Koleksi novel

Koleksi novel Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Koleksi novel, Book shop, Kp. s**araja RT 3 RW 5 desa solokanjeruk, Bandung.

TAK ADA WAKTU JATUH CINTA ( Cuplikan Bab) "Mulai sekarang berhenti muji-muji dia depanku!"Kekesalan Nadin berlanjut samp...
22/06/2026

TAK ADA WAKTU JATUH CINTA ( Cuplikan Bab)

"Mulai sekarang berhenti muji-muji dia depanku!"

Kekesalan Nadin berlanjut sampai ke kelas. Alma yang tak tahu apa-apa hanya bisa pasrah tatkala teman sebangkunya itu tiba-tiba datang dan marah tanpa sebab.

"Dasar batu, dasar sok kegantengan, dasar egois dasar kulkas!"

Nadin terperangah sendiri dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan.

"Kulkas? Alma, menurutmu kulkas itu cukup keren nggak buatnyebut seseorang yang dingin nggak punya perikemanusiaan?"

Nadin menghadapkan tubuhnya ke arah Alma yang hanya diam.

Walau tak mengerti, gadis berambut pendek itu mengangguk saja.

"Jadi kamu setuju 'kan kalau mulai sekarang aku panggil dia kulkas? "

Alma makin bingung dengan apa yang di ucapkan Nadin sekarang. Ia tak berani menjawab.

Nadin mengangguk angguk yakin. "Kulkas, hmmm. "

"Kita lagi bicarakan siapa, Din?"

Pada akhirnya Alma tak sanggup untuk diam saja.

"Itu si Rafi!" Nada suara Nadin meninggi kembali.

"Berantem lagi? "

"Dia yang mulai. "

"Kalian ini. Kali ini apa? "

"Heran deh, gitu kok kamu s**a sama dia, " Nadin bergumam malas. " Tapi, Al, aku peringatkan mulai sekarang ya. Kamu jangan coba-coba s**a yang bener bener sama dia,... "

"S**a yang bener-bener itu gimana sih, Din? "

"Iiih..., " Nadin berdecak sebelum melanjutkan ucapannya. "Cukup ngefans saja, jangan naksir. "

"Emang kenapa? Rasa s**a itu nggak bisa di paksa, Nadin, apalagi di larang. "

"Dia itu nggak bakalan balas perasaan kamu. Kamu nanti sakit hati. "

"Yakin? "

Nadin mengangguk semangat. Dari peristiwa istirahat tadi, gadis itu menyimpulkan bahwa Rafi adalah manusia tidak punya perasaan yang egois dan hanya mementingkan egonya sendiri.

"Alma. Mending kamu naksir cowok lain, deh. Beneran, kalau kamu bukan temanku, nggak bakalan aku ngomong gini. "

Tentu Alma mencibir setelah mendengar ucapan Nadin barusan. Selama ini Nadin salah menyimpulkan perasaannya. Alma hanya sekedar mengagumi Rafi sebagai teman sekolah. Toh, mereka juga tidak kenal. Alma tebak, Rafi kalau ketemu dirinya di jalan, pasti nggak akan mengenalnya.

"Iya ya."

"Duh, aku kan jadi nggak enak sama Rara. "

Nadin menghentakkan kakinya ke lantai. Tangannya mengusap wajahnya kasar. Ia gusar. Rafi memang manusia paling egois sedunia.

"Ra, aku sudah baca surat kamu. Apa yang akan aku ucapkan ini, isinya sama dengan apa yang ada di surat ini, "

Nadin menirukan isi surat balasan Rafi yang gagal ia kirimkan ke Rara.

"Sebentar lagi kita ujian, seharusnya kita fokus ke sana. Oke, aku nggak bisa larang kamu buat nggak s**a aku. Makasih. Tapi, saat ini aku belum kepikiran buat itu. Kamu ngerti kan? "

"Lagian, bagiku sekarang tidak ada waktu buat mikirin cinta-cintaan. Kita ini apa sih, Ra? Cuma belajar yang harus kita fikir sekarang.

"Jadi, aku masih ada kesempatan kalau aku nunggu habis ujian? " potong Alma.

"Jangan! Please... Hentikan saja perasaan kamu itu. Kamu selama ini pasti salah paham.''

"Aku... Aku... " Alma ingin protes tapi gagal karena Nadin meneruskan aksinya.

"Maaf ya, Ra. Setelah ini aku akan menganggap bahwa tidak ada apa-apa. Kita berteman saja seperti biasanya! Ampxzyfgjkkgddcg."

Alma mendengar umpatan Nadin tatkala gadis itu menyelesaikan ceritanya.

"Cinta memang nggak bisa di paksa Din."

Nadin menatap Alma sengit, mukanya makin suram.

"Percuma cerita sama kamu. Dari dulu kamu selalu belain dia. "

Nadin menyenderkan kepalanya pada dinding. Nada bicaranya sudah tidak seperti beberapa menit lalu. Gadis itu kini memejamkan matanya.

"Sekarang aku tanya. Kok kamu kayak dukung banget, Rafi buat terima, Rara. Apa motifnya? "

Pertanyaan Alma membuat Nadin yang tadinya merem, melek seketika.

"Biar dia punya pacar lah."

"Terus kalau sudah punya pacar? " tanya Alma yang membuat Nadin tertegun.

TAK ADA WAKTU JATUH CINTA
Penulis: Ryujiwin

Lanjut di KBM. Bisa kamu baca juga lewat web ya yang nggak punya aplikasi.

♔ RENEESME 3 ♔°°°°°Keluar sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, wanita itu menggeleng lemah dengan matanya berk...
22/06/2026

♔ RENEESME 3 ♔

°°°°°

Keluar sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, wanita itu menggeleng lemah dengan matanya berkabut merah. Tatapannya kosong napasnya memburu terkadang terasa sesak juga ada sisa air mata yang mengalir di p**inya. Ia pun terduduk lemas di pinggir jalan. Rasanya lisan tak mampu membuatnya bersuara, bahkan sekedar menjawab pertanyaan lelaki tua itu saja ia tak mampu.

Hanya menatap kosong jalanan dengan isak yang makin kencang. Saat ada sepeda motor yang masuk ke rumah itu pun hanya dilihatnya sebentar.

“Ada apa denganmu, Rene? Kamu kenapa? Rumah suamimu sudah pindah?” tanyanya memandang ke dalam rumah. Lelaki itu berpikir rumah suami Rene tidak lagi di sana, makanya ia bertanya begitu.

Dan ya, wanita itu adalah Rene. Wanita yang beberapa bulan lalu mengalami kecelakaan, juga merupakan wanita bersuami bernama Muhammad Emir Fatahillah. Wanita yang mengalami koma selama lebih dari tiga bulan dan harus menjalani masa perawatan karena otot-otot tubuhnya lama tidak digerakkan.

“Rene kenapa, Nak? Jangan buat lelaki tua ini khawatir. Benar rumah ini bukan rumah suamimu lagi? Dia sudah pindah?”

Rene masih juga tak menjawab, justru air matanya jatuh kian deras dan semakin memerah. Isaknya pun terdengar menyayat. Pun, dengan napasnya yang mulai berat, terputus-putus.

“Sudah jangan nangis, nanti kita cari suamimu pindah rumah ke mana, ya? Tetangga-tetangga di sini juga pasti tahu, atau kita tanya kerabatmu nanti kalau kondisimu sudah semakin membaik, ya?” kata lelaki tua tersebut sambil mengusap punggung Rene. Ia mengira keluarga Rene sudah berpindah rumah karena sikap Rene tak memperlihatkan jika ia sudah bertemu suami maupun anaknya.

Karena tak kunjung menjawab, lelaki itu pun mengajak Rene untuk p**ang, dan mencari cara untuk mempertemukannya dengan suaminya lain waktu melihat kondisi Rene tetiba seperti itu, membuatnya khawatir.

Tiba-tiba sebuah mobil mewah keluar dari rumah, saat kaca jendela terbuka, Rene tak sengaja melihat dengan jelas wajah ceria seorang anak kecil tampan mirip dengan lelaki yang ia cari tengah tersenyum bahagia sambil berbicara dengan suara cadelnya.

“Kakak? Kakak? Ammar anak Bunda?” lirihnya spontan dengan mata terbuka lebar. “Kakak Ammar?”

Langkahnya terasa berat untuk melangkah, namun senyum anak kecil itu membuat Rene ingin sekali mengejarnya.

“Kakak! Kakak Ammar! Nak!” panggilnya lagi berlari, tetapi mobil sudah melaju semakin jauh, sedang Rene ditarik oleh lelaki yang setengah rambutnya sudah hampir beruban.

“Rene!” cegahnya. “Ada apa? Siapa Ammar? Kamu kenal dia? Atau dia anakmu?"

Baru kali ini Rene menjawab dengan anggukan kepala.

“Anakmu? Benar dia anakmu?” Lagi Rene mengangguk. “Berarti rumah ini masih rumah suamimu? Lalu, kenapa kamu gak masuk menemui mereka, Nak?”

Kaki yang berusaha ingin terus melangkah, mendadak terhenti, Rene menoleh, ia memandang lelaki yang menjaganya beberapa bulan ini. Tatapannya seketika berubah hancur, namun air mata seakan tak ingin berhenti dari pelupuknya. Hingga semua terasa gelap dan kepala mendadak berputar, Rene ... pingsan.

“Rene? Nak! Rene!”

**

Di tempat lain, anak kecil yang ada di dalam mobil menoleh ke belakang dengan setengah berdiri di kursi. Anak yang tadi dibicarakan ketika bertelponan dengan suaminya mau ia jemput, ternyata sudah diantar p**ang oleh guru lesnya.

“Kenapa Kak? Kakak lihat apa?” Ikut menoleh ke belakang, namun tak melihat apa-apa selain beberapa mobil yang melaju di belakang mereka.

Kembali duduk, anak kecil yang dipanggil Kakak terlihat berpikir dengan kerutan kecil di alisnya yang tebal. “Tadi Kakak kayak dengel ada yang panggil Kakak, Bunda.”

“Hmm?” Kembali menoleh ke belakang, tapi tetap tidak melihat apa-apa. “Kakak mungkin salah dengar. Mana, Bunda gak lihat apa-apa, gak denger juga ada yang panggil-panggil Kakak.”

Sambil cemberut, Kakak berpikir. “Tapi tadi kayaknya Kakak dengel ada yang panggil Kakak. Kakak Ammal gitu.”

“Sudah, ah. Mungkin Kakak salah dengar,” tawa sang bunda.

“Sekarang Kakak, Bunda foto aja, ya? Ganteng sekali hari ini anak Bunda pakai baju barunya, nanti sekalian Bunda kirim ke Ayah biar Ayah tahu penampilan Kakak."

Lupa sudah dengan apa yang ia dengar, Kakak mengangguk dan mulai bergaya mengikuti instruksi bundanya untuk berfoto. Hingga tak terasa mereka sampai di sebuah bangunan dua lantai dengan tulisan Rene’s and Ammar.

Keduanya pun turun dari mobil, memasuki bangunan tersebut dan langsung masuk ke dalam. Terlihat beberapa karyawan menunduk hormat menyapa keduanya, bahkan salah satu dari mereka ada yang ikut mengantarkan Rene dan Ammar sampai masuk ke dalam lift.

Turun dari lift, mereka lekas masuk ke sebuah ruangan dan langsung disambut hangat oleh seorang pria tinggi berkulit putih dengan senyumnya yang manis hingga membentuk lesung p**i dalam di kedua p**inya. Satu yang sangat kontras, wajahnya sangat mirip dengan kakak dalam versi dewasa.

“Ayah!” teriak lelaki kecil itu mengangkat kedua tangannya minta digend**g.

“Assalamualaikum dulu d**g anak Ayah.”

“Calammekom (Assalamualaikum) Ayah. Kakak Ammal datang!”

“Waalaikumsalam, Jagoan, kok cepet datangnya? Mana ganteng lagi, kata Bunda baju baru, ya?” kekehnya.

Kemudian, ia mencium p**i kanan dan kiri wanita yang datang bersama putranya. “Di jalan aman ‘kan Bunda?” tanyanya lembut. “Pak Imam gak ngebut-ngebutan yang bawa mobil?”

Dengan manja ia mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang suami. “Aman Ayah, kalau Pak Imam gitu, lain kali Bunda laporkan sama Ayah, oke?”

"Tapi maaf, ya, Yah. Aku belum ... memakai kerudung lagi."

Emir mengangguk dengan senyumnya. "Tidak apa, yang penting Bunda kembali sehat dulu, itu sudah lebih dari cukup."

"Terima kasih, Ayah."

Kecelakaan beberapa bulan lalu yang membuat Emir nyaris kehilangan anak dan istri, membuatnya ingin selalu memastikan istri dan jagoannya dalam keadaan baik. Cukup anak dalam kandungan istrinya beserta sopirnya yang terpaksa harus meninggal saat kejadian naas itu terjadi.

Walau sampai detik ini ia masih merasa Rene—istrinya sedikit berbeda dari yang dulu, namun tak menutup ketakutannya jika harus kehilangan wanita yang kini ada dalam pelukan. Istri yang telah ia nikahi selama lebih dari empat tahun lamanya.

"Kalian duduk duli, Ayah mau closing sebentar, setelah itu kita berangkat."

**

Sebelum makan malam, Emir menyelesaikan pekerjaannya yang tertinggal, baru setelah itu mereka menuju restoran yang sudah dibooking oleh kaki tangannya. Meski perusahaan itu adalah miliknya pribadi, namun pekerjaan tetaplah pekerjaan, terlebih perusahaan yang berdiri di bidang perhiasan tersebut saat ini tengah naik daun.

Tiba di restoran, Emir diarahkan oleh pelayan menuju tempat yang sudah disediakan untuknya dan keluarga. Malam ini adalah hari ulang tahun Ammar yang ke-empat. Tepat di bulan ini juga, seharusnya adik Ammar dilahirkan.

Tetapi sayang, sebelum bisa melihat dunia, Allah kembali mengambilnya dan keluarga itu harus kehilangan salah satu anggota keluarga mereka yang sudah sangat dinanti-nanti.

“Wah, lame kali tempatnya. Banyak balonnya, Bunda, Ayah. Ammal mau!” teriak Ammar kesenangan.

Ia berlarian di sekitar tempat yang memang sudah Emir pesan untuk dihias, dipersembahkan untuk Ammar jagoannya. Sampai keceriaan itu terhenti ketika ada yang datang menyapa.

Seorang wanita yang tengah bergandengan dengan lelaki bule menghampiri istrinya. Dengan raut heran, ia mengamati Rene dengan dua lelaki beda usia.

“Esme? Kamu Esme, 'kan? Ini kamu? Beneran kamu Esme?"

Bersambung …

Judul: Suamiku Memanggilnya Istri
Napen: ceisyaarsy

baca selengkapnya sampai TAMAT hanya di KBM app

SUAMIKU PAMIT UNTUK MELIPUT DI HUTAN PEDALAMAN UJUNG PULAU, TAPI SUDAH TIGA BULAN DIA TIDAK PERNAH PULANG.APA YANG TERJA...
22/06/2026

SUAMIKU PAMIT UNTUK MELIPUT DI HUTAN PEDALAMAN UJUNG PULAU, TAPI SUDAH TIGA BULAN DIA TIDAK PERNAH PULANG.
APA YANG TERJADI PADA SUAMIKU?

(4)
RAHASIA

Ternyata, sosok bayangan itu adalah ... Lanting.

Tubuhku kembali gemetar menahan takut. Terlebih, saat ini aku hanya seorang diri. Tidak ada Bara yang siap menolongku jika wanita dingin itu berbuat nekat.

Lanting tersenyum, bukan senyum ramah, melainkan penuh ancaman. Langkahnya pelan dan pasti mendekat ke arahku.

"Jangan berpikir kau aman hanya karena Bara mengatakan akan melindungimu, perempuan asing!" ucapnya dingin. Aku meneguk saliva, seraya berusaha mencerna kata-katanya.

"Kau tidak tahu siapa Bara sebenarnya, bukan? Apa kau benar-benar percaya kepada orang yang baru bertemu denganmu?"

Kata-kata Lanting seketika membuatku merasa ragu kepada Bara. Aku memang tidak mengenalnya dengan baik, karena kami baru saja bertemu. Meski ia tampak ingin membantu, namun bagaimana aku bisa yakin sepenuhnya? Namun, aku tidak mungkin menunjukkan keraguan di hadapan Lanting. Aku harus tetap terlihat tenang, agar ia tidak semakin mengintimidasiku.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Lanting?" tanyaku, berusaha menjaga suara agar tidak terdengar terlalu gemetar.

Ia perlahan melangkah mendekat, hingga jaraknya hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri. Tangannya tiba-tiba terulur, menyentuh sesuatu di balik pinggangnya. Seketika, mataku tertuju pada pisaau kecil yang tergantung disana. Jantungku tiba-tiba berdebar lebih kencang dari biasanya.

"Kamu ingin tahu apa yang kumau? Sederhana saja, perempuan asing," jawabnya seraya tersenyum sinis. Aku dibuat bingung dengan perkataan Lanting.

"Aku ingin kau pergi, dan memastikan kau tidak akan pernah kembali!"

Aku tersentak, sehingga refleks mundur selangkah hingga punggung kini bersandar pada dinding gubuk. Ruangan yang sempit ini tidak memberiku banyak ruang untuk melarikan diri. Sementara itu, Lanting melangkah semakin dekat dengan sorot matanya kian tajam.

"Lanting, dengarkan aku!" ucapku dengan suara bergetar.

Aku tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutan ini. Posisiku saat ini terjepit, karena tidak ada Bara yang bersedia melindungiku

"Aku hanya ingin menemukan Suamiku. Setelah itu, aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali ke desa ini. Aku tidak berniat mencampuri urusan kalian," ucapku berusaha meyakinkannya.

Lanting tertawa pelan, namun tawa itu terdengar menakutkan hingga membuat bulu kudukku meremang.

"Kau pikir, ini hanya masalah sederhana? Kau benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi di sini, bukan?" ucap Lanting balik bertanya kepadaku.

Aku kembali menelan saliva, seraya merasakan ketegangan yang semakin mencekam. Aku tidak paham yang dibicarakan Lanting. Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar ketidak percayaan penduduk desa terhadap orang luar?

"Lanting, tolong! Aku tidak tahu apa yang kau maksud," kataku lirih.

Ia menghentikan langkahnya, tepat di depanku. Wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan napasnya yang panas.

"Bara tidak seperti yang kau pikirkan, perempuan asing!" bisiknya seraya kembali tersenyum menyeringai.

"Dia menyembunyikan banyak hal darimu. Dan jika kau tetap berada di sini, sepertinya kau akan terlibat dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar mencari Suamimu yang hilang itu!"

Aku terdiam, lebih tepatnya terpaku mendengar ucapan Lanting yang belum kumengerti sepenuhnya. Apa yang disembunyikan Bara dariku?

Akan tetapi, sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, derap langkah kaki terdengar dari luar. Lanting langsung mundur, berbalik menuju pintu dengan gerakan cepat.

"Dewa penolongmu sudah datang. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan pernah mempercayai siapa pun di sini. Termasuk aku, ataupun Bara sekalipun!"

Secepat kilat Lanting menghilang dalam kegelapan malam, meninggalkanku sendirian dengan ketakutan yang semakin menghimpitku.

Beberapa saat kemudian, Bara kembali. Matanya dengan tajam memeriksa keadaan sekitarnya dengan waspada, sebelum menoleh menatapku.

"Apakah ada yang datang saat aku pergi?" tanyanya, nada suaranya penuh perhatian.

Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Haruskah aku memberitahu Bara tentang Lanting? Tapi, setelah apa yang dikatakan Lanting, aku jadi ragu.

"Ada yang datang ... Tapi dia sudah pergi," jawabku pelan, mencoba untuk tidak terdengar mencurigakan.

Bara mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut, namun ekspresi wajahnya tampak berubah. Kali ini, wajahnya terlihat lebih serius seolah sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

Sebenarnya, aku ingin bertanya lebih banyak. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa ini, kenapa semua orang begitu tidak percaya pada orang luar, dan yang paling penting, apa yang disembunyikan Bara dariku? akan tetapi, sebelum aku sempat membuka mulut, Bara mendekat dan meletakkan tangannya di bahuku.

"Rinjani, kita harus pergi dari sini sebelum fajar. Tempat ini tidak aman untukmu. Akan lebih baik jika kita segera mencari jalan keluar!" katanya dengan nada mendesak.

Aku hanya bisa mengangguk. Ketakutan dan keraguan kembali menguasai pikiran. Apakah aku harus mempercayainya? Atau justru melarikan diri dari orang-orang yang tampaknya menyembunyikan rahasia besar dariku?

Sebelum aku bisa mengambil keputusan, sebuah suara keras dari luar gubuk menggema. Terdengar seperti teriakan seseorang yang memecah kesunyian malam. Bara langsung bereaksi cepat, menarikku ke sudut gubuk yang gelap.

"Tetap di sini. Jangan bergerak!" bisiknya pelan, sebelum berlari keluar meninggalkanku dalam ketakutan yang semakin menjadi.

Aku memeluk lutut yang mulai gemetar, sementara suara gemuruh di luar terdengar semakin kacau. Teriakan, disertai langkah kaki yang tergesa, dan suara benturan keras terdengar semakin dekat. Tubuhku mulai terasa lemas karena didera ketakutan yang hebat. Apa yang sebenarnya terjadi di luar?

Aku menajamkan pendengaran, ketika suasana yang gaduh tiba-tiba berubah hening kembali. Tubuhku terkesiap, kala melihat pintu didorong dengan kuat dari luar. Rasanya, aku tidak siap jika yang menerobos masuk itu orang lain. Beruntung, orang itu adalah Bara. Napasnya tersengal, dengan wajah penuh keringat dan kekhawatiran.

"Kita harus pergi sekarang juga!" katanya tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

Aku bergegas bangkit meski dengan tubuh serasa tidak bertulang. Mengabaikan peringatan Lanting, adalah menjadi keputusan yang tepat untuk saat ini.

Akan tetapi, sebelum Bara sempat menarikku keluar dari gubuk, tiba-tiba langkah kaki lain terdengar semakin mendekat. Suaranya bukan sepasang kaki, melainkan ....

Bersambung

JUDUL : HILANG
PENULIS : IRMA JUITA
APLIKASI: KBMAPP

Teman-teman bisa unduh aplikasinya lewat AppStore atau bisa juga ke kbm. id

BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.KUBURAN SUMIekstra partKarena keseringan cuti, Rahmad ...
22/06/2026

BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.

KUBURAN SUMI

ekstra part

Karena keseringan cuti, Rahmad anak semata wayang Bu Sumi pun memilih keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan dan p**ang ke kota kecilnya. Untuk merawat ibunya dan meneruskan usaha pertanian milik keluarga.

Rahmad merasa bersalah, meninggalkan Ibunya di kota kecil ini. Sementara dirinya bekerja sebagai karyawan swasta di ibukota propinsi. Jarak tempuh lima jam, membuatnya jarang p**ang. Rahmad tahu, ibunya rapuh perlu arahan dan bimbingan.

Tidak semua orang memiliki mental yang kuat. Setelah kepergian suaminya, membuat Bu Sumi berubah menjadi lintah darat. Sebelumnya dia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Rahmad, sang anak, berjanji untuk menemani sang Ibu disisa umurnya. Tidak bosan mengajak Ibunya untuk bertaubat.

Apalah daya, Bu Sumi tetap keras kepala. Meski sakit parah, dia masih mengingat hartanya. Sering dia mengigau dengan menyebut, "hartaku, hartaku, kembalikan uangku," kemudian terbangun dan kembali mengeluh kesakitan.

Harta yang masih banyak, tidak membuatnya tenang. Kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk bangkit. Membuatnya semakin tersiksa, bayangan uang yang mau ditarik kembali terlintas.

Bu Sumi sampai mimpi dan berteriak-teriak, "bayar hutangmu, kembalikan uangku," serta sumpah serapahnya pada orang yang tidak mampu bayar.

Karena tidak mau dibawa ke rumah sakit kembali, Rahmad memanggil dokter keluarga, untuk memberikan infus dan rawatan pada Bu Sumi di rumah saja. Pak dokter itu sampai geleng-geleng kepala menyaksikan kondisi Bu Sumi. Dia teringat saat menangani Pak Kadir, almarhum suami Bu Sumi, yang tenang dan mudah meninggalnya. Berbeda dengan Bu Sumi yang mengamuk sehingga di ikat tangan dan kakinya di ranjang, karena berusaha menyakiti diri sendiri.

Rahmad, memberhentikan anak buah Ibunya. Memberikan gaji terakhir dan memintakan maaf dan doa kesembuhan untuk ibunya. Dia tidak mau lagi sang Ibu terlibat ribawi, aktifitas penggandaan uang milik Ibunya, dihentikan. Dia tidak perduli dengan sisa utang orang pada ibunya. Dia hanya memikirkan siapa saja yang pernah dizalimi sang Ibu. Meminta maaf dan mengembalikan hak-hak mereka. Tentu bukan hal mudah, karena tidak semua yang dizalimi ibunya mau memberikan maaf secara tulus.

Bu Sumi mulai melolong kesakitan, dan meracau seperti orang gila. Pak Dokter memberikan obat penenang agar Bu Sumi bisa beristirahat sementara. Tidak berpengaruh lama, Bu Sumi kembali menggelinjang, tak dapat dikendalikan. Ingatannya ditarik, wajahnya menyeramkan. Sudah tidak mempan lagi tausiyah, nasihat dan ajakan bertaubat.

Hanya keluarga inti, tidak ada keluarga besar yang menjenguk Bu Sumi, seolah orang-orang menjauhinya dan malu mengakuinya sanak kerabat. Hanya sang anak dan menantu, serta cucunya saja di rumah itu yang terus mendoakan. Beberapa kali dalam sehari, dokter berkunjung memastikan Bu Sumi mendapat asupan dan obat.

Pak dokter memberi masukkan berdasarkan hasil pemeriksaannya pada Rahmad, anak semata wayang Bu Sumi.

"Ibumu sedang sekarat, dia kesakitan parah dua hari ini, namun rohnya belum dicabut. Kamu harus ikhlas, kasihani ibumu, sepertinya ada sesuatu yang menahannya. Maaf saya harus menyampaikan, coba kamu ingat lagi, kesalahan apa yang dilakukan Ibumu, cobalah mintakan maaf untuk ibumu.

Secara medis, harusnya Ibumu sudah meninggal, karena pembuluh darahnya pecah. Tubuhnya sudah menolak asupan infus, ini sudah dua hari, jika dibiarkan tubuhnya akan membusuk sementara nyawanya masih ada," terang Pak Dokter.

Rahmad tambah sedih mendengarnya, menangislah dia di hadapan Pak dokter. Rahmad sungguh awam akan usaha Ibunya. Siapa saja yang sudah dizalimi, pastinya banyak. Dia bingung memulai darimana.

"Anto, ya dia ajudan Ibu. Tangan kanan Ibu, dia pasti tahu, siapa saja yang pernah dizalimi oleh Ibu," ucap Rahmad pada istrinya, Aisyah. Selepas kepergian Pak Dokter, mereka mulai memikirkan cara memintakan maaf untuk Ibunya.

Anto pun dipanggil dan diberi pekerjaan sementara untuk mengantar Rahmad pada orang-orang yang pernah dizalimi Bu Sumi. Dengan berbekal data di buku catatan dan ingatannya, Anto membantu mengantarkan. Dia pun prihatin pada mantan majikannya itu, dan takut mendapat azab yang serupa.

"Ibumu, menjadi lintah darat beberapa tahun terakhir. Ada memang kami bertindak di luar kendali, seperti mengusir seorang wanita tua dari rumah kayunya, dan menghancurkan dagangan orang-orang di pasar.

Juga kata-kata kasar Ibumu pada orang-orang, sebagian orang kecewa dan mengutuk Ibumu. Aku prihatin melihat kondisi beliau, aku bersedia membantumu, lebih cepat lebih baik," papar Anto.

"Kau tahu mengenai Ibuku, antarkan aku sekarang menemui mereka," desak Rahmad, mereka pun pergi, menitipkan penjagaan Bu Sumi pada Aisyah.

Pertama-tama, mereka mendatangi Mbok Yun di bedakan kumuh pinggir sungai, memintakan maaf untuk Bu Sumi.

"Permisi, Mbok, masih ingat dengan saya, Anto?" tanya Anto pada Mbok Yun.

"Kamu! ngapain kesini, masih belum puas kalian mengusir kami ?" Mbok Yun masih marah.

"Maaf, Mbok, saya bukan menagih. Maksud saya kesini mau meminta maaf secara pribadi dan beliau ini anak Bu Sumi, juga memintakan maaf untuk Ibu beliau yang sedang sekarat," mohon Anto.

"Biarin dia sekarat, hukuman untuknya, mengambil hak orang lain, dia wanita jahat, aku masih sakit hati jika mengingatnya," keluh Mbok Yun.

"Saya minta tolong, ampuni ibu saya. Saya akan kembalikan rumah Mbok itu, belum sama sekali dijual. Hanya sempat dikontrak oleh orang selama satu bulan setelah itu kosong, Mbok bisa balik lagi ke rumah Mbok sendiri. Saya ikhlaskan utang anak Mbok, tolong sekali lagi ya Mbok," pinta Rahmad mengiba bahkan menangis.

Mbok Yun tak sampai hati melihat ketulusan anak Bu Sumi. Meski dia masih marah, tapi berusaha berlapang dada dan memaafkan.

"Baiklah, Nak. Saya ampuni kesalahan Ibumu, semoga beliau dimudahkan jalannya, terima kasih atas keikhlasanmu. Mbok pun ikhlas, pergilah. Mintakan ampun maaf pada orang-orang yang pernah Ibumu kecewakan, semoga jalannya dimudahkan," Mbok Yun meneteskan air mata haru.

Rahmad tak hentinya mengucap syukur dan terima kasih. Dia mengembalikan surat rumah Mbok Yun sebelum pergi.

Kemudian Anto mengajak Rahmad ke pasar, disana banyak orang yang dikecewakan Bu Sumi.

Anto dan Rahmad menghampiri Mbak Puji dan Mbak Yati, mereka menceritakan keadaan Bu Sumi, memintakan ampun dan maaf.

"Kasihan sekali Bu Sumi ya, kami tidak menyangka beliau sedang sekarat. Walau dulu pernah sakit hati, tapi kami tetap kasihan sama beliau. Kami berusaha memaafkan ya Mbak Yati, ya. Semoga jalan beliau dimudahkan," ucap Mbak Puji diiringi anggukan Mbak Yati. Mereka berlapang dada memaafkan.

"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih, ketulusan kalian memaafkan, sangat diharapkan untuk kemudahan Ibu saya dalam menghadap Ilahi, terimalah ini, sedikit rezeki dari saya yang tak seberapa," Rahmad memberikan uang dalam amplop kepada mereka berdua.

"Apa ini, kami ikhlas kok, nggak perlu dibayar maaf dari kami," ucap Mbak Yati.

"Saya juga ikhlas berbagi, saya tahu, Ibu saya pernah merusak dagangan kalian. Saya mohon maaf sekali lagi," balas Rahmad.

"Oalah sudah lama itu, nggak seberapa juga," ucap Mbak Puji.

"Ijinkan saya berbagi saya ikhlas, terimalah, terima kasih sekali lagi ya Mbak berdua saya pamit," Rahmad segera berlalu sebelum meneteskan air mata kembali.

"Anaknya Bu Sumi, orangnya baik ya Mbak, tidak seperti Ibunya," ucap Mbak Puji.

"Hussh, jangan ghibah, kita sudah memaafkan, jangan diungkit-ungkit lagi, ya," jawab Mbak Yati, diiringi anggukan Mbak Puji.

Anto dan Rahmad mendatangi Acil Janah dan Hajjah Ifit, memintakan maaf dan memohonkan ampun atas segala kesalahan Bu Sumi. Melihat ketulusan Rahmad, baik Acil Janah maupun Hajjah Ifit pun memaafkannya.

Begitu p**a pada beberapa pedagang kecil yang Anto ketahui, dia mengarahkan Rahmad menemui mereka dan menyampaikan permohonan maaf dan ampunan untuk Bu Sumi, beruntungnya, semua yang didatangi, mau dan bersedia memberikan maaf dan ampunan mereka untuk Bu Sumi.

Bahagialah Anto dan Rahmad, mereka berdoa agar Bu Sumi diringankan dan dimudahkan jalannya. Setelah berkeliling di pasar, dan dirasa sudah memintakan maaf dan memohonkan ampun kepada semua orang yang mereka kenal, selama bersentuhan dengan Bu Sumi. Akhirnya, Anto dan Rahmad pun p**ang menemui Bu Sumi. Mereka berharap usaha mereka membawa perubahan dan menerima kabar baik untuk kemudahan Bu Sumi.

Bagaimana kondisi Bu Sumi setelah ini, apakah usaha Anto dan Rahmad berhasil memuluskan kepergian Bu Sumi ? Apakah dengan dimintakan maaf dan ampunan dari orang-orang, Bu Sumi terbebas dari siksa? juga terbebas dari kutukan orang-orang yang dizaliminya?

Ikuti terus kelanjutannya.

KUBURAN SUMI - nazarsyarif

Sumi, janda kaya paruh baya itu, mendadak menjadi lintah darat, setelah kematian suaminya,...

Cuplikan bab 11"Apa ini?"gumam Nadin. "Raf."Rafi hanya berdehem tanpa menoleh. Ia akhir-akhir ini punya kebiasaan berlam...
22/06/2026

Cuplikan bab 11

"Apa ini?"gumam Nadin. "Raf."

Rafi hanya berdehem tanpa menoleh. Ia akhir-akhir ini punya kebiasaan berlama-lama di depan cermin.

"Wah, surat ..."

Rafi menghentikan tangannya yang hendak menyisir rambutnya. Pemuda itu menoleh setelah mendengar teriakan Nadin barusan. "Surat? "

Di sana, Nadin sudah menatapnya dengan senyuman jahil. Gadis itu kini mengejeknya. Ia bahkan sengaja mengipas-ngipasi wajahnya dengan kertas berwarna merah jambu itu, tentu saja tak lupa seringaiannya.

Rafi melangkah mendekatinya. Tapi baru beberapa langkah gadis itu sudah mengangkat telapak tangannya,

"Stop! Tetap di situ saja!

'Rafi, dengan datangnya surat ini, aku mau minta maaf, ' "

Nadi menjeda bacaannya. Ia melirik Rafi dengan ekor matanya. Gadis itu lalu berdehem sekali lagi.

"Rafi, sebenarnya ada yang mau aku katakan sama kamu. Sudah lama, sejak kelas delapan dulu. Saat kamu baru saja pindah ke sini. Sebenarnya aku sudah memiliki perasaan yang beda sama kamu. Iya, Rafi, aku s**a sama kamu ... Yaaaaa..... Bacanya belum kelar Raf?! "

Tanpa memperdulikan teriakan Nadin, Rafi kini fokus memeriksa surat itu. Ia sendiri baru melihatnya. Sejak kapan surat itu berada di tasnya. Pemuda itu, tanpa membaca isi surat, ia langsung mencari nama si pengirim.

Rara.

Rafi tercengang, ia sama sekali tak menduga kalau bakal mendapatkan surat cinta dari gadis berponi itu.

"Rara? Yang bangkunya di depan kamu? " tanya Nadin heboh.
dan tahu-tahu surat itu sudah kembali di tangan Nadin. Membuat Rafi berdecak sambil mencoba merebutnya. Tapi dengan gesit gadis itu membawanya lari ke luar rumah.

"Balikin! "

"Ohw ... Tidak ... "

Nadin malah meniru gaya bicara tele tubbies. Ia sengaja menggoyangkan telunjuknya sambil tertawa.

"Nadin!"

"Apa? Hm?!"

Rafi mengerang frustasi, ia mempunyai firasat buruk tiba-tiba. Gadis itu bakal melakukan tindakan yang bakal merugikan dirinya ke depannya.

"Balikin! Aku minta baik-baik ya!"

Apakah Rafi bakal berhasil merebut surat itu lagi? Atau malah ada insiden tak terduga antara mereka berdua?

Baca cerita ini lengkap di KBM. Yang nggak punya aplikasi bisa baca lewat web kbm.id, dan yang pengen download aplikasi bisa download dulu AppStore

Judul: TAK ADA WAKTU JATUH CINTA
Penulis: Ryujiwin

Saat masa depan bisnisnya mulai bersinar, sebuah pesan dari Kanna justru membuatnya tidak sadar bahwa badai terbesar sed...
22/06/2026

Saat masa depan bisnisnya mulai bersinar, sebuah pesan dari Kanna justru membuatnya tidak sadar bahwa badai terbesar sedang menunggu di depan pernikahan mereka. 🔥💔

bab 3
Aku terbangun karena ada panggilan dari Kanna. Dia memberitahu sudah sampai di Stasiun Kota. Aku belum sepenuhnya bangun saat dia mengucap satu dua patah kata. Entah apa saja yang diucapkannya, otakku tidak bisa merekamnya.

“Purna! Kamu mendengarku?” seru Kanna.

“Tidak bisakah kamu pergi saja. Tidak perlu melaporkan setiap langkahmu. Telepon lagi setelah kamu sampai. Aku masih belum sanggup untuk bangun jam segini.”

“Kamu tidur jam berapa semalam?” tanya Kanna.

Aku bergumam tidak jelas. Sepertinya kesadaranku hilang. Aku terlelap lagi ke alam mimpi.

Saat kesadaranku kembali, kulihat ada berkas putih yang menyusup dari sela tirai jendela. Aku bangun dan menyibak tirai secara penuh.

“Cerah sekali hari ini,” ucapku.

Aku melirik jam dinding. Ada jeda yang tidak lama untuk otakku mencerna yang kulihat.

“Sh*t!”

Aku langsung lari ke kamar mandi. Mencuci muka seadanya, sikat gigi, dan… telepon berdering.

Aku keluar mencari ponselku dengan mulut penuh busa. Sikat gigi pun masih ada di dalam mulutku.

Aku nyalakan load speaker.

“Bilang aku telat tiga pulut menit,” ucapku tanpa basa basi. Tanpa menunggu orang di seberang mengucapkan kehendaknya.

“Klien kita sudah sampai kantor. Tidak bisakah lima belas menit, Purna. Apa yang kamu lakukan kenapa jam segini belum sampai kantor? Aku sudah meneleponmu 20 kali mungkin ada dan kamu baru mengangkatnya sekarang!” keluh Omar, rekan dan partner kerjaku.

Aku berpikir, “Dua puluh menit,” ucapku sebelum menutup telepon.

Dengan kecepatan kilat aku mengganti baju. Tidak kalah cepatnya aku memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas kerja.

10.04 yang terpampang di jam tanganku. Aku menuju garasi dan men-starter motorku. Menurut perhitungan, bila aku tidak bertemu lampu merah aku akan sampai tepat sesuai dengan yang aku janjikan.

Sungguh ajaib. Aku memang penuh keajaiban. Aku tahu semesta akan selalu membantuku.

Omar sudah menunggu di lobi kantor dengan wajah pucat dan ekspresi kesal, “Mereka ada di ruang meeting. Lian yang menemani mereka.”

“Semua persiapan presentasi sudah disiapkan?”

“Semua persiapan sudah beres tinggal menunggu kamu saja.”

Aku berhenti sebentar di depan pintu. Menarik napas dalam dan mencoba tersenyum penuh percaya diri. Kemudian, aku membuka pintu ruang meeting.

“Selamat siang semuanya,” kataku tegas, percaya diri, dan penuh penekanan. Paling penting memunculkan rasa ingin tahu di mata mereka.

Aku rasa itu awal yang bagus. Mereka akan lupa menit-menit mereka menunggu. Kadang waktu yang berharga bukan segalanya. Akan tetapi, bagaimana kita menunjukkan apa yang akan kita berikan untuk mereka lebih berharga daripada waktu yang mereka habiskan untuk menunggu.

***

“Gila! Sumpah, gila! Aku tidak akan percaya bila tidak melihatnya sendiri. Meskipun kamu hampir membuatku gila pagi ini. Tetapi, tidak segila hasil rapat tadi. Luar biasa. Aku tidak menyangka mereka akan memberikan kepercayaan yang begitu besar kepada bisnis restoran kita.”

Aku bangga tentu saja mendengar omongan Omar. Tidak mudah untuk mencapai hari ini.

“Kita harus sungkem sama Oma kamu. Resep soto andalan di restoran kita kan dari Oma kamu.”

“Ya. Sepertinya aku harus mengunjungi Oma,” kataku.

“Apa perlu mengubah jadwalmu beberapa hari ke depan, Purna?” Lian bertanya. Sebenarnya job desc Lian mengatur finance, tetapi sering kali dia yang mengatur jadwal kami.

“Apa perlu aku longgarkan jadwalmu untuk mempersiapkan pernikahanmu?” tanya Lian.

“Menikah? Oh ya, kamu akan menikah sama nona penulis itu. Aku tidak percaya kamu akan tersihir sama seorang perempuan. Kupikir seorang Purnama hanya akan menikah dengan pekerjaan yang dilakukannya,” komentar Omar.

“Kamu pikir aku batu yang tidak memiliki perasaan,” ucapku.

“Ya, kamu memang kepala batu,” celetuk Omar. Lalu, dia kabur ketika melihat ekspresiku mulai kesal.

“Jadi, bagaimana?” Lian bertanya ulang.

Aku berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk pelipisku. Aku berpikir dengan jumlah uang yang luar biasa besar dipercayakan investor ke bisnis ini. Artinya saat ini bukan waktunya untuk bersantai. Banyak hal yang harus dikerjakan.

Bukan berarti aku tidak percaya Omar dan Lian. Mereka orang yang luar biasa hebat di bidangnya masing-masing. Namun, tetap saja harus ada orang yang mengkoordinasi mereka dengan banyak hal.

“Kamu masih bisa memantau jalannya bisnis ini. Aku hanya melonggarkan jadwalmu supaya kamu bisa membagi waktu dengan persiapan pernikahanmu,” Lian menjelaskan apa pun itu yang membuatku bimbang.

“Kamu memiliki kemampuan membaca pikiran orang?” tanyaku kagum.

“Aku hanya bisa membacamu dan Omar. Wajah kalian terlalu transparan,” jawab Lian.

Aku bertepuk tangan dengan jeda yang tidak terlalu cepat mendengar pernyataannya.

“Kanna saja tidak bisa melakukan itu kepadaku. Kamu hebat Lian, sekaligus menakutkan,” kataku yang aku sendiri tidak begitu yakin apa ucapanku ini pujian atau rasa takut dengan kemampuan Lian membaca pikiranku dan Omar.

“Kapan kamu akan mengunjungi Oma?” tanya Lian.

“Aku harus menunggu Kanna p**ang dari trip-nya. Mungkin minggu depan.”

“Apa harus dengan Kanna?” tanya Lian.

“Maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku pikir kamu bertemu Oma untuk berterima kasih untuk resep soto dari beliau. Jadi, hanya kita bertiga.”

“Bertiga? Kamu dan Omar?” tanyaku memastikan.

“Bila menurutmu kami tidak perlu ikut tidak masalah. Lagip**a memang tidak mungkin kita bertiga meninggalkan kota secara bersamaan,” ujar Lian.

Kecerdasan Lian dalam mengolah situasi tidak bisa dilawan. Cara bicaranya masih tetap tenang. Kadang membuatku tidak tahu kapan perasaannya berubah dari biasa saja, marah, atau sedih.

Ekspresi bahagia yang paling mudah diperlihatkan Lian. Tawa dan senyumannya tidak pernah berbohong. Hanya saja bila dia sudah menunjukkan ekspresi datar tanpa emosi. Aku angkat tangan. Entah apa yang dipikirkan dan dirasakan Lian saat itu.

“Aku sudah lama tidak p**ang ke rumah Oma. Aku juga ingin mengenalkan Kanna secara langsung sekalian memberikan undangan pernikahan kami. Sebenarnya tidak masalah kalau kalian ikut serta, tetapi tetap harus menunggu Kanna. Urusan di sini kita bisa percayakan ke manajer teknis di lapangan.”

“Aku akan bicara dengan Omar kalau begitu agar dia meluangkan waktu. Kalau minggu ini kamu masih bisa bekerja seperti biasanya?” tanya Lian.

Aku mengangguk.

Lian membereskan berkas-berkasnya dan meninggalkan ruanganku. Kemudian, aku mengecek ponselku.

Sebuah pesan dari Kanna.

“Aku sudah sampai. Aku tidak menelepon. Kupikir kamu sudah di kantor karena itu aku tidak berani mengganggu. Bagaimana dengan investor? Apakah hari ini lancar?”

Membaca pesannya membuatku ingin mendengar suaranya. Aku pikir dia akan langsung mengangkat telepon dariku. Tiga kali panggilan tanpa jawaban darinya. Aku mengetuk-ngetuk jariku di meja.

Mungkin dia tidak memegang ponselnya saat ini.

Aku kembali hanyut kepada pekerjaanku. Ada beberapa berkas yang harus kutandatangani. Aku terdistraksi lagi dengan ponselku yang terlalu hening. Aku mengetik pesan untuk Kanna.

“Kami berhasil. Bisnis ini memiliki masa depan seperti kita.”

Aku tersenyum melihat pesan yang aku tulis sendiri. Masa depan.

Dulu, pernah aku merasa tidak akan memiliki masa depan. Untuk menjalani hari ini saja begitu berat. Apalagi memikirkan masa depan yang sangat jauh dan tidak bisa disentuh. Aku tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik di mana aku sekarang.

Omar dan Lian hadir sangat tepat waktu menawarkan masa depan yang bisa kudapat. Kanna pun menyu-sup datang perlahan-lahan membuat duniaku semakin menawan dan tertawan oleh hatinya yang satu untukku.

Mereka bertiga memiliki porsinya masing-masing untuk memenuhi ruang kosong di hatiku. Tidak hanya mereka, tetapi semua yang mendukungku sampai bisa tegak berdiri seperti sekarang. Tidak terkecuali Oma.

***
judul: Menuju Kamu yang Kusebut Rumah (A Wedding in Crisis)
Penulis: windrayu
~ TAMAT di KBM APP

Address

Kp. S**araja RT 3 RW 5 Desa Solokanjeruk
Bandung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Koleksi novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category