18/03/2014
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kpd siapa pun yg Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dr siapa pun yg Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yg Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yg Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa ataa segala sesuatu." (terjemahan QS 3: 26)
Pada hakikatnya, kata "tu'tii" bukanlah "memberikan", tetapi hanya "mendatangkan". Siapa pun yg diberikan kekuasaan pada hakikatnya itu bukanlah miliknya. Kekuasaan itu benar2 datangnya dari Allah. Terserah Allah mau memberikan ke siapa pun.
Dari kekuasaan itu, seaeorang bisa mulia, bisa juga terhinakan. Salah satu tanda seseorang terhinakan oleh kekuasaan adalah ia diberi kekuasaan justru membuatnya jd teperdaya oleh dunia. Sebelum memperoleh kekuasaan teguh pendirian dlm Islam, tapi karena kekuasaan atau mengejar kekuasaan, ia jadi mengubah tujuan hidupnya. Maka dari itu, kekuasaan jangan dijadikan tujuan.
Dalam merebut kekuasaan, ada yg menang dg kemuliaan, ada yg menang dg terhinakan, ada juga yg kalah tetap mulia di sisi Allah, tetapi ada juga yg kalah dg kehinaan. Yg terakhir inilah yg paling rugi krn rugi di dunia dan akhirat. Bagi para caleg, seharusnya dari awal sudah siap mental jika kalah. Mau dibawa ke mana sikap menanggapi kekalahan? Kepada takwa atau sebaliknya? Karena yg harus disadari adalah yg akan dapat memperoleh kursi hanya sedikit. Pasti akan banyak yg gagal. Jadi, para caleg harus siap dg apa pun yg akan terjadi.
-intisari taushiyah ust Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag.-