11/09/2025
(bersyukut karena masih diberikan rezeki dan kesehatan)
Hari ini aku bangun dengan kepala yang sudah terasa penuh. Bukan karena mimpi aneh, tapi karena daftar pekerjaan yang menumpuk sejak kemarin belum selesai, sementara yang baru sudah datang menghantam. Rasanya seperti jalanan macet, semua kendaraan berebut maju tapi tidak ada ruang sama sekali.
Laptop di meja kerja sudah menyalakan notifikasi, ponsel pun tak berhenti bergetar. Setiap pesan masuk seakan menambah beban di pundak. “Harus segera,” begitu katanya. Padahal aku masih belum selesai dengan yang kemarin.
Aku mencoba fokus. Menyelesaikan satu demi satu. Tapi kenyataannya, pikiranku melompat-lompat—dari deadline A ke laporan B, dari permintaan klien ke pekerjaan pribadi. Seperti sedang berada di sebuah ruangan yang kecil, tapi orang-orang terus masuk tanpa henti, membawa berkas dan permintaan masing-masing.
Aku menarik napas panjang, menutup mata sejenak. Ada rasa ingin berhenti, ingin lari, ingin diam tanpa harus memikirkan apa-apa. Tapi di sisi lain, aku tahu semua ini bagian dari tanggung jawabku. Hanya saja, hari ini aku benar-benar merasa crowded—sesak oleh pekerjaan, sesak oleh pikiran sendiri.
Mungkin aku perlu sejenak berjalan keluar, sekadar menatap langit, atau meneguk kopi hangat. Biar pikiranku sedikit longgar, biar hati ini kembali punya ruang. Karena aku sadar, aku tidak akan bisa menyelesaikan semuanya kalau kepalaku sendiri penuh tanpa celah.