24/05/2015
assalamualaikum wr wb
permisi sebelumnya
kami disini ingin memperkenalkan sebuah produk herbal hasil dari produksi dari PT Asia Herbal Biotech yang bermanfaat bagi kesehatan/kecantikan yang dimana semua bahan dasarnya menggunakan CORDYCEPS.
APA ITU CORDYCEPS????
Pengobatan tradisional China banyak menggunakan berbagai bahan alami untuk mengobati penyakit,
salah satunya menggunakan Cordyceps Sinensis. Cordyceps Sinensis, dikenal dengan sebutan ‘jamur ulat dari China’ adalah tumbuhan yang termasuk family ergot. Dalam bahasa Mandarin, jenis jamur sangat langka ini juga dikenal dengan sebutan d**g chong xia chao (Ulat Musim Dingin dan Rumput Musim Panas). Dikenal juga dengan nama aweto di bagian lain China atau Yarchagumba di Tibet. Termasuk dalam klasifikasi jamur, kandungan nutrisi dan zat-zat aktif di dalam Cordyceps memiliki beragam khasiat secara farmakologi yang berhubungan dengan hampir semua sistem di dalam tubuh manusia.
Cordyceps Sinensis adalah spesies jamur yang tumbuh di daerah pegunungan sebelah Tenggara China,dan hanya bisa ditemukan pada ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. Spora dari Cordyceps Sinensis bertebaran dan menyebar oleh tiupan angin pada akhir musim gugur setelah tumbuhan menjadi dewasa. Spora tersebut masuk ke dalam larva (ulat) Hepialidae (sejenis
ngengat/kupu-kupu) serta menjadikan tubuh larva tersebut sebagai inang. Secara perlahan spora
tersebut menghisap nutrisi larva tersebut untuk menghidupi akar-akarnya. Jamur Cordyceps tumbuh diatas tubuh inangnya hingga larva tersebut mati. Dari bagian kepala larva yang mati tersebut akan
muncul badan jamur berwarna coklat tua, sepanjang 3-5 cm. Diperlukan waktu sekitar 6 tahun bagi
Cordyceps untuk melengkapi siklus hidupnya. Siklus hidup yang sangat lama tersebut menjadikan
Cordyceps tumbuhan yang sangat langka sehingga harganya pun menjadi sangat mahal.
Praktisi pengobatan herbal tradisional China percaya bahwa Cordyceps memiliki kemampuan untuk
menyembuhkan hampir semua penyakit. Namun, selama berabad-abad, Cordyceps hanya digunakan
secara eksklusif oleh para kaisar di China karena sangat langka dan harganya yang sangat mahal. Hal ini telah membuat Cordyceps Sinensis menjadi sangat terkenal serta serta menjadikannya sebagai bahan obat bernilai tinggi dalam tradisi China.
Dengan perkembangan teknologi di era modern sekarang ini, sebuah terobosan medis telah dilakukan oleh Microenvironment Control Technology Research Center of Research Institute of Tsinghua University, Zhejiang Yangtze River Delta yang juga merupakan pusat riset herbal nasional di China,dengan ditemukannya teknologi budidaya dan pengembang biakan batang (stroma) Cordyceps Sinensis yang matang dan siap diolah.
Stroma (batang) adalah bagian Cordyceps yang mempunyai khasiat paling
tinggi dan dijadikan bahan obat.
Saat ini, Cordyceps telah tersedia di pasaran dan terdiri dari berbagai
jenis dan varian yang cocok untuk siapa pun yang menginginkan peningkatan kualitas kesehatan dan
hidup mereka.
Legenda mengatakan bahwa orang-orang Yung, yang merupakan kaum pengelana, pertama kali
menemukan Cordyceps ribuan tahun yang lalu di dataran tinggi di daerah mereka dan menganggapnya sejenis rumput. Orang-orang Yung mengamati bahwa hewan-hewan yang memakan sejenis rumput berbentuk seperti jamur kecil tersebut menjadi begitu energik dan tangkas. Bahkan hewan ternak sapi yang sudah tua pun menunjukkan tanda-tanda peningkatan kekuatan fisik. Didorong rasa penasaran,orang-orang Yung lalu mengambil tumbuhan tersebut dan setelah mengkonsumsinya mendapati gejala yang mirip dengan hewan-hewan yang memakan rumput tersebut.
Sejak saat itu khasiat Cordydeps mulai menyebar ke penduduk daerah lainnya. Di antara golongan
masyarakat yang mulai menggunakan Cordyceps untuk pengobatan adalah kaum herbalis di China.
Mereka menggunakan Cordyceps untuk mengobati berbagai keluhan sakit pada manusia. Namun,
kelangkaan jamur ini menyebabkan harganya menjadi sangat mahal sehingga penggunaan Cordyceps untuk pengobatan hanya terbatas pada kaum kaya dan elit kerajaan saja.
Cordyceps Sinensis tumbuh secara liar di dataran tinggi Tibet, di ketinggian lebih dari 5000 meter di atas permukaan laut. Kadar oksigen yang rendah pada ketinggian ini dengan iklim yang ekstrim serta kondisi lingkungan yang tidak bersahabat, membuat hanya segelintir spesies yang bisa hidup karena mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan yang keras, termasuk Cordyceps Sinensis. Semakin keras dan ekstrim kondisi lingkungan dimana Cordyceps tumbuh, semakin tinggi kualitasnya.
Para pencari Cordyceps telah lama menganggap jamur ini sebagai ‘obat dewa’ dan nilainya lebih tinggi dari emas murni. Masa panen Cordyceps hanya berlangsung relatif singkat, sekitar 4 minggu di bulan Mei dan Juni.
Para pencari Cordyceps yang telah berpengalaman hanya bisa mengumpulkan kurang dari
10 Cordyceps sehari. Jumlah Cordyceps dengan kualitas paling tinggi yang bisa dikumpulkan dalam
setahun dari seluruh dunia hanya sekitar 330kg (660 pounds) saja. Hal ini menjadikan Cordyceps sebagai jamur yang sangat langka dan sangat bernilai sehingga hanya bisa dinikmati dan menjadi hak eksklusif kalangan elit kekaisaran China.
Di jaman China kuno, Cordyceps hanya digunakan di kalangan istana kaisar dan dianggap memiliki
khasiat seperti ginseng yang bisa memulihkan kesehatan tubuh.
Cordyceps digunakan untuk memulihkan kondisi tubuh setelah sakit dalam jangka waktu lama, mengobati lemah syahwat dan impotensi, nyeri syaraf, nyeri punggung, kelelahan fisik, berkeringat di malam hari, gangguan pernafasan, gula darah tinggi, gangguan dan gagal ginjal, penyakit jantung, gangguan hati, meningkatkan vitalitas dan ketahanan tubuh, menenangkan pikiran, mengurangi batuk, anemia, dan insomnia.
Pada abad ke-2 sebelum Masehi, kaisar pertama China menggunakan Cordyceps untuk tujuan panjang umur. Wanita cantik China legendaris Yang Kue-fei (701-756 M) juga menggunakan Cordyceps secara rutin dan menganggapnya sebagai obat awet muda. Sejarah pemakaian Cordyceps sebagai herbal antipenuaan
dalam pengobatan tradisional China telah ada sejak tahun 1700 SM. Pada periode Dinasti Chin,
diceritakan bahwa sang kaisar menyerahkan sejumlah emas untuk memperoleh sejenis jamur untuk
pemakaian selama tiga hari. Cendekiawan Tibet juga telah menulis tentang Cordyceps secara rinci pada naskah abad ke-15 dan abad ke-18. Baru pada tahun 1726, dalam sebuah pertemuan ilmiah Cordyceps diperkenalkan ke benua Eropa.
Cordyceps Sinensis yang tumbuh alami memerlukan waktu sekitar 6 tahun untuk melengkapi siklus
hidupnya, yang menyebabkan ketersediaannya sangat terbatas sehingga harganya menjadi sangat
tinggi.
Oleh karena itu para ahli telah melakukan berbagai upaya untuk mencoba mengembang-biakkan
Cordyceps pada lingkungan buatan.
Upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil yang diinginkan
hingga muncul sebuah terobosan secara medis baru-baru ini yang dilakukan oleh Microenvironment
Control Technology Research Center of Research Institute of Tsinghua University, Zhejiang Yangtze
River Delta.
Lembaga riset herbal terkemuka di China ini telah berhasil menemukan teknologi budi daya
dan pengembang-biakkan batang (stroma) Cordyceps Sinensis yang merupakan bagian yang paling
berkhasiat dan digunakan sebagai bahan obat. Terobosan ini memungkinkan pengembang biakkan
stroma Cordyceps Sinensis dilakukan dalam lingkungan buatan dan menghasilkan Cordyceps Sinensis dalam jumlah besar.
Saat produsen lainnya memilih untuk menggunakan jenis Cordyceps yang kualitasnya lebih rendah
karena lebih mudah diperoleh, hanya jenis Cordyceps yang memiliki kualitas paling tinggi saja yang di budi dayakan oleh Microenvironment Control Technology Research Center of Research Institute
of Tsinghua University, dan digunakan oleh Asia Herbal Biotech (AHB) dalam produk-produknya yang bisa dilihat pada gambar
Jadi tunggu apalagi? silahkan mencoba sendiri dan rasakan khasiatnya insyaallah berkah dan bermanfaat
ingin tanya-tanya lebih banyak tentang produk bisa pm atau bisa hubungi '
C.P: 085753375660
Pin BB: 7D598F2E
Terima kasih