24/04/2026
Belum sempat Naya berbalik, tangannya sudah dicek4l erat oleh temannya. “Ayo kita main, jangan pulang dulu. Ini seru! Ayo, cepat!” des4k mereka, mendekatinya.
Hari itu, dunia Naya runtuh. Teman-teman bermainnya sendiri menjadi penj4h4t besar dalam hidupnya.
----
Tentang Luka Naya (1)
----
"Cepat! Kejar! Kejar dia!" Teriakan anak-anak pecah, nafasnya tersengal-sengal. Mereka berlarian di jalan setapak, langkah kaki kecil itu menghent4k tanah dengan sandal jepit berdebu.
Di depan, seorang anak berlari secepat angin, sesekali menoleh untuk memastikan mereka tak tertinggal. Di tangannya, bola besar yang sepertinya sangat berharga baginya.
"Hei! Berhenti!" teriak anak lainnya, nafasnya mulai sesak. "Itu bola kita!" lanjutnya.
Namun, alih-alih berhenti, anak itu malah mempercepat langkahnya. Ia meluncur dengan gesit, melompati genangan air kecil, seolah tubuhnya adalah p3luru yang sulit dit4ngk4p. Semua teman-temannya hanya bisa terpana melihat tingkahnya.
Anak itu tertawa riang, suaranya menggema. "Kalo nggak bisa ngejar, jangan harap bola ini balik. Siapa suruh gak ngajak. Aku nggak main, kalian juga gak boleh!" katanya, dengan tubuh yang mulai mer4ngk4k ke atas pohon.
Teman-temannya terdiam sejenak, kebingungan. "Gawat, dia udah naik ke pohon! Gimana nih?" Mereka mulai saling pandang.
"Tenang, gampang kok. Naik aja!" jawab satu di antara mereka, sambil bersiap mendaki.
Namun, sebelum ada yang sempat bergerak. Suara seorang wanita berumur terdengar dari kejauhan, menghentikan mereka.
"Naya! Ayo turun! Cukup mainnya!" suara yang tak lain adalah ibunya Naya membelah udara, membuat anak-anak yang bingung itu tersenyum lebar. Sedang Naya yang di atas pohon hanya bisa menghela nafas pasrah.
Dengan santai, Naya mulai turun, melompat dengan gaya khas yang membuat ibunya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Bola siapa itu?" tanya ibunya Naya, matanya t4j4m menatap bola yang masih digenggamnya.
Naya melirik ke teman-temannya dan dengan enggan menyerahkan bola yang sejak tadi ia pertahankan.
Di perjalanan pulang, tak henti ibunya mengomeli Naya atas tingkahnya.
"Kenapa kamu tidak bisa seperti anak perempuan lainnya?" gerutu sang Ibu, sambil memandang pakaian kotor Naya dengan ekspresi lelah.
"Bu, bukankah lebih baik aku aktif daripada hanya duduk diam di rumah?" jawab Naya tanpa merasa bersalah.
Mendengar itu, ibunya Naya benar-benar kehilangan kata-kata. Dipandanginya Naya dari kepala hingga kaki. Celana yang kotor, kaos longgar yang bahkan bukan miliknya melainkan warisan dari kakaknya, serta kaki yang penuh goresan akibat terlalu sering berlarian tanpa alas. Bukan ini yang ia bayangkan selama sembilan bulan mengandung seorang anak perempuan.
"Dulu, waktu kamu lahir, Ibu senang sekali. Ibu pikir akhirnya Ibu punya anak perempuan yang bisa diajak menjahit, memasak, atau sekadar berdandan," ujarnya lirih.
Naya diam. Sudah sering ibunya mengatakan ini, tapi entah kenapa setiap kali mendengar nada kecewa di suara ibunya, ada sesuatu yang m3ncubit hatinya.
"Tapi lihat sekarang," lanjut ibunya, lirih. "Setiap hari kamu berlarian seperti anak laki-laki. Pakaianmu selalu kotor, rambutmu berantakan, badanmu penuh luka. Anak perempuan macam apa kamu ini?"
Naya menunduk. "Tapi, Bu, aku juga bantu-bantu di rumah, kan?"
"Ya, kalau Ibu yang nyuruh!" potong ibunya cepat. "Kalau nggak, mana mungkin kamu ingat pekerjaan rumah? Yang kamu ingat cuma main, manjat pohon, dan berkelahi sama anak-anak kampung."
Setelah mengucapkan itu, Ibunya Naya terdiam sesaat, menatap anak perempuannya mengerucutkan bibir dengan kepala sedikit menunduk. Ia tahu Naya bukan anak yang nakal, hanya saja ... berbeda dari harapannya.
Sejak dulu, ia selalu membayangkan memiliki anak perempuan yang manis, mengenakan baju cantik dengan rambut panjang tergerai yang bisa ia kepang setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Anak perempuan yang akan menemaninya di dapur untuk memasak, atau untuk sekadar bercerita di ruang tamu.
Namun, lihatlah anaknya sekarang. Mungkin, harapannya untuk memiliki anak perempuan yang anggun dan manis hanya angan-angan.
Naya lebih sering bersama kakak-kakaknya yang laki-laki, tumbuh menjadi bocah liar yang lebih senang memanjat pagar daripada bermain boneka. Jangankan rok dan pita, kaus lengan panjang saja sudah membuatnya mengeluh kepanasan.
Tak ada hari tanpa kenakalan Naya. Mulai dari menyembunyikan sandal adiknya, menukar garam dengan gula saat ibunya memasak, hingga bersembunyi di dalam lemari seharian hanya untuk membuat orang rumah panik. Tapi, apapun itu Naya tetap menjadi pelangi tersendiri dalam keluarganya yang super cuek.
Namun, kehidupan yang awalnya penuh warna, perlahan berubah menjadi ruang sempit yang mengurung rasa takut dan tr4um4. Dunia Naya berubah menjadi gelap karena sebuah peristiwa yang bahkan, tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.
Suatu sore, saat ia bermain di rumah kosong bersama teman-temannya yang mayoritas laki-laki, Naya terjebak dalam situasi yang tak terduga.
“Ayo, kita main petak umpet!” ajak salah satu temannya. “Naya, kamu jadi yang pertama nyari!”
“Baiklah!” jawab Naya ceria, mulai menutup matanya dan menghitung. “Satu … dua … tiga .…”
Saat ia membuka mata, suasana di sekelilingnya terasa sepi. “Udah, aku mulai cari ya?” teriak Naya, mulai mencari teman-temannya. Namun, beberapa menit ia mencari tak ada yang bisa ia temukan. Hanya suara angin yang berdesir di antara dinding-dinding rumah kosong itu yang bisa ia rasakan.
“Naya, sini!” panggil salah satu temannya yang diperkirakan berada di halaman belakang rumah kosong itu.
Naya mengikuti suara itu, melangkah dengan ragu karena tempat itu sedikit gelap. “Kalian di mana?” tanya Naya, hatinya mulai takut.
Ketika Naya sampai di halaman belakang, ia terkejut melihat teman-temannya sudah berkumpul di sana dengan kaus yang sudah terlepas dari tubuh mereka.
“Ayo, Naya! Buka bajumu!” teriak salah satu dari mereka, membuat Naya terdiam.
“Ng-ngapain?” Naya bertanya, suaranya bergetar. “A-aku udahan, aku mau pulang!”
Belum sempat Naya berbalik, tangannya sudah dicek4l erat oleh temannya. “Ayo kita main, jangan pulang dulu. Ini seru! Ayo, cepat!” des4k mereka, mendekatinya.
Naya merasa ketakutan, n4luriny4 berteriak untuk melawan. “Nggak, gak mau! Naya nggak mau!” teriaknya, berusaha mel4w4n.
Namun, suara teriakannya leny4p begitu saja, tertelan oleh kej4mnya dunia yang tak pernah berpihak pada anak-anak tak berdos4.
Setelah langit mulai gel4p, mereka menghentikan aksi tak s3n0n0h itu. “Inget! Jangan pernah bilang ini ke siapa-siapa, awas aja kalo kamu ng4du!” 4nc4m mereka, membuat Naya tak berani berbuat apa-apa.
Hari itu, dunia Naya runtuh. Teman-teman bermainnya sendiri menjadi penj4h4t besar dalam hidupnya.
Naya berlari pulang. Ada kil4t4n d3nd4m di sinar matanya yang meredup dan kecew4.
****
Baca selengkapnya di KBM Apps.
Judul : Tentang Luka Naya
Penulis : Asya Awani