24/02/2026
Ramadhan itu bukan cuma tentang menahan lapar.
Ramadhan adalah tentang menyederhanakan hidup, memperlambat langkah, dan kembali menghargai hal-hal yang paling dasar.
Dan di situlah sourdough menemukan tempatnya.
Di bulan yang penuh jeda ini, kita belajar bahwa yang sederhana justru paling bermakna. Sahur yang tidak berlebihan. Berbuka yang tidak perlu mewah. Tubuh yang tidak dipaksa, tapi dirawat.
Sourdough dibuat dengan waktu.
Ia tidak instan. Tidak tergesa. Fermentasinya pelan, sabar, alami.
Seperti Ramadhan — proses yang perlahan membentuk kita dari dalam.
Ketika berpuasa, tubuh kita butuh yang lebih ringan, lebih mudah dicerna, dan lebih stabil untuk energi. Fermentasi alami pada sourdough membantu proses pencernaan menjadi lebih nyaman. Tidak “berat”, tidak membuat lonjakan gula yang cepat turun. Cocok untuk sahur yang tenang, atau berbuka yang tidak berlebihan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk memilih dengan sadar.
Dan sourdough adalah pilihan yang dibuat dengan kesadaran.
Bukan sekadar roti.
Tapi roti yang lahir dari proses.
Roti yang menghargai waktu.
Roti yang selaras dengan makna puasa itu sendiri.
Karena di bulan ini, kita tidak hanya menahan lapar.
Kita sedang memperbaiki diri.
Dan setiap yang masuk ke tubuh, seharusnya juga membawa kebaikan.
Ramadhan adalah tentang kualitas, bukan kuantitas.
Dan sourdough adalah tentang proses, bukan kecepatan.
Selamat menjalani Ramadhan dengan lebih sadar, lebih sehat, dan lebih bermakna. 🌙