Asya Awani

Asya Awani Pengetik di KBM Apps. Asya Awani – MasihPelupa

Open sharing: +62 831-2977-5940 (WhatsApp)

Belum sempat Naya berbalik, tangannya sudah dicek4l erat oleh temannya. “Ayo kita main, jangan pulang dulu.  Ini seru! A...
24/04/2026

Belum sempat Naya berbalik, tangannya sudah dicek4l erat oleh temannya. “Ayo kita main, jangan pulang dulu. Ini seru! Ayo, cepat!” des4k mereka, mendekatinya.

Hari itu, dunia Naya runtuh. Teman-teman bermainnya sendiri menjadi penj4h4t besar dalam hidupnya.

----
Tentang Luka Naya (1)
----

"Cepat! Kejar! Kejar dia!" Teriakan anak-anak pecah, nafasnya tersengal-sengal. Mereka berlarian di jalan setapak, langkah kaki kecil itu menghent4k tanah dengan sandal jepit berdebu.

Di depan, seorang anak berlari secepat angin, sesekali menoleh untuk memastikan mereka tak tertinggal. Di tangannya, bola besar yang sepertinya sangat berharga baginya.

"Hei! Berhenti!" teriak anak lainnya, nafasnya mulai sesak. "Itu bola kita!" lanjutnya.

Namun, alih-alih berhenti, anak itu malah mempercepat langkahnya. Ia meluncur dengan gesit, melompati genangan air kecil, seolah tubuhnya adalah p3luru yang sulit dit4ngk4p. Semua teman-temannya hanya bisa terpana melihat tingkahnya.

Anak itu tertawa riang, suaranya menggema. "Kalo nggak bisa ngejar, jangan harap bola ini balik. Siapa suruh gak ngajak. Aku nggak main, kalian juga gak boleh!" katanya, dengan tubuh yang mulai mer4ngk4k ke atas pohon.

Teman-temannya terdiam sejenak, kebingungan. "Gawat, dia udah naik ke pohon! Gimana nih?" Mereka mulai saling pandang.

"Tenang, gampang kok. Naik aja!" jawab satu di antara mereka, sambil bersiap mendaki.

Namun, sebelum ada yang sempat bergerak. Suara seorang wanita berumur terdengar dari kejauhan, menghentikan mereka.

"Naya! Ayo turun! Cukup mainnya!" suara yang tak lain adalah ibunya Naya membelah udara, membuat anak-anak yang bingung itu tersenyum lebar. Sedang Naya yang di atas pohon hanya bisa menghela nafas pasrah.

Dengan santai, Naya mulai turun, melompat dengan gaya khas yang membuat ibunya hanya bisa menggelengkan kepala.

"Bola siapa itu?" tanya ibunya Naya, matanya t4j4m menatap bola yang masih digenggamnya.

Naya melirik ke teman-temannya dan dengan enggan menyerahkan bola yang sejak tadi ia pertahankan.

Di perjalanan pulang, tak henti ibunya mengomeli Naya atas tingkahnya.

"Kenapa kamu tidak bisa seperti anak perempuan lainnya?" gerutu sang Ibu, sambil memandang pakaian kotor Naya dengan ekspresi lelah.

"Bu, bukankah lebih baik aku aktif daripada hanya duduk diam di rumah?" jawab Naya tanpa merasa bersalah.

Mendengar itu, ibunya Naya benar-benar kehilangan kata-kata. Dipandanginya Naya dari kepala hingga kaki. Celana yang kotor, kaos longgar yang bahkan bukan miliknya melainkan warisan dari kakaknya, serta kaki yang penuh goresan akibat terlalu sering berlarian tanpa alas. Bukan ini yang ia bayangkan selama sembilan bulan mengandung seorang anak perempuan.

"Dulu, waktu kamu lahir, Ibu senang sekali. Ibu pikir akhirnya Ibu punya anak perempuan yang bisa diajak menjahit, memasak, atau sekadar berdandan," ujarnya lirih.

Naya diam. Sudah sering ibunya mengatakan ini, tapi entah kenapa setiap kali mendengar nada kecewa di suara ibunya, ada sesuatu yang m3ncubit hatinya.

"Tapi lihat sekarang," lanjut ibunya, lirih. "Setiap hari kamu berlarian seperti anak laki-laki. Pakaianmu selalu kotor, rambutmu berantakan, badanmu penuh luka. Anak perempuan macam apa kamu ini?"

Naya menunduk. "Tapi, Bu, aku juga bantu-bantu di rumah, kan?"

"Ya, kalau Ibu yang nyuruh!" potong ibunya cepat. "Kalau nggak, mana mungkin kamu ingat pekerjaan rumah? Yang kamu ingat cuma main, manjat pohon, dan berkelahi sama anak-anak kampung."

Setelah mengucapkan itu, Ibunya Naya terdiam sesaat, menatap anak perempuannya mengerucutkan bibir dengan kepala sedikit menunduk. Ia tahu Naya bukan anak yang nakal, hanya saja ... berbeda dari harapannya.

Sejak dulu, ia selalu membayangkan memiliki anak perempuan yang manis, mengenakan baju cantik dengan rambut panjang tergerai yang bisa ia kepang setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Anak perempuan yang akan menemaninya di dapur untuk memasak, atau untuk sekadar bercerita di ruang tamu.

Namun, lihatlah anaknya sekarang. Mungkin, harapannya untuk memiliki anak perempuan yang anggun dan manis hanya angan-angan.

Naya lebih sering bersama kakak-kakaknya yang laki-laki, tumbuh menjadi bocah liar yang lebih senang memanjat pagar daripada bermain boneka. Jangankan rok dan pita, kaus lengan panjang saja sudah membuatnya mengeluh kepanasan.

Tak ada hari tanpa kenakalan Naya. Mulai dari menyembunyikan sandal adiknya, menukar garam dengan gula saat ibunya memasak, hingga bersembunyi di dalam lemari seharian hanya untuk membuat orang rumah panik. Tapi, apapun itu Naya tetap menjadi pelangi tersendiri dalam keluarganya yang super cuek.

Namun, kehidupan yang awalnya penuh warna, perlahan berubah menjadi ruang sempit yang mengurung rasa takut dan tr4um4. Dunia Naya berubah menjadi gelap karena sebuah peristiwa yang bahkan, tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Suatu sore, saat ia bermain di rumah kosong bersama teman-temannya yang mayoritas laki-laki, Naya terjebak dalam situasi yang tak terduga.

“Ayo, kita main petak umpet!” ajak salah satu temannya. “Naya, kamu jadi yang pertama nyari!”

“Baiklah!” jawab Naya ceria, mulai menutup matanya dan menghitung. “Satu … dua … tiga .…”

Saat ia membuka mata, suasana di sekelilingnya terasa sepi. “Udah, aku mulai cari ya?” teriak Naya, mulai mencari teman-temannya. Namun, beberapa menit ia mencari tak ada yang bisa ia temukan. Hanya suara angin yang berdesir di antara dinding-dinding rumah kosong itu yang bisa ia rasakan.

“Naya, sini!” panggil salah satu temannya yang diperkirakan berada di halaman belakang rumah kosong itu.

Naya mengikuti suara itu, melangkah dengan ragu karena tempat itu sedikit gelap. “Kalian di mana?” tanya Naya, hatinya mulai takut.

Ketika Naya sampai di halaman belakang, ia terkejut melihat teman-temannya sudah berkumpul di sana dengan kaus yang sudah terlepas dari tubuh mereka.

“Ayo, Naya! Buka bajumu!” teriak salah satu dari mereka, membuat Naya terdiam.

“Ng-ngapain?” Naya bertanya, suaranya bergetar. “A-aku udahan, aku mau pulang!”

Belum sempat Naya berbalik, tangannya sudah dicek4l erat oleh temannya. “Ayo kita main, jangan pulang dulu. Ini seru! Ayo, cepat!” des4k mereka, mendekatinya.

Naya merasa ketakutan, n4luriny4 berteriak untuk melawan. “Nggak, gak mau! Naya nggak mau!” teriaknya, berusaha mel4w4n.

Namun, suara teriakannya leny4p begitu saja, tertelan oleh kej4mnya dunia yang tak pernah berpihak pada anak-anak tak berdos4.

Setelah langit mulai gel4p, mereka menghentikan aksi tak s3n0n0h itu. “Inget! Jangan pernah bilang ini ke siapa-siapa, awas aja kalo kamu ng4du!” 4nc4m mereka, membuat Naya tak berani berbuat apa-apa.

Hari itu, dunia Naya runtuh. Teman-teman bermainnya sendiri menjadi penj4h4t besar dalam hidupnya.

Naya berlari pulang. Ada kil4t4n d3nd4m di sinar matanya yang meredup dan kecew4.

****
Baca selengkapnya di KBM Apps.
Judul : Tentang Luka Naya
Penulis : Asya Awani

Hari itu, dunia Naya run-tuh. Teman-teman bermainnya sendiri menjadi penj4hat besar dalam hidupnya. ****Tentang L u k a ...
13/02/2026

Hari itu, dunia Naya run-tuh. Teman-teman bermainnya sendiri menjadi penj4hat besar dalam hidupnya.

****
Tentang L u k a Naya 1

"Cepat! Kej4r! Kej4r dia!" Teriak4n anak-anak pec4h, nafasnya tersengal-sengal. Merek4 berlari4n di jal4n setap4k, langk4h kaki kec1l itu menghent4k tan4h dengan sand4l jep1t berdeb-u.

Di dep4n, seseor4ng anak lari secep4t ang1n, sesekali menol3h untuk memastik4n merek4 tak tertingg4l. Di tangannya, bol4 bes4r yang sepertinya sang4t berharg4 baginya.

"Hei! Berhent1!" teri4k anak lainnya, naf4sku mulai ses4k. "Itu bol4 kita!" lanjutnya.

Nam-un, alih-alih berhent1, anak itu mal4h mempercep4t langkahnya. Ia melunc-ur dengan ges1t, melompat1 genang4n air kec1l, seol4h tub-uhnya adalah pelur-u yang sul1t ditangk4p. Semu4 teman-temannya hanya bis4 terpan4 melih4t tingkahnya.

Anak itu tertaw4 ri4ng, suaranya mengg3ma. "Kalo nggak bis4 ngej4r, jangan har4p bol4 ini bal1k. Siap4 sur-uh gak ngaj4k. Aku nggak ma1n, kali4n juga gak bol3h!" katanya, dengan tub-uh yang mul4i merangk4k ke at4s poh0n.

Teman-temannya terdi4m sejen4k, kebingung4n. "Gaw4t, dia ud4h na1k ke poh0n! Giman4 nih?" Merek4 mul4i sal1ng pand4ng.

"Tenang, gamp4ng kok. Na1k aja!" jaw4b satu di antar4 merek4, sambil bersi4p mendak1.

Nam-un, sebel-um ada yang semp4t bergerak. Su4ra seor4ng wanit4 berum-ur sekit4r tiga pul-uh delap4n tahun terdeng4r dari kejauh4n, menghentik4n mereka.

"Naya! Ayo tur-un! Cuk-up mainnya!" Su4ra yang tak la1n adalah ibunya Naya membel4 udara, membuat anak-anak yang tadi bing-ung itu terseny-um leb4r. Sed4ng Naya yang di at4s poh0n hanya bis4 menghel4 naf4s pasr4h.

Dengan santa1, Naya mul4i tur-un, melomp4t dengan gay4 kh4s yang membuat ibunya hanya bis4 menggelengk4n kepala.

"Bol4 siap4 itu?" tany4 ibunya Naya, matanya taj4m menat4p bol4 yang mas1h digenggamnya.

Naya melir1k ke teman-temannya dan deng4n enggan menyerahk4n bol4 yang sej4k tadi ia pertahank4n.

Di perjalan4n pul4ng, tak hent1 ibunya mengomel1 Naya at4s tingkahnya.

"Kenap4 kamu tidak bis4 seperti anak perempu-an lainnya?" gerut-u sang Ibu, sambil memand4ng pakai4n kot0r Naya deng4n ekspres1 lel4h.

"Bu, bukank4h lebih ba1k aku akt1f daripad4 hanya dud-uk diand4m di rum4h?" jaw4b Naya tanp4 meras4 sal4h.

Mendeng4r itu, ibunya Naya benar-benar kehilang4n kata-kata. Dipandanginy4 Naya dari kepal4 hingg4 kaki. Celan4 yang kot0r, ka0s longg4r yang bahk4n buk4n miliknya melaink4n waris4n dari kakaknya, sert4 kaki yang pen-uh gores4n akib4t terlal-u ser1ng berlari4n tanp4 al4s. Bukan ini yang ia bayangk4n selam4 sembil4n bul4n mengand-ung seor4ng anak perempu-an.

"Dul-u, waktu kamu lah1r, Ibu sen4ng sekali. Ibu pik1r akhirny4 Ibu puny4 anak perempu-an yang bis4 diaj4k menjah1t, memas4k, atau sekad4r berdand4n," ujarny4 lirih.

Naya di4m. Sud4h ser1ng ibunya mengatak4n ini, tapi ent4h kenap4 seti4p kali mendeng4r nad4 kecew4 di su4ra ibunya, ada sesuat-u yang mencub1t hatinya.

"Tapi lih4t sekar4ng," lanj-ut ibunya, lirih. "Seti4p hari kamu berlari4n seperti anak laki-laki. Pakaianmu selal-u kot0r, rambutmu berantak4n, badanmu pen-uh luk4. Anak perempu-an mac4m ap4 kamu ini?"

Naya menund-uk. "Tapi, Bu, aku juga bant-u-bantu di rum4h, kan?"

"Ya, kalau Ibu yang nyur-uh!" pot0ng ibunya cep4t. "Kalau nggak, man4 mungk1n kamu ing4t pekerja4n rum4h? Yang kamu ing4t cum4 ma1n, manj4t poh0n, dan berkelah1 deng4n anak-anak kamp-ung."

Setel4h mengucapk4n itu, Ibunya Naya terdi4m sesa4t, menat4p anak perempu-annya mengerucutk4n bib1r deng4n kepal4 sedik1t menund-uk. Ia tah-u Naya bukan anak yang nak4l, hanya saja ... berbed4 dari harapannya.

Sej4k dul-u, ia selal-u membayangk4n memilik1 anak perempu-an yang man1s, mengenak4n baj-u cant1k deng4n ramb-ut panj4ng tergera1 yang bis4 ia kep4ng seti4p pagi sebel-um berangk4t sekolah. Anak perempu-an yang akan menemani ny4 di dap-ur untuk memas4k, atau untuk sekad4r bercerit4 di ru-ang tam-u.

Nam-un, lihatl4h anaknya sekar4ng. Mungk1n, harapannya untuk memilik1 anak perempu-an yang angg-un dan man1s hany4 ang4n-angan.

Naya lebih ser1ng bersam4 kakak-kakaknya yang laki-laki, tumb-uh menjad1 boc4h li4r yang lebih sen4ng memanj4t pag4r daripad4 berma1n bonek4. Jangank4n rok dan pit4, ka-us leng4n panj4ng saja sud4h membuatny4 mengel-uh kepanasan.

Tak ada hari tanp4 kenakal4n Naya. Mul4i dari menyembunyik4n sand4l adiknya, menuk4r gar4m deng4n gul4 saat ibunya memas4k, hingg4 bersembuny1 di dal4m lemar1 sehari4n hany4 untuk membuat orang rum4h pan1k. Tapi, apap-un itu Naya tetap menjad1 pelangi tersendiri dal4m keluargany4 yang sup3r cuek.

Nam-un, kehidup4n yang awalny4 pen-uh warn4, perlah4n berub4h menjad1 ru-ang semp1 yang mengur-ung ras4 tak-ut dan traum4. Duni4 Naya berub4h menjad1 gel4p karen4 seb-uah peristiw4 yang bahk4n, tak bis4 ia ceritak4n kepad4 siap4 pun.

Suat-u sore, sa4t ia berma1n di rum4h kos0ng bersam4 teman-temannya yang mayorit4s laki-laki, Naya terjeb4k dal4m situas1 yang tak terdug4.

“Ayo, kita ma1n pet4k umpet!” aj4k sal4h satu temannya. “Naya, kamu jad1 yang pertam4 nyar1!”

“Baiklah!” jaw4b Naya ceri4, mul4i menut-up matany4 dan menghit-ung. “Sat-u … du4 … tig4 .…”

Sa4t ia membuk4 mata, suasan4 di sekelilingny4 teras4 sep1. “Ud4h, aku mul4i car1 ya?” teri4k Naya, mul4i mencar1 teman-temannya. Nam-un, beberap4 men1t ia mencar1 tak ada yang bis4 ia temuk4n. Hany4 su4ra ang1n yang berdes1r di antar4 dind1ng-dinding rum4h kos0ng itu yang bis4 ia rasak4n.

“Naya, sin1!” pangg1l sal4h satu temannya yang diperkirak4n berad4 di halam4n belakang rum4h kos0ng itu.

Naya mengikut1 su4ra itu, melangk4h deng4n rag-u karen4 temp4t itu sedik1t gel4p. “Kali4n di man4?” tany4 Naya, hatiny4 mul4i tak-ut.

Ketik4 Naya samp4i di halam4n belakang, ia terkej-ut melih4t teman-temannya sud4h berkump-ul di san4 deng4n ka-us yang sud4h terl3pas dari tub-uh merek4.

“Ayo, Naya! Buk4 bajumu!” teri4k sal4h satu dari merek4, membuat Naya terdi4m.

“Ng … ngapa1n?” Naya bertany4, suarany4 berget4r. “A-aku udahan, aku mau pul4ng!”

Belu-m semp4t Naya berbal1k, tangannya sud4h dicek4l er4t ol3h temannya. “Ayo kita ma1n, jangan pul4ng dul-u. Ini ser-u! Ayo, cep4t!” des4k merek4, mendekatinya.

Naya meras4 ketakut4n, naluriny4 berteri4k untuk melaw4n. “Ngg4k, gak mau! Naya ngg4k mau!” teriaknya, berusah4 melaw4n.

Nam-un, su4ra teriakanny4 leny4p begitu saja, tertel4n ol3h kejamny4 duni4 yang tak pern4h berpih4k pada anak-anak tak berdosa.

Setel4h lang1t mul4i gel4p, merek4 menghentik4n aks1 tak senon0h itu. “Inget! Jangan pern4h bil4ng ini ke siap4-siapa, aw4s aja kalo kamu ngad-u!” anc4m merek4, membuat Naya tak beran1 berbu4t apa-apa.

Hari itu, duni4 Naya runt-uh. Teman-teman bermainny4 sendiri menjad1 penjah4t bes4r dal4m hidupnya.

Naya lari pul4ng. Ada kilat4n dend4m di sin4r matany4 yang mered-up dan kecew4.

****
Sudah tamat di KBM Apps.
Judul: Tentang L u k a Naya
User: MasihPelupa
Penulis: Asya Awani

EMPAT TAHUN SETELAH KEJADIAN ITU MEMBUAT NAYA SUDAH LUPA BAGAIMANA CARANYA BERINTERAKSI DENGAN MANUSIA DI SEKITARNYA.---...
31/07/2025

EMPAT TAHUN SETELAH KEJADIAN ITU MEMBUAT NAYA SUDAH LUPA BAGAIMANA CARANYA BERINTERAKSI DENGAN MANUSIA DI SEKITARNYA.
----
Tentang Luka Naya (4)
----

Langit mendung menaungi halaman sekolah, tetapi itu tidak menyurutkan semangat ratusan siswa baru yang berkumpul di lapangan. Masa Orientasi Sekolah sedang berlangsung, penuh dengan suara senior yang memberikan instruksi, serta gelak tawa, dan obrolan antar siswa yang baru saling mengenal.

MOS di SMP itu lebih mirip festival daripada orientasi. Anak-anak berkeliaran di lapangan, sebagian sibuk menyalin tugas absurd dari kakak kelas, sementara yang lain berusaha eksis, mencoba berteman dengan siapa saja. Tapi di tengah keramaian itu, ada satu sosok yang tampak tak tertarik sama sekali.

Seorang gadis duduk di sudut lapangan, punggungnya bersandar pada tembok dengan tangan yang sesekali memainkan tali sepatunya. Tatapannya kosong, seakan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Sejak tadi, beberapa anak sudah mencoba mengajaknya bicara, tapi responnya sekadar anggukan atau gumaman pendek. Tidak ada usaha untuk berbasa-basi atau sekadar membaur dengan teman-teman baru.

Beberapa siswa mulai berbisik, mencuri pandang ke arahnya.

"Kayaknya dia sombong, deh. Dari tadi nggak mau ngomong sama siapa-siapa," bisik seorang anak perempuan berambut ikal pada temannya.

"Iya, masa MOS diem aja? Kan aneh, ya? Semua juga baru di sini, tapi nggak segitunya." Temannya menimpali.

Gosip-gosip kecil itu mengalir begitu saja, dan meskipun tidak keras, cukup untuk sampai ke telinga Naya. Dia menghela napas, mengangkat kepalanya sedikit, lalu kembali menatap langit. Bukan karena dia sombong, hanya saja ... empat tahun setelah kejadian itu membuat Naya sudah lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan manusia di sekitarnya.

"Astaga! Itu kucing siapa? Kok bisa naik ke atas?" Suasana yang sejak tadi riuh bertambah, ketika ada suara panik dari kelompok anak perempuan yang berkumpul di dekat pohon besar, tidak jauh dari tempat duduk Naya. Salah satu dari mereka berteriak, menunjuk ke atas.

Terlihat seorang anak laki-laki mencoba melihat dari bawah, tapi tingginya tidak cukup. Seekor kucing berbulu abu-abu bertengger di salah satu dahan yang cukup tinggi, mengeong ketakutan. Anak-anak perempuan mulai ribut, memanggil-manggil senior yang lewat, berharap ada yang bisa membantu. Tapi tidak ada yang cukup berani untuk bertindak.

Naya mendengus pelan. Telinganya sudah lelah dengan suara ribut yang tidak ada habisnya. Tanpa berkata apa-apa, dia berdiri, melangkah santai ke arah kerumunan itu.

Suasana seketika hening.

Naya mencengkeram batang pohon dan mulai memanjat. Gerakannya cekatan, seolah memanjat pohon itu sudah jadi kebiasaan. Seragamnya sedikit kotor karena gesekan kulit batang, tapi dia tak peduli.

Mata semua orang membesar melihat gadis yang sedari tadi diam dan dianggap tidak peduli, kini dengan mudahnya memanjat pohon seakan itu bukan hal yang sulit. Mereka hanya tidak tahu, walaupun dunia Naya berubah, tapi jiwa laki-laki yang ada di dalam dirinya masih melekat sampai orang-orang mulai sadar dengan apa yang terjadi.

"Eh, dia manjat? Seriusan?"

"Dia manjat beneran?"

"Gila, itu tinggi banget, loh!"

"Dia cewek? Berani banget!" ujar salah satu dari mereka.

Beberapa anak terdiam, kagum sekaligus merinding ngeri melihatnya. Dari atas pohon, Naya mengulurkan tangan ke arah kucing itu. Si kucing mengeong pelan, ketakutan, tapi Naya tetap tenang. Dia meraih tengkuk kucing itu dengan hati-hati, lalu menurunkannya ke dalam pelukannya. Setelah memastikan cengkramannya aman, ia mulai turun dengan gesit.

Begitu kaki terakhirnya menyentuh tanah, tepuk tangan spontan pecah. Beberapa anak terlihat kagum, sementara yang lain masih terkejut.

"Kucingnya nggak apa-apa, kan?" ucap salah satu anak perempuan yang sedari tadi berteriak.

Naya tidak berkata apa-apa, dia segera menyerahkan kucing itu padanya dan berniat meninggalkan tempat itu. Tapi sebelum itu terjadi ....

"Naya!" Suara kakak OSIS perempuan terdengar keras, dia Kakak pembimbing Naya selama MOS belakangan ini. "Siapa suruh kamu naik pohon? Bahaya tahu!"

Naya hanya menatapnya sekilas. "Berisik," gumamnya singkat sebelum melangkah pergi seolah tidak terjadi apa-apa.

Orang-orang kembali berbisik-bisik lagi. Sebagian heran, sebagian tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tapi diantara semuanya, ada satu pasang mata yang terus mengamatinya dengan penuh ketertarikan.

Saat Naya hendak mengambil tasnya dan pergi, seseorang mendekatinya.

"Keren." Naya mend**gak, ia melihat seorang gadis berdiri di depannya. Rambutnya hitam lurus, diikat setengah dengan pita kecil. Wajahnya manis, dengan senyum terukir di wajahnya.

Mata Naya menatap gadis itu sebentar, ekspresinya datar. Sedang gadis itu kembali tersenyum, ini pertama kalinya dia melihat Naya dari dekat, sudah beberapa hari ini dia memperhatikan dan menurutnya, Naya mempunyai aura berbeda. Tenang, tapi bukan dingin.

“Hebat juga," ucap gadis itu yang membuat Naya menghentikan gerakannya. “Cepat banget kamu manjat. Kamu atlet panjat tebing, ya?”

Naya menatapnya lebih lama kali ini. “Nggak.”

Naya tau, dia adalah Kakak tingkatnya. Jika tidak salah, satu tingkat darinya. Siswi populer di sekolah ini yang jika disebut saja namanya, maka tidak ada alasan orang untuk tidak mengenalnya.

Gadis itu menaikkan alis, lalu terkekeh. “Oh, berarti sering maling mangga, ya?”

Naya menghela napas, tampaknya malas menanggapi. Tapi bukannya pergi, dia justru berhenti, seolah menunggunya mengatakan sesuatu lagi.

“Kamu nggak banyak omong, ya?” Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada, kepalanya miring sedikit. “Pantes anak-anak lain pikir kamu sombong.”

Ada sesuatu yang berubah di mata Naya saat mendengar itu. Tidak marah, tapi jelas tidak nyaman.

“Aku nggak sombong.” Suara Naya terdengar ringan, tapi ada ketegasan di dalamnya. Gadis itu tersenyum puas. Akhirnya, ia mendapatkan jawaban yang lebih panjang.

“Bagus lah kalau gitu,” katanya ceria. “Soalnya aku nggak s**a temenan sama orang sombong. Berarti mulai sekarang kita bisa berteman, kan?”

Naya menatapnya sejenak, lalu melirik ke arah siswa lain yang masih menatap mereka berdua. Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya ada yang mengajukan pertemanan dengannya. Bahkan dari awal MOS saja, kebanyakan hanya menanyakan latar belakangnya bukan untuk mengajaknya berteman.

Sekarang, dia ragu, apakah ia harus menerima ajakan itu atau membiarkannya berlalu begitu saja?

****
Baca selengkapnya di KBM Apps.
Judul : Tentang Luka Naya
Penulis : Asya Awani

NAYA HANYA BISA MENUNDUK, TANGANNYA MENGEP4L DI SISI TUBUHNYA. IA INGIN BERTERI4K BAHWA INI TIDAK ADIL, TAPI SUARANYA TE...
14/07/2025

NAYA HANYA BISA MENUNDUK, TANGANNYA MENGEP4L DI SISI TUBUHNYA. IA INGIN BERTERI4K BAHWA INI TIDAK ADIL, TAPI SUARANYA TERASA HILANG KARENA REPUTASINYA YANG DI CAP N4K4L.
----
Tentang Luka Naya (3)
----

"Awas!" Sebuah teri4kan melengk1ng, menggema di halaman sekolah.

DOR!

Sebuah bola melesat li4r dan mengh4nt4m jendela ruang kelas dengan suara pec4h4n k4c4 yang nyaring. Anak-anak yang tadi bersorak langsung membeku. Mata mereka terp4ku pada serp1han k4c4 yang berserakan di lantai.

Sebelum kejadian itu, beberapa anak laki-laki sibuk bermain bola di lapangan. Fajar menendang bola ke arah Naya yang tengah duduk di pinggir lapangan, membaca buku.

"Ayo, Nay! Main sama kita!" seru Dani sambil menggambil bola yang bergul1r ke arah Naya.

Ajakan itu terasa meny4kitkan bagi Naya. Dulu mungkin jika mendengar itu ia akan segera berlari terjun ke lapangan, tapi itu dulu. Ya, dulu sebelum semuanya berubah. Sebelum kejadian yang membuatnya enggan dekat-dekat dengan laki-laki lagi. Karena saat ini ia lebih s**a menyendiri, menghindari mereka sejauh mungkin.

"Nggak, kalian aja."

"Kenapa? Kamu s**a main bola, kan. Kita kekurangan pemain nih!" Bayu ikut menyahut.

"Nggak! Pergi sana!" bentak Naya kasar.

Bayu dan Dani saling pandang, sedikit kesal. "Ya udah kalau nggak mau, bilang aja baik-baik. Nggak usah galak gitu," gumam Bayu sambil berjalan menjauh.

Naya berhasil menghindar, tapi bola itu kembali menggelinding ke kakinya. Dengan kesal, ia mengambil bola itu dan hendak melemp4rny4. Namun sebelum ia sempat, Dani tiba-tiba berlari ke arahnya dan mencoba merebut bola dari tangannya.

"Dani, lepasin!" seru Naya, berusaha mempertahankan bola.

Tapi Dani justru menarik lebih kuat, dan tanpa sengaja kakinya tersandung. Dalam usaha menyeimbangkan diri, ia malah menendang bola itu, dan ... DOR! Kaca jendela pec4h berh4mbur4n.

"Waduh!" Fajar mundur selangkah. "Siapa yang tadi nendang?"

Semua anak saling pandang, lalu satu per satu melirik ke arah Naya. Bagaimana tidak? Yang mereka tau, Naya lah yang memegang bola itu terakhir kalinya. Sedang kejadian Dani yang menendang, luput dari pengamatan.

Beberapa guru keluar dari ruangan, mendapati kek4c4u4n yang terjadi. Mereka melangkah mendekat lalu beberapa saat mulai menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalian lagi, kalian lagi," gumam Bu Wati, guru kelas. "Baru kemarin buat onar di kelas, sekarang malah pec4hin k4c4."

Sedang Pak Rahman, sang guru olahraga menghela napas panjang. "Kalian ini memang selalu bikin masalah. Naya! Fajar! Dani! Bayu! Kalian berempat ikut saya ke ruang guru sekarang juga!"

Naya menelan ludah, namanya disebut. Ini bukan salahnya, Ia bahkan tidak ingin bermain. Kenapa dirinya harus terlibat?

Di dalam ruang guru, Naya berdiri di samping Fajar dan Dani. Wajah mereka sama pucatnya. Di hadapan mereka, Ibu Kepala Sekolah menatap tajam.

"Jadi siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?" Suara Ibu Kepala Sekolah terdengar dingin.

Tak ada yang berani menjawab. Ingin hati Naya membela diri, tapi rasa takutnya lebih tinggi.

Ibu Kepala Sekolah menatap mereka lama. "Gak ada yang mengaku? Baiklah, kalian akan mendapat surat panggilan untuk orang tua. Serahkan pada mereka, besok mereka harus datang ke sekolah."

"Ta-tapi ... aku nggak salah, Bu! Aku cuma duduk di sana, terus tiba-tiba ...," ucapan Naya terhenti, lidahnya mendadak kelu untuk menjelaskan.

"Tiba-tiba apa? Kamu ini sama aja, Naya! Tak ada ubahnya dengan anak laki-laki."

Naya hanya bisa menunduk, tangannya mengep4l di sisi tubuhnya. Ia ingin berteri4k bahwa ini tidak adil, tapi suaranya terasa hilang karena reputasinya yang di cap nakal.

Akhirnya mereka keluar ruangan dengan membawa surat pemanggilan orang tua. Naya merasa dunianya h4ncur. Ia tahu, ibunya akan marah besar jika tahu masalah ini.

Malamnya, Naya duduk di kamarnya. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela. Kemarahan ibunya tadi siang masing berputar di kepalanya.

"Naya! Apa ini?" Ibunya Naya mengangkat surat dari sekolah dengan wajah penuh amarah. "Kamu nggak dengar apa yang Ibu bilang? Sudah dilarang main dengan anak laki-laki, masih saja ngeyel! Sekarang, lihat akibatnya!" bent4knya.

"Aku nggak main sama mereka, Bu! Aku udah nolak, mereka yang berulah, bukan aku." Naya bersikeras, suaranya bergetar menahan marah dan kesal.

"Jangan beralasan! Kalau kamu nggak dekat-dekat mereka, kejadian ini nggak akan terjadi! Ibu malu dipanggil ke sekolah gara-gara kamu!" Suara ibunya naik satu oktaf.

"Tapi aku beneran nggak main! Aku juga nggak mau main lagi sama mereka! Aku benc1 mereka!" Naya berteriak, dadanya sesak oleh amarah dan ketidakadilan.

Tak ada respon dari ibunya, memang tak ada yang diharap lagi, bahkan setelah ia kehilangan teman-temannya.

"Ini semua salah kalian! Aku nggak ikut main, tapi aku malah kena," ucap Naya, mulai kesal.

"Eh, marah-marah dia!" Bayu tertawa sinis. "Biasanya juga kayak gini, kan? Kamu kenapa sih, Nay. Marah-marah gak jelas."

Kalimat itu membuat Naya meledak. "Aku benci kalian semua! Aku nggak akan pernah berurusan sama cowok lagi!"

Anak-anak lain melongo. Beberapa tertawa mengejek, yang lain hanya diam.

"Ih, lebay banget sih! Gara-gara bola doang langsung benci cowok?" Fajar mengangkat alis.

"Biarin! Aku nggak butuh teman kayak kalian!" Naya berbalik dan berlari pergi, meninggalkan tatapan s1n1s teman-temannya.

---

Sejak hari itu, semuanya berubah.

Naya tak lagi memiliki teman. Bukan hanya ia yang menjauh, tapi teman-temannya pun tak mau lagi berurusan dengannya. Anak-anak perempuan lebih s**a bermain sendiri, dan anak laki-laki sengaja ia hindari. Tak ada lagi yang di ajaknya bicara di kelas, tak ada yang menyapanya saat istirahat. Setiap kali ia melewati kerumunan, mereka akan diam atau bergumam pelan di belakangnya.

Bertahun-tahun hingga lulus SD, Naya tetap sendirian. Tak ada yang peduli, dan lama-kelamaan, ia pun terbiasa.

Dunia luar memang tidak bisa dipercaya.

****
Baca selengkapnya di KBM Apps.
Judul : Tentang Luka Naya
Penulis: Asya Awani

MEREKA TIDAK TAHU BAHWA ANAK YANG MEREKA BANGGAKAN INI BUKANLAH NAYA YANG SEBENARNYA. MEREKA TIDAK TAHU BAHWA DI BALIK S...
13/07/2025

MEREKA TIDAK TAHU BAHWA ANAK YANG MEREKA BANGGAKAN INI BUKANLAH NAYA YANG SEBENARNYA. MEREKA TIDAK TAHU BAHWA DI BALIK SENYUMNYA, ADA LUK4 YANG TERUS MENG4NG4.
----
Tentang Luka Naya (2)
----

Setelah kejadian itu, dunia luar menjadi tempat yang menakutkan bagi Naya. Ia tak lagi bermain di luar seperti dulu. Jika anak-anak lain berlarian di gang kecil depan rumahnya m3nj3rit dan tertawa, Naya hanya melihat mereka dari balik jendela. Ada sesuatu yang tertinggal di sana, sesuatu yang dulu pernah dimiliknya.

Naya yang dulu bebas berlari ke sana kemari, kini seperti burung yang sayapnya dipatahkan. Ia tak pernah lagi keluar rumah lebih dari yang seharusnya. Takut? Ya, tentu saja. Kejadian di hari itu sangat membekas di ingatannya, seakan ia bisa jatuh kapan saja ke dalam jur4ng yang tak berdasar lagi.

Namun, Naya tetap lah anak kecil yang masih memiliki agenda wajib. Sekolah dan mengaji tentu hal rutin yang harus dilakukannya di luar rumah.

Seperti hari itu, ibunya sedang menyiapkan makan malam ketika Naya mengambil mukena dan Al-Qur'an kecilnya.

"Mau ke mana?" tanya ibu tanpa menoleh.

"Ngaji, Bu," jawab Naya pelan.

Ibunya mengangguk. "Jangan lama-lama, ya. Jangan berulah dengan anak laki-laki lagi, ingat kamu itu perempuan."

Naya hanya mengangguk, walaupun dadanya terasa sesak. Setiap kata ibunya seperti menekan-nekan luk4 yang masih basah.

Andai ibunya tau, jangankan berulah, menatap teman-temannya saja sekarang Naya tak berani. Saat ia berjalan keluar rumah, ia menundukkan kepala. Setiap kali ada suara anak laki-laki yang berlari melewatinya, ia akan merapatkan jilbabnya.

Setelah mengaji, ia pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak peduli teman-temannya masih bercanda di masjid, tidak peduli ada yang memanggil namanya. Ia hanya ingin sampai rumah sebelum langit benar-benar gelap.

Tapi usahanya sia-sia, rasa aman yang dibuatnya perlahan memudar ketika ia menyadari bahwa b4h4y4 tidak hanya ada di luar sana.

Malam itu, ibunya pergi ke rumah tetangga. Ayahnya belum pulang kerja. Rumah terasa sepi.

Naya duduk di depan televisi, menonton kartun yang suaranya tidak benar-benar ia dengarkan.

"Nay, ayo! Ibu lagi keluar, kita main di kamar," ajak kakanya, Rudi. Tak seperti biasanya yang cuek pada Naya. Jangankan mengajak main, berbicara saja hampir tak pernah.

Naya menoleh dan melihat kakaknya berdiri di ambang pintu kamarnya. "Aku lagi nonton," jawab Naya tanpa menoleh.

"Di kamar juga bisa. Nanti ibu pulang, kita nggak bisa main."

"Aku nggak mau." Naya tetap pada pendiriannya. Suasana di ruangan terasa berat. Televisi masih menyala, tapi suara kartun yang biasanya membuatnya tertawa kini terdengar hampa.

"Ayo, d**g. Kakak kan baik sama kamu. Kakak beliin permen kemarin." Naya tetap menggeleng hingga suara bentakkan terdengar.

"Nay!!" Naya menggigit bibirnya. Dia tahu. Dia tahu kalau dia menolak lagi, Rudi bisa marah dan itu lebih buruk.

Pelan, Naya berdiri. Dengan langkah kecil, ia berjalan menuju kamar. Tapi begitu pintu kamar tertutup, ia sadar telah masuk ke dalam perangkap.

Bayangan yang menakutkan dari kejadian sebelumnya menghantui pikirannya. Saat itu teman laki-lakinya, kini justru kakaknya sendiri. Memang dunia sekej4m itu pada Naya. Kakak yang harusnya menjadi pelindung justru menambah luk4 pada gadis kecil yang baru saja mengenal dunia itu.

Rudi tidak butuh paks44n, Naya sudah tahu tak ada gunanya melaw4n. Dan itu membuat Rudi dengan leluasa melakukannya. Ia membeku seperti patung, membiarkan semuanya terjadi tanpa suara. Kali ini, tidak ada tangis, hanya tatapan kosong.

Sama seperti sebelumnya, ketika semuanya selesai, Rudi tersenyum seperti tidak ada yang terjadi. "Jangan bilang siapa-siapa, ya?" suaranya ringan, seolah yang baru saja ia lakukan hanyalah permainan biasa.

Dan tentu saja, tidak ada yang bisa dilakukan Naya selain mengangguk.

Hari-hari berlalu, tetapi mimpi buruk itu berulang. Setiap kali rumah kosong, setiap kali ibunya pergi, kakaknya akan mendekat. Tak ada ruang aman bagi Naya. Tidak di luar rumah, tidak di dalam rumah, tidak di mana pun.

Jika dulu, ia menyukai sore hari karena bisa bermain dengan teman-temannya di luar. Sekarang, ia takut dengan setiap menit yang berlalu menuju senja, karena itu berarti rumahnya akan sepi dan artinya Naya harus menghadapi ner4k4ny4 sendiri.

Setiap malam, Naya mengg1g1t bibirnya sendiri agar tidak menangis. Setiap pagi, ia berpura-pura menjadi anak yang baik. Setiap sore, ia berharap ibunya tidak meninggalkannya di rumah sendirian.

Namun, harapan Naya terlalu kecil untuk melawan kenyataan yang besar. Orang tuanya tidak menyadari perubahan dirinya. Ibunya hanya sesekali bertanya kenapa ia tidak lagi bermain di luar, lalu Naya hanya akan tersenyum kecil dan menjawab dengan alasan sederhana, "Naya capek, Bu."

Bagi ibunya, perubahan Naya adalah hal yang baik. Anaknya yang dulu selalu berlari-lari dan pulang dengan baju kotor kini lebih banyak diam di rumah, membantu pekerjaan rumah, dan tidak banyak bertanya.

"Akhirnya ibu punya anak perempuan yang penurut," kata sang Ibu sambil tersenyum.

Naya hanya menunduk, memainkan ujung bajunya. Ia tidak tahu harus merasa sedih atau lega. Ibunya bahagia dengan perubahan ini. Tapi bukankah ini bukan dirinya yang sebenarnya?

Ayahnya bahkan lebih bangga. "Naya sekarang makin dewasa, ya. Sudah pintar bantu-bantu di rumah."

Kalimat itu seharusnya membuat Naya bahagia, tapi setiap kali mendengarnya, sesuatu di dalam dirinya terasa h4ncur. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa anak yang mereka banggakan ini bukanlah Naya yang sebenarnya. Mereka tidak tahu bahwa di balik senyumnya, ada luk4 yang terus meng4ng4.

Orang-orang hanya melihat Naya yang berubah menjadi pendiam. Tidak ada yang tahu dan jikalaupun ada yang tau, kepada siapa ia harus memberitahu? Siapa yang bisa ia ajak bicara? Tidak ada.

Bahkan jika Naya mengadu pada ibunya, apakah sang Ibu akan percaya? Atau justru menyalahkannya karena terlalu li4r dan tidak bisa bersikap seperti perempuan pada umumnya.

Setiap malam, Naya menulis dalam buku hariannya, mencatat ket4kut4n yang semakin mengik4tny4. Walau tangannya gemet4r setiap kali menulis, ia tetap melakukannya. Seolah-olah jika ia menuliskan semuanya, maka rasa sakitnya akan sedikit berkurang.

'Dunia ini dipenuhi kej4h4t4n, aku mengenal salah satu dari mereka dan kadang b3nci dengan itu. Namun tanganku masih terlalu kecil untuk mel4w4n mereka. Dunia ini ker4s bahkan untuk gadis kecil sepertiku.' Tulis Naya dalam bukunya.

Dunia ini tidak sebaik yang dikira orang-orang. Kadang Naya ingin m4r4h, ingin berteri4k, tapi ia tahu bahwa tangisan atau kemar4h4n tidak akan mengubah apa pun.

Dunia luar tidak akan selamanya bisa Naya hindari. Ia ingin terus bersembunyi, di dalam keheningan yang meskipun menyes4kk4n, setidaknya sudah ia kenali. Tapi esok, ia harus kembali ke sekolah.

Di depan cermin, Naya melihat dirinya sendiri. Gadis kecil dengan mata yang dulu cerah kini terlihat suram. Ia menatap seragam sekolahnya yang tergantung rapi. Putih dan merah, warna yang seharusnya melambangkan semangat dan kepolosan anak-anak seusianya. Tapi bagi Naya, warna-warna itu terasa begitu jauh.

****
Baca selengkapnya di KBM Apps.
Judul : Tentang Luka Naya
Penulis : Asya Awani

Address

Garut

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Asya Awani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share