27/09/2025
TULUS BUKAN MANUSIA BIASA
Prolog
Tubuh ini… bukan milikku.
Aku tak tahu bagaimana aku bisa terjebak di sini.
Aku hanya ingat kegelapan.
Lalu suara tangis… tubuh yang berat seperti batu basah.
Suara seorang ibu yang berdoa. Yang merintih.
Yang memeluk tubuh ini, berharap sesuatu yang tak akan pernah kembali.
Dan samar… aroma tanah basah.
Seolah aku baru saja ditanam.
---
BAB 1 – SUARA DATAR DI BANGKU DEPAN
Hari itu hari pertama masuk SMU Harapan.
Aku datang agak terlambat.
Langit mendung, udara lembap, dan trotoar depan sekolah masih licin sisa gerimis semalam.
Beberapa siswa bergegas masuk. Aku ikut melangkah cepat ke arah gerbang sambil menyesap udara pagi yang dingin.
Di antara kerumunan, aku sempat melihat seorang siswa berjalan agak jauh di depanku.
Langkahnya pelan. Terlalu pelan untuk ukuran anak yang terlambat.
Posturnya kurus, rambutnya awut-awutan.
Tapi yang paling menarik—wajahnya. Pucat. Tatapannya kosong lurus ke depan, seolah tak peduli dengan sekitar.
Entah kenapa, punggungku merinding.
Kupaksa menoleh ke arah lain.
“Mungkin cuma anak baru yang gugup,” pikirku.
Aku tak mau ambil pusing. Yang penting sekarang, jangan sampai telat masuk kelas.
Begitu masuk ruang kelas dan menemukan bangku belakang dekat jendela, aku langsung duduk. Menaruh tas. Menarik napas panjang.
Tapi saat menoleh ke arah depan—
Deg.
Siswa yang tadi kulihat di jalan…
Sekarang duduk di depanku. Tepat di bangku depan.
Aku sempat bengong.
Bukankah tadi dia masih di belakangku, cukup jauh?
Atau… aku salah lihat?
Ah, mungkin dia masuk lewat pintu samping.
Aku mencoba cuek, tapi sejak itu mataku tak sengaja terus memperhatikannya.
---
Namaku Nino.
Tubuhku kurus, kacamata minus tebal, dan wajahku… katanya “udah kayak minta dibully.”
Mungkin itu sebabnya hampir tiap hari aku kena sial.
Sepatu disembunyikan, nasi bekal dicampur lem kertas, bahkan pernah wajahku ditempelin daun kering pakai selotip.
Ya, hidupku mirip karakter filler di anime sekolah yang cuma muncul buat ditindas.
Hari itu hari pertama masuk SMU.
Aku gak punya teman. Gak punya prestasi.
Bahkan gak punya alasan jelas kenapa masih harus semangat sekolah.
Tapi aku tetap datang. Duduk di bangku belakang dekat jendela, tempat favoritku berpura-pura sibuk menatap langit.
Suasana kelas baru ini terasa… aneh.
Mungkin karena masih pagi, atau karena mendung. Tapi hawa muramnya menusuk.
Lampu kelas sempat berkedip sebelum akhirnya menyala penuh.
Ada bau lembap dari dinding—bau yang bikin tengkuk dingin.
Dan tepat di depanku… duduk siswa itu.
Perawakannya mirip aku.
Kurus, tinggi, pendiam. Rambut acak-acakan.
Tapi ada yang berbeda.
Dia duduk kaku.
Tidak melirik kiri-kanan. Tidak membuka tas. Tidak bersuara.
> “Wah,” gumamku pelan. “Senasib, kayaknya.”
Meski dalam hati… aku ragu.
---
PERKENALAN YANG MENCEKAM
Jam pertama, wali kelas kami—Bu Rini—memulai dengan semangat.
Beliau guru muda, ramah, dan selalu tersenyum.
> “Ibu akan absen ya, sekalian kita saling kenalan. Dari A sampai Z!”
Suaranya nyaring dan ceria.
Tapi entah kenapa… gema suaranya terdengar aneh, terlalu nyaring di ruangan ini.
Seolah ada yang mendengarkan dari balik dinding.
Satu per satu nama dipanggil.
Murid berdiri, memperkenalkan diri. Semua normal.
Tiba di namaku, “Nino Saputra,” aku pun berdiri cepat.
> “Salam kenal semuanya!”
Dan buru-buru duduk lagi, karena ada tawa kecil dari bangku belakang.
Tawa itu cepat hilang—seperti ditelan ruang kosong.
Lalu tiba giliran anak di depanku.
> “Tulus Riyadi,” panggil Bu Rini.
Sunyi.
Anak itu tak bergerak.
Tak bicara.
Bu Rini mengulang, “Tulus Riyadi?”
Aku yang duduk tepat di belakangnya mulai risih. Kupikir dia tidak dengar. Aku pun cubit pelan pundaknya.
> “Kawan, kayaknya kamu dipanggil…”
Pelan. Sangat pelan.
Dia menoleh.
Tatapannya kosong.
Mata itu… seakan menembus tengkorakku.
Seolah bukan melihatku, melainkan sesuatu di belakangku.
Aku spontan mundur sedikit. Sorot matanya bikin bulu kuduk berdiri.
Dia mengangguk. Lalu berdiri perlahan.
Langkahnya nyaris tak bersuara di atas ubin dingin.
Dengan suara yang datar… berat…
serak… seret… dan sedikit bergema—
ia berkata:
> “…Ya. Aku.”
Hening.
Seluruh kelas seketika diam.
Anak yang tadinya nyemil ciki berhenti mengunyah.
Pulpen jatuh dari tangan salah satu murid, bunyinya memantul jelas di ruangan.
Bahkan Bu Rini, yang biasanya ceria, terlihat kaku.
Bukan karena kata-katanya.
Tapi karena suaranya.
Suara itu terlalu tenang.
Terlalu asing.
Seperti suara yang tidak seharusnya keluar dari tubuh remaja seusia kami.
Aku menatapnya.
Tulus.
Dia bukan sekadar aneh.
Dia… bukan manusia biasa.Dan untuk alasan yang gak bisa aku jelaskan,
aku tiba-tiba ngerasa...
duduk di belakangnya adalah posisi paling salah yang pernah aku ambil.