu Aku tinggalkan dengan cara menyakitkan. Dia maksa ngajak balikan pada...
14/05/2025

Ternyata bos baru yang datang itu mantan yang dulu Aku tinggalkan dengan cara menyakitkan. Dia maksa ngajak balikan padahal kami sudah punya pasangan masing-masing dan akan segera menikah. Dia mau balas dendam apa memang masih sayang?

AWAS ADA MANTAN
BY ENACASSIE
"B R E N_G S E K!!!" makinya kala itu.
Aku tidak sempat bereaksi ketika Devan menarlkku menjauh dari Andre. Lalu tanpa pikir panjang, dia mel aya ngkan tlnj unya ke wa j ah Andre.

Aku menjerlt. "Devan, hentikan!"

Andre sama sekali tidak melawan. Dia hanya menerima puk uIan demi puk uIan dengan pasrah.

"Devan! Andre bisa m a t I jika kamu terus mengh ajarnya seperti ini!" Aku mem eluk tub uh Devan dari belakang, mencoba menghentikannya.

Devan akhirnya berhenti. Tapi dia mend orongku hingga aku terj atuh ke lantai.

Aku mera ngkak mendekati Andre. Wajahnya penuh leba m dan d a rah mengalir dari sudut bibirnya.

"Maaf…," gumamku, tanganku gemetar saat menyentuh waj ahnya yang pen uh l u ka.

Devan menatap kami dengan tatapan penuh kema rahan dan penghi naan. Dia mence ngkram kepal anya dengan frus tasi.

"Tadinya aku tidak percaya dengan apa yang mama bilang tentangmu," teriaknya. "Tapi melihat kalian seperti ini...!"

Dia mengg eram m arah, lalu berbalik pergi.

Aku melihatnya mengusap kasar p**inya.

Dia menangis.

Hatiku semakin ha ncur.

Aku kembali men angis sejadi-jadinya.

Andre bangkit perlahan, mengusap d a r ah di biblrnya.

"Selamat. Rencanamu berhasil," katanya lirih. "Sekarang dia sudah sangat terl uka. Dan pastinya, dia akan memb enci kita."

"Maaf, Andre...."

Aku mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan lu,-ka-luk-anya. Tanganku gemetar, hatiku terasa seperti dir emas. Aku ingin meminta maaf ribuan kali, meski aku tahu itu tidak akan cukup.

Andre menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"L uka di wajahku ini tidak seberapa sa kitnya," katanya pelan. "Dibandingkan dengan lu ka di hatinya."

Aku menunduk.

Aku sadar, aku telah memilih jalan yang paling menyak itkan.

Tapi untuk saat ini, aku tidak punya pilihan lain.

Setelah kejadian itu, kami tidak pernah berjumpa lagi. Aku pun berubah menjadi manusia yang antisosial. Menyendiri dan tidak punya akun media sosial sekalipun. Lalu pindah ke kota besar lain dan meniti karir selama enam tahun di sini. Baru satu tahun aku merasa hariku bisa lebih baik dan mulai membuka diri. Sampai akhirnya tujuh bulan lalu aku akhirnya menerima cinta Melvin yang selama ini gigih mengejarku sampai dia rela pindah dari apartemen nyamannya dan pilih tinggal di kos-kosan yang sama denganku.

Kini, dia kembali. Bagaimana aku harus bereaksi?

Seharian ini aku jadi tidak fokus dan sering melamun. Semua gara-gara Sinta yang membuatku jadi mengingat kenangan lama yang selama ini ma ti-ma tian aku kubur. Mana hari ini Melvin mendadak lembur. Dia sibuk, aku jadi kesepian dan terus-terusan kepikiran dengan masa lalu menya kitkan itu sampai ketiduran.

Tiba-tiba, saat ini Devan sedang berdiri di hadapanku. Dia menatapku dengan tatapan kosong. Matanya sendu penuh dengan kesedihan.

Tidak ada lagi mata coklat yang selalu berbinar tiap kali menatapku.

Tidak ada lagi senyum mengg oda yang selalu bisa membuatku berbunga-bunga.

"Devan, maafkan aku," bisikku lirih sambil meraih pria yang begitu kurindukan itu.

Namun, dia menggeleng. Tatapannya kosong, dingin, penuh I uka. Aku bisa merasakan tub uhnya menegang saat aku meny entuhnya, lalu dengan kasar, dia menep is tanganku.

Aku tercekat.

Lalu tiba-tiba, wanita itu datang. Elisa. Wanita yang selalu membuat segalanya menjadi lebih buruk bagiku. Dia melangkah ringan, tanpa ragu, lalu me m eluk lengan Devan dengan posesif. Seolah-olah, dia yang memiliki pria itu dan seolah-olah aku ini hanya bayang-bayang tak berarti.

Tidak…

Aku ingin meraih Devan lagi, ingin bert eriak agar dia menoleh padaku, agar dia tahu aku ada di sini, masih di sini menunggunya kembali. Tapi tubuhku kaku, lidahku mendadak kelu.

Mereka pergi.

Aku melihatnya, bagaimana Elisa membawa Devan menjauh dariku. Aku mencoba mengejar, tapi kakiku berat. Langkah mereka semakin cepat, semakin jauh sampai tak terlihat lagi.

"DEVAN!!!"

Teriakanku menggema, menggu ncang seluruh ruang kosong di sekitarku. Tapi tidak ada yang berubah. Dia tidak mendengarku.

Dan1 tiba-tiba, segalanya menghilang.

Gelap.

Aku sendirian di dalam kegelapan.

Aku terbangun dengan nafas tersengal. Dada ini terasa sesak, keringat dingin membanjiri keningku. Aku masih bisa merasakan kepedihan dari mimpi itu, seolah-olah semuanya nyata.

Aku menatap sekeliling. Lampu tidur di meja nakas masih menyala temaram. Perlahan, aku mencoba menggerakkan tubuhku, tapi….

"Apa ini? Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan dan rasanya beneran sesak sungguhan?”

Aku mencoba mengangkat tanganku, tapi rasanya ada sesuatu yang berat menahan perutku.

"Nghhh…"

Sebuah len guhan pelan terdengar dari belakangku.

Aku membeku.

Itu suara seseorang.

Panik, aku menoleh perlahan.

Jantungku nyaris berhenti.

“Melvin?” desisku kesal.

Dia ada di belakangku. Ternyata dialah yang membuatku merasa sesak. Dia tertidur dengan nafas teratur, wajahnya damai, dan tangannya… tangannya melingkar di pinggangku dengan erat. Rupanya ini sumbernya, yang membuatku sesak dan terasa terbelenggu secara nyata.

Melvin bergerak sedikit, nafasnya yang panas sangat terasa di teng kukku. Lalu hidung bangirnya men ye ntuh bagian belakang teli ngaku. Membuatku beraksi dan sontak berte riak.

Tunggu! Bukannya barusan aku juga meneriakan nama Devan? M a t I Aku!

Judul : Awas Ada Mantan
Penulis : EnaCassie

Baca cerita lengkapnya di aplikasi KBM.

Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/424f8a17-dffd-4632-b6e6-0bb7023d8339

"Bun, itu ayah. Itu ayah!" Aku yang sedang menemani Ilham bermain di sebuah mall, langsung terperanjat mendengar celoteh...
15/01/2025

"Bun, itu ayah. Itu ayah!" Aku yang sedang menemani Ilham bermain di sebuah mall, langsung terperanjat mendengar celotehan riang Ilham dengan tangan yang menunjuk ke sebuah wahana permainan. Suara anakku itu terdengar begitu antusias saat menunjuk ke sosok lelaki yang berdiri tak jauh dariku dan Ilham. Aku men4jamkan penglihatan. Ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang dilihat Ilham itu adalah ayahnya yang juga suamiku. Benar saja, setelah menelisik hanya dalam beberapa detik, aku bisa memastikan bahwa itu adalah Mas Hilman, suamiku. Terlihat dari baju yang dikenakannya saat berangkat pagi tadi.

Tapi tunggu. Siapa wanita yang berdiri di sebelahnya? Mereka berdua terlihat begitu akrab dan sesekali saling melemp4r senyum. Tiba-tiba saja, seorang anak perempuan yang usianya tak jauh beda dengan Ilham, menghampiri Mas Hilman dan memelvk kakinya sambil tersenyum riang. Nampak sekali anak perempuan berambut panjang itu sudah cukup dekat dengan Mas Hilman. Siapa sebenarnya wanita dan anak kecil itu? Aku tak bisa dengan jelas menangkap wajahnya karena terhalang beberapa orang yang hilir mudik di sekitar mereka.

Tiba-tiba saja aku mengingat peristiwa tadi pagi. Di mana hari ini Mas Hilman berjanji untuk mengajakku dan Ilham berenang ke sebuah water boom yang baru saja buka. Kesibukan Mas Hilman karena pekerjaannya, membuat ia kesulitan mencari waktu sekedar untuk menemaniku dan anaknya untuk sekedar jalan-jalan di hari minggu.

"Sayang, maafkan Mas, ya. Sepertinya rencana kita liburan hari ini harus ditunda lagi," ucap Mas Hilman saat aku tengah menyiapkan sarapan.

Aku langsung menengadah dan menatap matanya. "Lho, kenapa, Mas? Kasian Ilham. Dia udah nungguin hari ini dengan antusias." Aku berusaha proses atas tertundanya liburan yang sekian kalinya.

"Barusan Mas dapat telepon. Mas diminta untuk datang ke swalayan. Ada hal yang penting yang tak bisa ditunda," jawabnya dengan raut wajah yang tak biasa.

"Tak bisakah Mas meluangkan waktu sehari ini saja? Minggu kemarin Mas ke luar kota. Minggu yang lalu pun tiba-tiba Mas ada keperluan. Padahal minggu ini Mas sudah janji mau menemani Ilham." Aku bertutur dengan wajah memelas. Meminta sedikit saja waktunya di hari yang seharusnya libur ini.

"Mas minta maaf, Dek. Tapi Mas kerja juga kan buat kamu sama Ilham. Gak enak kalau Mas menolak," sahutnya.

Aku hanya bisa menghela napas pelan. Jika sudah seperti ini, dibujuk seperti apapun, dia tak akan mungkin mengurungkan pekerjaannya. Rasa kecewa membuat dadaku kian sesak. Terlintas bayangan senyum ceria Ilham sebelum tidur semalam. "Malam ini Ilham mau cepat-cepat bobo. Kan besok kita mau berenang sama ayah," tuturnya sembari membaringkan badannya di atas kasur bermotif robot tersebut. Kedua sudut b1birnya masih melengkungkan senyuman kebahagiaan sampai matanya benar-benar terpejam.

Tak bisa kubayangkan wajah sedih dan kecewa Ilham saat mengetahui kalau ayahnya kembali mengingkari janji untuk membawanya berenang dan menemaninya liburan akhir pekan.

Benar saja, saat bangun tidur, hal yang pertama kali ditanyakan Ilham adalah keberadaan ayahnya. Hatiku tiba-tiba gerimis melihat mata Ilham yang berbinar saat menanyakan ayahnya itu. Aku pun berjongkok untuk mensejahterakan wajahku dengan anak berusia empat tahun tersebut.

"Sayang, maafin ayah, ya. Ayah ada pekerjaan. Dia terpaksa harus berangkat pagi-pagi." Aku membingkai kedua p**i Ilham dengan tanganku sambil menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Namun, kilatan kesedihan langsung terpancar dari kedua netra hitamnya. Bahkan kaca-kaca langsung terlihat jelas di manik matanya.

"Ilham gak jadi berenang lagi ya, Bun?" tanyanya dengan lesu. Kepalanya menunduk seolah menyembunyikan kesedihan yang mendalam.

"Gimana kalau kita jalan-jalan berdua ke m4ll? Nanti Ilham bisa bermain di arena bermain anak. Sambil beli es krim. Mau?" Aku memberikan penawaran sebagai pengobat hatinya. Berusaha menampilkan wajah seceria mungkin.

"Gak sama ayah ya, Bun?" Ilham kembali bertanya.

"Kalau pekerjaan ayah sudah selesai, nanti Bunda minta ayah nyusul. Gimana?" Aku bertutur seceria mungkin meski aku tak yakin Mas Hilman akan menyusul kami.

"H**e ...!" Ilham berjingkrak kegirangan. "Mau, Bun. Mau!" lanjutnya antusias.

Sebelum berangkat ke mall, aku sempat menelepon Mas Hilman dengan maksud ingin memintanya menyusulku dan Ilham. Namun, panggilan teleponku justru ditolak dan sesaat kemudian sebuah pesan masuk layar ponselku.

[Aku lagi sibuk. Nanti aku hubungi lagi] pesannya. Aku hanya bisa menghela napas berat setelah membacanya, kemudian memasukkan kembali gawai milikku ke dalam tas.

Tak dinyana, kepergianku dan Ilham ke m4ll, justru mempertemukan aku dengan Mas Hilman yang pamit untuk bekerja pagi tadi.

"Bun, Bunda! Ayo kita samperin ayah!" Tiba-tiba saja Ilham menar1k tanganku. Membuat lamunanku tentang peristiwa tadi pagi hilang dari ingatan.

Kakiku melangkah pelan mengikuti kaki mungil Ilham yang berjalan hendak menghampiri Mas Hilman. Ilham nampak antusias. Terlihat dari larinya yang semakin kencang. Semakin dekat, jantungku justru terasa semakin berlompatan. Dadaku naik turun menahan emosi yang tiba-tiba meletup dalam hati. Apalagi saat melihat tangan wanita yang ada di sampingnya itu mendarat cantik di pundak Mas Hilman. Hingga akhirnya, aku dan Ilham tiba tepat di belakang Mas Hilman berdiri.

"Ayah ...!" Ilham langsung menghambur memelvk ayahnya itu. Sementara aku masih berdiri di belakang sembari berusaha mengatur debaran jantungku yang semakin tak beraturan.

"Loh, Ilham," tuturnya sambil menunduk menatap anak laki-lakinya tersebut. Nada terkejut begitu terdengar jelas dari suaranya. "Sama siapa, Nak?" lanjutnya sembari mengedarkan pandangan. Dan saat ia berbalik, aku bisa menangkap raut wajah terkejut bercampur grogi saat ia melihat keberadaanku.

"Za-Zara," tuturnya tergagap. Bahkan tangan wanita yang masih bertengger di pundaknya ia turunkan dengan kas4r.

Mata wanita yang berdiri di sampingnya pun membulat sempurna menatapku. Seolah melihat hantu di siang bolong. Ya, sekarang aku mengenali wanita itu. Dia adalah Mbak Anita. Sahabat suamiku. Tapi setahuku, Mbak Anita tinggal di luar kota. Entah kenapa sekarang dia bisa ada di sini. Apa mungkin mereka sudah janjian sebelumnya? Hingga Mas Hilman berani membohongiku demi bertemu dengan wanita yang selalu diutamakannya itu.

"Sedang apa di sini, Mas?" tanyaku setenang mungkin. Meski dadaku terasa bergemuruh dan hampir meled4k.

"Mas lagi ... lagi—." Mas Hilman nampak kebingungan mencari alasan. Hingga ia tak bisa melanjutkan perkataannya. Matanya bahkan tak berani menatapku.

"Oh, jadi ini yang Mas bilang ada pekerjaan penting!" Aku menatap mata Mas Hilman taj4m. Suaraku bergetar menahan gejolak emosi yang menggelegak dalam dada. Pun rasa sakit yang begitu menggerogoti hati yang tak bisa kutahan lagi.

"Kamu jangan salah paham, Sayang. Mas juga belum lama di sini." Mas Hilman mencoba memegang tanganku, namun aku langsung menepisnya.

"Bener kata Mas Hilman, Ra. Dia belum lama datang ke sini. Tadi aku menelponnya dan memintanya untuk menemaniku dan Nisya jalan-jalan. Maklum, aku baru pindah lagi ke sini. Jadi, masih agak risih kalau bepergian sendirian." Mbak Anita ikut menjelaskan, padahal, aku sama sekali tak bertanya padanya. Dia bahkan masih bisa tersenyum meski tipis. Sama sekali tak menunjukkan raut wajah bersalah apalagi meminta maaf padaku yang notabene adalah istri Mas Hilman.

"Oh, jadi Mas Hilman bisa meluangkan waktunya untuk menemanimu dan anakmu jalan-jalan? Sedangkan untukku dan anaknya sendiri gak punya waktu. Padahal, Mas Hilman itu suamiku, bukan suamimu!" Aku berkata dengan nada sin1s. Tak dapat lagi kutahan s4yatan demi s4yatan yang membuat hatiku seakan berd4rah-d4rah.

Sudah tamat di KBM app
Judul SUAMIKU BUKAN SUAMIMU
Penulis Siska_ayu
Link KBM app
https://read.kbm.id/book/detail/c488bc4c-b64c-4db5-b4a5-8270d14fbef3

Judul: Berlian Yang TerbuangPenulis: Wati 01Aplikasi: KBM Hari pertama Intan bekerja langsung ditinggal sendiri, bu Arim...
21/10/2024

Judul: Berlian Yang Terbuang
Penulis: Wati 01
Aplikasi: KBM

Hari pertama Intan bekerja langsung ditinggal sendiri, bu Arimbi berangkat kerja setelah Langit bangun. Beliau pun memberi pengertian pada putra bungsunya tentang Intan. Langit sepertinya tidak keberatan dengan kehadiran Intan. Dia terlihat senang, mungkin dia pikir Intan adalah teman barunya.

Setelah bu Arimbi pergi, Intan segera mengajak Langit mandi. Itu sesuai arahan Bu Arimbi tadi. Tidak sulit mengajak Langit mandi. Dia bersorak gembira ketika berendam di bak mandinya. Apalagi dengan bebek karet mainannya. Intan ikut tertawa melihat Langit yang tertawa sambil memukul-mukul air dalam bak. Baju Intan ikut basah karena perbuatan Langit itu.

"Dek, jangan begitu. Lihatlah baju mbak jadi basah!" kata Intan yang mencoba menghentikan Langit dengan memegang kedua tangan bocah kecil itu.

Langit terdiam menatap Intan kemudian matanya mulai berkaca-kaca. Dia mulai menangis, terlihat dari wajah yang tampak kecewa dan bibirnya yang ditarik kebawah.

"Maaf, maafkan mbak Intan ya!" ucap Intan seketika. Dia mencoba memegang tubuh Langit, tetapi Langit menghindar.

"Maaf ya sayang. Mandinya sudah ya?" bujuk Intan kembali. "Nanti setelah mandi kita makan sambil lihat TV!" ucap Intan kembali.

Tapi Langit malah terisak pelan. Air matanya pun turun membasahi p**inya. Intan mulai ketakutan, dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan anak kecil yang sedang merajuk.

"Adik jangan nangis. Mbak Intan minta maaf, mbak Intan salah pada Langit!" ucap Intan yang mengiba pada Langit.

Langit belum bisa bicara dengan lancar, tapi dia sudah bisa berjalan dengan baik. Intan beranjak untuk mengambil handuk, dia tidak menyerah untuk membujuk Langit.

"Ayo, mbak gend**g. Mandinya sudah ya ini airnya sudah dingin!" ucap Intan. Akan tetapi, Langit malah membuang muka.

"Mbak Intan punya cerita seru tentang dinosaurus. Langit mau dengar tidak?" bujuk Intan karena kemarin dia melihat Langit bermain dengan miniatur dinosaurus.

Usaha Intan sepertinya berhasil. Langit langsung melihat Intan di depannya.

"Dinouyus?" ucap Langit memastikan.

Intan tersenyum melihat usahanya berhasil, "Iya. Dinosaurus," ucap Intan sambil mengangguk.

Senyum di bibir Langit pun merekah, dia segera berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Intan segera melingkarkan handuk ke tubuh Langit. Setelah itu dia mengangkat dan menggend**g Langit ke kamar kakaknya untuk memakaikan baju. Intan tidak berani masuk ke kamar utama meski Bu Arimbi memberi izin.

Intan pun bercerita tentang hewan purba sambil mendandani bocah laki-laki itu. Langit sangat antusias mendengar cerita Intan. Dia menuruti semua ucapan Intan. Tak perlu waktu lama untuk membuat Langit menjadi tampan dan harum.

"Yeee sudah selesai. Sekarang waktunya makan!" ucap Intan kegirangan karena berhasil mendandani Langit dengan baik. Intan segera menggend**g bocah kecil itu. Tak lupa dia mencium p**i gembul putra bungsu Bu Arimbi.

"Dinohyus agi!" ucap Langit karena Intan sudah tidak bercerita tentang dinosaurus.

"Nanti lagi ceritanya. Sekarang makan dulu. Oke?" ucap Intan sambil menurunkan Langit ketika berada di dapur.

Langit menggeleng mendengar perkataan Intan, "Angit mo dinouyus agi!" ucapnya.

Intan segera mengambilkan makanan untuk Langit. Dia mendengar Langit yang protes, tetapi Intan membiarkannya. Baru setelah selesai mengambil makanan, dia menggandeng tangan bocah itu untuk diajak ke depan. Intan berhenti di ruang keluarga tempat Bu Arimbi menyimpan mainan Langit.

"Ayo kita makan sambil bermain dinosaurus?" ajak Intan.

Dengan semangat lelaki kecil itu mengambil mainan dinosaurusnya. Intan mulai menyuapi Langit yang sedang asyik bermain. Tak lupa dia pun ikut bermain bersama dan sesekali bercerita tentang hewan purba itu.

Menjelang tengah hari, Langit baru tertidur. Setelah sarapan tadi dia sibuk bermain. Apalagi sekarang dia punya teman baru yang selalu menceritakan tentang dinosaurus kesayangannya. Setelah Langit tidur, Intan mulai membereskan dapur dan tempat mainan Langit. Bu Arimbi tidak menyuruh Intan untuk membersihkan seluruh rumah. Hanya dapur yang tadi belum sempat beliau bersihkan setelah memasak.

Langit masih tertidur dan pekerjaan rumah telah selesai, Intan istirahat sambil duduk di atas ranjang disamping Langit. Intan mulai memainkan ponselnya. Banyak pesan yang belum sempat dia baca. Sejak malam terakhir dia bertemu Andika, Intan tidak memeriksa ponselnya. Dia membaca pesan dari teman-temannya yang mayoritas menanyakan keberadaannya. Intan hanya membaca tanpa membalas pesan-pesan itu. Bukannya dia sombong, dia hanya ingin fokus pada pekerjaannya, pada dirinya yang sekarang. Dia tidak mau dikasihani karena keadaannya yang terpuruk.

Jam menunjukkan pukul 15.18. Langit mulai membuka mata. Dia meregangkan otot-ototnya lalu menatap Intan yang fokus dengan ponselnya.

"Ica ... Ica!" ucapnya memanggil Intan.

Intan yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh ke arah bocah kecil itu, "Halo sayang!" sapa Intan sambil tersenyum ke arah lelaki yang memanggil namanya.

Langit hanya tersenyum lalu merangkak naik ke pangkuan Intan . Dia meraih ponsel Intan dan memperhatikan layar hp itu, "Dinouyus?" tanya Langit sambil mend**gak menatap Intan.

"Langit mau dinosaurus?" tanya Intan untuk memastikan keinginan Langit.

Langit langsung mengangguk, "Iya. Angit mo dinouyus," ucap Langit.

"Baiklah, tetapi sebentar ya? Karena Langit harus mandi. Mama dan Papa akan segera pulang. Kak Surya juga!"

Langit hanya mengangguk mengiyakan ucapan pengasuhnya. Yang penting baginya bisa melihat dinosaurus yang ia gemari.

Bu Arimbi datang saat Intan telah selesai memandikan Langit. Bu Arimbi membiarkan Intan mendandani putranya. Beliau membereskan rumah saat Intan bersama Langit. Setelah tugas Intan selesai, Bu Arimbi mengizinkan Intan untuk pulang.

Intan berjalan dengan perasaan lega karena hari pertama sebagai baby sitter berjalan lancar walau tadi Langit sempat merajuk. Dia berjalan dengan sesekali menyapa orang yang dia temui di jalan.

Tin tin tin.

Intan berjalan lebih menepi tanpa menoleh ke belakang saat terdengar suara klakson.

"Kak Intan!" teriak pengendara motor itu.

Dengan sigap Intan langsung menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.

"Maya?" ucap Intan tidak percaya.

"Kakak kok tidak berhenti malah jalan semakin cepat!" ucap Maya saat berhenti didepan Intan.

"Maaf, May. Kakak tidak menyangka kalau itu tadi kamu," kata Intan beralasan.

"Ih ... kakak!" ucap Maya merajuk dengan memonyongkan bibirnya.

"Aduh bibirnya itu lo!" goda Intan. "Bisa lebih maju lagi, biar sekalian dikuncir," lanjut Intan.

"Kak Intan ah!" ucap Maya sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang merajuk. "Kakak ini benar-benar seperti Mas Reza. Adiknya ngambek tidak dirayu malah semakin digoda!" lanjut Maya dengan kesal.

Intan terkekeh melihat tingkah Maya. Bagi Intan, Maya sangat lucu saat merajuk seperti ini. Dia tidak punya saudara jadi selama ini tidak ada yang diajak bercanda. Tetapi sekarang dia punya adik yang bisa digoda setiap saat.

"Maaf Cantik, aku 'kan belum hafal dengan orang di daerah sini jadi tadi tidak merespon kode darimu," kata Intan menjelaskan sambil mencolek p**i adik kandung Reza tersebut.

"Kalau manyun terus cantiknya luntur lo!" goda Intan lagi.

"Iya. Untuk hari ini dimaafkan," ucap Maya. Intan tersenyum, dia tahu kalau Maya tadi hanya bercanda saat merajuk.

"Ayo pulang, kasihan ibu menunggu!" lanjut Maya.

"Jadi ibu yang menyuruhmu untuk menjemput kakak?" tanya Intan penasaran.

"Iya, Kak. Ibu khawatir kalau kakak lupa jalan pulang," jawab Maya yang sekarang ganti menjahili Intan.

"Apaan? Memang aku anak kecil?" jawab Intan kesal.

Maya tersenyum nakal, "Bonceng?" kata Maya sambil menyerahkan kunci motornya.

Intan menerima kunci itu dan langsung menyalakan motor Maya. Setelah semua siap, Intan segera menarik gas dan perlahan melajukan motornya.

Di perjalanan pulang hampir terjadi insiden, karena Intan kurang fokus mengendarai motornya. Disaat dia menambah kecepatan motornya, tiba-tiba Intan teringat perlakuan Adika yang membuang dirinya setelah semua aset milik Intan berpindah jadi milik Andika.

Me & Mr perfectPart 10“Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melebihkan cintanya pada-Mu, agar berta...
11/09/2024

Me & Mr perfect
Part 10

“Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melebihkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk lebih mencintai-Mu.”

Melihat tatapannya, membuatku merasa ciut. Kuhampiri dirinya dan menyapanya, aku tak luput dari tatapan orang-orang yang tengah bersamanya. Ada perasaan malu, rendah diri dan berasa asing.

Terlebih, Pak Ihsan seakan acuh padaku. “Motormu ada di parkiran” ujarnya langsung

“Oh, iya Pak. Terima kasih, ini kunci motor Bapak. Sekali lagi terima kasih sudah menolong saya” ucapku

“Mohon maaf, Pak. Saya datang ke sini atas permintaan Ibuk, apakah Ibuk ada?” tanyaku sambil menunduk

“Di dalam!” Jawabnya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, aku tak mengerti apa-apa maksud dari reaksinya? Dan ia langsung meninggalkanku begitu saja, orang-orang bersamanya langsung mengikutinya pergi

Entah kenapa aku merasa sakit hati dengan sikapnya. Meski, aku taruhan untuk mendapatkan hatinya tapi sepertinya kini yang terjadi malah kebalikannya. Dirinya selalu saja berhasil membuatku jantungku berdetak begitu kencang, salah tingkah, ingin mendapatkan perhatiannya.

Tetapi, dirinya seakan acuh tak acuh padaku. Sepertinya, orang seperti dirinya memang sulit untuk ditaklukkan. Sudah sebulan lamanya, bahkan tak ada tanda-tanda keberhasilan dari semuanya.

Kulangkahkan kaki dengan gamang menuju tempat tinggalnya, kuucapkan salam dan orang-orang yang ada di sana menjawab. “Eh, Ndok. Ayo sini!” tutur Ibuk

Ada perasaan malu ketika bergabung bersama mereka, aku yakin mereka semua adalah orang-orang yang sholehah. Ibuk memintaku untuk duduk di dekatnya, setelah acara usai Ibuk mengajakku untuk duduk di dalam.

“Ndok, tolong kabarkan ke orang tuamu. Insya Allah, awal bulan nanti kami sekeluarga akan silaturahmi ke rumahmu ya” tuturnya
Aku sempat terpaku, lalu dengan terbata kujawab. “Inggeh, Ibuk. Nanti Sovia maturaken Bapak kaleh Ibu di rumah”

“Bagaimana kuliahmu?”

“Alhamdulillah, Buk. Masih seperti yang lalu, masih proses bimbingan skripsi”

“Ihsan kalau di kampus bagaimana orangnya?”
Aku tertawa pelan, sungkan rasanya menjawab jujur. Ingin rasanya aku mengatakan jika Pak Ihsan adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah kutemui, tapi kurasa itu kurang etis. “Baik orangnya, Buk” jawabku bohong

“Baiknya hanya saat sama kamu, atau ke semua orang?” tanya lagi

“Ha? Pripun Buk? Eh, Emm. Ke-kesemua orang”
Sudahlah, memang kalau orang sudah berbohong sekali, sudah pasti akan melakukan kebohongan lainnya. Ya Allah, berdosa banget pasti aku! Argh ...

Ibu tersenyum melihatku, “Kamu memang cocok untuk di sandingkan dengan Ihsan, yang orangnya kaku seperti itu”

Hari terus berganti, sampai tiba waktunya orang tua dari Pak Ihsan datang. Kukenakan gamis polkadot berwarna biru Benhur, dengan kerudung berwarna moccha.

Ibu dan Bapak langsung menyambut hangat keluarga Pak Ihsan, setelah beberapa saat orang tua dari Pak Ihsan menyampaikan maksud dari kedatangan mereka.

“Bu, Pak. Maksud dari kedatangan kami sekeluarga yang pertama untuk menyambung tali silaturahmi, yang kedua untuk melamar putri Bapak yang bernama Sovia untuk putra kami Ihsan” ujar pria sepuh yang sudah banyak terlihat keriput di wajahnya

“Masya Allah, Pak Yai. Suatu kehormatan terbesar bagi kami, Pak Yai kerso waruh di gubuk kami ini. Kulo sebagai orang tua tentu sangat berbahagia, tetapi itu semua saya serahkan ke Putri saya”

Kutekan saliva dengan gugup, ketika mendengar ucapan Bapak. Kamu sekeluarga sudah menduga akan hal ini, hanya saja rasanya seperti mimpi. Kutatap Pak Ihsan sejenak, wajahnya lebih datar dari biasanya. Bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang tak menginginkan kehadiranku? Tetapi, Bapak dan Ibu sangat mengharapkan lamaran ini berjalan lancar.

Kata Bapak dan Ibu sangat ingin berhubungan kerabat dengan seorang tokoh agama. Dan itu, Bapak sampaikan berulangkali sejak aku masih kecil. Dan hari ini, harapan Bapak di kabulkan oleh Allah. Haruskan aku mematahkan harapan dan keinginan Bapak sejak dulu?

“Kulo nggeh, ridho e Bapak kaleh Ibu mawon” jawabku

“Masya Allah” ucap Ibuk dan Bapaknya

“Kulo tampi, menawi ngoten”

“Kapan kiranya tanggal pernikahannya?” tanya Laki-laki yang Bapak panggil Pak Yai

“Kulo, manut mawon. Saene kapan”

“Alhamdulillah, mungkin 3 bulan lagi ya” ujar Pak Yai

Sontak aku dan Pak Ihsan menatap ke arahnya, dan Pak Ihsan beralih menatap ke arahku. Dari tatapannya, ia seakan tak setuju. Aku harus bagaimana? Sedangkan dirinya tak mengucapkan sepatah katapun.

Ponselku bergetar, ada pesan masuk darinya. [Kenapa menerima saja?]

Ia menyipitkan matanya, [Saya harus bagaimana, Pak? Bapak saja sejak tadi diam saja]

Ia menatapku lagi, aku langsung diam. Rasanya sulit untukku membantah orang seperti dirinya, jadi aku memilih untuk beranjak pergi.
Kubantu Ibu yang tengah menyiapkan hidangan, sedangkan Ibu asik mengobrol dengan Ibu Pak Ihsan.

“Ndok, Ihsan itu s**a sama Lele. Kata ibumu, ini kamu yang masak ya?”

Aku tersenyum, “Oh, sama kalau begitu Bu Nyai. Sovia juga s**anya sama Lele, ini juga usulnya”
Kubantu Ibu memindahkan sayur dan nasi ke ke atas karpet, karena Pak Yai minta makan lesehan saja. “San, Sovia ini sama kaya kamu. Sukanya makan Lele” Pak Ihsan hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan

“Namanya juga, jodoh. Pasti ada mirip-miripnya”

Sontak aku tersentak, aku langsung beranjak ke belakang karena malu. Setelah semua keluarga Pak Ihsan pulang, bukannya merasa bahagia aku malah merasa tertekan.

[Gaes] tulisku dalam grup

[Woy, apa?] Jawab Sindy

[Bagaimana acaranya? Ada hal apa Pak Ihsan datang? Benerkan lamaran?]

[Hmm]

[Sudah ketebak sih!] Timbrung Nurni
[Ini yang dinamakan taruhan dengan jodoh sendiri, selamat ya, Lo menang taruhan] ujar Nurni lagi

Dan ponselku berdering, nama Pak Ihsan ada di sana. Denyut jantung terpacu dengan cepat.

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/30c312d5-695f-43a4-b392-1bb4b419c679?af=99acda11-462c-8f00-32c5-e9ec2817877a

KENAPA SUAMIKU SELALU MENCVRI U4NGKU? -Amanda mendapat sebuah kejutan dari suaminya berupa hadiah berli4n senilai 10 jut...
10/09/2024

KENAPA SUAMIKU SELALU MENCVRI U4NGKU?
-

Amanda mendapat sebuah kejutan dari suaminya berupa hadiah berli4n senilai 10 jut4. Tapi disaat yang bersamaan, u4ng Amanda hilang 8 jut4. Dan ini bukan kali pertamanya.

Setiap diberi kejutan, pasti u4ng Amanda selalu hilang. Dia ingin melaporkannya pada polisi, tapi dia bingung, karena kalau pun suaminya yang m3ncuri, dia tidak rugi karena hadiah yang suami berikan setara dengan u4ng yang hilang itu.

Dan, kalau pun benar suaminya yang mencuri, untuk apa dia mencuri u4ng Amanda alih alih mengembalikannya dalam bentuk benda lain?
___

Bab 7
“Yah… nggak jadi deh.” Lirih Nayla.



“Udah, nanti aja ceritanya.” Ucap Amanda. Dia tersenyum pada karyawan itu yang membawa beberapa peralatan perawatan.



*



Setelah melakukan perawatan selama kurang lebih 1 jam. Amanda pulang diantar Nayla menggunakan mobilnya. Mereka benar benar sahabat yang bisa percaya satu sama lain, bahkan Amanda percaya, Nayla bisa diamanahkan mobilnya itu.



Setelah mobil terparkir di halaman rumah, Amanda segera membereskan beberapa barang bawaannya. “Nay, mampir dulu yuk. Sekalian aku nitip sesuatu ke kamu.” Ucap Amanda sembari keluar dari mobil.



“Nitip apa nih? Nitip jodoh?” Nayla terkekeh, dia juga keluar dari mobil mengikuti Nayla.



“Ya Allah pertemukanlah Nayla dengan jodohnya, saya sangat tidak kuat melihatnya bersedih hati terus ya Allah…”



“Nanti dulu lah Bu, aku masih ingin menikmati hidup.” Nayla menutup pintu.



“Lagian kamunya, udah kaya ngebet banget nikah.” Amanda memencet bel rumahnya. Tapi belum ada respon. Nayla hanya tersenyum sembari menghampiri Amanda yang masih menunggu pintu rumahnya terbuka. Biasanya Amanda memegang kunci rumah juga, tapi hari ini dia lupa bawa.



“Aduh, jangan jangan Mas Gilang udah tidur. Tumben banget jam 8 lampu rumah udah dimatiin. Biasanya juga dia masih sibuk main game.” Ucap Amanda sembari memencet kembali belnya.



“Ya mungkin Pak Gilangnya ketiduran Bu.”



“Iya kali ya. Coba lagi deh.” Amanda kembali memencet tombolnya, dan tiba tiba pintu terbuka tapi tidak ada yang menyambutnya. Kondisi rumah juga sangat gelap.



“Loh, siapa yang bukain pintunya? Gelap lagi Bu, takut.” Ucap Nayla sembari menggendeng lengan Amanda dengan erat.



“Kamu jangan nakutin aku d**g. Bismillah ya, kita masuk aja. Kenapa gelap banget begini sih.” Perlahan Amanda dan Nayla masuk ke dalam rumah, kondisi rumah memang sangat gelap sampai mereka harus meraba raba.



“Lah, kan Ibu bawa HP. Kenapa nggak pakai senter HP aja?” Ucap Nayla.



Amanda langsung menepuk jidatnya. “Oh ya, kenapa nggak kepikiran ya.” Amanda langsung mengambil HPnya di dalam tas. Tapi sebelum senter HPnya dinyalakan, tiba tiba lampunya menyala.



“Surprise…” Gilang muncul dari dalam kegelapan sembari membawa buket mawar merah. Buketnya begitu besar sampai menutupi setengah wajahnya. Dia juga terlihat sangat tampan dengan memekai kemeja berwarna hitam. Apalagi kemejanya terbuat dari kain satin.



Jadi ketika terkena Cahaya, kemeja itu tampak mengkilap. Gilang juga membiarkan 3 kancing paling atas terbuka, membuat dadanya yang bidang terlihat. Walaupun dada laki laki bukan termasuk aurat, hal itu membuat mata Nayla melotot.



“Mas…” Mata Amanda juga melotot, mulutnya juga terbuka sangat lebar melihat penampilan suaminya yang tidak seperti biasanya. Melihatnya begitu, Amanda langsung menoleh ke arah Nayla yang ada di belakangnya. Melihat Nayla melotot, dia langsung menepuk mukanya memakai tangan dan Nayla pun langsung membalikkan badan.



Melihat tingah istri dan temannya itu, Gilang langsung menaruh buketnya dan mengancingi bajunya. Amanda langsung pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah dokumen yang ia simpan di atas lemari. Setelah itu dia kembali ke Nayla dan menyerahkan dokumen itu, lalu dia mendorong Nayla keluar rumah.



“Makasih ya Nay, udah nganterin aku. Makasih juga udah nemenin aku. Ini dokumennya, tolong dicek lagi ya. Kamu pulang aja sekarang, aku sangat sibuk malam ini. Dadah…” amanda langsung masuk ke rumahnya. Baru saja Nayla mau mengucapkan sama sama, Amanda sudah pergi meninggalkannya.



“Sayang… maaf, kamu nggak bilang mau kasih surprise, kan jadinya Nayla lihat dadamu itu.” Amanda menghampiri Gilang dan duduk di sampingnya.



“Ya kalau aku bilang dulu nanti Namanya nggak surprise d**g.” Gilang tersenyum dan merangkul istrinya itu.



“Iya ya? oh ya, kenapa di kasih bunga lagi? Kan lagi nggak ada acara apa apa? Aku juga lagi nggak ulang tahun. Terus bunga yang kemarin kan masih fresh mas.”



“Ya nggak papa. Kasihan lihat istriku bekerja keras buat aku. Padahal harusnya aku yang menafkahi kamu.”



“Kan Mas udah menafkahi aku tiap bulan.” Amanda tersenyum sembari memegang tangan suaminya dengan erat. Gilang membalas senyumannya. Tatapan mereka bersatu. “Oh ya Mas, aku juga ada kejutan buat Mas. Mas tunggu di kamar ya, akum au siapin dulu.” Gilang mengangguk dan Amanda langsung merampas tasnya.



Dia langsung masuk kamar disusul oleh Gilang. Amanda langsung masuk ke kamar mandi dalam dan Gilang menunggunya di ranjangnya. Sembari menuggu istrinya, Gilang mengeluarkan ponselnya. Wajahnya langsung berubah masam ketika ada sebuah pesan masuk. Dia langsung membalasnya.



Tidak lama kemudian, Amanda keluar dari kamar mandinya, mengetahui hl itu, Gilang langsung menyembunyikan ponselnnya di balik bantalnya.



Amanda hanya tersenyum, baru kali ini dia memakai baju yang direkomendasikan oleh Nayla tadi. Melihat istrinya begitu, mata Gilang langsung melebar, nafasnya langsung cepat. Amanda mendekatinya dan duduk di sampingnya. Mereka seperti pengantin baru yang akan menjalani malam pertamanya. Malu malu dan saling diam.



Gilang memandang Amanda dari ujung kaki sampai akhirnya menatap matanya. Setelah itu, dia langsung memalingkan wajahnya dan berburu keluar dari kamarnya.



“Mas! Kenapa sih? Belum siap lagi?” kondisi Amanda yang sudah lelah karena bekerja, ditambah lagi dia yang bingung karena suaminya selalu tidak siap memberi nafkah batin padanya, padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin, akhirnya emosinya terluap.



Gilang yang sudah memegang gagang pintu, menghentikan langkahnya. “Kalau aku udah siap, aku pasti bilang kok! Kamu dadakan banget kaya gini!”



“Mas.” Amanda menghela nafas panjang, airmatanya sudah jatuh dan tidak bisa terbendung lagi. “Kamu jijik sama akua tau gimana? Aku udah mandi, aku udah membersihkan diriku dan aku kasih wewangian. Tapi kenapa kamu nggak mau sentuh aku juga Mas? Aku bingung, kamu romantis banget sama aku tapi masalah nafkah batin saja kenapa kamu nggak kasih?”



Gilang terdiam, dia tidak menengok kea rah Amanda sedikitpun. “Tolong ngertiin aku untuk masalah ini sekali saja sayang. Aku pergi dulu.” Gilang pergi dan keluar dari rumahnya.



Mata Amanda melebar, dia meremas seprei kasurnya. Nafasnya sudah tidak beraturan. Setelah Gilang pergi, di mengambil bantal gulingnya lalu dia pukulkan berkali kali kali ke ranjangnya. Dia berteriak sangat kencang dan akhirnya dia terduduk lemas di lantai.



Pipinya sudah basah karena akhirnya tangisannya pecah, “Kenapa sih Mas, aku nggak ngerti kamu maunya apa. Aku nggak ngerti kenapa kamu nggak mau sentuh aku. Aku kurang apa Mas, kenapa kamu selalu kabur dari aku kaya begini.”



Setelah dia berteriak, dia terdiam, mengambil nafas panjang dan menghembuskan perlahan lewat mulutnya. Dia membuka tas yang ada di meja dekat ranjangnya, niatnya hanya ingin mengambil ponselnya, tapi dia tersadar.



“Bukannya kemari nada uang 2 juta di kantong belakang ya? kenapa udah nggak ada?” Amanda kembali mengecek setiap kantong yang ada di tasnya itu. Tapi tidak ada.



“Kenapa setiap kali ada surprise dari Mas Gilang, uangku selalu hilang? Dia pakai uangku atau bagaimana sih? Aku harus mencari tahu penyebabnya, aku tidak mau hidupku seperti ini terus, uangku selalu terkuras habis, dia juga tidak mau memberikan nafkah batin padaku, kamu kenapa Mas? Ada apa denganmu?”

Penulis: Ulya_Rosyida
Judul: Romantis Berkedok Mencuri
Platform: KBM APP

Address

Majalengka

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bukan Aku Yang Mandul posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share