Wasi Sampana

Wasi Sampana Wadah Silaturahmi Pemerhati Pencinta Pelestari Seni Tempa Dan Wasi Pusaka Banua

WASI SAMPANA

(Wadah Silaturahmi Pemerhati Pencinta Pelestari Seni Tempa Dan Wasi Pusaka Banua)

20/04/2025

PERNYATAAN SIKAP

Kami sebagai bagian kecil dari para pecinta dan pelestari pusaka nusantara, dengan ini menyampaikan keberatan dan penolakan tegas terhadap keputusan Menteri Kebudayaan yang menetapkan tanggal 19 April sebagai Hari Keris Nasional, sebagaimana diumumkan hari ini.

Kami menyatakan bahwa:
1.Penetapan 19 April sebagai Hari Keris Nasional tidak berpijak pada tonggak sejarah nasional, melainkan pada hari lahir organisasi (SNKI), yang justru dapat menciptakan konflik kepentingan simbolik, karena ditetapkan oleh Menteri yang juga menjabat sebagai Ketua organisasi tersebut.
2.Kami menegaskan bahwa tanggal yang sah, bermartabat, dan diakui secara internasional adalah 25 November, saat UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (2005).
Tanggal tersebut adalah milik bangsa, bukan milik lembaga.
3.Penetapan 19 April tanpa konsultasi publik, tanpa pelibatan komunitas akar rumput, dan tanpa kajian historis yang inklusif, menunjukkan proses yang elitis dan eksklusif, bertentangan dengan semangat pelestarian partisipatif sebagaimana mandat budaya nasional dan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dengan ini, kami menyatakan:
1. Menolak penetapan 19 April sebagai Hari Keris Nasional, karena tidak memiliki legitimasi historis, kultural, maupun partisipatif.
2. Menyerukan kepada seluruh komunitas pelestari keris, empu, perajin, dan budayawan Indonesia untuk tetap menjadikan 25 November sebagai Hari Keris Marwah Nusantara, sebagai simbol perlawanan terhadap pelumpuhan sejarah.
3. Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk meninjau ulang keputusan ini, dan memerintahkan pembentukan tim independen untuk merumuskan penetapan Hari Keris Nasional secara objektif, adil, dan berdasarkan akar sejarah yang benar.

'Kami tidak melawan orang. Kami berdiri bersama sejarah"

Hormat kami,
WASI SAMPANA

06/04/2024
MASA AKHIR MAJAPAHITBy Mas Bowo ✅ Tahun 1447M Dyah Kertawijaya naiktahta menjadi Raja di Majapahit, Beliau mengeluarkan ...
07/03/2024

MASA AKHIR MAJAPAHIT

By Mas Bowo

✅ Tahun 1447M Dyah Kertawijaya naik
tahta menjadi Raja di Majapahit, Beliau mengeluarkan prasasti Waringin Pitu yg isinya salah satunya menulis silsilah keluarga raja sampai ke cucu cucu nya, beserta keraton lungguhnya.

Kertawijaya memiliki tiga orang putra,
Masing masing adalah ;
1. Rajasawardhana Dyah Wijayakumara atau dikenal sebagai Sang Sinagara
2. Girishawardhana Dyah Suryawikrama alias Hyang Purwawisesa
3.Singhawikramawardhana Dyah Suraprabawa

✅ Tahun 1447M, Sinagara memiliki putra dua orang, mereka adalah ;
1. Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya
2. Girindrawardhana Dyah Wijayakarana

Menurut Pararaton, di tahun 1468M, Sinagara meiliki empat orang putra, masing masing menjadi Bhre di Kahuripan, Mataram, Pamotan dan Kertabhumi..artinya apa?? Ditahun 1447M dua orang putra Sinagara belom lahir. Berita Pararaton diperkuat oleh Mpu Tan Akung dalam karyanya Syair Benawa Sekar yg mengatakan ketika Upacara sraddha tahun 1465M, memperingati 12th wafatnya Sinagara, Semua anak anak Sinagara hadir sebagai Undangan, Dimana Bhre Kahuripan bertindak sebagai tuan rumah ,Dalam undangan tersebut hadir p**a Raja Majapahit Girishawardhana Dyah Suryawikrama dan juga termasuk Bhre Lasem yg di duga kuat juga termasuk salah satu putra Sinagara. Jika benar bahwa Bhre Lasem termasuk anak anak Sinagara, maka jumlah total anak anak Sinagara sebanyak lima orang. Namun pada saat 1468M tinggal empat orang karena Bhre Lasem sudah tidak disebut dalam Pararaton..Kemungkinan Bhre Lasem sudah wafat.

Girishawardhana Dyah Suryawikrama memiliki dua orang putri masing masing adalah ;
1. Rajasawardhannedudewi Dyah Pureswari
2. Kamaladhuhita Dyah Suyadita
Kabarnya dua orang Putri Girishawardhana ini di jodohkan dengan dua orang putra Sinagara, artinya antara Rajasawardhana Sinagara dengan Girishawardhan menjadi Besanan.

✅ Tahun 1448 - 1451M Kemungkinan dua / tiga orang putra Sinagara yg lain telah lahir. Dua orang putra Sinagara yg baru lahir masing masing menjadi Bhre di Pamotan dan Kertabhumi, Bisa jadi keraton Kertabhumi memang baru di bangun pasca tahun 1447M. Karena pada saat mengeluarkan Prasasti Waringin Pitu tahun 1447M, Kertawijaya tidak menyebut nama keraton Kertabhumi.
✅ Tahun 1451M Dyah Kertawijaya wafat dan di gantikan putra mahkotanya Rajasawardhana Dyah Wijayakumara alias Sinagara. Sinagara memiliki Permaisuri bernama Manggala Wardhani Dyah Suragharini yg menjadi Bhre di Tanjungpura. Pada tahun 1464M, Suragharini menggantikan posisi mertuanya menjadi ratu di Daha sampai wafatnya tahun 1474M.

✅ Tahun 1453M, Sinagara wafat / meninggal, konon kabarnya meninggal karena tenggelam. Sumber lain mengatakan bahwa Sinagara memiliki penyakit gila. Sepeninggal Sinagara, semestinya yang naik tahta adalah sang putra mahkota bernama Dyah Samarawijaya, Namun faktanya tidak demikian, karena seperti yang ditulis Pararaton bahwa antara tahun 1453 - 1456M Majapahit Telung tahun Tan Hana Prabhu ( Majapahit tiga tahun tidak meiliki Raja ). Kekosongan kekuasaan ini menimbulkan berbagai spekulasi oleh para sejarawan, diantara spekulasi itu muncul dugaan dari sejarawan Nia Solihat Irfan bahwa sang putra mahkota Dyah Samarawijaya usianya belom cukup umur ( terlalu muda ) untuk naik tahta. Masa tiga tahun ini p**a Dewan Saptaprabhu mengambil alih kekuasaan sementara sampai naiknya seorang Raja Majapahit yang baru.

✅ Tahun 1456M, akhirnya Girishawardhana Dyah Suryawikrama naik tahta, Naiknya Girishawardhana dan tertundannya Samarawijaya naik tahta karena usianya yg terlalu muda ini kemungkinan adalah hasil deal deal politik dimana dalam kesepakatannya jika dikemudian hari Girishawardhana wafat, maka otomatis Dyah Samarawijaya lah yg naik tahta menggantikan Mertuanya, Girishawardhana Dyah Suryawikrama ini kemudian menjadi raja Majapahit selama sepuluh tahun.

✅ Tahun 1466M, Girishawardhana wafat dan kemudian ketika semestinya Dyah Samarawijaya naik tahta menggantikannya, tapi ternyata Sang Paman malah yang naik tahta menggantikan Girishawardhana, hal ini tentu sangat tidak mengenakkan bagi Samarawijaya dan keluarga Sinagara.
Seakan akan Suraprabawa telah melanggar kesepakatan keluarga istana dan dengan sepihak mengambil hak waris tahta Majapahit dari tangan Samarawijaya.

✅ Tahun 1468M, Menurut Pararaton, keempat putra Sinagara tumuli sah saking kedaton ( empat putra Sinagara pergi dari istana ), kenapa pergi dari istana?? Tentu ada konflik dengan Suraprabawa karena merasa kecewa.
Keempat putra Sinagara diduga kuat pergi dari istana Trowulan untuk menyusun kekuatan demi merebut kembali tahta Majapahit dari tangan Suraprabawa.

✅ Tahun 1473M, Dyah Suraprabawa mengeluarkan sebuah prasasti di Pamintihan yang dalam isinya memberikan penghargaan kepada loyalisnya bernama Arya Surung, dalam prasasti itu Suraprabawa menegaskan bahwa dirinya adalah penguasa Majapahit yg wilayahnya terdiri dari Jenggala dan Kediri.

✅ Tahun 1478M Pararaton menulis bahwa Suraprabawa tewas di dalam istana saat terjadi Pralaya, Sunya Nora Yuganing Wong.
Jika merujuk dari prasasti petak tahun 1486M, maka bisa diambil benang merah bahwa Pralaya yang menewaskan Suraprabawa adalah kudeta militer yang dilakukan oleh sang keponakan Dyah Samarawijaya di bantu oleh adik adiknya yg lain. Dyah Samarawijaya yang adalah putra Sulung Sinagara oleh Sejarawan Nia Solihat Irfan disebut sebagai Sang Munggwing Jinggan.

✅ Tahun 1478M, Girindrawardhana Dyah Wijayakarana adik dari Samarawijaya mendirikan pusat pemerintahan baru di keling bergelar Batara i Keling, lalu kemana Dyah Samarawijaya alias Sang Munggwing Jinggan? Menurut Nia Solihat Irfan, Dyah Samarawijaya ikut tewas dalam aksi kudeta militer tahun 1478M tersebut.Sehingga estafet pemerintahan diteruskan oleh adiknya nomer dua bernama Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Analisa lain datang dari Kang Heri Purwanto pemerhati sejarah dari Kediri mengatakan bahwa Sang Mungwing Jinggan diduga tidak tewas, namun mengasingkan diri menjadi seorang pertapa.

✅ Tahun 1486M, Girindrawardhana Dyah Wijayakarana wafat, sebelum wafat beliau telah berencana memberikan sebuah penghargaan berupa pemberian Sima perdikan ( tanah bebas pajak ) kepada seorang loyalis Samarawijaya / Munggwing Jinggan karena jasa jasanya dalam ikut membantu berperang melawan Majapahit.

Ketika Dyah Wijayakarana wafat, maka kemudian tongkat estafet kekuasaan diserahkan kepada adiknya nomer tiga yaitu Girindrawardhana Shri Singhawardhana Dyah Wijayakusuma.
Namun sayang , Wijayakusuma tidak lama menjadi raja di Keling, karena kemudian beliau wafat masih di tahun yang sama.
Masih di Tahun 1486M, Sepeninggal Dyah Wijayakusuma, estafet kekuasaan dari para putra Sinagara ini kemudian diteruskan ke anak yg apling Bungsu yaitu Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang sebelumnya menjadi Bhre di Keraton Kertabhumi.
Dyah Ranawijaya mengeluarkan prasasti petak dan Jiyu yg isinya meneguhkan kembali penghargaan kepada Bhrahmaraja Ganggadara yg sebelumnya telah di wacanakan oleh dua orang raja pendahulu beliau yaitu Wijayakarana dan Wijayakusuma.
Dyah Ranawijaya juga mengeluarkan prasasti Jiyu untuk memberi penghargaan kepada Bhrahmaraja Ganggadara karena telah sukses dalam melaksanakan upacara Sraddha 12 tahun memperingati kematian ibu dari anak anak Sinagara yg bernama Manggala Wardhani Dyah Suragharini yang wafat tahun 1474 di Keraton Daha ( Dahanapura ). Dalam prasasti Jiyu disebut meninggal di Indranibawana.

✅ Tahun 1486M , Girindrawardhana Dyah Ranawijaya juga memindahkan pusat pemerintahan dari Keling ke Daha

✅ Tahun 1511 - 1513, Seorang utusan Portugis mengunjungi Jawa dan mendapati bahwa Raja di Daha bergelar Batara Wijaya yg tunduk terhadap Patihnya bernama Mahodara, Mahodara di sebut nya sebagai Guste Pate yang sering berperang melawan orang orang Moor dari pesisir Utara.
Orang orang Moor yg dimaksud diduga adalah kaum muslim yg membentuk aliansi dengan Demak sebagai ketua nya.

GB Ilustrasi by Mas Bowo : Arya Kamandanu dan Sakawuni sedang menyeberangi Sungai Kapulungan..

15/11/2023

ASAL MUASAL PAMOR

Oleh Jimmy S Harianto

Pamor dalam pengertian kuno adalah “cahyaning wesi” (cahayanya besi). Bisa campur antara besi dan besi yang ditempa, dan menambah ‘guwayaning gegaman’ itu karena memang tunggal asal, berasal dari alam yang sama. Baik besi maupun pamor bisa campur dengan baik kalau saja asalnya di alam semesta, itu sama. Maka, dulu kala asal muasal besi itu mesti dipahami dan dicermati.

Menurut Kitab Jitapsara – babon dari Cirebon – ada tiga macam cahyaning wesi alias pamor berdasarkan asal muasal. Jenis wesi (besi) pertama adalah Wesi Bangat yang diyakini oleh orang kuno sebagai wesi yang berasal dari bintang yang memiliki sinar hijau. Jenis kedua adalah Wesi Kumbaya yang berasal dari alam rembulan dengan sinar warna biru keunguan. Sedangkan jenis ketiga, Wesi Bangas dari alam matahari, warnanya sinarnya merah semu ungu.

Meskipun asal muasal wesi pamor di atas itu kesemuanya dari alam langit, namun bahan wesi pamor itu bisa ditemui semuanya di bumi. Yang pertama, yang disebut Wedi Bangat yang berasal dari alam bintang itu posisinya di perut bumi ada di lapisan keempat. Wujudnya seperti padas, dan bisa diartikan sebagai “kekuwataning siti” . Semua seisi bumi ini disangga oleh kekuatan Wesi Bangat.

Yang kedua, Wesi Kumbaya dari alam rembulan. Wesi pamor dari alam rembulan, boleh dikata merupakan asal muasal seluruh cahya, maka disebut jenis besi ini sebagai besi dari “keratonnya seluruh cahaya” di muka bumi. Posisi keberadaan besi ini ada di sap ketiga dari permukaan bumi.

Yang ketiga, Wesi Bangas dari alam srengenge atau matahari. Itu adalah wesi yang berasal dari tempat asal hawa, maka rasa-perasaan besi ini panas. Maka Wesi Bangas itu disebut p**a sebagai wesi dari ‘karatoning srengenge”, keraton hawa yang terasa panas.

Jadi makna pamor sesungguhnya, selain sebagai “wesi pencampur”, pamor juga berarti “cahaya”. Semua besi pamor itu memiliki sinar cahaya, dan berdasarkan asal muasalnya, sulak wesi pamor yang terpancar dari wesi pamor ada tiga, yakni hijau, biru dan merah. Bersulak hijau, asalnya dari lintang. Cahaya biru, dari alam rembulan dan sulak merah dari alam matahari atau srengenge…

Keluar Berdasar Musim

Masih dari Kitab Jitapsara, besi pamor selain memiliki sinar alami -- bisi dilihat mereka yang punya kepekaan indera penglihatan tersendiri -- dan disebut sebagai “busananing wesi” (bajunya besi, pakaiannya besi) maka asal muasal wesi pamor sama dengan 10 jenis wesi aji yang disebut di bawah ini:

Yakni Wesi Pulasani, wesi Karangkijang, wesi Jarimanten, wesi Surabdamas, wesi Danar alias wesi Selipan atau Sasamad, lalu wesi Boji atau wesi Rebeng, wesi Kucur atau Menur Perak, Wesi Grasak atau wesi Tapel, wesi Garingsing atau disebut juga wesi Melik, atau wesi Pelikan, dan yang kesepuluh adalah wesi Gonor atau yang disebut juga wesi Lumut.

Wesi Pulasani disebut juga Wesi Wuryan, besi yang berasal dari awal muawal bumi terjadi, ketika masih dihuni sebangsanya peri yang tinggal di dasaring bumi. Sulak warna besi semu biru. Besi ini hanya muncul sinarnya pada setiap musim kapat dan kalima (musim keempat dan musim kelima) yang dalam pranata mangsa Jawa disebut sebagai Masa Labuh atau musim Pancaroba menjelang musim hujan. Bahan besi Pulasani sangat bagus untuk dibuat keris, mata panah, tombak. Memiliki watak rahayu, ngrejekeni (mendatangkan rezeki) tetapi tidak seberapa ampuh. Kalau dibikin keris, hanya cocok untuk mereka yang “ngawula nata” (mengabdi raja).

Besi kedua yang disebut Wesi Karangkijang. Hanya keluar bersinar pada musim kanem, kapitu (musim keenam, musim ketujuh) yang dalam Pranata Mangsa Jawa disebut juga sebagai atau masa Labuh Udan dan Rendheng Udan atau musim penghujan. Sulak warna Wesi Karang kijang itu hitam agak kurang padat. Baik untuk olah jiwa. Bagus untuk dibikin panah, atau gegaman (senjata) yang dilemparkan. Tidak bagus untuk keris yang disimpan, karena kalau disimpan akan menyebabkan gering, bahkan tidak mendatangkan rezeki. Maka, harus titis mengenal ciri besi jenis ini.

Jenis besi ketiga, Wesi Jarimanten warnanya hitam agak kehijauan, kering besinya dan keras. Sinarnya biasa muncul pada Masa Kasanga atau musim kesembilan dalam Pranata Mangsa Jawa. Atau sekitar bulan Maret saat beberapa hewan mulai memunculkan suaranya untuk memikat lawan jenis. Karena membawa sifat “brangasan” (panasan) maka jenis besi ini cocok untuk dibuat tombak, pedang atau jenis gegaman sabet seperti arit, bendho, pethel (kampak) yang bisa dipakai sehari-hari.

Jenis besi keempat, Wesi Surabdamas warnanya hitam semu kemerahan. Sinarnya hanya muncul pada Masa Kasadasa atau musim kesepuluh, akhir Maret sampai pertengahan April. Masa-masa banyak hewan bunting. Bagus untuk bikin gada, bindi, alu-gora (jenis-jenis gada pukul). Meskipun besi ini memiliki sifat sugihan (menimbulkan kekayaan) dan meningkatkan budi pekerti, dan membuat lebih gagah berani, tetapi lebih baik tidak dibuat untuk keris, karena justru akan membuat bencana.

Jenis besi kelima, Wesi Danar atau disebut juga Wesi Selipan, atau Wesi Sasamad. Ketiganya ini muncul pada Masa Katiga atau musim ketiga, musim kemarau. Sulak warna hijau mulus. Wah, besi ini cocok untuk para Don Juan. Karena jika dibuat keris, membuat si pemilik keris dilengketi istri-istri.

Jenis besi keenam, Wesi Bodji juga Wesi Rebeng. Warnanya hitam keputihan. Juga hanya bersinar pada musim kemarau. Dua jenis besi ini bagus dan awit jika dibikin per, atau roda dan sebangsanya. Tetapi kalau dibuat gegaman? Panasan, cengkiling (sering ringan tangan) meski besinya awet, kuat.

Besi ketujuh, Wesi Kucur atau disebut juga Menur Perak, karena warna perak keputihan, kering besinya. Munculnya juga Masa Katiga atau musim ketiga, musim kemarau. Jenis besi ini muncul pada masa Roem Satambul (Roma dan Turki Berjaya). Jenis besi ini dulu kala, diimpor oleh orang-orang Eropa, seperti orang Belanda. Dan dengan pengetahuan mereka, besi ini dicampur perak dan timah menjadi bahan untuk pembikinan uang logam. Dan oleh orang Belanda p**a, Wesi Kucur ini dicampur dengan sarining wesi Rebeng, dan menjadi jenis besi baru yang disebut zaman dulu sebagai Wesi Hoere (H**e). Dibuat sebagai barang ‘kancana’ (emas-emasan) yang waktu itu disebut jenis logam yang berharga ini sebagai “kancana kudrat”.

Besi jenis kedelapan, Wesi Grasak. Disebut juga Wesi Tapel yang bermunculan di zaman Pajajaran dan Majapahit. Keluar cahayanya hanya pada musim Sadda, Kasa sekitar bulan Mei-Juni. Saat udara kering dan dingin, badan jarang berkeringat. Warna besinya hitam, kering, keras. Kualitas besinya bagus, tetapi sifatnya bikin galau si pemegangnya.

Jenis besi kesembilan, Wesi Garingsing. Karena mawur (seperti sifat pasir), disebut juga sebagai Wesi Malik atau Wesi Pelikan. Muncul sinarnya pada musim ketiga, atau Masa Katiga saat musim kemarau. Kudu telaten untuk mengumpulkan bahan Wesi Garingsing ini. Sifat ampuhnya ada. Tetapi karena “masir” maka sulit punya anak. Dan lebih bagus untuk dibuat “keris ligan” atau keris yang tidak disarungi.

Jenis besi kesepuluh, disebutnya Wesi Gonor atau Wesi Lumut. Warna hitam, kehijauan, ngglugut. Besi ini muncul dulu di zaman kerajaan Jenggala, sampai awal Pajajaran. Dibuat keris, besi ini sangat bagus. Karena sifat ademnya. Mendatangkan rezeki, baik juga untuk bertani. Bagus untuk dibuat gegaman yang menjadi busana, seperti keris, wedung, tombak, pedang sabet, sangkuh, pokoknya membuat ayem tentrem si pemiliknya… *


GANJAWULUNG PAKBO (Bongas, 6/9/2022)

Koleksi IKMA Oi van SAMPIT
MANDAU MENTAYA
Tangguh milenial 🤭

PAMOR PRAMBANANPamor yg kadar nikelnya agak banyak biasanya termasuk Pamor Prambanan. Menurut sejarah, pamor Prambanan i...
15/10/2023

PAMOR PRAMBANAN

Pamor yg kadar nikelnya agak banyak biasanya termasuk Pamor Prambanan. Menurut sejarah, pamor Prambanan ini adalah meteorit yg jatuh ke bumi pd thn 1784 pd zaman Sunan Paku Buwono III bertahta di Surakarta. Meteorit seberat 40,000 kg ini jatuh di sekitar Prambanan dan menimbulkan kawah lebih krg 10 meter dan lebar 15 meter, mengakibatkan terbakarnya semak2 disekitar lokasi jatuhnya meteorit tadi.

Ketika masuk ke Keraton Batu Meteorit ini disambut upacara besar2an di Keraton dipimpin Adipati Jayaningrat. Di keraton batu ini kemudian disebut dgn Kiai Pamor. Di stand keris Pametri Wiji di Keraton Yogyakarta, setiap pameran sekaten, selalu dipamerkan batu pamor milik keraton Kasultanan. Bentuknya mirip kotak kecil, namun beratnya tak kurang dr 15 kg. Batu pamor ini menurut BPH Sumadiningrat merupakan pecahan dr batu Kiai Pamor yg disimpan di Keraton Kasunanan Surakarta.

Apabila Keraton atau para pembesar hendak membuat keris atau tombak, diambilnya pamor dr batu meteor itu sedikit. Sebagian batu ini jg diberikan ke Keraton Kasultanan Yogyakarta. Yg agak aneh setiap Raja membuat keris, para abdi dalem empu keris ‘Ngalap Berkah’ mohon diberi pamor jg. Pamor tsb hingga skrg masih disimpan di Keraton Surakarta dan diberi nama Kiai Pamor.

Sepotong kecil dr pamor tsb pernah dikirim oleh Residen Yogyakarta J. R. Couperus ke laboratorium di Bogor untuk diteliti secara ilmiah. Analisanya menunjukkan bahwa Pamor Prambanan mengandung 94,5% besi murni, 5% nikel dan 0,5% Fosfor.

*) Zaman PB IV - PB X

Pd 30 May 1982 Putri Yuliana dan Pangeran Bernhardt berkunjung ke Keraton Surakarta. Mrk jg meminjam pamor Prambanan tsb. Pamor ini mulai digunakan utk pembuatan keris dan tombak baru pd zaman Susuhunan Paku Buwono IV.

Paku Buwono III blm sempat menggunakan pamor Prambanan krn pd 1788 sdh tutup usia. Oleh krn itu, keris dan tombak yg bilahnya memakai Pamor Prambanan hanyalah keris atau tombak buatan zaman Paku Buwono IV sampai Paku Buwono X. Sesudah itu tdk dibuat keris lg. Oleh krn itu apabila ada org mengatakan bahwa keris Majapahit atau Mataram memakai Pamor Prambanan pd bilahnya ini tidak benar. Pamor Prambanan pd bilah keris warnanya putih bersih dan terasa kasap bila diraba.

Sumber : Keris Jawa
Foto : Ilustrasi

  Den Dajak'sCopas dari sumber groub 🙏🏻Sekapur Sirih Tentang Mendau Di Masyarakat Paser.Mandau Dalam bahasa Paser adalah...
25/11/2022

Den Dajak's

Copas dari sumber groub 🙏🏻

Sekapur Sirih Tentang Mendau Di Masyarakat Paser.

Mandau Dalam bahasa Paser adalah Otak Mendaw (Parang Mendau).
Mendau adalah senjata tradisional masyarakat Paser yang dipakai sejak ratusan tahun lalu.

Mendau-mendau tua milik Kerajaan Paser masih ada disimpan di Museum Sadurengas, Paser Belengkong Kab. Paser Kaltim.

(1.)Terdapat beberapa jenis Hulu atau gagang Mendau,
Dalam keksatriaan adat, Hulu (Gagang)
Mendau Kemau/ Baleng adalah Mendau yang menempati kasta tertinggi dalam kebudayaan Paser, dipercayai hulu Kemau / Baleng ini di ukir pertama kali oleh, Uwok Danum bernama TAMAN ROYAN , Sengiang dunia bawah air, dimana jenis gagang Mendau ini hanya dipakai oleh para Panglima.

Ada p**a Hulu Tunggur yang memiliki kasta setara dengan Kemau / Baleng, Hulu Mendau Tunggur biasa nya berbentuk polos tanpa ukiran dan dibuat dari akar-akar kayu tertentu.
Hulu Tunggur banyak menorehkan sejarah dalam peperangan, Hulu Tunggur yang dibuat dari Akar-akar Kayu tidak licin meskipun telah bersimbah darah, karna hulu dari akar-akaran bersifat menyerap cairan,tidak sama dengan hulu yang terbuat dari tanduk yang cenderung licin bila terkena cairan.

Bahan baku membuat Mendau pada jaman dahulu adalah jenis batuan khusus yang disebut BATU MUJAT.

Para pembuat Mendau memiliki tungku pemasak besi dalam masyarakat Paser disebut "Awa Besusan".

Sarung Mendau disebut Kumpang dari bahan kayu-kayuan, Kumpang Mendau diikat dengan anyaman rotan (Simpai Uwe) yang dibentuk menyerupai Unyeng-Unyeng (Pusor Belanak).

Mandau pusaka memiliki nama dan dipercayai memiliki roh penghuni gaib sebagai sahabat dari pemilik mendau tersebut yang disebut "SIMBA" dengan berbagai jenis nama Simba.
Salah satunya Mendau milik keluarga narasumber bernama "Mendau Bentayan Nayu" dengan simba "Datu Nayu Timang Lolang"

(2.) Beberapa jenis hulu Gagang Mandau dalam kebudayaan Paser
1. Kemau /Baleng
2. Tunggur
3. Timang Jongkas
4. Kebotik Timang
5. Biwang Rungkop
6. Lembatok Boting
7. Qoniw Rampas, dll

3. Mendau juga terbagi atas 2 jenis, Mandau Laki (Mendau Song) dan Mendau Perempuan (Mendau Bawe).
Dalam penggunaan, baik untuk kepentingan pergi meramu hutan (Bange po Beramu) atau merantau (Malan Denge), Mendau selalu ditangking (Nongkir Mendau ) dipinggang sebelah kiri, dan hulu mendau menghadap keatas (Sekuleng po Ombo).

Sebagaimana kebiasaan bangsa-bangsa di Asia umumnya yang lebih banyak menggunakan tangan kanan, demikian p**a dalam masyarakat Paser, Mendau lebih praktis ditangking dipinggang sebelah kiri, karna nantinya yang mencabut bilah adalah tangan kanan.

Kebiasaan menangking parang dikiri ini melahirkan sebuah peribahasa (Sempelo) :
"Ena Otak Tongkir yo la sei', belo anta di taru, nensut po sanan..."
Yang artinya "Jika parang ditangkingnya dikiri, tidak akan bisa, dipindah kekanan..."
Yang mengibaratkan tentang watak perilaku yang tidak bisa dirubah karena sudah karakter bawaan.

(4.)Batu Mujat sebagai bahan pembuat bilah Mandau, juga telah dicatat oleh Tokoh Dayak Kalimantan Tengah Alm. Tjilik Riwut yang disadur oleh Ibu Nila Riwut dan diterbitkan dengan judul buku "Maneser Panatau Tatu Hiang" yang terbit pada tahun 2003.
Terdapat beberapa bahan baku bilah mandau
1. Sanaman Mantikei
2. Sanaman Lampang
4. Batu Mujat dari Pasir Kendilo Tanah Grogot." Dll.

Footnote :
1. Ommar Mildad , Bebulu Kab.Penajam Paser Utara : Akun FB ( Biwang Rungkop)
2. Roby, Muara Komam Kab.Paser
3. Medy Namban, DAD Kab.Paser, Long Ikis.
4. Buku Maneser Panatau Tatu Hiang : 2003

Photo :
Rumah (Lou/Belai) Panti Leluhur, milik keluarga Sdr. Ommar Mildad, Kec. Bebulu Kab. Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Tabe',, Daya' Paser - Kalimantan Timur.

15/11/2022



MADURA
Empu pertama di madura:
1. Empu Bujut Modjopahit tinggal di Telango
2. Empu Palengghijan, tinggal di desa Palengghijan, kawedanan Kedundung Sampang
3. Empu Pakandangan (empu Kelleng), tinggal di Pakandangan Sumenep
4. Empu Padamawu, tinggal di desa Padamawu Pamekasan
5. Empu Nepa, tinggal di Ketapang Sampang
6. Empu Supo Managgring, tinggal berpindah tempat, nama muridnya:
6.1. Empu Tapen, tinggal di Tuban
6.2. Empu Sukolipuro di Tuban
6.3. Empu Romojati di Surabaya
6.4. Empu Kembang Djepun di Surabaya
6.5. Empu Brodjoguno di Bangkalan Barat Tambak, keris ciptaannya terkenal keris Brodjoguno
6.6. Empu Supo di Dhuko Anjar Arosbaya, keris buatannya kecil namanya keris Kobanjar Dhlemer (Makon Dhlemer)
6.7. Empu Koso, di desa Gherra Manjheng Pamekasan, buatannya terkenal tombak Gherra Manjheng. Anak empu koso: (1) Empu Masana dan (2) Empu Tjitronolo
6.8. Empu Dukun, di desa Barurambat Pamekasan, pusaka buatannya berpamor buntel mayit, setelah lama empu Koso dan empu Dukun berpindah ke desa Banju-Aju di Sumenep
6.9. Empu Bromo, di desa Pandejan Sumenep, keris buatannya yang terkenal keris Bhramabato
6.10. Empu Supo di Banju-Aju Sumenep, keris buatannya yang terkenal namanya keris Banjuaju
6.11. Empu Supo di desa Karang Dhuwa Sumenep, keris buatannya yang terkenal keris Jhuda ghate (Yudho gati)
6.12. Empu Supo di Blambangan (Banyuwangi)
6.13. Empu Bhira di desa Bhira Tengah Sumenep
6.14. Empu Chatib di desa Omben kawedanan Sampang
6.15. Empu Tjombi di desa Tjombhi kawedanan Kedungdung Sampang, pusaka tombak tjombih pusaka buatannya yang terkenal
6.16. Empu Blega di desa Blega Bangkalan, pusaka buatannya yang terkenal tombak cikil (kikil) ukuran kecil dan kurus
6.17. Empu Pakong di desa Pakong Pamekasan
6.18. Empu Blumbungan di desa Blumbungan Pamekasan
6.19. Empu Pangolo Bagandangan di desa Bagandangan Pamekasan, membuat pusaka di kandang sapi, pusaka buatannya yang terkenal keris dan tombak Sora Pagandangan
6.20. Empu Tambak Agung di desa Tambak Agung kawedanan Ambunten Sumenep
6.21. Empu Ario Patjinan di kampung Patjinan (sekarang menjadi kota Sumenep), pas di tengah kota Sumenep
6.22. Raja sebagai empu bernama Zainal Fattah Sumenep
6.23. Raja sebagai empu Pakunotoningrat ayahnya bernama Panembahan Sumolo/Notokusumo1 Sumenep
6.24. Raden atau empu Bandjir alias Pangeran Adipati Ario Suriokusumo Sumenep
6.25. Kyai alim ulama atau empu Kyai Imam (Bujuk Patjangakan) Sumenep
6.26. Empu sekaligus raja bernama Panembahan Adipoday Sumenep

Itulah nama-nama empu di Madura. Semua adalah murid Empu Supo Managgring dalam misi pencarian keris Setan Kober yg hilang sehingga beliau singgah di Madura yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, Blambangan (Banyuwangi), dan dia banyak murid di Madura.

Tambahan:
Empu Galuh di Pasar Kapoh Bangkalan, pusaka buatannya yg terkenal berupa celurit, badik, calok.
Empu Kantang, membuat pusaka di atas air laut sambil berjalan di desa Karangantang Kwanyar Bangkalan, pusakanya yg terhebat tombak combih dengan ciri-ciri setiap sudutnya tidak sama terkenal mandik pengucapan dan racun pusakanya sangat berbisa alias anti getah (karya Empu Kantang desa Karangantang Kwanyar Bangkalan) serta tombak Buntok Me-emeh (Buntut Mimi)

Empu Koso (6.7) adalah putera Empu Supo Managgring (kemungkinan sebutan Supo Mandrangi era Majapahit) ... Jadi kesimp**annya Empu Koso adalah di era Majapahit pasca era Supo Mandrangi. Estimasi Majapahit akhir.. sekitar abad 15 atau 16.

29/08/2022

SABAR
Copas dgn sedikit edit (kata "keris" diganti dengan "Mandau") dari ustadz

Konon di antara kunci berhobi mandau adalah sabar. Ya sabar dalam segala halnya, sejak titik yang paling mula; belajarnya. Dulu sewaktu sedang belajar dari referensi-referensi utama, mentor kami berpesan agar semenggoda apapun mandau berseliweran, sabar. Tidak usah memahari dulu. Latihan menahan diri. Sampai berbulan-bulan. Sabar.

Saya yakin bahwa sabar juga akan mengantar kita kepada guru yang benar, rujukan yang benar, dan akhirnya barang yang benar.

Kalau sebelum berilmu menahan diri dari godaan yang semua tampak indah; sebaliknya, jika sudah berilmu, perlu sabar juga untuk menemukan yang benar, yang sesuai ilmu itu. Sebab semakin bertambah ilmu, tentu jadi semakin selektif dan susah menemukan yang sesuai neraca.

Kalau sudah menemukan yang sesuai harapan, tentu harus sabar p**a jika ternyata tak mudah untuk mendapatkannya. Bisa karena anggaran yang belum terpenuhi. Atau karena pemilik yang sukar dirembugi. Atau sebab yang sukar dijelaskan. Sebab memang pusaka konon seperti halnya tanah; ada pulung rejekinya masing-masing.

Banyak cerita ada pusaka dikejar sampai bertahun lamanya; berkorban waktu, tenaga, dan harta, namun tak tergapai juga. Tapi ada yang bahkan datang sendiri, kadang dengan mahar jauh di bawah nilai materialnya. Di balik itu, ada cerita dan hikmah tersendiri yang kelak menyejarah bagi pribadi.

Sabar itu dari hulu sampai ke hilir. Sampai kalau sudah memahari pun harus sabar jika barangnya diperbincangkan orang. Tentu ada kawan-kawan tulus yang ikhlas memberi masukan. Tapi karena ada p**a yang menganut prinsip 'panjat murka' dalam berpusaka demi tujuan-tujuan pribadinya hingga merasa halal menjatuhkan agar dapat dipungut diri atau selainnya; maka sabar tetap kuncinya.

الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد

Kesabaran adalah bagian dari iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi badan.

(Sayyidina 'Ali ibn Abi Thalib)

Kalau berhobi bisa melatih dan membentuk pribadi kita menjadi insan yang penuh kesabaran, nah agaknya hobinya sangat patut dilanjutkan, hehe. Selamat bersabar. Seperti membuat mandau yang bersabar bertahun-tahun bergulat mengumpulkan bahan terbaik, hingga terbentuk mandau istimewa dengan sarung dan hulu ukir serta anyaman rotan terbaik hingga akhirnya berpasangan dengan penyang-penyang pendukungnya. Tapi pasti masih ada yang harus disabari lagi. Termasuk bahwa hobi itu sebaiknya SNI (Sudah Nanya Istri) dan ISO (Istri Sudah OK). Sabar tak henti-henti.

Ilustrasi: Mandau sederhana dengan bilah buatan -/+ 3 tahun yang lalu dari Nagara, HSS. Hulu kayu ukir asal kota Puruk Cahu hibahan teman yang nampak mengkilat karena lama tersimpan dan disulat sederhana oleh almarhum Bapa Runding (Mentaya Seberang). Kemudian dihias lagi dengan balutan tampuser serta tali belawit karya Bapa Riko dari desa Bangkirai, Baamang Hulu, Sampit.
(copas tulisan Noor Hikmat Tullah)

03/12/2021



SYAIR SARABA AMPAT
Allah jadikan saraba ampat
syariat tharikat hakikat ma'rifat
menjadi satu didalam khalwat
rasa nyamannya tiada tersurat

Huruf ALLAH ampat banyaknya
Alif i'tibar dari pada Zat-NYA
Lam awal dan akhir Sifat dan Asma-NYA
Ha isyarat dari Af'alnya

Jibril Mikail Malaikat mulia
Isyarat sifat Jalal dan Jamal
Izrail Israfil rupa pasangannya
I'tibar sifat Qahar dan Kamal

Jabar ail asal katanya
Bahasa Suryani asal mulanya
Kebesaran ALLAh itu artinya
Jalalullah bahasa Arabnya

Nur Muhammad bermula nyata
Asal jadi alam semesta
seumpama api dengan panasnya
itulah Muhammad dengan Tuhannya

Api dan banyu tanah dan hawa
itulah dia alam dunia
menjadi awak barupa rupa
tulang sungsum daging dan darah

Manusia lahir ke Alam Insan
di Alam Ajsam ampat bakawan
Si Tubaniyah dan Tambuniyah
Uriyah lawan si Camariyah

Rasa dan akal daya dan nafsu
didalam raga nyata basatu
AKU meliputi segala liku
Matan hujung rambut sampai kahujung kuku

Tubuh dan hati nyawa rahasia
Satu yang zahir amat nyatanya
Tiga yang batin pasti adanya
Alam shagir itu sabutnya

Mani Manikam Madi dan Madzi
Titis manitis jadi menjadi
Si anak adam balaksa kati
Hanya yang tahu ALLAHU RABBI

Kaampat ampatnya kada tapisah
datang dan bulik kepada ALLAH
Asalnya awak daripada tanah
Asalpun tanah sudah disarah

Dadalang Simpur barmain wayang
Wayang asalnya sikulit kijang
Agung dan sarun babun dikancang
kaler bapasang diatas gadang

Wayang artinya sibayang-bayang
Antara kadap silawan tarang
semua majaz harus dipandang
Simpur balalakun hanya saorang

Samar Bagung si Nalagaring
Si Jambulita suaranya nyaring
Ampat isyarat amatlah penting
Siapa nang handak mancari haning

Mudah-mudahan riwayat Datu Sanggul ini bermanfaat bagi saudara-saudaraku semua, kalau ada kekurangan al faqir mohon maaf sebesar-besarnya.
Akhirul kalam....assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.(fy)

Sumber; - Manakib Datu Sanggul,
- Kisah Datu Datu. Terkenal Kalimantan Selatan,

Address

Banjarmasin

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wasi Sampana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share