21/10/2017
TIPS MENGAJARI ANAK BACA QUR’AN
(Khusus untuk anak-anak yang super aktif dan yg agak susah diatur)
Bismillaah...
Jika kita memiliki anak yang qadarullaah super aktif, kurang bisa fokus belajar dan sulit diatur, barangkali metode yang akan saya uraikan berikut bisa membantu. Namun sebelumnya saya akan mencoba menyampaikan referensi dari seorang ustadzah dan ahli parenting. Walaupun ada mungkin pendapat lain dari ahli psikologi yang agak berbeda.
Di sini, saya menceritakan sedikit kisah sang ustadzah (saya bener2 lupa namanya, tetapi nasehatnya selalu terngiang2). Semoga Allaah azza wajalla selalu merahmati beliau. Beliau memberikan kajian waktu itu sedang studi S3. Anak2nya semua hafidz Qur’an di usia yang masih kecil-kecil. (Masyaallaah).
Menurut beliau, waktu yang paling tepat mengajari anak baca Qur’an dan hafal Qur’an adalah sejak dalam kandungan – usia 6 tahun. Untuk mengajarinya calistung, cocoknya di usia 6 tahun ke atas dan hanya membutuhkan waktu 2-3 bulan.
Jika kita juga menunggu usia 6 tahun untuk mengajarinya baca Qur’an/hafidz Qur’an maka sesungguhnya agak terlambat dan lebih berat. Karena di saat waktunya untuk mengajarinya calistung plus memulai belajar baca Qur’an/hafal Qur’an, bukankah akan menjenuhkan bagi anak-anak. Kita pun akan merasa berat jika melakukan hal banyak dalam waktu yang bersamaan.
Khusus untuk orang tua yang lebih memilih untuk mengajari sendiri anaknya. Nah,bisa mencoba menerapkan metode mengajari anak baca Qur’an ini. (bukan metode baca Qur’an ya...). Saya sendiri menggunakan metode Iqro campur2 metode Tilawah.
Sebenarnya yang paling paham karakter anak adalah kita sendiri, orang tuanya. Kapan si anak mood dan kapan si anak bete’. Untuk anak yang berkarakter superaktif alias gak mau berhenti bergerak dan susah fokus, mungkin bisa mencoba cara ini.
Mengajak langsung si anak untuk belajar, biasanya sulit bagi si anak untuk nurut. Pengen ngerjain inilah, pengen ngerjain itulah pokoknya menundanya dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk si anak. Jika timing moodnya telah kita dapat, maka kita boleh mengajaknya berdiskusi. Dengan agak sedikit fleksibel, misalnya ketika si anak sedang asyik bermain. Nimbrung dulu ketika si anak sedang asyik bermain.
Berikut contoh percakapan jika ibu dan anak yang sedang bermain, namun di waktu jadwal belajar baca Qur’an. Ummi : U dan Anak : A
U : Sedang main apa nih? Boleh ikutan?
Kemungkinan anak akan menjawab panjang lebar dengan senang karena merasa diperhatikan. Setelah si anak merasa sedang ditemani bermain alias sudah ketemu moodnya si anak, beberapa saat kemudian boleh kita alihkan perhatiannya.
U : Coba liat jam. Kalo jarum panjangnya di 3 boleh kita belajar baca Qur’an?(pake skala menit aja ya, kalo skala jam kelamaan)
Biasanya respon anak gak langsung mau, tetapi menawar.
A : Tapi aku masih main, kalo jarum panjangnya di 5 gimana?
Walaupun menawar, tetapi setidaknya tidak menolak. Terima saja tawarannya, heheh. Jadi kesannya gak dipaksa.
U : Okay, boleh... beneran yah, janji yaa...
A : Okay , janji...
Ketika jarum panjangnya menunjuk angka 5 (waktu disepakati). Kemungkinan si anak akan ingat sendiri atau harus diingatkan.
Untuk anak-anak yang asyik main HP, boleh pendekatanya dengan tawaran, “kalo HP nya lowbat, kita belajar ngaji ya...” Dengan catatan, sebelum anak main pastikan baterai umurnya maksimal 20%. Jadi gak kelamaan mainnya.
Nah, tiba saatnya untuk teknis belajarnya :
1. Awali dengan doa semoga kita dimudahkan dan disabarkan oleh Allah azza wajalla
2. Ajak doa bareng. Untuk si anak yang superaktif tentu saja susah diajak duduk sholeh. Hemm gak apa-apa sih, mau ngapain aja geraknya yang penting adab terhadap buku iqronya diperhatikan.
3. Menawarkan atau mendiskusikan tahapan belajar.
4. Berusaha tidak monoton bersikap sebagai guru alias mengajar. Sesekali beri kesempatan untuk memberi masukan.
Berikut contoh tahapan belajar yang bisa ditawarkan ke anak. Jika sudah siap belajarnya.
U : Begini, kita belajarnya dengan 3 tahapan ya...pertama, ummi yang baca duluan dan abang/kk ngikutin. Kedua, ummi baca sendirian dan abang yang tunjuk satu-satu hurufnya dan terakhir, kita baca bareng2 alias kompakan. Gimana?
A : Ok.
Jika si anak menyetujui, kita boleh melanjutkan. Jika si anak memberi masukan boleh juga ditambahkan.
Penjelasan untuk setiap tahapan :
1. Tahapan pertama
Metode mengajarinya langsung, biasanya agak sulit mendapati anak fokus. Sesekali kita kecup atau kita semangati dengan yel yel (boleh berkreasi sendiri)
2. Tahapan kedua
Ketika kita sendiri yang baca, si anak merasa beristirahat dan rilex dan merasa semangat pura-puranya kita jadi muridnya dan dia jadi gurunya. Dan kemungkinan akan memperhatikan setiap hurufnya dan bisa fokus mendengar bacaannya.
3. Tahapan ketiga
Tahapan kedua sebenarnya persiapan untuk kompak-kompakan di tahap ketiga. Biar bener-bener bisa kompakan membacanya di tahapan ketiga. Si anak akan bersemangat agar bisa kompakan.
Target pindah halaman, sesuaikan aja dengan kemampuan anak.
Nah, demikianlah tips yang bisa saya share. Yang perlu diingat, kita jangan terlalu fokus dengan target, tetapi nikmatilah setiap prosesnya, nikmatilah setiap susah senangnya, semoga mengurangi kebiasaan bertanduk dalam menghadapi anak-anak, heheh. Semoga menjadi pahala jariyah untuk kita, Insyaallaah. Aamiin...
Cara mengajari anak ini adalah salah satu cara yang saya kembangkan sendiri dengan menyesuaikan dengan karakter anak sendiri. Namun salah satu sumber inspirasiku adalah buku-buku teh Kiki Barkiah.
Semoga bermafaat
Boleh share...
'an