15/11/2023
ASAL MUASAL PAMOR
Oleh Jimmy S Harianto
Pamor dalam pengertian kuno adalah “cahyaning wesi” (cahayanya besi). Bisa campur antara besi dan besi yang ditempa, dan menambah ‘guwayaning gegaman’ itu karena memang tunggal asal, berasal dari alam yang sama. Baik besi maupun pamor bisa campur dengan baik kalau saja asalnya di alam semesta, itu sama. Maka, dulu kala asal muasal besi itu mesti dipahami dan dicermati.
Menurut Kitab Jitapsara – babon dari Cirebon – ada tiga macam cahyaning wesi alias pamor berdasarkan asal muasal. Jenis wesi (besi) pertama adalah Wesi Bangat yang diyakini oleh orang kuno sebagai wesi yang berasal dari bintang yang memiliki sinar hijau. Jenis kedua adalah Wesi Kumbaya yang berasal dari alam rembulan dengan sinar warna biru keunguan. Sedangkan jenis ketiga, Wesi Bangas dari alam matahari, warnanya sinarnya merah semu ungu.
Meskipun asal muasal wesi pamor di atas itu kesemuanya dari alam langit, namun bahan wesi pamor itu bisa ditemui semuanya di bumi. Yang pertama, yang disebut Wedi Bangat yang berasal dari alam bintang itu posisinya di perut bumi ada di lapisan keempat. Wujudnya seperti padas, dan bisa diartikan sebagai “kekuwataning siti” . Semua seisi bumi ini disangga oleh kekuatan Wesi Bangat.
Yang kedua, Wesi Kumbaya dari alam rembulan. Wesi pamor dari alam rembulan, boleh dikata merupakan asal muasal seluruh cahya, maka disebut jenis besi ini sebagai besi dari “keratonnya seluruh cahaya” di muka bumi. Posisi keberadaan besi ini ada di sap ketiga dari permukaan bumi.
Yang ketiga, Wesi Bangas dari alam srengenge atau matahari. Itu adalah wesi yang berasal dari tempat asal hawa, maka rasa-perasaan besi ini panas. Maka Wesi Bangas itu disebut p**a sebagai wesi dari ‘karatoning srengenge”, keraton hawa yang terasa panas.
Jadi makna pamor sesungguhnya, selain sebagai “wesi pencampur”, pamor juga berarti “cahaya”. Semua besi pamor itu memiliki sinar cahaya, dan berdasarkan asal muasalnya, sulak wesi pamor yang terpancar dari wesi pamor ada tiga, yakni hijau, biru dan merah. Bersulak hijau, asalnya dari lintang. Cahaya biru, dari alam rembulan dan sulak merah dari alam matahari atau srengenge…
Keluar Berdasar Musim
Masih dari Kitab Jitapsara, besi pamor selain memiliki sinar alami -- bisi dilihat mereka yang punya kepekaan indera penglihatan tersendiri -- dan disebut sebagai “busananing wesi” (bajunya besi, pakaiannya besi) maka asal muasal wesi pamor sama dengan 10 jenis wesi aji yang disebut di bawah ini:
Yakni Wesi Pulasani, wesi Karangkijang, wesi Jarimanten, wesi Surabdamas, wesi Danar alias wesi Selipan atau Sasamad, lalu wesi Boji atau wesi Rebeng, wesi Kucur atau Menur Perak, Wesi Grasak atau wesi Tapel, wesi Garingsing atau disebut juga wesi Melik, atau wesi Pelikan, dan yang kesepuluh adalah wesi Gonor atau yang disebut juga wesi Lumut.
Wesi Pulasani disebut juga Wesi Wuryan, besi yang berasal dari awal muawal bumi terjadi, ketika masih dihuni sebangsanya peri yang tinggal di dasaring bumi. Sulak warna besi semu biru. Besi ini hanya muncul sinarnya pada setiap musim kapat dan kalima (musim keempat dan musim kelima) yang dalam pranata mangsa Jawa disebut sebagai Masa Labuh atau musim Pancaroba menjelang musim hujan. Bahan besi Pulasani sangat bagus untuk dibuat keris, mata panah, tombak. Memiliki watak rahayu, ngrejekeni (mendatangkan rezeki) tetapi tidak seberapa ampuh. Kalau dibikin keris, hanya cocok untuk mereka yang “ngawula nata” (mengabdi raja).
Besi kedua yang disebut Wesi Karangkijang. Hanya keluar bersinar pada musim kanem, kapitu (musim keenam, musim ketujuh) yang dalam Pranata Mangsa Jawa disebut juga sebagai atau masa Labuh Udan dan Rendheng Udan atau musim penghujan. Sulak warna Wesi Karang kijang itu hitam agak kurang padat. Baik untuk olah jiwa. Bagus untuk dibikin panah, atau gegaman (senjata) yang dilemparkan. Tidak bagus untuk keris yang disimpan, karena kalau disimpan akan menyebabkan gering, bahkan tidak mendatangkan rezeki. Maka, harus titis mengenal ciri besi jenis ini.
Jenis besi ketiga, Wesi Jarimanten warnanya hitam agak kehijauan, kering besinya dan keras. Sinarnya biasa muncul pada Masa Kasanga atau musim kesembilan dalam Pranata Mangsa Jawa. Atau sekitar bulan Maret saat beberapa hewan mulai memunculkan suaranya untuk memikat lawan jenis. Karena membawa sifat “brangasan” (panasan) maka jenis besi ini cocok untuk dibuat tombak, pedang atau jenis gegaman sabet seperti arit, bendho, pethel (kampak) yang bisa dipakai sehari-hari.
Jenis besi keempat, Wesi Surabdamas warnanya hitam semu kemerahan. Sinarnya hanya muncul pada Masa Kasadasa atau musim kesepuluh, akhir Maret sampai pertengahan April. Masa-masa banyak hewan bunting. Bagus untuk bikin gada, bindi, alu-gora (jenis-jenis gada pukul). Meskipun besi ini memiliki sifat sugihan (menimbulkan kekayaan) dan meningkatkan budi pekerti, dan membuat lebih gagah berani, tetapi lebih baik tidak dibuat untuk keris, karena justru akan membuat bencana.
Jenis besi kelima, Wesi Danar atau disebut juga Wesi Selipan, atau Wesi Sasamad. Ketiganya ini muncul pada Masa Katiga atau musim ketiga, musim kemarau. Sulak warna hijau mulus. Wah, besi ini cocok untuk para Don Juan. Karena jika dibuat keris, membuat si pemilik keris dilengketi istri-istri.
Jenis besi keenam, Wesi Bodji juga Wesi Rebeng. Warnanya hitam keputihan. Juga hanya bersinar pada musim kemarau. Dua jenis besi ini bagus dan awit jika dibikin per, atau roda dan sebangsanya. Tetapi kalau dibuat gegaman? Panasan, cengkiling (sering ringan tangan) meski besinya awet, kuat.
Besi ketujuh, Wesi Kucur atau disebut juga Menur Perak, karena warna perak keputihan, kering besinya. Munculnya juga Masa Katiga atau musim ketiga, musim kemarau. Jenis besi ini muncul pada masa Roem Satambul (Roma dan Turki Berjaya). Jenis besi ini dulu kala, diimpor oleh orang-orang Eropa, seperti orang Belanda. Dan dengan pengetahuan mereka, besi ini dicampur perak dan timah menjadi bahan untuk pembikinan uang logam. Dan oleh orang Belanda p**a, Wesi Kucur ini dicampur dengan sarining wesi Rebeng, dan menjadi jenis besi baru yang disebut zaman dulu sebagai Wesi Hoere (H**e). Dibuat sebagai barang ‘kancana’ (emas-emasan) yang waktu itu disebut jenis logam yang berharga ini sebagai “kancana kudrat”.
Besi jenis kedelapan, Wesi Grasak. Disebut juga Wesi Tapel yang bermunculan di zaman Pajajaran dan Majapahit. Keluar cahayanya hanya pada musim Sadda, Kasa sekitar bulan Mei-Juni. Saat udara kering dan dingin, badan jarang berkeringat. Warna besinya hitam, kering, keras. Kualitas besinya bagus, tetapi sifatnya bikin galau si pemegangnya.
Jenis besi kesembilan, Wesi Garingsing. Karena mawur (seperti sifat pasir), disebut juga sebagai Wesi Malik atau Wesi Pelikan. Muncul sinarnya pada musim ketiga, atau Masa Katiga saat musim kemarau. Kudu telaten untuk mengumpulkan bahan Wesi Garingsing ini. Sifat ampuhnya ada. Tetapi karena “masir” maka sulit punya anak. Dan lebih bagus untuk dibuat “keris ligan” atau keris yang tidak disarungi.
Jenis besi kesepuluh, disebutnya Wesi Gonor atau Wesi Lumut. Warna hitam, kehijauan, ngglugut. Besi ini muncul dulu di zaman kerajaan Jenggala, sampai awal Pajajaran. Dibuat keris, besi ini sangat bagus. Karena sifat ademnya. Mendatangkan rezeki, baik juga untuk bertani. Bagus untuk dibuat gegaman yang menjadi busana, seperti keris, wedung, tombak, pedang sabet, sangkuh, pokoknya membuat ayem tentrem si pemiliknya… *
GANJAWULUNG PAKBO (Bongas, 6/9/2022)
Koleksi IKMA Oi van SAMPIT
MANDAU MENTAYA
Tangguh milenial 🤭