23/07/2025
---
"Langkah Mukidi"
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan suara jangkrik, hiduplah Mukidi. Bukan siapa-siapa, hanya seorang tukang kayu sederhana yang lebih s**a bicara dengan pohon daripada dengan manusia. Ia dikenal pendiam, aneh, dan—menurut banyak orang—keras kepala.
"Orang itu kerjanya cuma motong kayu dan ngomong sendiri," kata Pak RT suatu sore di warung kopi.
Tapi Mukidi tak peduli. Ia punya keyakinan sendiri.
Setiap pagi, ia bangun sebelum ayam, menyalakan tungku, lalu berjalan ke hutan. Ia tak menebang sembarangan. Ia memilih pohon yang mati berdiri, lalu membawanya p**ang, memahatnya menjadi kursi, meja, atau mainan anak-anak.
“Kenapa nggak ikut kerja di kota, Di? Gajinya jelas,” tanya Darto, teman lamanya.
Mukidi hanya tersenyum. "Aku percaya apa yang kulakukan ini ada gunanya. Biar kecil, tapi aku yakin ini benar."
Semakin lama, orang mulai melihat hasil kerja Mukidi. Kursi-kursinya awet, meja-mejanya kokoh, mainan kayunya dis**ai anak-anak. Tapi tetap, gosip terus berhembus. Katanya Mukidi itu keras kepala. Katanya Mukidi itu terlalu idealis.
Sampai suatu hari, datanglah seorang pemuda dari kota. Ia mencari pengrajin kayu jujur dan telaten untuk mengisi galeri barunya.
“Orang sini bilang kamu aneh,” kata si pemuda setelah melihat hasil karya Mukidi. “Tapi aku lihat ketulusan dalam tiap ukiranmu.”
Mukidi hanya menjawab pelan, “Biarkan angin membawa bisik mereka,
selama keyakinanmu tegak berdiri,
tak perlu goyah oleh suara yang tak mengerti.”
Hari itu, angin sore membawa kabar baru. Mukidi tidak lagi sekadar tukang kayu yang dianggap aneh. Ia jadi simbol diam-diam dari keteguhan: bahwa kebenaran yang dijalani dengan sabar, lambat laun akan terdengar lebih lantang daripada ributnya penilaian orang.
Kopi aisyce
---