HUMOR KOPLAK

HUMOR KOPLAK Penulis amatir yang kerja di optik tapi matanya minus juga. Cerita-cerita ngawur, penuh drama nggak penting dan romansa yang bikin geleng kepala.

Kalau kamu suka cerita yang nggak ganteng tapi menghibur, mari berteman. Fp senyum dan tawa

TULUS BUKAN MANUSIA BIASAPrologTubuh ini… bukan milikku.Aku tak tahu bagaimana aku bisa terjebak di sini.Aku hanya ingat...
27/09/2025

TULUS BUKAN MANUSIA BIASA

Prolog
Tubuh ini… bukan milikku.

Aku tak tahu bagaimana aku bisa terjebak di sini.

Aku hanya ingat kegelapan.
Lalu suara tangis… tubuh yang berat seperti batu basah.

Suara seorang ibu yang berdoa. Yang merintih.
Yang memeluk tubuh ini, berharap sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Dan samar… aroma tanah basah.
Seolah aku baru saja ditanam.

---

BAB 1 – SUARA DATAR DI BANGKU DEPAN

Hari itu hari pertama masuk SMU Harapan.

Aku datang agak terlambat.
Langit mendung, udara lembap, dan trotoar depan sekolah masih licin sisa gerimis semalam.

Beberapa siswa bergegas masuk. Aku ikut melangkah cepat ke arah gerbang sambil menyesap udara pagi yang dingin.

Di antara kerumunan, aku sempat melihat seorang siswa berjalan agak jauh di depanku.

Langkahnya pelan. Terlalu pelan untuk ukuran anak yang terlambat.

Posturnya kurus, rambutnya awut-awutan.
Tapi yang paling menarik—wajahnya. Pucat. Tatapannya kosong lurus ke depan, seolah tak peduli dengan sekitar.

Entah kenapa, punggungku merinding.
Kupaksa menoleh ke arah lain.
“Mungkin cuma anak baru yang gugup,” pikirku.

Aku tak mau ambil pusing. Yang penting sekarang, jangan sampai telat masuk kelas.

Begitu masuk ruang kelas dan menemukan bangku belakang dekat jendela, aku langsung duduk. Menaruh tas. Menarik napas panjang.

Tapi saat menoleh ke arah depan—

Deg.

Siswa yang tadi kulihat di jalan…
Sekarang duduk di depanku. Tepat di bangku depan.

Aku sempat bengong.
Bukankah tadi dia masih di belakangku, cukup jauh?
Atau… aku salah lihat?

Ah, mungkin dia masuk lewat pintu samping.
Aku mencoba cuek, tapi sejak itu mataku tak sengaja terus memperhatikannya.

---

Namaku Nino.

Tubuhku kurus, kacamata minus tebal, dan wajahku… katanya “udah kayak minta dibully.”
Mungkin itu sebabnya hampir tiap hari aku kena sial.

Sepatu disembunyikan, nasi bekal dicampur lem kertas, bahkan pernah wajahku ditempelin daun kering pakai selotip.

Ya, hidupku mirip karakter filler di anime sekolah yang cuma muncul buat ditindas.

Hari itu hari pertama masuk SMU.
Aku gak punya teman. Gak punya prestasi.
Bahkan gak punya alasan jelas kenapa masih harus semangat sekolah.

Tapi aku tetap datang. Duduk di bangku belakang dekat jendela, tempat favoritku berpura-pura sibuk menatap langit.

Suasana kelas baru ini terasa… aneh.
Mungkin karena masih pagi, atau karena mendung. Tapi hawa muramnya menusuk.

Lampu kelas sempat berkedip sebelum akhirnya menyala penuh.
Ada bau lembap dari dinding—bau yang bikin tengkuk dingin.

Dan tepat di depanku… duduk siswa itu.

Perawakannya mirip aku.
Kurus, tinggi, pendiam. Rambut acak-acakan.
Tapi ada yang berbeda.

Dia duduk kaku.
Tidak melirik kiri-kanan. Tidak membuka tas. Tidak bersuara.

> “Wah,” gumamku pelan. “Senasib, kayaknya.”

Meski dalam hati… aku ragu.

---

PERKENALAN YANG MENCEKAM

Jam pertama, wali kelas kami—Bu Rini—memulai dengan semangat.
Beliau guru muda, ramah, dan selalu tersenyum.

> “Ibu akan absen ya, sekalian kita saling kenalan. Dari A sampai Z!”

Suaranya nyaring dan ceria.
Tapi entah kenapa… gema suaranya terdengar aneh, terlalu nyaring di ruangan ini.
Seolah ada yang mendengarkan dari balik dinding.

Satu per satu nama dipanggil.
Murid berdiri, memperkenalkan diri. Semua normal.

Tiba di namaku, “Nino Saputra,” aku pun berdiri cepat.

> “Salam kenal semuanya!”

Dan buru-buru duduk lagi, karena ada tawa kecil dari bangku belakang.
Tawa itu cepat hilang—seperti ditelan ruang kosong.

Lalu tiba giliran anak di depanku.

> “Tulus Riyadi,” panggil Bu Rini.

Sunyi.

Anak itu tak bergerak.
Tak bicara.

Bu Rini mengulang, “Tulus Riyadi?”

Aku yang duduk tepat di belakangnya mulai risih. Kupikir dia tidak dengar. Aku pun cubit pelan pundaknya.

> “Kawan, kayaknya kamu dipanggil…”

Pelan. Sangat pelan.
Dia menoleh.

Tatapannya kosong.
Mata itu… seakan menembus tengkorakku.
Seolah bukan melihatku, melainkan sesuatu di belakangku.

Aku spontan mundur sedikit. Sorot matanya bikin bulu kuduk berdiri.

Dia mengangguk. Lalu berdiri perlahan.
Langkahnya nyaris tak bersuara di atas ubin dingin.

Dengan suara yang datar… berat…
serak… seret… dan sedikit bergema—

ia berkata:

> “…Ya. Aku.”

Hening.

Seluruh kelas seketika diam.
Anak yang tadinya nyemil ciki berhenti mengunyah.
Pulpen jatuh dari tangan salah satu murid, bunyinya memantul jelas di ruangan.

Bahkan Bu Rini, yang biasanya ceria, terlihat kaku.

Bukan karena kata-katanya.
Tapi karena suaranya.

Suara itu terlalu tenang.
Terlalu asing.
Seperti suara yang tidak seharusnya keluar dari tubuh remaja seusia kami.

Aku menatapnya.
Tulus.

Dia bukan sekadar aneh.
Dia… bukan manusia biasa.Dan untuk alasan yang gak bisa aku jelaskan,
aku tiba-tiba ngerasa...

duduk di belakangnya adalah posisi paling salah yang pernah aku ambil.

GADIS POSESIF 3“YA AMPUN LALA”Bab 3. Latar Belakang Lala Si PosesifLala Anundiya Oktaviani.Cewek paling cantik di sekola...
10/06/2025

GADIS POSESIF 3
“YA AMPUN LALA”

Bab 3. Latar Belakang Lala Si Posesif

Lala Anundiya Oktaviani.

Cewek paling cantik di sekolah, rambut lurus kayak hasil rebonding di salon mahal, jalan sambil senyum bisa bikin cowok-cowok kepleset di lantai licin.

Tapi di balik senyum manis dan penampilan rapihnya, Lala menyimpan trauma masa kecil...

Waktu kelas 3 SD, dia pernah kehilangan cinta pertamanya.

Namanya: Mochi.
Bukan cowok. Tapi... kucing Persia.

Lala sayang banget sama Mochi. Tiap hari disuapin Whiskas pakai sendok bayi, dipakein dasi, dan did**gengin sebelum tidur.

Sampai suatu hari, Mochi hilang...
Diculik oleh tukang sayur depan rumah, katanya sih "kucing kampung ngambil ayam".

Sejak saat itu, Lala bersumpah:

> “Pokoknya kalau aku sayang sama seseorang lagi... dia gak boleh hilang. Gak boleh direbut siapa-siapa. Gak boleh ke tukang sayur!”

Dan jadilah... Lala yang sekarang.
Cemburu ke nenek-nenek, curiga ke tukang gorengan, dan nanya jam berapa kamu mandi.
***
KENAPA BISA MAU SAMA AKU

Itu pertanyaan yang sampe sekarang belum ada jawabannya di Google.
Soalnya aku bukan cowok tajir. Bukan cowok ganteng.
Aku cuma cowok sederhana, yang kalau nongkrong selalu duduk paling pojok biar gak disuruh traktir.

Pakaianku? Ya itu-itu aja. Celana jeans belel warisan abang, kaos oblong, dan jaket bolak-balik yang udah gak bisa dibolak-balik karena dua-duanya bolong.

Tapi aku punya satu kelebihan:

> Aku sabar.

Sabar pas disuruh beli kecap tiga kali.
Sabar pas Lala gak bales chat aku setahun.
Sabar nungguin di zona gantung padahal itu lebih horor dari zona friendzone.

Lucunya, waktu Lala nelpon dan bilang dia mau jadi pacarku...
Aku malah mikir keras:

> “Eh, aku nembak kapan ya?”

Saking lamanya ditunda, aku udah lupa kalo dulu pernah nyatakan cinta.
Udah ikhlas

***

BAB SPESIAL. CINTA OJOL DAN KUCING PERSIA.

KENAPA LALA MAU SAMA AKU??

Siang itu, Lala lagi naik ojol.

Bukan ojol biasa.

Ini ojol yang lagi viral di TikTok. Wajahnya kayak hasil kawin silang antara aktor Korea dan barista mahal. Kalo ngantar penumpang, s**a sambil nyanyi lagu Korea dan kadang ngasih senyum tipis yang bikin jantung cewek-cewek kayak skip satu detak.

Lala? Jelas menikmati. Angin menerpa rambutnya. Dunia terasa slow motion.

> "Ihh... kayak lagi syuting MV Blackpink," pikir Lala sambil ngaca di spion ojol.

Tapi hidup tak selalu indah.

Di sebuah perempatan, pas lampu merah menyala... dunia berubah.

Matanya menangkap sosok yang sangat tidak ia rindukan.

Aku.

Laki-laki yang dulu nembak dia pas lebaran haji. Yang udah hampir dia lupakan. Yang menurut dia:

> “Udah item, jelek, hidup lagi. Kayak dosa tambahan di hidupku.”

Lala mendecak. Mau pura-pura gak lihat, tapi...

Tiba-tiba dia terperanjat.

Matanya membelalak. Wajahnya tegang. Tangannya refleks menepuk pundak si ojol.

> “Mas! Stop! Itu... itu... liat deh!!”

Di seberang jalan, aku terlihat sedang berlutut. Di antara lalu lalang motor dan klakson yang tak berperasaan, aku sedang menolong seekor kucing Persia putih—mirip Mochi, peliharaan Lala dulu yang hilang.

Kucing itu tergeletak. Nafasnya tersengal. Bulu ekornya masih bergetar.

Katanya ditabrak sepeda tukang jamu gend**g. Tabrak lari.

Orang-orang cuma lewat. Ada yang selfie. Ada yang ngerekam. Termasuk si ojol ganteng.

> "Wah, kucing ketabrak. Bisa nih buat konten: ,” katanya sambil ngatur angle.

Tapi aku?

Aku ambil kucing itu pelan-pelan, kubungkus pakai jaketku yang bolong di siku, lalu kugend**g seperti bayi.

Waktu itu, Lala cuma bisa melongo.

Dari ratusan manusia di jalanan... cuma satu orang yang berhenti dan peduli. Dan itu adalah... si brengsek yang pernah nembak dia.

Seketika, hatinya berubah.

> “Oh my God... ternyata... masih ada cowok kayak gitu?”

Ia pun menatapku lama.

Tadinya ilfeel, sekarang mellow.

Tadinya jijik, sekarang... jatuh hati.

Dan di situlah, dalam hembusan angin sore dan bau jamu dari tukang gend**g yang melarikan diri, Lala jatuh cinta.

GADIS POSESIF 2Judul: "Cinta yang Membinasakan (Tapi Sayang Dilepas)"Aku, cowok biasa. Gak ganteng, gak kaya, gaya pas-p...
18/05/2025

GADIS POSESIF 2
Judul: "Cinta yang Membinasakan (Tapi Sayang Dilepas)"

Aku, cowok biasa. Gak ganteng, gak kaya, gaya pas-pasan, tapi satu kampung iri sama aku. Kenapa? Karena pacarku Lala. Cewek paling cantik di kelurahan, follower IG-nya 120K, tiap lewat banyak yang salfok sampe nabrak tiang listrik.

Sejak jadian sama Lala, hidupku kayak sinetron:

Teman-teman bilang aku pake dukun.

Guru-guru di sekolah liatin aku kayak artefak langka.

Bahkan Pak RT pernah nyeletuk, "Kamu main pelet ya, Jang?"

Tapi mereka gak tau, di balik senyum Lala yang semanis permen kapas, tersembunyi jiwa posesif selevel Thanos campur tukang parkir.

---

Kehidupan Sehari-hari yang Kacau Balau:

1. Jam 4 subuh aku dibangunin cuma buat video call.
“Sayang aku mimpi kamu senyum ke SPG Indomaret, ayo ngaku!”
(Padahal aku juga lagi mimpi dikejar tuyul.)

2. HP-ku disita. Isinya semua aplikasi dihapus. Diganti satu aplikasi doang: Kamera depan.
"Biar aku bisa liat muka kamu tiap detik."

3. Pake parfum? Diinterogasi.
"Mau wangi-wangi buat siapa, hah?

4. Pernah dia suruh aku rekam suara jam pelajaran sekolah, buat bukti aku beneran di kelas, bukan main ke rumah mantan (yang bahkan udah pindah provinsi).

---

Puncaknya:

Suatu hari aku nekat main bola sama temen-temen di lapangan. HP aku tinggal karena takut jatuh. Pas pulang...

55 Missed Call. 38 Chat. 17 Voice Note. 1 kiriman pulsa disertai ancaman.

KONPLIK INTERNAL MUSUH DALAM SELIMUT

Teman-teman sekampung tiap hari ngomporin aku:

> “Bro, putusin Lala lah! Gila lo dijajah tiap hari!”
“Cewek posesif tuh toxic, percaya deh. Masih banyak yang waras.”
“Lo laki, bro! Jangan mau dijajah!”

Tapi... aku tahu. Mereka itu nggak tulus. Mereka semua munafik!

Karena setelah ngomporin aku buat mutusin, mereka ganti akun IG terus ngelike semua foto Lala.
Ada yang sampe DM Lala diam-diam:

> “Aku lebih pengertian kok, La... Kalau kamu capek jadi posesif, aku siap jadi pelampiasan.”

Ada juga yang sok bijak di status WA:

> “Terkadang yang pantas bukan yang dia pilih... tapi yang nunggu di belakang.”
Padahal fotonya pakai filter sayap malaikat sambil senyum miring.

---

Isi Hatiku yang Bingung dan Penuh Tanda Tanya

> “Emang gampang ya mutusin Lala?
Cewek cantik ... nerima aku... yang jelek, item, kere, sempak bolong satu-satunya...
Mau mutusin tuh kayak nendang rejeki dari langit.”

Aku kadang bengong sendiri sambil ngaca.

> “Apa dia lagi taruhan ya sama temen-temennya?”
“Apa dia buta warna dan salah liat ko?”
Kadang kalau aku lagi bengong di kamar, aku s**a ngomong sendiri depan kaca:

> “Apa jangan-jangan dia ketuker doa waktu kecil...
Minta pacar baik, eh yang dateng malah aku...”

Bahkan waktu aku curhat ke nenek, beliau cuma geleng-geleng sambil ngelus kepala aku:

> “Dulu kakek kamu juga pernah pacaran sama yang posesif,
Tapi waktu itu belum ada WA. Jadi disuratin tiap 10 menit pake merpati.”

“Akhirnya gimana, Nek?”

“Ya kakekmu kabur ke Kalimantan. Bikin keluarga baru. Sampe sekarang gak pulang.”

Aku pun menatap masa depan dengan galau...
Antara lanjut jadi bucin...
Atau daftar jadi petugas hutan lindung, biar susah sinyal dan Lala gak bisa ngelacak.
***
Tapi di balik semua kekacauan itu...
Di balik chat capslock, video call subuh-subuh, dan ancaman pake pulsa...

Hatiku masih menyimpan satu tanda tanya besar...

> Kenapa, La? Kenapa kamu mau jadi pacarku?

GADIS POSESIF  (Episode 1: Cinta dan Sapi Kurban)Lebaran Haji.Orang-orang sibuk motong sapi.Aku? Sibuk motong harapan—ta...
17/05/2025

GADIS POSESIF

(Episode 1: Cinta dan Sapi Kurban)

Lebaran Haji.
Orang-orang sibuk motong sapi.
Aku? Sibuk motong harapan—takut ditolak.

Hari itu aku nekat.
Di bawah terik matahari, di antara aroma sate setengah matang dan lalat yang pesta pora,
aku berdiri sambil megang HP, jantung deg-degan kayak mau disembelih juga.

Aku mau nembak Lala.
Bukan Lala biasa. Ini Lala Anundiya Oktaviani.
Cewek paling cantik di sekolah. Putih, rambut lurus, jalan dikit kayak ada angin sepoi dan soundtrack drama Korea.
Senyumnya bisa bikin nilai matematika naik dua poin.

Sementara aku?
Cowok biasa.
Pakai sandal swallow, rambut kena asap bakaran, kulit belang karena kelamaan jaga tenda kurban.
Tapi hari itu, aku pikir:

> “Udah lah. Daripada disuruh beli kecap buat keempat kali, mending sekalian nembak. Mumpung hari besar—biar sakral.”

Akhirnya, aku ngetik:

> “La, aku s**a sama kamu. Mau gak jadi pacarku?”

Dikirim.
Read.
Hening.

Aku nunggu... sejam... dua jam... tiga jam...
Sapi keempat udah dipotong. Daging udah dibagi.
Air kelapa udah habis. Tapi Lala? Masih belum bales.

Sejak saat itu, aku resmi masuk zona gantung.
Durasinya? Bukan hari, bukan minggu... hampir satu tahun.

---

PAGI ITU, SETAHUN KEMUDIAN…

Tempat yang sama. Acara kurban lagi.
Aku megangin tali sapi, walau sebenarnya yang harus ditahan itu rasa trauma tahun lalu.

Tiba-tiba... HP-ku bunyi.
Nomor tak dikenal.

Awalnya aku mau cuek. Takut pinjol.
Tapi nelpon terus. Tiga kali. Empat kali. Lima.

Akhirnya aku angkat juga, sambil setengah waspada.

> “Halo?”

> “Ini aku... Lala.”

Buset.
Daging sapi aja gak selembut suaranya.
Tanganku lepas. Sapinya kabur.

> “Setelah aku mikir... akhirnya aku mau deh, jadi pacar kamu.”

Aku bengong.
Mau sujud syukur, tapi tanahnya becek.
Mau lompat-lompat, takut dikira keras**an.

> “La... kamu yakin? Setelah setahun?”

> “Iya. Tapi kamu harus setia total ya. Dari sekarang.”

Dan aku…
mengangguk.

Di tengah lapangan kurban,
di antara bau rumput, darah sapi, dan sandal jepit yang hilang satu,
aku resmi punya pacar. Lala.

---

SEMINGGU KEMUDIAN...

Kupikir pacaran sama cewek cantik itu kayak sinetron FTV.
Pegang tangan di taman, tukeran bekal lucu, tertawa bareng sambil ujan-ujanan.

Ternyata...

1. Bangun tidur:

> “Kok gak langsung WA aku? Bangun jam berapa? Sama siapa mimpinya?”

2. Senyum ke nenek-nenek jual gorengan:

> “Kamu senyum ya? Itu nenek siapa? Jangan-jangan kamu s**a yang berumur?!”

3. Nolongin emak-emak jatuh kepeleset pisang:

> “Kamu pegangin dia? Ya ampun, kamu romantis ke semua orang, ya?!”

4. Pas Jalan bareng malam Minggu:

Kita jalan berdua, tapi aturannya kayak ujian negara.

> “Kamu jalan sama aku, ya mata kamu liat aku terus. Jangan noleh ke kiri-kanan! Apalagi liat cewek lain, nanti aku pulang sendiri.”

Jadi sepanjang jalan, aku jalan sambil ngeliatin dia terus...
Liat ke depan dikit, langsung ditegur.
Kayak kuda pacuan yang dikasih penutup mata.

Aku cuma bisa senyum kaku, sambil nabrak tiang listrik.

Dan dalam hati cuma bisa bilang:

> “Ya ampun, Lala…”

PACARKU GADIS SETAN 7 – BERTEMU KEMBALI ( TAMAT)Aku berlari. Nafasku memburu. Langkahku terayun makin cepat seperti ada ...
11/05/2025

PACARKU GADIS SETAN 7 –
BERTEMU KEMBALI ( TAMAT)

Aku berlari. Nafasku memburu. Langkahku terayun makin cepat seperti ada magnet tak terlihat yang menarikku menuju satu tempat: kebun karet di ujung Desa Kaliduren. Tempat terakhir Kunti menampakkan diri.

Namun saat sampai… aku terdiam.

Terkesima.

Di depan mataku, kebun karet yang dulu teduh dan menyeramkan itu, kini sudah rata. Luluh lantak. Bekas roda alat berat masih membekas di tanah merah. Beberapa alat berat dibiarkan terparkir, dan lampu-lampu sorot masih menyala menembus malam.

Katanya sih, pemerintah setempat ambil inisiatif. Udah terlalu banyak laporan warga: penampakan, suara-suara gaib, ayam ilang, tetangga tiba-tiba keras**an pas lagi nyapu.

Jadi ya, solusi satu-satunya: bulldozer.

Kebun itu akan disulap jadi perumahan modern dan pusat belanja—supaya katanya "lebih produktif, lebih cerah, dan tidak dihuni genderuwo."

Pohon beringin tua yang jadi ‘markas besar’ Kunti dan geng astralnya sudah roboh. Batangnya patah. Akarnya tercabut. Tempat itu sekarang hanya ladang sepi dengan bau solar dan debu beton.

Kalau manusia bisa lihat alam halus... mungkin mereka akan lihat pemandangan menyayat.

Para hantu berhamburan.

Pocong loncat-loncat bawa kain kafan kayak orang abis digusur, sambil teriak:

“Wooooi belum jatuh tempo kontrak guaa!!”

Genderuwo berlari sambil bawa tungku, kuntilanak-kuntilanak lain berhamburan, ada yang masih pakai masker tanah liat, ada yang masih keramas, semua panik.

Terlihat seperti satu kampung gaib lagi digusur Satpol PP.

Suara jeritan menggema, seperti gema rumah susun yang dibongkar paksa—bukan karena tidak bayar, tapi karena dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat umum...

Di tengah kekacauan itu, aku mendengar suara... nyaris tak terdengar, tapi jelas memanggil.

“...kamu datang juga…”

Aku menoleh cepat. Di antara kabut debu, di atas akar pohon beringin yang tumbang, dia berdiri.

Kunti.

Gaunnya berdebu, rambutnya acak-acakan, tapi justru di situlah dia tampak... cantik. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan rumah, tapi masih berusaha tegar.

“Aku kira kamu udah pergi,” kataku pelan, melangkah mendekat.

Dia tersenyum tipis. “Mau ke mana? Aku ‘kan cuma hantu. Nggak punya KTP. Nggak bisa ngontrak di tempat lain.”

Aku nyengir. “Ya udah, ikut aku aja. Numpang di rumah.”

Dia mengangkat alis. “Serius?”

“Serius. Tapi… jangan ganggu emak gue. Nanti disiram air garam.”

Dia tertawa. Suara tawanya nggak kayak di film horor, tapi lebih kayak cewek biasa yang geli denger gombalan garing.

“Kamu aneh,” katanya.

“Dan kamu... cantik.”

Kunti menunduk, sedikit tersipu. Hantu bisa malu juga, ternyata.

Kami berdiri di sana cukup lama. Dikelilingi reruntuhan pohon, para hantu panik, dan lampu sorot alat berat. Tapi rasanya... hanya ada aku dan dia. Dua makhluk beda dunia, tapi malam itu, berdiri di titik yang sama.

“Rumahku udah nggak ada,” bisiknya. “Tapi kalau kamu beneran nawarin tempat...”

“Beneran,” kataku mantap.
“Selama kamu nggak ngikik jam 12 malam.”

Dia tersenyum. “Deal.”
Setelah kebun karet digusur, tempat-tempat sakral para hantu pun hilang satu per satu. Termasuk rumah Kunti.

Tapi aku nggak tega ninggalin dia begitu aja. Jadi aku kasih dia tempat tinggal baru: pohon duren 66, yang tumbuh di belakang rumah, agak tersembunyi. Letaknya strategis—deket dapur, jauh dari jemuran emak.

Emak dan bapakku? Nggak tahu. Nggak boleh tahu. Karena aku udah janji sama Kunti: jangan menampakkan diri. Emak bisa jantungan, bapak bisa baca ayat kursi sambil melempar sendal.

Sejak itu, hidupku... aneh, tapi bahagia.

Pagi sekolah, sore belajar, malamnya duduk bareng Kunti di dahan pohon duren. Kami duduk berdampingan. Angin malam sepoi-sepoi. Daun-daun bergoyang pelan. Kadang suara jangkrik, kadang suara tetangga ribut gegara sabun ilang di kamar mandi.

Kunti bersandar di pundakku. Lembut. Dingin juga sih... namanya juga setan.

Dia cekikikan pelan, khas suara kuntilanak. Tapi sekarang rasanya bukan horor... malah bikin aku senyum.

“Bang…” katanya sambil menatap langit, “kalau nanti kita udah nikah… janji ya, abang akan selalu sayang sama aku… jagain aku…”

Aku cuma tersenyum. Ada haru. Ada lucu. Ada juga rasa bersalah, karena aku tahu... cinta dua dunia tuh ibarat pacaran jarak jauh tapi beda dimensi. Mustahil akan bersatu. Suatu hari nanti mau tidak mau s**a atau tidak s**a kita mesti iklas berpisah.

Tapi aku nggak tega ngilangin senyum di wajahnya. Jadi aku jawab:

“Tentu, sayang… Kita bakal punya banyak anak. Dan tinggal di sini selamanya.”

Kunti langsung ngakak. Suaranya menggema di malam sunyi, sampai kucing tetangga lari terbirit-birit. Tapi aku ikut tertawa juga. Entah karena lucu... atau karena pengin nangis.

Di balik semua keanehan ini, aku sadar satu hal: cinta tuh nggak harus masuk akal. Kadang yang penting cuma satu—bisa bahagia, walau sebentar.

---

TAMAT

PACARKU GADIS SETAN 6- Duren, Ronda, dan Tukang SateDi sebuah malam berangin di Desa Kaliduren, seorang hantu wanita ber...
11/05/2025

PACARKU GADIS SETAN 6
- Duren, Ronda, dan Tukang Sate

Di sebuah malam berangin di Desa Kaliduren, seorang hantu wanita berambut panjang menjuntai sedang melayang pelan-pelan di atas tanah.

Tatapannya kosong. Lebih kosong dari ATM tanggal tua. Ia berdiri menghadap sebuah pohon durian.

“Ini pohon ke-66…” gumamnya lirih, “…tapi kok gak ada yang ranum sih? Ini mah malah gundul. Boro-boro mateng, yang ada botak semua…”

Kunti — begitu warga menyebutnya — tidak tahu bahwa sebenarnya pohon durian itu sudah ranum beberapa hari lalu. Cuma ya gitu, Bang Udin, satpam sekaligus dukun serabutan di desa, diam-diam s**a metikin duluan buat ngemil dia siang malam.
Alhasil, tiap malam Kunti datang, pohonnya sudah kering kerontang, hanya menyisakan sarang laba-laba dan harapan palsu.

---

Sambil termenung, tiba-tiba telinganya mendengar bisikan halus…
Suara seorang sahabatnya sesama penghuni alam astral — si Suster Ngesot.

“Kalau gak ada yang ranum… coba tanya warga sekitar… Rumahnya deket kok…”

Kunti menoleh ke kanan dan kiri.
Kosong.
Sunyi.

“Lah… orang ini tengah malam… siapa juga yang bangun?”

Tapi belum sempat dia balik kanan, terdengar suara kentongan dari arah jalan kecil.

TUK… TUK… TUK…

Empat bapak-bapak berjalan beriringan sambil bawa senter dan kentongan. Mereka lagi ronda.

Mata Kunti membelalak.

“Yes, ada yang bisa ditanyain…”

Tapi belum sempat Kunti buka suara, salah satu dari mereka — Ujang, pemuda ronda yang baru seminggu jaga malam — menyorotkan senter ke arah sosok berambut panjang berdiri melayang tiga senti di atas tanah, pake baju putih sobek-sobek, dan aroma mistis setengah matang.

"SEEEEEEETAAAAANNNN!!!"
Teriaknya histeris.
Langsung lari ngacir sambil ngusir nyamuk yang gak ada.

Tiga bapak lainnya bingung,
“Apaan sih tuh bocah… lari-lari sendiri…”

Mereka menyorotkan senter ke arah yang sama.

Kunti panik.
“Waduh… ketahuan…”

Dengan gerakan spontan, ia berubah wujud jadi wanita manusia biasa — agak— yaitu sales kosmetik. Ia nenteng koper make-up dan mencoba tersenyum manis. Tapi senyumnya malah mirip joker batuk asma.

"Iya, Pak… saya cuma sales kosmetik. Ini ada lipstik, eyeliner, bedak, pemutih, serum pengangkat aura negatif…"

Dia tertawa. Cekikikan.
Tapi bukan cekikikan normal. Ini cekikikan kelas jeritan neraka.

Bapak-bapak itu langsung pucat pasi.
Apalagi saat sadar kaki wanita itu gak napak tanah. Melayang. Lalu koper kosmetiknya tiba-tiba berdarah.

"WAAAA SETAAAAANNN!!!"
Teriak mereka bersamaan.
Satu lari nyemplung kolam, satu jatuh ke got, satu lagi kabur sambil nenteng kentongan kayak bawa bayi.

Kunti hanya bisa mengelus rambutnya yang udah gimbal alami.

“Yah gagal lagi…”

---

Ia melayang putus asa, sampai tiba-tiba matanya menangkap cahaya terang dari kejauhan.

Bara api.
Kipas manual.
Aroma daging terbakar.

Tukang sate!

---

Suasana malam makin senyap.
Angin berdesir pelan, tapi perut Kunti sudah ribut kaya demo buruh.

"Aduh… lapar juga ya jadi setan. Nggak ada camilan. Duren gundul, manusia pada kabur, duh…”

Tiba-tiba dari ujung jalan, suara khas terdengar:

“SATEEE... SATE MADUURAA... SATEE PANASS, PAKAI LONTE—EH LONTEONG!”

Kunti langsung noleh.
Dari balik kabut, muncul gerobak yang digandeng seorang pria kecil, kurus, berkumis tipis, rambut klimis disisir belah pinggir. Gayanya nyantai, sandal jepit kanan-kiri beda warna.

“Bang… pesan sate ya… seratus tusuk,” kata Kunti dengan suara serak mistis.

Tukang sate itu langsung melotot.

Matanya dari tadi mantengin penampilan si Kunti: baju putih lusuh, rambut awut-awutan, dan yang paling mencolok…

Punggungnya bolong.

Abang sate langsung melongo.
Lidahnya nyangkut di langit-langit mulut.
Tangannya gemetaran sambil ngipas sate.

Lalu dia ngomong dengan logat Madura khas Kadir:

“Eeeeh… mak eee... ngapah jha baju putih nyongkol tengah malam ginih?”

Kunti senyum miring, “Saya lapar, Bang…”

“Lapo-lapo kok seratus tusuk jeh… taieu... orang waras mah makang sebiji dua biji… ini mah pengen ngisi kandang setan!”

Dia mundur pelan-pelan, kipas sate masih di tangan.

“Sampeyan… s-sampeyan kok... ngambang jeh… NGAMBANGGG!!”

Kunti makin mendekat.

“Bang… cepet bakar satenya, saya udah nahan lapar tujuh kuburan…”

Abang sate langsung lempar kipas, jerit sekencang-kencangnya:

“AAAKHH TAIEEEEUUUU…!! IKI SETAAANNN!! SETAN MALEM BELI SATE...!!!”

Dia langsung lari terbirit-birit, sandal lepas satu.

Gerobak ditinggal.
Arang masih nyala.
Tongsengnya mendidih sendiri.

Kunti melongo… lalu duduk di samping gerobak.

“Yaudah deh… makan sendiri aja…”

Dia comot satu tusuk, lalu komentar:

“Bakarannya belum mateng, Bang… dagingnya masih sepo kayak hubungan mantan…”

---

PACARKU GADIS SETAN 5---BAB 5 Rindu dan Duren yang Tak DirestuiSudah sebulan sejak aku sembuh dari “penyakit aneh” yang ...
08/05/2025

PACARKU GADIS SETAN 5
---
BAB 5 Rindu dan Duren yang Tak Direstui

Sudah sebulan sejak aku sembuh dari “penyakit aneh” yang bikin mimisan tiap lihat bayangan putih.
Tapi, bukan tubuhku yang masih luka… hatiku, Bang. Hatiku. Luka karena rindu. Rindu sama gadis setan yang bikin hidupku jungkir balik.

Sayangnya, hidupku sekarang malah dijaga ketat oleh Bang Udin—dukun merangkap satpam desa Kali Duren. Lelaki berbadan tambun dengan sarung belang-belang dan aroma menyan yang sudah jadi parfum alami.

“Sudahlah Bang,” ucapku suatu pagi sambil menatap pohon duren di halaman.
“Aku udah sembuh Bang… tapi yang sakit itu hatiku. Aku cuma mau ketemu dia sekali lagi. Sekali aja. Mau pamit baik-baik.”

Bang Udin cuma mendelik sambil ngunyah duren yang jelas-jelas bukan miliknya.
“Wahhh ndak iso, Le!” katanya keras. “Bahaya kuwi! Kalo koe ketemu si Kunti maneh, kuwi koe bakal diganggu maneh!”

Aku menghela napas panjang. Sakit hati melihat buah durian ranumku hilang satu-satu.
“Bang, aku cuma mau bilang selamat tinggal sama dia. Aku janji nggak bakal peluk-peluk apalagi ngajak kawin kontrak.”

Bang Udin makin garang nadanya.
“Ndak iso, Le! Jiwamu karo pikiranmu kuwi isih kecampur aura dedemit!”

Ya Tuhan… hidupku kayak tahanan rumah. Siang malam dia nongkrong di depan pagar sambil nyangkul atau makan duren. Bahkan ada satu momen absurd: aku ketiduran di teras, dan Bang Udin malah ngelilingin aku pakai tali rafia, katanya “biar auramu nggak kabur.”

Aku makin stres.

Setiap hari cuma bisa menatap hampa ke arah kebun karet nun jauh di sana.
Jiwaku terasa di sini, tapi hatiku tertinggal di antara pohon-pohon karet itu…
Tempat terakhir aku melihat Kunti berdiri, menyeringai, lalu kehilangan tangan.
Ah Kunti... aku rindu.

Dan yang lebih menyakitkan, selain rindu yang tak tersampaikan…
Adalah duren-durenku yang makin hari makin habis dipetikin Bang Udin tanpa izin.

---
Aku sudah nggak tahan. Rindu ini makin hari makin menggila. Tiap malam aku mimpiin dia—senyumnya, rambut panjang awut-awutan, dan tatapan matanya yang… ya agak kosong sih, tapi tetap menggetarkan jiwa.

Malam itu aku nekad kabur.

Dengan segala ilmu yang kupelajari dari nonton sinetron laga dan tutorial YouTube "Cara Meloloskan Diri dari Satpam", aku menyiapkan rencana pelarian. Bang Udin malam itu lengah. Perutnya kembung karena makan terlalu banyak duren. Matanya berat, nafasnya bau biji duren, dan langkahnya mulai limbung. Akhirnya dia tumbang—tepar di kursi bambu depan rumah.

Inilah kesempatanku.

Dengan tali jemuran dan niat kuat, aku mengikat kaki Bang Udin, menyumpal mulutnya pakai keset dapur, dan menyegel mulutnya dengan selotip lakban yang biasanya buat nambal karung beras.
Wajahnya kaget saat sadar—tapi sudah terlambat.
Aku kabur.

“CILOKO TELULAS!” Bang Udin teriak terbungkam, matanya melotot seolah abis liat tuyul naik motor.
Tubuhnya terguling, berguling-guling kayak ulat kepanasan di teras rumah.

Paginya, rumah jadi ramai.

Emak dan Bapak panik luar biasa ketika menemukan Bang Udin dalam posisi kayak maling yang diringkus aparat.
“INI GIMANA BISA DUKUN DI PASUNG DI RUMAH KITA?!”
Emak histeris.
Bapak cuma bisa geleng-geleng kepala sambil meraba dahi Bang Udin buat mastiin itu bukan topeng.

Kamarku kosong.

Pintu terbuka, jendela juga. Hanya tersisa sandal jepit dan surat kecil berisi tulisan:
“Maaf, Mak. Aku harus ketemu dia. Kalo gak ketemu, mungkin aku bakal lebih gila dari ini.”

Emak nangis kejer.
Bapak syok.
Tapi yang paling nyesek, pas mereka lihat ke halaman…
Pohon duren di depan rumah—yang biasanya jadi kebanggaan keluarga—sudah gundul. Buahnya habis semua.

“Gusti… duren-duren ini dicuri jin juga kah?” Emak bergetar.
“Bukan Mak… bukan jin,” jawab Bapak lemas, “Ini pasti kerjaan Bang Udin…”

Bang Udin masih terguling, matanya memelas, mulut masih kesumpal.

---PACARKU GADIS SETAN.Episode 4– Jejak  di Dunia MayaKunti mulai sadar... hidupnya sia-sia.Ia harus bertindak. Ia harus...
08/05/2025

---
PACARKU GADIS SETAN.
Episode 4– Jejak di Dunia Maya

Kunti mulai sadar... hidupnya sia-sia.
Ia harus bertindak. Ia harus mencari Rendi. Tapi bagaimana?

Ia pun pergi menemui satu-satunya hantu yang dia percaya: Suster Ngesut.
---

Suster Ngesut bukan hantu biasa.
Kalau Kunti cuma lulus SMA, si pocong SD aja nggak lulus, dan tuyul? TK aja tinggal kelas.
Cuma Suster Ngesut satu-satunya setan berpendidikan tinggi—lulusan D3 Keperawatan.

Sayangnya belum sempat wisuda, ia kecelakaan saat ronda malam dan meninggal... sambil ngesut.

Meski begitu, dia satu-satunya hantu yang ngerti teknologi.
Punya akun sosmed lengkap: Facebook, Twitter, TikTok, dan bahkan akun pinjol (meski belum dibayar sampai sekarang).
Ia juga selalu bawa laptop—warisan dari hidupnya yang dulu.

“Kun... lo yakin mau nyari manusia itu?” tanya Suster Ngesut sambil nyambungin WiFi ghaib.
“Yakin... tapi gue cuma inget namanya doang. Rendi... permata... eh, permana!”
“Gue bantuin. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Gengsi d**g, suster intelek bantuin hantu galau.”

---

Mereka mulai buka Facebook. Nyari nama Rendi Permana.
Banyak banget. Namanya pasaran banget soalnya

“Ini?” tanya suster ngesut
“Lah, itu mah om-om.”
“Kalau ini?”
“Jelek amat, bukan d**g.”
“Ini kali?”
“Hmm... ini sih ganteng banget, bukan... dia mah terlalu sempurna, Rendi gue tuh... sederhana... dan rajin menabung.”

Semalaman mereka scroll.
Sampai ayam berkokok. Waktu gentayangan selesai. Mata panda makin menjadi.

“Huff... yakin gak sih namanya Rendi?”
“Yakin... kayaknya.”
“Kayaknya?” Suster Ngesut tepok jidat

Kunti hanya bisa termenung.
Meski belum ketemu, setidaknya kini ia punya harapan.

---
Di ujung putus asa, ketika pagi mulai menyingsing dan ayam mulai kokok, Suster Ngesut sudah ngesut lemas.
Tangannya pegal karena semalaman scroll, matanya juga udah kriyep-kriyep.
Waktunya setan-setan mundur dari dunia fana.

Tiba-tiba...
Mata Kunti yang tadi sayu, mendadak membelalak.
Ia menunjuk layar laptop dengan semangat.

“Itu dia! Itu diaaa!!”
Suster Ngesut yang udah mau tepar kaget. “Mana mana?”
Kunti berseri-seri seperti hantu habis facial.

“Rendy... Permata Hari!”
“Iya... Rendy-nya pake y, dan... namanya emang Permata... ya ampun, cowok kok namanya permata...”
Mereka berdua terdiam sejenak, merenung nasib laki-laki itu yang hidup dengan nama selembut itu.

Meski aneh, tak jadi soal.

Mata Kunti berbinar. Hatinya berbunga-bunga.
Setelah semalam penuh pencarian—akhirnya, ia menemukannya.
Rendy... lelaki bersahaja, murah senyum, dan terlihat patuh pada orang tua.
Pasti juga rajin menabung.

Tapi di saat harapan menyala, tiba-tiba...

“Plup.”
Notebook si Suster padam. Baterai habis.

Keduanya hanya bisa terdiam.
Tapi kali ini, dalam diam mereka ada senyuman.
Karena meski belum bisa menyapanya... mereka tahu, Rendy benar-benar ada.

***

Setelah notebook padam dan mentari mulai mengusir gelap, para setan pun pulang ke tempat gentayangannya masing-masing.
Suster Ngesut pamit dari kebun karet, iapun hendak melanjutkan pencarianya d tempatnya gentayang. rumah sakit harapan. Iapun ngesut pelan-pelan Pulang. sambil nenteng notebook yang udah kayak batu bata karena baterainya habis.

Untungnya dia setan visioner. Ada baterai cadangan—hasil curian dari koper pasien yang belum sempat sadar. Jadi malam berikutnya, si Suster kembali online. Misinya jelas: lacak Rendy Permata Hari.

---

Dengan semangat 45, ia mulai beraksi. Pertama-tama, ia nge-inbox Rendy langsung.

> “Misi iii... Benarkah kamu Rendi.??”
Huruf i-nya tiga biji. Kalau kamu lihat ada komen seperti itu di FB, hati-hati... bisa jadi yang nge-DM setan, bukan orang.

> “Misi iiiii kamu benar Rendi?? Ren rumahmu di mana, ada yang nyariin nih??”

Tapi selama tiga hari tiga malam... nihil. Rendy nggak baca.

Kunti makin galau. Sudah seminggu ia duduk di pohon karet kayak burung hantu nganggur. Nggak ada kabar dari Suster Ngesut.

---

Akhirnya, Suster mulai stalking FB Rendy. Scroll komentar, liat-liat siapa temannya yang paling aktif. Ketemulah: Lastri Sulastri.

Lastri: cewek genit, aktif 24 jam di FB, tiap status Rendy dikomenin. Dari emoji nangis, love, sampe “semangat yaaa Rendi” disisipin lagu TikTok.

Suster termenung. "Wah ini cewek pasti yang bikin si Kunti jadi nomor dua. Belum jadian aja udah diduakan."

Tapi demi misi, ia terus maju. Ia pun nge-DM Lastri.

> “Misi.iiiii Lastri... Kamuh temennya Rendi ya???”

Balasannya agak alay:

> “Yach... Siapa yachh iniihh...???”

> “Aku Suster Rumah Sakit Harapan Hidup... Mau ke rumah Rendi. Lupa alamatnya.”

Lastri mulai curiga.

> “Loh masa rumah sakit kagak kasih alamat?”

> “Suer deh... Aku cuma dapet akun FB-nya doang... Xi...xi...xi...”

(Xi xi xi... ketawa khas suster Ngesut.)

Catatan: Hati-hati kalau dapet komen yang ketawanya xi xi xi. Itu bukan manusia, tapi setan online.

Lastri yang awalnya curiga, akhirnya luluh juga.

> “Tanyain aja Desa Kaliduren... Masuk gerbang, liat kali, banyak duren. Rumahnya deket pohon duren ke-66. Yang buahnya ranum. Kalau belum ranum, bukan rumahnya. Tanyain aja warga sekitar.”

Suster bengong. "Apaan nih, treasure hunt?!" Tapi dia catat juga.

> “Oki... iiiii makasih ya... Xi xi xi...”

Lastri langsung merinding. Laptop ditutup. HP dilempar. Langsung off 48 jam. Mungkin pindah ke TikTok buat sementara.

---

Di malam berikutnya, di depan gerbang Desa Kaliduren, seorang suster ngesot dengan tas gend**g dan rambut awut-awutan, berdiri memandang pohon duren yang berjajar di tepi jalan.

“Pohon ke-66... buah ranum... Ya Allah, ini desa apa level bonus Mario Bros...”

Senyumnya menyeringai. Malam ini... pencarian cinta kuntilanak akan makin dekat.

---

Setelah berhasil mendapatkan alamatku—si Rendi Permata Hari, cowok yang katanya “bersahaja, rajin menabung, dan patuh pada orang tua”—Suster Ngesot pun bersiap menunaikan misinya yang belum selesai.
Mengabari kunti di kebun karet.

Ia tahu: kabar ini harus disampaikan langsung ke Kunti.
Sahabatnya. Sekaligus korban cinta.

Namun perjalanan dari Rumah Sakit Harapan Hidup ke kebun karet tempat Kunti gentayangan itu... bukan sekadar perjalanan biasa.

Gak ada ojek buat setan.

Naik mobil? Supirnya bisa pingsan.
Naik kereta? Gak bisa beli tiket, gak punya KTP.
Akhirnya, pilihan satu-satunya: ngesot.

Ngesot.
Dari kota ke hutan.
Lewat trotoar, got, lumpur, bahkan jalan berlubang. Bayangkan aja. Itu dengkul digesek aspal tujuh hari tujuh malam.

Tapi begitulah cinta dan loyalitas. Bahkan setan pun bisa jadi pejuang.

Dan akhirnya...
Tepat malam ketujuh, saat bulan mulai penuh, suara anjing melolong dari kejauhan, dan udara di kebun karet terasa dingin seperti kulkas mati...Suster Ngesot tiba.

Dari atas pohon tua yang angker, Kunti turun melayang perlahan. Gaunnya berkibar, rambutnya menjuntai, dan ekspresinya... campuran antara rindu, takut, dan penasaran.

“Kau datang juga…” bisiknya.

“Lu kira gampang ke sini, Kun? Ini dengkul udah tinggal tulang,” sahut Suster, sambil rebahan dulu sebentar. Istirahat ngesot.

Mereka duduk di bawah pohon. Angin berdesir pelan. Suara malam seperti tahu: ini bukan obrolan biasa.

“Aku... berhasil dapat alamatnya. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu dulu,” kata Suster pelan.

Kunti menatapnya penuh tanya.

Address

Paseh
Tasikmalaya
46125

Telephone

+6285223223368

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when HUMOR KOPLAK posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to HUMOR KOPLAK:

Share