14/08/2023
● Saat membaca kisah beliau Airmata saya langsung tumpah ruah tak terbangun ●
■MBAH JUM ■
Begitulah beliau selalu dipanggil dikatakan Masyarakat tempat beliau tinggal di Kasian Bantul, Yogyakarta. Kisah ini di ceritakan oleh Irene Radjiman yang berdasarkan kisah nyata perjalanan Mbah Jum di kehidupan kesehariannya.
Mbah Jum terlahir sebagi tunanetra sejak bayi, dengan kondisi ekonomi yang terbatas orang tanya tidak memungkinkan beliau mendapatkan perawatan semestinya.
Keseharian Mbah Jum adalah berjalan tempe dan membacanya ke pasar dibantu oleh cucunya, setelah membenahi jualan Mbah Jum , si cucu meninggalkannya karena dia juga bekerja sebagai kuli panggul di pasar tersebut.
Disaat para pedagang lain sibuk dengan menghitung uang hasil jualan mereka ataupun ada yang ngerumpi, Mbah Jum sibuk dengan sepanjang Shalawatnya.
Tidak lebih dari 2 jam dagangan tempe Mbah Jum sudah habis terjalin dan di saat itu cucunya pun datang untuk membantu si Mbah merasakan sisa dagangan dan berteman untuk pulang, saat cucunya datang Mbah Jum selalu meminta Cucunya untuk menghitung uang hasil dagangan yang diperoleh, bila cucunya menyebitkan jumlah hasil dagangan yang terjalin lebih dari 50 ribu , Mbah Jum selalu meminta cucunya dalam perjalanan pulang uang sisanya untuk di masukkan dalam kotak amal di masjid.
Sqng penulis pun bertanya pada cucunya " kenapa begitu ?"
" karena modal buat tempe si mbah hanya 20ribu jadi kalau terjual habis harusnya hanya 50ribu saja. Kalau lebih berarti yang lebihnya punya GUSTI ALLAH.
Mbah Jum membawa tempe tidak pernah berubah setiap.hari selalu sama.menurut cerita cucu Mbah Jum , Terkadang si pembelajaran memberikan uang lebih kepada Mbah Jum , karena saat transaksi Mbah Jum yang tunanetra selalu mengatakan kepada para pembelinya untuk mengambil uang kembaliannya sendiri , dan pembeli itu selalu mengatakan bahwa uang mereka pas, bahkan pernah suatu hari hasil penjualannya mencapai 350ribu, karena si Mbah Jum berkata cukup 50 ribu maka cucunya memasukkan sisa hasil jualan hati itu yang 300 ribu kedalam kotak amal di masjid.
Mashaa Allah ya Teman-teman... di era modern sekarang ini kita yang masih s**a dunia terkadang masih s**a merasa kurang padahal sudah mendapatkan keuntungan juga ingin selalu lebih.bahkan terkadang dapat uang lebih s**a di gunakan hal yang tidak berguna dan bersifat konsumtif dengan alasan membahagiakan diri sendiri, tanpa sadar ada kehidupan abdi yang kelak akan di jalani lebih panjang dan membutuhkan bekal juga.
Cerita Mbah Jum ini menyadarkan bagi kita yang selalu ingin tampak luar biasa di mata manusia.
Cerita tentang beliau teman-teman boleh browse di goegle, cobalah lebih memakai media sosial sebagai sarana untuk menambah hal** yang berguna, cerita yang sangat inspiratif, apalagi di jaman sekarang ini mental health kita benar-benar sedang dikuras.
Ada hal yang menariknya Mbah jum ini juga s**a membantu pijat bayi dan orang-orang yang sakit di sekitar tanpa memberikan tarif. Bahkan banyak yang sembuh, uang hasil dari pijat beliau masukkan ke kotak amal di masjid.
Saat di tanyakan kenapa uang hasil pijat juga di masukkan ke kotak amal masjid.
Jawaban beliau sangat menghujam " Kesembuhan mereka itu dari Allah bukan dari saya , dan Allah tempatnya di Masjid."
Sedangkan jaman sekarang para Dokter, Para Tukang Pijat, Para Ahli kesehatan coba tanyakan adakah dari mereka yang memiliki pemikiran sesederhana Mbah Jum???
Sangat Jarang sekali bukan??? Bahkan ketika mereka mampu menyembuhkan orang- orang yang sakit, yang sembuh karena di pijat dll, mereka merasa di atas angin lalu menaikkan tarif mereka.
Dan yang luar biasanya lagi di keterbatasan ekonomi beliau , Mbah Jum mampu membiayai 4 orang Anak Yatim dan Subhanallah mereka semua Hafizh Qur'an , si Mbah Jum adalah orang yang Hafizh Qur'an, Subhanallah....
Jujur saat membaca cerita beliau jantung saya seperti meledak- ledak, malu...malu rasanya , masih s**a mengeluh, masih sibuk akan dunia.
Mbah Jum sudah tiada , sebelumnya beliau tidak terkenal , cerita diangkat saat beliau sudah wafat.
Masihkah kita sibuk untuk hal yang sifatnya sementara???
Sudahkah kita mempersiapkan bekal kita untuk pulang ke tempat kehidupan yang hakiki??
Jika teman-teman bertanya pada saya🥺🥺🥺 saya masih belum mempersiapkan bekal untuk pulang , bekal saya untuk pulang menghadapi Allah masih sedikit, masih terus belajar berusaha sekuat mungkin untuk bisa berjalan kesana.
Semoga bermanfaat.