16/09/2026
Bab 6
“Zahra… aku rasanya tidak sanggup.”
Suara itu keluar lirih, nyaris seperti bisikan yang patah di tengah jalan. Mas Dario duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menutupi wajahnya, bahunya naik turun menahan sesuatu yang sejak tadi ia pendam.
Zahra berdiri di depannya, masih menggenggam ujung kerudungnya yang belum sepenuhnya rapi. Ia menatap suaminya beberapa detik, lalu perlahan mendekat.
Tanpa banyak kata, ia merangkul Dario.
Pelukan itu lembut, hangat, tapi juga penuh luka yang tidak terlihat. Ia menempelkan pipinya ke kepala suaminya, seolah ingin menenangkan badai yang sedang berkecamuk di dalam diri pria itu.
“Kamu harus bisa… demi Mama,” bisiknya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi beratnya seperti menekan dada.
“Aku yakin kamu sanggup, Mas.”
Dario menggeleng pelan di dalam pelukan itu.
“Tidak…” suaranya serak. “Aku tidak sanggup menyakiti hatimu, Zahra.”
Zahra memejamkan mata.
Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya saat mendengar itu. Luka yang sejak awal ia coba kubur, kembali terasa nyata.
Namun ia tetap tersenyum, meski Dario tidak bisa melihatnya.
Perlahan, Dario melepaskan pelukan itu. Ia menoleh ke arah Zahra, menatap wajah istrinya yang terlihat tenang… terlalu tenang untuk ukuran situasi seperti ini.
Tangannya meraih tangan Zahra.
Lalu, tanpa ragu, ia mencium punggung tangan itu.
Lama.
Seolah itu adalah permintaan maaf yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.
Zahra hanya tersenyum.
Senyum yang tipis, tapi cukup untuk membuat Dario semakin merasa bersalah.
“Ayo, Mas,” ucapnya pelan, mencoba terdengar ringan. “Tuh… dengar teriakan Mama.”
Seperti menjawab ucapannya, suara Nyonya Mieke terdengar dari lantai bawah.
“Dario! Zahra! Lama sekali kalian! Ini hari penting, bukan waktu untuk bermalas-malasan!”
Nada suaranya tajam, penuh ketidaksabaran.
Dario menghela napas panjang, lalu menatap Zahra sekali lagi.
“Aku benci hari ini,” gumamnya.
Zahra tidak menjawab.
Ia hanya merapikan kerah baju Dario dengan hati-hati, seperti seorang istri yang sedang mempersiapkan suaminya… untuk menikah dengan wanita lain.
Ironis.
Sangat ironis.
“Sudah rapi,” ucapnya pelan.
Dario menggenggam tangan Zahra sejenak, seolah enggan melepaskannya.
Namun akhirnya, ia berdiri.
Dan Zahra pun ikut berdiri di sampingnya.
Hari ini… adalah hari pernikahan suaminya dengan wanita lain.
Zahra mengenakan gamis brokat berwarna lembut, dihiasi payet-payet kecil yang berkilau halus saat terkena cahaya. Hijabnya terpasang rapi, makeup tipis menghiasi wajahnya, membuatnya terlihat anggun.
Cantik.
Tapi matanya…
Tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Sejenak.
Lalu menarik napas panjang.
“Kamu kuat,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun suara dari luar kembali memecah fokusnya.
“Kenapa sih lama sekali?!” teriak Nyonya Mieke lagi, kali ini lebih keras. “Kamu sengaja ya, Zahra?!”
Zahra menoleh ke arah pintu.
Belum sempat ia menjawab, Dario lebih dulu membuka pintu.
“Maaf, Mah,” ucap Dario cepat. “Tadi… perut aku sakit.”
Zahra sedikit terkejut mendengar itu.
Ia menatap Dario sekilas.
Berbohong… untuknya.
Nyonya Mieke mendengus kesal.
“Alasan saja!” ketusnya. “Sudah, cepat turun! Kita harus berangkat sekarang!”
Langkah kakinya terdengar menjauh.
Zahra dan Dario saling berpandangan.
“Terima kasih,” ucap Zahra pelan.
Dario menggeleng.
“Aku cuma tidak mau dia terus menyalahkan kamu.”
Zahra tersenyum tipis.
Namun senyum itu cepat menghilang.
“Yuk,” katanya.
Mereka pun turun bersama.
Perjalanan menuju rumah Jelita terasa seperti perjalanan tanpa arah.
Zahra duduk di kursi belakang, di samping Nyonya Mieke yang tampak begitu bersemangat. Sedangkan Dario duduk di depan, diam sepanjang jalan.
Tidak ada percakapan berarti.
Hanya suara mesin mobil dan sesekali instruksi dari Nyonya Mieke.
“Pastikan semuanya berjalan lancar,” katanya. “Mama tidak mau ada kesalahan sedikit pun.”
Zahra menatap keluar jendela.
Pemandangan di luar berlalu begitu saja.
Orang-orang menjalani hari mereka seperti biasa.
Tidak ada yang tahu… bahwa di dalam mobil ini, ada seorang wanita yang sedang mengantar suaminya menikah lagi.
Tangannya mengepal pelan di atas pangkuannya.
Ia mencoba menenangkan diri.
Namun hatinya tetap bergejolak.
Rumah Jelita sudah dipenuhi tamu.
Dekorasi pernikahan terlihat indah, bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut, warna-warna lembut mendominasi suasana.
Semua tampak sempurna.
Terlalu sempurna.
Zahra melangkah turun dari mobil, diikuti Dario dan Nyonya Mieke.
Begitu mereka masuk, beberapa orang langsung menyapa.
“Selamat datang!”
“Wah, ini pasti keluarga Mas Dario!”
Zahra hanya tersenyum, meski dalam hati ia ingin berbalik dan pergi.
Di kejauhan, ia melihat Jelita.
Wanita itu berdiri anggun dalam balutan gaun pengantin. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tidak pernah lepas.
Cantik.
Sangat cantik.
Dan hari ini… ia akan menjadi istri kedua suaminya.
Jelita melihat mereka.
Lalu berjalan mendekat.
“Mbak Zahra…” sapanya lembut.
Zahra menatapnya.
Senyum itu lagi.
Hangat. Tulus. Tanpa beban.
“Hai…” jawab Zahra pelan.
Jelita menggenggam tangannya.
“Terima kasih ya, mbak… sudah datang.”
Zahra hanya mengangguk.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Di satu sisi, ia ingin membenci wanita di depannya.
Namun di sisi lain… ia tidak menemukan alasan untuk itu.
Jelita tidak pernah bersikap buruk padanya.
Justru sebaliknya.
Dan itu… membuat semuanya terasa lebih sulit.
Acara pun dimulai.
Zahra duduk di antara tamu, sedikit menjauh dari pusat acara.
Matanya tertuju ke depan.
Ke arah Dario… yang duduk di sana, siap mengucapkan akad dengan wanita lain.
Tangannya dingin.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Setiap detik terasa begitu panjang.
Lalu… ijab kabul itu pun diucapkan.
Sah.
Satu kata itu menggema di ruangan.
Dan di saat yang sama…
Sesuatu di dalam hati Zahra terasa runtuh.
Ia menunduk.
Air matanya jatuh… tanpa suara.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang tahu.
Karena semua orang sedang sibuk merayakan kebahagiaan.
Sementara ia…
Harus belajar menerima kenyataan.
Beberapa saat kemudian, Zahra berdiri.
Ia berjalan pelan menuju luar, mencari udara segar.
Dadanya terasa sesak.
Ia butuh ruang.
Ia butuh waktu.
Namun langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggil.
“Zahra…”
Ia menoleh.
Dario.
Sudah berdiri di belakangnya.
Masih dengan pakaian pengantin.
Masih dengan status barunya.
“Mas…” ucap Zahra pelan.
Dario menatapnya.
Matanya terlihat lelah… dan penuh penyesalan.
“Aku…” ia terdiam sejenak. “Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Zahra tersenyum kecil.
“Tidak usah bilang apa-apa,” jawabnya.
Dario menggeleng.
“Aku merasa kehilangan sesuatu hari ini.”
Zahra menatapnya.
“Mas tidak kehilangan apa-apa,” katanya lembut. “Aku masih di sini.”
Dario menutup mata sejenak.
“Justru itu yang membuat aku semakin merasa bersalah.”
Zahra tidak menjawab.
Ia hanya menatap langit.
Langit yang cerah.
Berbanding terbalik dengan hatinya.
“Mas…” katanya pelan.
“Iya?”
“Jangan buat keputusan hari ini jadi sesuatu yang kamu sesali seumur hidup.”
Dario menatapnya.
“Aku sudah menyesalinya sejak awal.”
Zahra tersenyum tipis.
Lalu menepuk pelan bahu suaminya.
“Sekarang… jalani saja,” ucapnya. “Kita semua sudah memilih jalan ini.”
Dario terdiam.
Zahra pun berbalik.
Melangkah perlahan menjauh.
Meninggalkan suaminya yang kini… harus berbagi hidup dengan wanita lain.
Dan di setiap langkahnya, ia tahu…
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Namun ia tetap berjalan.
Karena berhenti bukan pilihan.
Dan kuat… adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Baca selengkapnya di KBMAPP. Judul: Maduku Tamengku. Penulis: Umipatum