09/11/2015
SIWA SIDDHANTA
Penerbit: Lingkarantarnusa
Penulis: Ida Bagus Wika Krishna
Terbit: Januari 2015
Tebal: 186 halaman
Ukuran: 145x215 mm
ISBN 978-602-1630-25-9
Harga: Rp50000
Belajarlah agar bisa menikmati keharuman agama Hindu yang telah diwariskan di Nusantara ini, dengan mempelajari dan memahaminya. Tanpa memahaminya tentu mustahillah muncul kecintaan lebih-lebih bisa menikmati keluhurannya. Salah satu yang menjadi mutiara identitas Hindu Nusantara adalah ajaran Siwa Siddhanta, terjabar melalui berbagai kitab-kitab sastra, bangunan tempat suci, dan pelaksanaan ritual.
Ketiga-tiganya baik Brahma, Wisnu, dan Rudra tidak lain adalah Siwa sendiri. Brahmalah Ia saat mencipta, Wisnulah Ia saat menjaga dan, dalam waktu bersamaan, Rudralah Ia di saat Mempralina atau melebur kembali alam semesta. Hanya nama-Nya yang berbeda tergantung fungsi yang sedang diperankan-Nya. Brahma, Wisnu dan Rudra apabila disatukan maka akan menjadi "OMKARA"lah ia. Brahma A-kara , Wisnu U-kara dan Rudra MA-kara. Jadi kesimpulannya "OMKARA" adalah Siwa.
Sang Hyang Siwa meresapi segala "Wyapi-Wyapaka" dan ada di setiap penjuru dunia. Beliau dipersonifikasikan dengan Panca Dewata ataupun Dewata Nawa Sanga. Baik dalam Panca Dewata maupun Dewata Nawa Sanga, Sang Hyang Siwa tetap menjadi poros, dengan menempati posisi di tengah. Jadi Sang Hyang Siwalah itu semua, berbeda nama dan fungsi-Nya. Dewa-dewa penguasa masing-masing kiblat merupakan prabhawa dari kuasa Sang Hyang Siwa guna mengatur keharmonisan alam semesta.
Berisi 4 bagian tulisan:
Hinduisme: Sebuah Pengantar
Ajaran Siwa Siddhanta
Implementasi Ajaran Siwa Siddhanta
Jejak-Jejak Peradaban Siwaisme di Nusantara