Koleksi novel

Koleksi novel Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Koleksi novel, Book shop, Kp. s**araja RT 3 RW 5 desa solokanjeruk, Bandung.

Bab 6“Zahra… aku rasanya tidak sanggup.”Suara itu keluar lirih, nyaris seperti bisikan yang patah di tengah jalan. Mas D...
16/09/2026

Bab 6

“Zahra… aku rasanya tidak sanggup.”
Suara itu keluar lirih, nyaris seperti bisikan yang patah di tengah jalan. Mas Dario duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menutupi wajahnya, bahunya naik turun menahan sesuatu yang sejak tadi ia pendam.

Zahra berdiri di depannya, masih menggenggam ujung kerudungnya yang belum sepenuhnya rapi. Ia menatap suaminya beberapa detik, lalu perlahan mendekat.

Tanpa banyak kata, ia merangkul Dario.

Pelukan itu lembut, hangat, tapi juga penuh luka yang tidak terlihat. Ia menempelkan pipinya ke kepala suaminya, seolah ingin menenangkan badai yang sedang berkecamuk di dalam diri pria itu.

“Kamu harus bisa… demi Mama,” bisiknya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi beratnya seperti menekan dada.

“Aku yakin kamu sanggup, Mas.”

Dario menggeleng pelan di dalam pelukan itu.

“Tidak…” suaranya serak. “Aku tidak sanggup menyakiti hatimu, Zahra.”

Zahra memejamkan mata.

Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya saat mendengar itu. Luka yang sejak awal ia coba kubur, kembali terasa nyata.

Namun ia tetap tersenyum, meski Dario tidak bisa melihatnya.

Perlahan, Dario melepaskan pelukan itu. Ia menoleh ke arah Zahra, menatap wajah istrinya yang terlihat tenang… terlalu tenang untuk ukuran situasi seperti ini.

Tangannya meraih tangan Zahra.

Lalu, tanpa ragu, ia mencium punggung tangan itu.

Lama.

Seolah itu adalah permintaan maaf yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.

Zahra hanya tersenyum.

Senyum yang tipis, tapi cukup untuk membuat Dario semakin merasa bersalah.

“Ayo, Mas,” ucapnya pelan, mencoba terdengar ringan. “Tuh… dengar teriakan Mama.”

Seperti menjawab ucapannya, suara Nyonya Mieke terdengar dari lantai bawah.

“Dario! Zahra! Lama sekali kalian! Ini hari penting, bukan waktu untuk bermalas-malasan!”

Nada suaranya tajam, penuh ketidaksabaran.

Dario menghela napas panjang, lalu menatap Zahra sekali lagi.

“Aku benci hari ini,” gumamnya.

Zahra tidak menjawab.

Ia hanya merapikan kerah baju Dario dengan hati-hati, seperti seorang istri yang sedang mempersiapkan suaminya… untuk menikah dengan wanita lain.

Ironis.

Sangat ironis.

“Sudah rapi,” ucapnya pelan.

Dario menggenggam tangan Zahra sejenak, seolah enggan melepaskannya.

Namun akhirnya, ia berdiri.

Dan Zahra pun ikut berdiri di sampingnya.

Hari ini… adalah hari pernikahan suaminya dengan wanita lain.

Zahra mengenakan gamis brokat berwarna lembut, dihiasi payet-payet kecil yang berkilau halus saat terkena cahaya. Hijabnya terpasang rapi, makeup tipis menghiasi wajahnya, membuatnya terlihat anggun.

Cantik.

Tapi matanya…

Tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Sejenak.

Lalu menarik napas panjang.

“Kamu kuat,” bisiknya pada diri sendiri.

Namun suara dari luar kembali memecah fokusnya.

“Kenapa sih lama sekali?!” teriak Nyonya Mieke lagi, kali ini lebih keras. “Kamu sengaja ya, Zahra?!”

Zahra menoleh ke arah pintu.

Belum sempat ia menjawab, Dario lebih dulu membuka pintu.

“Maaf, Mah,” ucap Dario cepat. “Tadi… perut aku sakit.”

Zahra sedikit terkejut mendengar itu.

Ia menatap Dario sekilas.

Berbohong… untuknya.

Nyonya Mieke mendengus kesal.

“Alasan saja!” ketusnya. “Sudah, cepat turun! Kita harus berangkat sekarang!”

Langkah kakinya terdengar menjauh.

Zahra dan Dario saling berpandangan.

“Terima kasih,” ucap Zahra pelan.

Dario menggeleng.

“Aku cuma tidak mau dia terus menyalahkan kamu.”

Zahra tersenyum tipis.

Namun senyum itu cepat menghilang.

“Yuk,” katanya.

Mereka pun turun bersama.

Perjalanan menuju rumah Jelita terasa seperti perjalanan tanpa arah.

Zahra duduk di kursi belakang, di samping Nyonya Mieke yang tampak begitu bersemangat. Sedangkan Dario duduk di depan, diam sepanjang jalan.

Tidak ada percakapan berarti.

Hanya suara mesin mobil dan sesekali instruksi dari Nyonya Mieke.

“Pastikan semuanya berjalan lancar,” katanya. “Mama tidak mau ada kesalahan sedikit pun.”

Zahra menatap keluar jendela.

Pemandangan di luar berlalu begitu saja.

Orang-orang menjalani hari mereka seperti biasa.

Tidak ada yang tahu… bahwa di dalam mobil ini, ada seorang wanita yang sedang mengantar suaminya menikah lagi.

Tangannya mengepal pelan di atas pangkuannya.

Ia mencoba menenangkan diri.

Namun hatinya tetap bergejolak.

Rumah Jelita sudah dipenuhi tamu.

Dekorasi pernikahan terlihat indah, bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut, warna-warna lembut mendominasi suasana.

Semua tampak sempurna.

Terlalu sempurna.

Zahra melangkah turun dari mobil, diikuti Dario dan Nyonya Mieke.

Begitu mereka masuk, beberapa orang langsung menyapa.

“Selamat datang!”

“Wah, ini pasti keluarga Mas Dario!”

Zahra hanya tersenyum, meski dalam hati ia ingin berbalik dan pergi.

Di kejauhan, ia melihat Jelita.

Wanita itu berdiri anggun dalam balutan gaun pengantin. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tidak pernah lepas.

Cantik.

Sangat cantik.

Dan hari ini… ia akan menjadi istri kedua suaminya.

Jelita melihat mereka.

Lalu berjalan mendekat.

“Mbak Zahra…” sapanya lembut.

Zahra menatapnya.

Senyum itu lagi.

Hangat. Tulus. Tanpa beban.

“Hai…” jawab Zahra pelan.

Jelita menggenggam tangannya.

“Terima kasih ya, mbak… sudah datang.”

Zahra hanya mengangguk.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Di satu sisi, ia ingin membenci wanita di depannya.

Namun di sisi lain… ia tidak menemukan alasan untuk itu.

Jelita tidak pernah bersikap buruk padanya.

Justru sebaliknya.

Dan itu… membuat semuanya terasa lebih sulit.

Acara pun dimulai.

Zahra duduk di antara tamu, sedikit menjauh dari pusat acara.

Matanya tertuju ke depan.

Ke arah Dario… yang duduk di sana, siap mengucapkan akad dengan wanita lain.

Tangannya dingin.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Setiap detik terasa begitu panjang.

Lalu… ijab kabul itu pun diucapkan.

Sah.

Satu kata itu menggema di ruangan.

Dan di saat yang sama…

Sesuatu di dalam hati Zahra terasa runtuh.

Ia menunduk.

Air matanya jatuh… tanpa suara.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang tahu.

Karena semua orang sedang sibuk merayakan kebahagiaan.

Sementara ia…

Harus belajar menerima kenyataan.

Beberapa saat kemudian, Zahra berdiri.

Ia berjalan pelan menuju luar, mencari udara segar.

Dadanya terasa sesak.

Ia butuh ruang.

Ia butuh waktu.

Namun langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggil.

“Zahra…”

Ia menoleh.

Dario.

Sudah berdiri di belakangnya.

Masih dengan pakaian pengantin.

Masih dengan status barunya.

“Mas…” ucap Zahra pelan.

Dario menatapnya.

Matanya terlihat lelah… dan penuh penyesalan.

“Aku…” ia terdiam sejenak. “Aku tidak tahu harus bilang apa.”

Zahra tersenyum kecil.

“Tidak usah bilang apa-apa,” jawabnya.

Dario menggeleng.

“Aku merasa kehilangan sesuatu hari ini.”

Zahra menatapnya.

“Mas tidak kehilangan apa-apa,” katanya lembut. “Aku masih di sini.”

Dario menutup mata sejenak.

“Justru itu yang membuat aku semakin merasa bersalah.”

Zahra tidak menjawab.

Ia hanya menatap langit.

Langit yang cerah.

Berbanding terbalik dengan hatinya.

“Mas…” katanya pelan.

“Iya?”

“Jangan buat keputusan hari ini jadi sesuatu yang kamu sesali seumur hidup.”

Dario menatapnya.

“Aku sudah menyesalinya sejak awal.”

Zahra tersenyum tipis.

Lalu menepuk pelan bahu suaminya.

“Sekarang… jalani saja,” ucapnya. “Kita semua sudah memilih jalan ini.”

Dario terdiam.

Zahra pun berbalik.

Melangkah perlahan menjauh.

Meninggalkan suaminya yang kini… harus berbagi hidup dengan wanita lain.

Dan di setiap langkahnya, ia tahu…

Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Namun ia tetap berjalan.

Karena berhenti bukan pilihan.

Dan kuat… adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

Baca selengkapnya di KBMAPP. Judul: Maduku Tamengku. Penulis: Umipatum

🔥 Bab 4 | Mayor Abdi 🔥“Kamu tahu foto ini? Tahu dari mana?”Pertanyaan Ayang Aiman membuatku berpikir keras. Aku juga bin...
16/09/2026

🔥 Bab 4 | Mayor Abdi 🔥

“Kamu tahu foto ini? Tahu dari mana?”

Pertanyaan Ayang Aiman membuatku berpikir keras. Aku juga bingung melihat foto ini di mana. Tapi, memang aku pernah melihat.

"Sumala? Heh, Mala?"

“Hah?” Lekas aku menoleh kepada Ayang Aiman.

Pandanganku terdiam sejenak seperti terdistraksi oleh wajah Ayang Aiman yang terkadang tak asing bagiku. Tapi aku pernah lihat di mana? Foto ini pun sepertinya pernah aku lihat, seperti dejavu.

"Kamu kenapa kok tiba-tiba melamun?"

Aku tersenyum kaku. “Nggak ada. Aku cuma ... Yang, sebelum ini kita udah pernah ketemu nggak sih?”

“Ya pernahlah, sudah empat bulan ‘kan kita ketemu dan hampir setiap hari lagi. Gimana, sih Cantiknya Aiman ini?” katanya sambil mencolek daguku gemas.

“Iya, bener juga, ya?”Aku tertawa renyah. “Ah, sayang kamu, Ayang. Sayang kamu banyak-banyak pokoknya aku tuh.” Aku langsung berhambur merangkul lengannya tanpa malu.

Di saat aku lagi sayang-sayangan sama Ayang Aiman, Rita datang dan langsung murka padaku.

“Kurang ajar. Apa-apaan ini?” desisnya mengerang setengah berlari hendak menjambakku, tapi aku cepat berdiri dan berpindah di belakang Ayang Aiman yang berdiri menghadang istrinya, “Papa minta aku p**ang buat lihat kalian mesra-mesraan sama Sundel ini?”

“Heh! Mulutnya dijaga, ya?” ucapku tak kalah keras. “Enak aja dari kemarin bilang aku Sundel-Sundel terus. Ayang, aku dibilang Sundel masak kamu diam aja, sih Yang?”

“Ma, jangan seenaknya kamu menghina orang lain selama kamu sendiri nggak becus ngurus aku, ya!” Ayang Aiman menjadikan dirinya pemisah antara aku dan istrinya. "Dia calon istri Papa."

“Pa! Apa maksud Papa bilang aku nggak becus gitu? Papa jangan seenaknya bilang aku nggak becus d**g! Apalagi di depan dia. Mama nggak terima, ya, Papa bilang Mama kayak gitu!” Rita mulai tersulut, napasnya sampai ngos-ngosan.

“Makanya, Mama tolong hargai orang lain juga,” tekan Ayang Aiman.

“Kalau Papa nggak mau Mama bilang gitu, ya, udah d**g nggak usah dilanjutin drama marahnya dan jangan lagi bawa-bawa si Sundel ini lagi ke rumah kita. Kita ini hidup di dunia nyata, Pa. Bukan drama sinetron TV."

“Kamu itu yang Sundel! Enak aja bilang aku Sundel. Sadar diri d**g yang Sundel sebenarnya itu siapa?”

“Apa maksudmu bilang gitu?” Rita sudah hampir berteriak, ia bahkan menarik tanganku hingga berdiri di hadapannya.

“Pikir aja sendiri kenapa aku bilang gitu. Harusnya kamu yang lebih tau daripada aku."

“Cukup!”

“Ayang! Istri Ayang kayak Banteng itu, takut!” Aku langsung saja mundur dan merangkul lengan Ayang Aiman.

Namun, kali ini Rita yang sudah sangat marah, tanpa tedeng aling-aling langsung mencond**gkan tubuhnya ke depan, tangannya menarik rambutku dan langsung diseret begitu saja hingga aku mengikuti arah ia menarikku. Sangat kuat hingga kulit kepalaku terasa panas.

“Aaaahhhkk! Tante sakit!” Aku memegangi rambutku yang rasanya sudah mau terlepas dari kulit kepala.

“Masa bodo kamu kesakitan. Yang penting kamu sadar kalau nggak ada hak kamu pegang-pegang suamiku. Enak aja bilang ayang-ayang ke suamiku, bilang aku banteng. Kamu sendiri nggak sadar apa kalau kamu itu Buaya Betina, hah? Kamu nggak akan pernah jadi istrinya apalagi nyonya rumah ini Pelakor!”

“Sadar d**g siapa yang pelakor.”

Tak mau kesakitan sendiri, aku pun memutar tubuhku meski kesulitan karena jujur, badan Rita lebih besar dariku yang artinya memiliki tenaga lebih kuat. Kemudian, aku menarik sanggulnya yang tinggi sampai lepas berantakan. Kutarik tak kalah kuat rambutnya yang mulai tumbuh uban.

“Aarrrgghh! Lepasin! Sialan! Lepasin rambutku. Aaarggghh, sakit Wanita Brengsek! Sakit!"

“Lepasin dulu rambutku. Dan apa pedulimu aku jadi nyonya rumah ini atau nggak, hah? Semua tergantung sama Ayang Aiman. Makanya jaga suaminya, biar suaminya nggak lirik perempuan lain.”

“Mulutmu itu dijaga, ya. Seenak jidatnya bilang aku nggak jaga suamiku. Dasar kamunya aja yang s**a ganggu suami orang. Kalo pada dasarnya Sundel ya, tetap aja Sundel. Lepasin Sundel, Pelakor. Lepasin!” Bahkan, segala macam hewan Rita sebut.

Kami sudah main jambak-jambakan di tengah ruang tamu rumah ini dengan berbagai macam posisi saking hebohnya kelakuan kami yang sama-sama tidak mau mengalah. Setiap kali aku akan melepas, Rita selalu menarik rambutku semakin kuat dan memukul-mukul kepalaku seperti orang kesetanan. Aku yang tak mau kalah, membalas semua perbuatan Rita tanpa satu pun terlewat.

Sedangkan Ayang Aiman sendiri berusaha melerai kami, tenaganya seperti hilang, seperti tak sanggup memisah kami berdua. Kalah dengan kekuatan kami yang sejatinya diselimuti rasa benci satu sama lain.

“Rita, Mala, berhenti kalian berdua!”

“Suruh dia lepasin rambutku dulu, Pa. Cepat lepasin Sundel!”

“Dibilangin aku bukan Sundel. Kamu itu yang Sundel sampai membunuh orang!” Tersulut emosi, mulutku kelepasan. Aku tidak terima dibilang sundel terus dalam kondisi seperti ini. Sudah jelas dialah perebut ayahku yang bahkan aku tidak tahu ke mana laki-laki itu berada. Sudah mati atau tidak aku tidak peduli.

“SUDAH CUKUP AKU BILANG! BERHENTI! KALIAN BERDUA BERHENTI ATAU AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN!"

Suara Ayang Aiman kali ini lebih keras dan satu kali tarikan tangannya, kami yang saling menyerang, akhirnya terlepas.

Napas kami berdua memburu dengan rambut acak-acakan. Sanggul Rita pun sudah jatuh ke lantai terinjak-injak kami saat duel, menyisakan rambutnya yang pendek dan awur-awuran tidak jelas.

“Kalian ini seperti anak kecil aja," hardik Ayang Aiman. Dan baru kali ini aku melihat dia murka dengan wajahnya yang mengeras menatapku dan Rita bergantian membuatku menunduk pura-pura bersedih, seolah aku di sini yang teraniaya.

“Dia, Yang yang mulai duluan. Lihat nih, rambutku jadi banyak yang rontok. Ayang jangan marah sama aku,” sahutku.

“Enak aja. Kamu sendiri yang cari gara-gara. Makanya sadar diri siapa kamu. Dia itu suamiku, main sentuh sana-sini seenaknya. Sudah kayak cicak nemplok. Jadi perempuan kok menggatel banget sama suami orang.”

“Sudah cukup!” sentak Ayang Aiman lagi. "Lihat bagaimana keadaan kalian berdua sekarang."

"Mama hanya membela diri, Pa. Mama nggak terima diginiin sama Pelakor bawaan Papa ini. Kamu juga apa-apaan bukannya membela istri, tapi malah marah sama Mama."

“Karena kamu yang salah Ma!" jelas Ayang Aiman dan reflek membuatku menjulurkan lidah kepada Rita.

"Kamu juga, Ma, jangan buat kebohongan seperti itu lagi. Sumala sudah cerita soal pesan chat yang Mama kirimkan padanya juga foto yang Mama kirimkan. Nggak tahu kapan Mama ambil nomornya dari ponselku, tapi Papa di sini hanya meluruskan kalau kita sudah hampir lima bulan ini nggak berhubungan badan lagi, ya. Papa masih ingat kapan terakhir kita melakukannya.” Ayang Aiman terang-terangan menjelaskan seberapa parahnya rumah tangga mereka.

"Mama juga apa nggak malu mengirimkan foto t e l a n j a n g kayak gitu ke orang lain? Malu-maluin kamu itu. Kamu itu sudah tua."

Wajah Rita kali ini sangat merah mungkin karena malu suaminya mengaku tidak pernah berhubungan badan dengannya, juga mengatakan hal itu tepat di hadapanku yang merupakan saingannya.

“Setiap aku minta, Mama pasti menolak dan alasan capek. Lebih capek siapa, Mama atau Papa yang kerja banting tulang untuk keluarga kita? Lebih capek mana sama Papa yang sering mengalah dan memohon? Harga diri Papa sudah nggak ada di depan Mama.

Selama ini, aku masih bisa sabar karena menghargai Mama sebagai istri Papa. Tapi, nggak untuk kali ini. Keputusan sudah bulat, aku akan menikah siri dengan Sumala minggu depan. Nggak peduli kalau sampai Mama atau April lapor ke kantor. Toh kalian sendiri tahu gimana konsekuensinya.”

“Papa. Jangan seenaknya gitu d**g,” sentak Rita sambil memegangi tengkuknya yang mungkin kesakitan.

Kesombongan yang biasa ditampilkan, bahkan saat ingatanku kembali pada masa silam, kini menghilang dengan genangan air yang menganak di bola matanya. Hari ini, aku lagi-lagi puas atas drama yang baru saja akan dimulai.

Perasaan seperti ini juga yang dulu Ibu rasakan, Rita. Tapi ini hanya permulaan, setelah ini, kamu akan merasakan jauh lebih menyakitkan daripada yang Ibuku rasakan dulu. Batinku bersorak menertawakan keadaan Rita yang dulu serupa dialami ibuku.

Aku tidak takut jika sewaktu-waktu dia mengancam akan melaporkan pernikahan ini kepada pihak kantor Ayang Aiman, karena aku yakin dia tidak akan mau hidup miskin. Pelakor sepertinya, apalagi yang dicari kalau bukan uang? Seperti dulu saat bersama Ayah, uang pasti menjadi tujuan hidupnya.

“Mulai malam ini, Sumala akan menginap di sini karena akan ada yang datang untuk mengukurnya buat pakaiannya nanti dan menyiapkan segala persiapan untuk kami meninkah seminggu lagi.” Ucapan Ayang Aiman membuatku melongo ke arahnya, tapi senang karena bisa melihat wajah Rita yang dibakar api cemburu.

"Papa!"

Ayang Aiman tak mempedulikan panggilannya. “Selama dia di sini, nggak ada yang boleh ganggu dia, kamu maupun April.”

“Gila kamu, Pa!” Tubuh Rita sempoyongan sampai memegangi erat sandaran sofa, tubuhnya yang cukup besar tampak sangat tak bertenaga.

Sementara itu, Ayang Aiman membawaku ke sebuah kamar tamu yang sudah disiapkan. Seolah ia tahu apa yang aku mau, sengaja Ayang Aiman menempatkanku tepat di samping kamar tidur utama, padahal kamar tamu di rumah ini masih banyak di lantai atas.

“Jangan diambil hati masalah ini, aku nggak mau traumamu kembali,” ucap Ayang Aiman sambil mengusap kepalaku.

Jujur, dia memang orang baik, tapi kebutaan Rita yang sudah meninggalkannya membuat laki-laki kesepian ini membutuhkan kasih sayang dari wanita lain, dan aku tahu cara bagaimana memanfaatkannya.

“Kamu istirahat dulu di dalam. Nanti malam orang yang buatkan pakaian kamu datang.”

“Ayaaang, makin cinta deh sama kamu.” Dengan mode manja, aku menggelayut di lengannya tanpa tahu malu.

Menuruti keinginan Ayang, aku pun bersantai di kamar itu, sedangkan Ayang sendiri harus menenangkan Si Iblis dan putrinya yang sebentar lagi p**ang dari sekolah.

Baru juga rebahan, tiba-tiba ponselku berdering. Saat kulihat di layar, nomor itu asing tak ada nama.

“Halo, selamat siang dengan Ibu Aurora.”

Nama itu, sudah lama aku tidak mendengar ada orang yang memanggil nama itu. Sangat lama sampai aku hampir lupa.

“Selamat siang. Maaf dengan siapa, ya?” Aku terduduk menyandar di sandaran kasur.

“Saya Mayor Abdi, Ibu.”

Tubuhku spontan terduduk tegak. Dadaku mendadak terasa nyeri karena terkejut. “Iya, ada apa, Pak Komandan?” Aku tahu siapa Mayor Abdi ini.

“Begini, saya ingin memberi kabar baik kalau ada kabar terbaru soal Mirsa.”

Deg! Napasku seakan berhenti, nama itu ... Mirsa?

Bersambung ....

JUDUL: KUREBUT SUAMIMU SEPERTI KAMU MENGAMBIL AYAHKU
NAPEN: CEISYAARSY
STATUS: TAMAT

BACA SELENGKAPNYA HANYA DI KBM APP

Part 6"Sayang, yuk p**ang.” Suara Bintang terdengar agak pelan, seolah takut aku masih menyimpan curiga.Aku menarik napa...
16/09/2026

Part 6

"Sayang, yuk p**ang.” Suara Bintang terdengar agak pelan, seolah takut aku masih menyimpan curiga.

Aku menarik napas, menoleh sekilas. “Aku bisa p**ang sendiri, Mas. Kamu teruskan aja meetingnya.”

“Kamu yakin?” Ia menatapku penuh ragu, seperti khawatir meninggalkanku dalam keadaan marah.

Aku mengangguk, berusaha menutup kecurigaan dengan senyum tipis. “Yakin. Aku nggak apa-apa.”

Bintang menghela napas lega, lalu meraih pundakku sebentar, bahkan sempat memeluk singkat. “Makasih, Sayang. Aku janji nggak lama.” Ia kemudian kembali masuk ke ruang meeting itu.

Aku menoleh sekilas ke arah pintu yang baru saja menutup. Hati kecilku masih bergetar, tapi kutepis perasaan itu. Aku tak mau terlihat sebagai istri yang paranoid.

*

Satu jam kemudian, Bintang p**ang. Aku sedang duduk di ruang tamu, membaca majalah, pura-pura santai. Dia langsung menghampiriku sambil membuka jasnya.

“Capek, Sayang?” tanyanya sambil meletakkan jas di sandaran sofa.

“Biasa aja.” jawabku datar.

Ia mencond**gkan tubuh, hendak mencium pipiku, tapi aku menahan dengan senyum tipis. “Mas, besok aku masuk kantor lagi.”

Bintang sontak terdiam. Senyumnya memudar, bola matanya membesar, refleks menelan ludah. “Untuk… apa, Sayang? Bukannya kamu bilang mau fokus ngurusin putri kita?”

Aku menutup majalah perlahan, menatap matanya tanpa berkedip. “Shaci sudah lumayan mandiri, Mas. Simbok bisa menunggu di sekolahnya. Aku cuma merasa… ketinggalan banyak. Kemarin aku ke kantor, ternyata banyak perubahan yang aku nggak tahu.”

“Oh ya?” Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu terlihat dipaksakan.

Aku menyilangkan tangan di dada. “Bulan, sekretarismu?”

Tubuh Bintang menegang. Aku jelas melihatnya. Ia memalingkan wajah sejenak, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang berusaha tenang. “Bulan…?”

“Iya. Adiknya Alexandra. Kenapa aku baru tahu dia kerja sama kamu?”

“Oh… dia itu anak magang.” Nada suaranya datar, tapi terlalu cepat, seolah sudah disiapkan.

“Anak magang?” Aku mengulang pelan, menekankan setiap suku kata.

“Iya. Banyak kok anak magang di kantor. Sayang, kamu tahu sendiri perusahaan kita sering nerima mahasiswa magang.”

Aku mencond**gkan tubuh, menatapnya lebih dekat. “Oya? Kalau memang anak magang, kenapa waktu aku ketemu dia sama Alexandra, kamu pura-pura nggak kenal? Bahkan kamu alihkan pembicaraan.”

Bintang terdiam. Wajahnya kaku. Tangan kanannya sibuk meremas jemari kirinya. Ia berdeham, mencari kata-kata. “Sayang, aku ini kan bos di kantor. Aku nggak mungkin hapal satu-satu. Kadang aku memang sengaja jaga jarak, biar nggak disalahartikan.”

Aku tersenyum miring. “Jaga jarak? Tapi kenapa aku lihat kamu gelagapan sekarang? Seolah-olah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”

“Aku… aku nggak gelagapan, Sayang. Aku biasa aja.”

“Oh jadi sekarang aku buta, ya?” suaraku meninggi.

Bintang buru-buru mendekat, mencoba menggenggam tanganku. “Jangan gitu, Tar. Aku serius, nggak ada apa-apa sama Bulan. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Aku cuma kerja.”

Aku menarik tanganku cepat. “Mas, aku ini bukan anak kecil. Jangan kira aku nggak paham ekspresi orang yang lagi bohong.”

“Bohong?!” suaranya meninggi, nadanya defensif. “Sayang, kamu tahu sendiri aku kerja banting tulang buat keluarga. Apa aku masih harus dituduh selingkuh juga? Hanya gara-gara anak magang?”

Aku menatapnya tajam. “Mas, bohong itu bukan cuma soal selingkuh. Bohong itu juga ketika kamu nutup-nutupin sesuatu. Dan kamu jelas nutupin sesuatu dariku.”

Bintang terdiam, matanya berkedip cepat. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir, lalu kembali menatapku. “Aku cuma… nggak mau kamu khawatir, Tar. Makanya aku nggak cerita banyak soal kantor. Itu aja.”

Aku menahan tawa miris. “Lucu sekali. Katanya nggak mau bikin aku khawatir, tapi justru sikapmu bikin aku semakin curiga.”

Bintang mendekat lagi, kali ini nada suaranya lebih lembut. “Sayang, please. Percaya sama aku. Bulan cuma anak magang. Aku nggak ada urusan pribadi sama dia. Semua murni kerja.”

Aku mendengus, lalu menatapnya dengan tatapan penuh peringatan. Dalam hati, aku sudah memutuskan: Baiklah, Mas. Kalau kamu mau main api, aku bisa jadi air yang siap memadamkan… atau jadi bensin yang akan membakar balik. Kita lihat siapa yang bertahan sampai akhir.

Aku tersenyum tipis. “Oke, Mas. Aku percaya. Untuk sekarang.”

Bintang menatapku penuh harap. “Makasih, Sayang. Aku janji nggak akan bikin kamu kecewa.”

Aku menunduk, menahan perasaan yang bergejolak di dada. Janji? Mas, janji itu gampang diucapkan. Tapi aku akan buktikan apakah kamu cukup berani menepatinya. Kalau tidak… jangan salahkan aku kalau permainanmu aku balikkan.

Aku berdiri, melangkah ke arah kamar. “Aku capek. Besok aku ke kantor.”

Bintang terdiam di ruang tamu, wajahnya murung. Jemarinya menggenggam rambutnya, seolah menahan tekanan yang semakin berat.

*

Kami tidur saling membelakangi. Dulu, punggung Bintang adalah tempatku bersandar, tempat aku merasa aman. Sekarang, punggung itu hanya tembok dingin yang memisahkan kami. Sejak aku menemukan lingeri pudar itu di koper suamiku, keyakinanku runtuh. Apalagi modelnya bukan selera perempuan beranak satu sepertiku. Itu jelas bukan milikku. Itu milik orang lain. Milik perempuan lain.

Aku menarik selimut lebih rapat, menahan tangis yang sudah terlalu sering kering di pelupuk. Mentari, jangan lemah. Air matamu tidak akan mengubah apa pun. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah berpikir. Jernih, dingin, dan pasti.

Aku pura-pura tertidur, padahal mataku tajam mengawasi setiap gerakannya lewat celah sempit antara bulu mata. Dan benar, suara kasur yang berderit pelan memberi tahu aku bahwa Bintang beranjak. Ia bergerak mengendap, seakan takut aku sadar. Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu kamar ditutup amat perlahan, seperti seorang pencuri yang ingin meninggalkan TKP tanpa jejak.

Jadi benar, Mas. Kamu pikir aku ini perempuan bodoh? Kamu kira aku tidak bisa membaca gelagatmu? Aku tahu kamu menyelinap hanya untuk menghubungi dia. Bulan. Sailor moon sialan itu. Perempuan yang dengan entengnya berani merebut posisi yang sudah kupertahankan dengan darah dan air mata.

Aku membalikkan tubuh perlahan, menatap punggung pintu yang sudah tertutup. Napasku memburu. Ada bara yang semakin menyala di dadaku.

Apa rencanamu, Mas? Menikah diam-diam? Memberinya anak lalu membuangku begitu saja? Aku mungkin tidak bisa menghentikan langkahmu ke luar pintu, tapi aku bisa menghentikan langkahmu kembali p**ang. Satu fakta sudah cukup: aku melihat sendiri dengan mata kepalaku. Kamu, dengan dia. Itu bukti, dan aku tidak butuh lagi kata-katamu yang berliku penuh dusta.

Aku menggigit bibir hingga hampir berdarah. Kalau itu yang kamu mau, silakan. Kembali saja ke ibumu, Mas. Aku sudah terlalu muak dengan keluarga yang selama ini hanya tahu menuntut. Aku yang menahan malu ketika ibumu menatap sinis, aku yang berjuang agar namamu tetap harum. Tapi sekarang? Aku yang akan menentukan akhir permainan ini.

Aku duduk pelan, memeluk lutut. Pikiran-pikiran itu berputar seperti pusaran badai. Fasilitas yang keluargamu nikmati… ya, semua itu datang karena aku. Karena posisiku, karena hubungan yang kubangun dengan orang-orang yang mendukungmu. Aku yang menjaga agar nama Bintang tetap bercahaya. Dan sekarang, ketika kamu berani bermain api, aku juga yang akan mencabut sumber apimu.

Aku mengembuskan napas panjang, membiarkan keheningan malam menelan niatku yang semakin bulat. Kamu sudah lupa, Mas. Aku bukan perempuan polos yang kamu nikahi tujuh tahun lalu. Aku adalah Mentari. Aku bisa bersinar sendiri, bahkan lebih terang ketika kamu mencoba memadamkanku. Dan kalau kamu pikir aku akan duduk diam melihatmu berselingkuh, kamu salah besar.

Aku menutup mata, kali ini benar-benar mencoba tidur. Tapi bukan karena pasrah. Justru aku sedang menyimpan tenaga. Besok, langkah pertamaku dimulai.

Selamat malam, Mas. Nikmatilah mainmu malam ini. Karena sebentar lagi, permainan ini akan aku yang kuasai. Dan saat aku mengambil kembali semua yang selama ini kuberikan, kamu akan sadar… kamu tak pernah kehilangan Bulan. Kamu kehilangan Mentari.

Lanjut di kbm app
Judul: Aku kembalikan suami benalu pada ibunya
Penulis: Titik Triana

BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.KUBURAN SUMIekstra partKarena keseringan cuti, Rahmad ...
16/09/2026

BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.

KUBURAN SUMI

ekstra part

Karena keseringan cuti, Rahmad anak semata wayang Bu Sumi pun memilih keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan dan p**ang ke kota kecilnya. Untuk merawat ibunya dan meneruskan usaha pertanian milik keluarga.

Rahmad merasa bersalah, meninggalkan Ibunya di kota kecil ini. Sementara dirinya bekerja sebagai karyawan swasta di ibukota propinsi. Jarak tempuh lima jam, membuatnya jarang p**ang. Rahmad tahu, ibunya rapuh perlu arahan dan bimbingan.

Tidak semua orang memiliki mental yang kuat. Setelah kepergian suaminya, membuat Bu Sumi berubah menjadi lintah darat. Sebelumnya dia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Rahmad, sang anak, berjanji untuk menemani sang Ibu disisa umurnya. Tidak bosan mengajak Ibunya untuk bertaubat.

Apalah daya, Bu Sumi tetap keras kepala. Meski sakit parah, dia masih mengingat hartanya. Sering dia mengigau dengan menyebut, "hartaku, hartaku, kembalikan uangku," kemudian terbangun dan kembali mengeluh kesakitan.

Harta yang masih banyak, tidak membuatnya tenang. Kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk bangkit. Membuatnya semakin tersiksa, bayangan uang yang mau ditarik kembali terlintas.

Bu Sumi sampai mimpi dan berteriak-teriak, "bayar hutangmu, kembalikan uangku," serta sumpah serapahnya pada orang yang tidak mampu bayar.

Karena tidak mau dibawa ke rumah sakit kembali, Rahmad memanggil dokter keluarga, untuk memberikan infus dan rawatan pada Bu Sumi di rumah saja. Pak dokter itu sampai geleng-geleng kepala menyaksikan kondisi Bu Sumi. Dia teringat saat menangani Pak Kadir, almarhum suami Bu Sumi, yang tenang dan mudah meninggalnya. Berbeda dengan Bu Sumi yang mengamuk sehingga di ikat tangan dan kakinya di ranjang, karena berusaha menyakiti diri sendiri.

Rahmad, memberhentikan anak buah Ibunya. Memberikan gaji terakhir dan memintakan maaf dan doa kesembuhan untuk ibunya. Dia tidak mau lagi sang Ibu terlibat ribawi, aktifitas penggandaan uang milik Ibunya, dihentikan. Dia tidak perduli dengan sisa utang orang pada ibunya. Dia hanya memikirkan siapa saja yang pernah dizalimi sang Ibu. Meminta maaf dan mengembalikan hak-hak mereka. Tentu bukan hal mudah, karena tidak semua yang dizalimi ibunya mau memberikan maaf secara tulus.

Bu Sumi mulai melolong kesakitan, dan meracau seperti orang gila. Pak Dokter memberikan obat penenang agar Bu Sumi bisa beristirahat sementara. Tidak berpengaruh lama, Bu Sumi kembali menggelinjang, tak dapat dikendalikan. Ingatannya ditarik, wajahnya menyeramkan. Sudah tidak mempan lagi tausiyah, nasihat dan ajakan bertaubat.

Hanya keluarga inti, tidak ada keluarga besar yang menjenguk Bu Sumi, seolah orang-orang menjauhinya dan malu mengakuinya sanak kerabat. Hanya sang anak dan menantu, serta cucunya saja di rumah itu yang terus mendoakan. Beberapa kali dalam sehari, dokter berkunjung memastikan Bu Sumi mendapat asupan dan obat.

Pak dokter memberi masukkan berdasarkan hasil pemeriksaannya pada Rahmad, anak semata wayang Bu Sumi.

"Ibumu sedang sekarat, dia kesakitan parah dua hari ini, namun rohnya belum dicabut. Kamu harus ikhlas, kasihani ibumu, sepertinya ada sesuatu yang menahannya. Maaf saya harus menyampaikan, coba kamu ingat lagi, kesalahan apa yang dilakukan Ibumu, cobalah mintakan maaf untuk ibumu.

Secara medis, harusnya Ibumu sudah meninggal, karena pembuluh darahnya pecah. Tubuhnya sudah menolak asupan infus, ini sudah dua hari, jika dibiarkan tubuhnya akan membusuk sementara nyawanya masih ada," terang Pak Dokter.

Rahmad tambah sedih mendengarnya, menangislah dia di hadapan Pak dokter. Rahmad sungguh awam akan usaha Ibunya. Siapa saja yang sudah dizalimi, pastinya banyak. Dia bingung memulai darimana.

"Anto, ya dia ajudan Ibu. Tangan kanan Ibu, dia pasti tahu, siapa saja yang pernah dizalimi oleh Ibu," ucap Rahmad pada istrinya, Aisyah. Selepas kepergian Pak Dokter, mereka mulai memikirkan cara memintakan maaf untuk Ibunya.

Anto pun dipanggil dan diberi pekerjaan sementara untuk mengantar Rahmad pada orang-orang yang pernah dizalimi Bu Sumi. Dengan berbekal data di buku catatan dan ingatannya, Anto membantu mengantarkan. Dia pun prihatin pada mantan majikannya itu, dan takut mendapat azab yang serupa.

"Ibumu, menjadi lintah darat beberapa tahun terakhir. Ada memang kami bertindak di luar kendali, seperti mengusir seorang wanita tua dari rumah kayunya, dan menghancurkan dagangan orang-orang di pasar.

Juga kata-kata kasar Ibumu pada orang-orang, sebagian orang kecewa dan mengutuk Ibumu. Aku prihatin melihat kondisi beliau, aku bersedia membantumu, lebih cepat lebih baik," papar Anto.

"Kau tahu mengenai Ibuku, antarkan aku sekarang menemui mereka," desak Rahmad, mereka pun pergi, menitipkan penjagaan Bu Sumi pada Aisyah.

Pertama-tama, mereka mendatangi Mbok Yun di bedakan kumuh pinggir sungai, memintakan maaf untuk Bu Sumi.

"Permisi, Mbok, masih ingat dengan saya, Anto?" tanya Anto pada Mbok Yun.

"Kamu! ngapain kesini, masih belum puas kalian mengusir kami ?" Mbok Yun masih marah.

"Maaf, Mbok, saya bukan menagih. Maksud saya kesini mau meminta maaf secara pribadi dan beliau ini anak Bu Sumi, juga memintakan maaf untuk Ibu beliau yang sedang sekarat," mohon Anto.

"Biarin dia sekarat, hukuman untuknya, mengambil hak orang lain, dia wanita jahat, aku masih sakit hati jika mengingatnya," keluh Mbok Yun.

"Saya minta tolong, ampuni ibu saya. Saya akan kembalikan rumah Mbok itu, belum sama sekali dijual. Hanya sempat dikontrak oleh orang selama satu bulan setelah itu kosong, Mbok bisa balik lagi ke rumah Mbok sendiri. Saya ikhlaskan utang anak Mbok, tolong sekali lagi ya Mbok," pinta Rahmad mengiba bahkan menangis.

Mbok Yun tak sampai hati melihat ketulusan anak Bu Sumi. Meski dia masih marah, tapi berusaha berlapang dada dan memaafkan.

"Baiklah, Nak. Saya ampuni kesalahan Ibumu, semoga beliau dimudahkan jalannya, terima kasih atas keikhlasanmu. Mbok pun ikhlas, pergilah. Mintakan ampun maaf pada orang-orang yang pernah Ibumu kecewakan, semoga jalannya dimudahkan," Mbok Yun meneteskan air mata haru.

Rahmad tak hentinya mengucap syukur dan terima kasih. Dia mengembalikan surat rumah Mbok Yun sebelum pergi.

Kemudian Anto mengajak Rahmad ke pasar, disana banyak orang yang dikecewakan Bu Sumi.

Anto dan Rahmad menghampiri Mbak Puji dan Mbak Yati, mereka menceritakan keadaan Bu Sumi, memintakan ampun dan maaf.

"Kasihan sekali Bu Sumi ya, kami tidak menyangka beliau sedang sekarat. Walau dulu pernah sakit hati, tapi kami tetap kasihan sama beliau. Kami berusaha memaafkan ya Mbak Yati, ya. Semoga jalan beliau dimudahkan," ucap Mbak Puji diiringi anggukan Mbak Yati. Mereka berlapang dada memaafkan.

"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih, ketulusan kalian memaafkan, sangat diharapkan untuk kemudahan Ibu saya dalam menghadap Ilahi, terimalah ini, sedikit rezeki dari saya yang tak seberapa," Rahmad memberikan uang dalam amplop kepada mereka berdua.

"Apa ini, kami ikhlas kok, nggak perlu dibayar maaf dari kami," ucap Mbak Yati.

"Saya juga ikhlas berbagi, saya tahu, Ibu saya pernah merusak dagangan kalian. Saya mohon maaf sekali lagi," balas Rahmad.

"Oalah sudah lama itu, nggak seberapa juga," ucap Mbak Puji.

"Ijinkan saya berbagi saya ikhlas, terimalah, terima kasih sekali lagi ya Mbak berdua saya pamit," Rahmad segera berlalu sebelum meneteskan air mata kembali.

"Anaknya Bu Sumi, orangnya baik ya Mbak, tidak seperti Ibunya," ucap Mbak Puji.

"Hussh, jangan ghibah, kita sudah memaafkan, jangan diungkit-ungkit lagi, ya," jawab Mbak Yati, diiringi anggukan Mbak Puji.

Anto dan Rahmad mendatangi Acil Janah dan Hajjah Ifit, memintakan maaf dan memohonkan ampun atas segala kesalahan Bu Sumi. Melihat ketulusan Rahmad, baik Acil Janah maupun Hajjah Ifit pun memaafkannya.

Begitu p**a pada beberapa pedagang kecil yang Anto ketahui, dia mengarahkan Rahmad menemui mereka dan menyampaikan permohonan maaf dan ampunan untuk Bu Sumi, beruntungnya, semua yang didatangi, mau dan bersedia memberikan maaf dan ampunan mereka untuk Bu Sumi.

Bahagialah Anto dan Rahmad, mereka berdoa agar Bu Sumi diringankan dan dimudahkan jalannya. Setelah berkeliling di pasar, dan dirasa sudah memintakan maaf dan memohonkan ampun kepada semua orang yang mereka kenal, selama bersentuhan dengan Bu Sumi. Akhirnya, Anto dan Rahmad pun p**ang menemui Bu Sumi. Mereka berharap usaha mereka membawa perubahan dan menerima kabar baik untuk kemudahan Bu Sumi.

Bagaimana kondisi Bu Sumi setelah ini, apakah usaha Anto dan Rahmad berhasil memuluskan kepergian Bu Sumi ? Apakah dengan dimintakan maaf dan ampunan dari orang-orang, Bu Sumi terbebas dari siksa? juga terbebas dari kutukan orang-orang yang dizaliminya?

Ikuti terus kelanjutannya.

KUBURAN SUMI - nazarsyarif

Sumi, janda kaya paruh baya itu, mendadak menjadi lintah darat, setelah kematian suaminya,...

Address

Kp. S**araja RT 3 RW 5 Desa Solokanjeruk
Bandung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Koleksi novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category