14/05/2025
Ternyata bos baru yang datang itu mantan yang dulu Aku tinggalkan dengan cara menyakitkan. Dia maksa ngajak balikan padahal kami sudah punya pasangan masing-masing dan akan segera menikah. Dia mau balas dendam apa memang masih sayang?
AWAS ADA MANTAN
BY ENACASSIE
"B R E N_G S E K!!!" makinya kala itu.
Aku tidak sempat bereaksi ketika Devan menarlkku menjauh dari Andre. Lalu tanpa pikir panjang, dia mel aya ngkan tlnj unya ke wa j ah Andre.
Aku menjerlt. "Devan, hentikan!"
Andre sama sekali tidak melawan. Dia hanya menerima puk uIan demi puk uIan dengan pasrah.
"Devan! Andre bisa m a t I jika kamu terus mengh ajarnya seperti ini!" Aku mem eluk tub uh Devan dari belakang, mencoba menghentikannya.
Devan akhirnya berhenti. Tapi dia mend orongku hingga aku terj atuh ke lantai.
Aku mera ngkak mendekati Andre. Wajahnya penuh leba m dan d a rah mengalir dari sudut bibirnya.
"Maaf…," gumamku, tanganku gemetar saat menyentuh waj ahnya yang pen uh l u ka.
Devan menatap kami dengan tatapan penuh kema rahan dan penghi naan. Dia mence ngkram kepal anya dengan frus tasi.
"Tadinya aku tidak percaya dengan apa yang mama bilang tentangmu," teriaknya. "Tapi melihat kalian seperti ini...!"
Dia mengg eram m arah, lalu berbalik pergi.
Aku melihatnya mengusap kasar p**inya.
Dia menangis.
Hatiku semakin ha ncur.
Aku kembali men angis sejadi-jadinya.
Andre bangkit perlahan, mengusap d a r ah di biblrnya.
"Selamat. Rencanamu berhasil," katanya lirih. "Sekarang dia sudah sangat terl uka. Dan pastinya, dia akan memb enci kita."
"Maaf, Andre...."
Aku mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan lu,-ka-luk-anya. Tanganku gemetar, hatiku terasa seperti dir emas. Aku ingin meminta maaf ribuan kali, meski aku tahu itu tidak akan cukup.
Andre menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"L uka di wajahku ini tidak seberapa sa kitnya," katanya pelan. "Dibandingkan dengan lu ka di hatinya."
Aku menunduk.
Aku sadar, aku telah memilih jalan yang paling menyak itkan.
Tapi untuk saat ini, aku tidak punya pilihan lain.
Setelah kejadian itu, kami tidak pernah berjumpa lagi. Aku pun berubah menjadi manusia yang antisosial. Menyendiri dan tidak punya akun media sosial sekalipun. Lalu pindah ke kota besar lain dan meniti karir selama enam tahun di sini. Baru satu tahun aku merasa hariku bisa lebih baik dan mulai membuka diri. Sampai akhirnya tujuh bulan lalu aku akhirnya menerima cinta Melvin yang selama ini gigih mengejarku sampai dia rela pindah dari apartemen nyamannya dan pilih tinggal di kos-kosan yang sama denganku.
Kini, dia kembali. Bagaimana aku harus bereaksi?
Seharian ini aku jadi tidak fokus dan sering melamun. Semua gara-gara Sinta yang membuatku jadi mengingat kenangan lama yang selama ini ma ti-ma tian aku kubur. Mana hari ini Melvin mendadak lembur. Dia sibuk, aku jadi kesepian dan terus-terusan kepikiran dengan masa lalu menya kitkan itu sampai ketiduran.
Tiba-tiba, saat ini Devan sedang berdiri di hadapanku. Dia menatapku dengan tatapan kosong. Matanya sendu penuh dengan kesedihan.
Tidak ada lagi mata coklat yang selalu berbinar tiap kali menatapku.
Tidak ada lagi senyum mengg oda yang selalu bisa membuatku berbunga-bunga.
"Devan, maafkan aku," bisikku lirih sambil meraih pria yang begitu kurindukan itu.
Namun, dia menggeleng. Tatapannya kosong, dingin, penuh I uka. Aku bisa merasakan tub uhnya menegang saat aku meny entuhnya, lalu dengan kasar, dia menep is tanganku.
Aku tercekat.
Lalu tiba-tiba, wanita itu datang. Elisa. Wanita yang selalu membuat segalanya menjadi lebih buruk bagiku. Dia melangkah ringan, tanpa ragu, lalu me m eluk lengan Devan dengan posesif. Seolah-olah, dia yang memiliki pria itu dan seolah-olah aku ini hanya bayang-bayang tak berarti.
Tidak…
Aku ingin meraih Devan lagi, ingin bert eriak agar dia menoleh padaku, agar dia tahu aku ada di sini, masih di sini menunggunya kembali. Tapi tubuhku kaku, lidahku mendadak kelu.
Mereka pergi.
Aku melihatnya, bagaimana Elisa membawa Devan menjauh dariku. Aku mencoba mengejar, tapi kakiku berat. Langkah mereka semakin cepat, semakin jauh sampai tak terlihat lagi.
"DEVAN!!!"
Teriakanku menggema, menggu ncang seluruh ruang kosong di sekitarku. Tapi tidak ada yang berubah. Dia tidak mendengarku.
Dan1 tiba-tiba, segalanya menghilang.
Gelap.
Aku sendirian di dalam kegelapan.
Aku terbangun dengan nafas tersengal. Dada ini terasa sesak, keringat dingin membanjiri keningku. Aku masih bisa merasakan kepedihan dari mimpi itu, seolah-olah semuanya nyata.
Aku menatap sekeliling. Lampu tidur di meja nakas masih menyala temaram. Perlahan, aku mencoba menggerakkan tubuhku, tapi….
"Apa ini? Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan dan rasanya beneran sesak sungguhan?”
Aku mencoba mengangkat tanganku, tapi rasanya ada sesuatu yang berat menahan perutku.
"Nghhh…"
Sebuah len guhan pelan terdengar dari belakangku.
Aku membeku.
Itu suara seseorang.
Panik, aku menoleh perlahan.
Jantungku nyaris berhenti.
“Melvin?” desisku kesal.
Dia ada di belakangku. Ternyata dialah yang membuatku merasa sesak. Dia tertidur dengan nafas teratur, wajahnya damai, dan tangannya… tangannya melingkar di pinggangku dengan erat. Rupanya ini sumbernya, yang membuatku sesak dan terasa terbelenggu secara nyata.
Melvin bergerak sedikit, nafasnya yang panas sangat terasa di teng kukku. Lalu hidung bangirnya men ye ntuh bagian belakang teli ngaku. Membuatku beraksi dan sontak berte riak.
Tunggu! Bukannya barusan aku juga meneriakan nama Devan? M a t I Aku!
Judul : Awas Ada Mantan
Penulis : EnaCassie
Baca cerita lengkapnya di aplikasi KBM.
Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/424f8a17-dffd-4632-b6e6-0bb7023d8339