Street Shop Indonesia

Street Shop Indonesia Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Street Shop Indonesia, banyuwangi, Banyuwangi.

31/01/2020

Lakukan Sesuai Kemampuan Achmad Iqbal 30/01/2020 Opini / ruang kreatif unia penuh sesak dengan omong-omong kosong. Hastag mendunia hingga bualan-bualan nyata. Persetan dengan itu semua. Dunia yang semakin jadi subjek bagi manusia yang lama kelamaan menjadi objek. Penenun perubahan telah kalah perang...

21/12/2019

Literasi Di Era Milenial

12/07/2019

SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 10)

Dari: IMAM MAHDI

SANDI, BUKAN YANG LAIN
Abang mungkin bertanya kenapa Gue? Gini bang, saya tidak mau menjawab secara spekulatif. Banyak sekali alasan kenapa surat ini saya tujukan pada abang, sebanyak alasan untuk membuli kenapa surat ini secara eksplisit hanya menyebut nama abang. Begitulah realitanya, setiap orang punya hak untuk memback up kepentingannya sendiri sendiri

Kali ini saya akan menjawab dengan alasan yang sedikit kemungkinannya siapapun dari manapun terbelah dalam berpendapat. Jawaban saya berdasarkan obyektifitas dan berorientasi pada kepentingan hakiki dari seluruh rakyat Indonesia yaitu persatuan, satunya cita cita, satunya harapan dan satunya mimpi anak negeri.

Jawaban saya kenapa surat ini saya tujukan pada abang adalah karena di antara kontestan pilpres, abang adalah yang ter MUDA, ter GANTENG, dan ter KAYA. Saya kira saya semua akan setuju dengan 3 alasan ini.

Tentu, saya punya alasan subyektif secara pribadi, biarlah saya ucapkan hanya jika diminta tapi tidak saya nyatakan disini agar tidak kontraproduktif dengan tujuan Surat ini dibuat yaitu persatuan anak negeri menuju Indonesia Menang, Adil dan Makmur. Saya tidak mau sentimen pembelahan emosional yang mungkin muncul gara gara Nama Abang saja yang disebut membara kembali karena alasan alasan spekulatif individual yang tak perlu.

Ya, tapi kenapa bukan pak Jokowi, Yai Makruf atau Pak Prabowo? Menyebut hanya nama Abang, bukan berarti ketiga tokoh di atas tidak penting. Tapi ada satu hal dari abang yang tidak mereka miliki yaitu abang adalah satu satunya calon yang mengkhiklaskan gajinya untuk rakyat. Itu saja sudah lebih dari cukup tak butuh alasan macam macam lagi untuk mengambil keputusan bahwa abanglah orang yang selama ini kami nanti sebagai pemimpin.

Karena, di dalamnya ada banyak kualitas diri tercermin hanya dari satu tindakan tak mengambil gaji. Disitu ada kemapanan finansial, kedermawanan, keberpihakan pada rakyat, ketauladanan, kecerdasan dan ketaqwaan.

Bang Sandi yang saya kagumi, bagi banyak orang mungkin calon presiden itu ada 2, dua yang lain adalah pasangan atau wakilnya. Karena memang seperti itulah KPU menetapkan Pasangan dalam Pilpres. Tapi perlu abang tahu, bagi saya pribadi, mungkin juga bagi banyak orang, dalam pikiran saya calon pemimpinnya sebenarnya ada 4, salah satunya adalah abang. Terus terang saya mencoblos poto abang. Bahwa dalam aturan KPU itu artinya mencoblos adalah sepaket dengan pasangan yang sudah ditetapkan, itu urusan lain, saya ora urus hehehe

Bagi saya pribadi, itu artinya harapan kepemimpinan itu ada pada Abang. Tahukah abang, saya meyakini bahwa seandainya pilihannya hanya capres, dan keempat orang dalam 2 pasangan itu adalah capresnya, peluang abang untuk dipilih jauh lebih besar di banding yang lain. Menjadi sulit bagi publik karena pilihan dalam paket pasangan membuat logika pilihan jadi rumit dan cenderung menjadi absurd. Karena dalam paket berpasangan, ada faktor yang harus dihitung ulang dengan cermat agar tidak salah pilih seperti kualitas sosok pendamping dan mutu performa partai koalisi pendukungnya.

Setidaknya hal ini ditunjukkan dengan banyak curhatan yang menghayal seandainya pilihan presiden dan pilihan wapres dipisah. Well, tentu saya tidak ingin mengajak abang menghayal. Saya hanya ingin mengatakan bahwa di antara ke empat calon yang terbelah jadi 2 pasang itu, sebenarnya abang berada pada posisi play maker. Maka, perankanlah itu wahai abangku yang ganteng!

Lampaui itu politik praktis, masuklah pada politik kemanusiaan. Jangan biarkan kursi dan masa jabatan menghalangi gelombang perubahan di negeri ini. jangan berhenti menghimpun kami hanya pada masa kampanye. Percayalan di bawah banyak Sandiaga Uno Sandiaga Uno yang masih dalam prose’s, jadilah mentor mereka, ambillah tanggungjawab yang menyenangkan ini.

Mari bergerak dengan cara dan keistimewaan kita sendiri. Bergerak diluar jabatan yang membelenggu, berkontribusi tanpa dihantui rasa bersalah karena takut citranya turun, bekerja tanpa henti tanpa harus membuang waktu menunggu persetujuan anggota dewan yang belum tentu juga berpikir untuntk kepentingan rakyat. Terus melakukan sesuatu yang bermanfaat tanpa disibukkan dengan para penjilat yang ribut jatah jabatan dan proyek.

Bekerja secara serentak di semua lapisan tanpa dicurigai rakyat karena dianggap membahayakan uang pajak. Menurut saya, Inilah cara beroposisi yang sebenarnya.
Sudah cukup tradisi membuang energi dalam bentuk status status medsos yang hanya menutupi potensi kekuatan kita sendiri, jangan biarkan para pendukungmu ini tertular sindrom gagal move on dengan terus membuang waktu mengintai kesalahan pemerintah sebagai dasar pelampiasan kekecewaan.

Bantulah mereka melihat bahwa potensi mereka sendiri yang justru lebih besar dari yang mereka bayangkan. Bantulah untuk meyakini bahwa, jika rakyat menemukan kekuatannya, lalu mereka mandiri maka dalam jangka panjang Negara juga ikut mandiri seiring dengan beban yang semakin berkurang. Bantulah menuju kesadaran bahwa tingkat ketergantungan rakyat pada pemerintah adalah berbahaya, dan beresiko rakyat akan jadi bulan bulanan para politisi dan oknum penyalah gunaan kewenangan.

Gema People Power yang begitu lantang di podium saat kampanye lalu, biarkanlah terus menggaung pada tahap selanjutnya dalam bentuk kerja dan bakti dari oleh dan untuk masyarakat. Ketulusan dan pengorbanan yang tampak begitu nyata saat mobilisasi kampanye, biarkan terus berlanjut dalam kerja kerja kemanusiaan yang lebih kongkrit dan berdampak langsung dipelosok negeri.

So, apa yang kau Tunggu Bang?!

Salam, IMAM MAHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt Harapan pada sanDI

Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat

12/07/2019

SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 9)

Dari: IMAM MAHDI

Jokowi, Sang Ratu Adil?

Perlu Bang Sandi Tahu, Pak Jokowi adalah salah satu dari mereka yang diramal sebagai sosok Ratu Adil. Saya peribadi dalam ukuran tertentu sependapat dengan klaim itu. Setidaknya ukuran yang saya pakai adalah terkait dengan nasihat pop**ar yang mengatakan: Nikahilah dari perempuan perempuan satu, dua, tiga dan empat, jika kamu adalah (pria) adil. Berdasarkan pendapat ini, Pak Jokowi MUSTAHIL TIDAK ADIL, karena istrinya masih satu heheheehe.

Kembali ke Laptop!
“Realitas politik” telah jelas bahwa baik Survey, Situng KPU dan MK telah sepakat bahwa memang pemenang Pilpres 2019 adalah Bapak Jokowi. Bang Sandi pun telah mengucapkan Selamat Menjalankah Amanah bukan? Walau saya tahu, Realitas Politik tidak Serta Merta adalah Kebenaran Politik, karena kebenaran memiliki dimensi dan ukuran yang beragam yang sifatnya progressif namun juga spekulatif.

Akan tetapi, menjalankan Negara butuh “kepastian”. Maka kepastian itu sudah ada. Oleh karena itu, mari kita arahkan narasi dan diskursus bukan pada istilah Presiden dengan seluruh keterbatasan definisi dan realitasnya, menuju istilah yang lebih immortal dan abadi yaitu kepemimpinan dan perubahan sosial.

Saya tahu pelaksanaan pemilu tempohari banyak sekali catatan, namun demikian hidup terus berjalan ke depan. Pilihan sikap kita adalah kunci. Situasi, seburuk apapun adalah eksternalitis. Cara kita berpikir, bersikap dan bertindak lah yang sebenarnya kunci dalam menentukan masa depan. Terkait dengan situasi pasca keputusan MK, pilihan yang tersedia adalah larut dalam ketidakpastian atau memilih menyibak tabir walau perlahan menuju nasib baru yang lebih terang benderang.

Bang Sandi pasti mafhum, amanah terberat manusia itu adalah kepemimpinan, menjadi penguasa dan pejabat. Sekarang beban itu ada di Pak Jokowi. Saya tidak sedang menghibur diri apalagi Bang Sandi, karena memang hakikatnya begitu. Tengok saja sejarah kepemimpinan Dunia, pemimpin yang lurus identik dengan penderitaan. Bahkan Agus Salim mengatakan Leiden is Lejden.

Berbeda dengan kekuasaan, kepemimpinan seringkali menimbulkan konflik bathin bagi pelakunya, tumpuk demi tumpuk beban berada dipundaknya, mulai dari beban moralitas, beban untuk tidak ingkar janji, dan beban untuk mewujudkan harapan rakyat. Apalagi jika pemimpin itu di Negara bernama Indonesia yang masih jauh jarak perjalanannya menuju Negara sejahtera.

Lagi p**a Bapak Jokowi menurut KPU memiliki dukungan lebih banyak rakyat dari Abang. Jumlah mereka yang puluhan juta itu sudah lebih dari cukup untuk memastikan Pak Jokowi bekerja memenuhi Janjinya. Di belakang, kanan dan kiri pak Jokowi berjajar orang orang pilihan, sebut saja disana ada Yusuf Mansur, Yusril IM, Tuan Guru Bajang, mereka semua lebih dari cukup untuk menemani Pak Jokowi Memenuhi Amanahnya sebagai Presiden. Mudah mudahan demikian.

Kalaupun ada yang tidak sesuai, toh Sandiaga Uno dan para Pendukungnya tak mungkin disalahkan, karena sejak awal memang punya pilihan yang berbeda. Above All, kali ini biarlah Tuhan yang menjadi Hakim terbaik di antara kita, tak perlu kita repot2 mewakili.

Jika memang ada yang ingkar janji, dari pihak manapun, percayalah tak ada keputusan yang lebih adil dibanding keputusanNya. Sebagai manusia, usaha kita sudah sampai pada “titik darah penghabisan” di 27 Juni tempohari. Selebihnya biarkan Sang Pemilik waktu yang menghakimi dengan se adil adilnya.

Kalau Bang Sandi, saya percaya sudah terlatih dan teruji sikap kenegarawanannya. Namun, pada konteks ini saya berbicara tidak pada batasan pribadi, melainkan pada arena yang lebih luar terkait lebih dari 50-an juta pendukung abang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Gumpalan energi perjuangan yang sudah terkonsolidasi selama ini hendaknya jangan sampai berantakan hanya karena sebuah kursi kepresidenan. Terlalu banyak pe-er kita sebagai bangsa yang tak bisa dijangkau hanya dengan kewenangan yang terbatas sebagai seorang wapres. Disisi yang bersamaan, terlalu besar akumulasi energi pendukung abang jika hanya semburat dan terurai meladeni perang narasi di medsos yang tiap hari tak kunjung bermutu.

Ladang jihad, seperti itu yang biasa jadi idiom perjuangan, sangat terbuka lebar justru diluar kekuasaan. Nyaris di hampir semua isu, dari kemiskinan, kesenjangan hukum, hingga krisis lingkungan hanya bisa diselesaikan jika energi bangsa dikelola dengan efisien. Saya tidak mengatakan bahwa pilpres 2019 baik baik saja, saya tahu ada sejumlah catatan yang tak bisa diabaikan. Namun, membiarkan benturan energi anak bangsa tidak mengubah apapun, memperparah bisa jadi.

Mari bang, kita fokus mengkonversi energi ini kearah politik yang sebenarnya, politik dengan P besar yang tidak terbatasi oleh durasi dan legalitas. Politik kemanusiaan dan perubahan bagi kemaslahatan masyarakat.

Implementasinya bisa beragam dan menyasar banyak sektor. Memang butuh banyak tenaga (ahli) dan modal yang banyak untuk menuju kesana. Tapi, Lupakah abang bahwa 50-an juta pendukung abang yang militan lahir bathin itu adalah modal yang tidak biasa. Mereka datang dengan uang pribadi, tergerak mendukung tanpa instruksi, dan siap menjadi martir bagi sosok yang telah menjadi inspirasi.

Sekarang, bola perubahan ada di tangan abang. Kunjungi mereka lebih sering , perhatikan lebih banyak, beri dukungan lebih besar dari saat ketika masih dalam masa kampanye. Abang tahu kenapa dimudahkan dalam usaha, hingga asetnya triliunan rupiah? Betul bang.

Sama seperti Spiderman yang dinasehati oleh Pamannya: Within Great Power, There is Great Responsibility. Uang itu adalah fasilitas oleh Tuhan untuk menemani, mendukung dan membela kami para rakyat dalam memperbaikan dan memperjuangkan nasibnya yang lebih baik.

Kami tunggu bang, atau jika abang repot silah bikin janji, kami yang akan datang ke abang. Atau kita ketemu di tengah tengah biar terlihat setara dalam perjuangan.

Saya hanya bertugas menyampaikan. Abang akan biarkan mereka tak berinduk lalu mencari saluran versinya sendiri lalu tercerai dan bubar, ataukah abang tetap ambil tongkat kendali memberi arah dan orientasi. Pilihan sepenuhnya menjadi tanggung jawab abang sebagai Pemimpin.

Salam, IMAM MAHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt Harapan pada sanDI

Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat

11/07/2019

SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 8)

Dari: IMAM MAHDI

Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0

Bang Sandi, kita tahu bahwa kalah menang dan kalah itu adalah konsekuensi dari kompetisi, satu ada karena yang lain. Dalam pikiran kami, kalah menang itu hanyalah status tentang keadaan saja, bukan hal yang sesungguhnya. Tujuan akhir dan utama tentu dari sebuah kompetisi bukan pada menangnya, tapi untuk (si)apa kemenangan itu.

Memang, Agama memberi kita anjuran untuk berkompetisi, tapi bukan kompetisi untuk berkuasa, memperebutkan sarana tapi lupa tujuannya. Bukan p**a berkompetisi untuk berebut Jabatan, tapi abai atas tanggungjawab yang diamanahkan. Akan tetapi, Perlombaan yang dijinkan Tuhan adalah perlombaan atas kebaikan.

Kekuasaan sebatas instrumen, bisa membawa kebaikan, namun bisa menjadi azab jika salah menggunakan dan mengarahkan tujuannnya. Tak berkuasa pun tak ada dosa, bukan? Tanpa kekuasaan bahkan membuat kita terhindar dari potensi bahaya oleh sebab kekuasaan memiliki banyak resiko tanggungjawab. Jika kita berangkat dari logika ini, tidak berkuasa bukan berarti kalah, karena ukuran kemenangannya ada pada tujuan digunakannya kekuasaan.

Dengan arti lain, selama tujuannya adalah menciptakan kebaikan, tidak berkuasapun artinya tetap Kemenangan. Karena kemenangan yang sebenarnya ada pada konsistensi dalam nilai perjuangannya. So, dalam pengertian ini, tunjukkan bahwa seorang Sandi dan para Pendukungnya memang adalah barisan para Pemenang.

Bang Sandi pasti juga tahu, kekuasaan itu hirup pikuk, ribet dengan stigma, birokrasi, polemik, moralitas hingga pencitraan. Sementara kepemimpinan itu sunyi, karena ia adalah pengabdian dan ibadah. Ikhlas dan tulus adalah kuncinya. Pejabat dikelilingi hiruk pikuk kepentingan, baik diri sendiri ataupun orang orang sekelilingnya. Akibatnya derajad ketulusan sering terancam karena konflik kepentingan. Di luar kekuasaan lah sebenarnya praktik nyata kepemimpinan dan pengabdian yang sebenarnya.

Maka Dengan asumsi tersebut, hakikatnya saya termasuk yang bersyukur Bang Sandi gagal ke istana. Karena dengan tidak menjadi Presiden, Bang Sandi bisa lebih lama memimpin dan menginsipirasi, tak terbatasi oleh durasi masa jabatan. Memang, tanpa jabatan, tidak ada akses pada penggunaan anggaran, bagaimana bisa mengubah keadaan? Pertanyaan ini sulit dijawab bagi mereka yang terbiasa melihat uang sebagai satu2nya kekuatan.

Namun saya percaya Bang Sandi dan Rata rata relawan pendukung tidak demikian. Justru uang kadang menjadi faktor yang cepat atau lambat yang melemahkan perjuangan. Sementara itu potensi lain seperti persatuan, saling percaya, ketulusan, kesetiaan, inspirasi, gagasan, kreatifitas dan tentunya kebahagiaan, jauh lebih berharga. Potensi potensi yang demikian itu lebih abadi dan powerful dan immortal. Dan saya lihat kebanyakan justru banyak dijumpai ada di barisan pendukung Sandiaga Uno.

Bang sandi, kami titip apa yang sudah terjalin di antara kita. Anggap saja Abang adalah kepala dalam tubuh gerakan ini, kami dibawah adalah susunan organ organ yang siap bekerja untuk mewujudkan impian. Kesuksesanmu adalah energi, nilai ketauladanan yang abang miliki adalah modal kami, tetaplah menyatu kepala dan badan. Tetaplah menyatu pemimpin dan rakyat. Selama penyatuan itu ada, saya yakin perjuangan menuju Indonesia adil makmur tak bisa dihentikan.

Mirip seperti legenda Aji Rawa Rontek dalam tradisi pendekar Nusantara. Selama Abang tersambung dengan Kami, selama perhatian dan tujuan pengabdian tetap terhubung dengan aspirasi kami sebagai rakyat. Selama kaki menjejak ke tanah (rakyat jelata), semua upaya memutus hubungan kita percuma, karena secepat itu ikatan akan tersambung kembali.

Setiap upaya untuk mencerai beraikan adalah sia-sia, karena fondasi kokoh diatas keikhlasan. Hanya jika abang berhenti berpijak keberpihakannya kepada kamu rakyat kecil, maka seluruh kesaktian perubahan ini akan menemui Ajalnya.

Salam, IMAM MAHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt pada sanDI

Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat

11/07/2019

SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 7)

Dari: IMAM MAHDI

Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung!

Bang Sandi, ku dengar kau banyak rencana setelah putusan MK kemarin. Ada yang bilang mau nerusin program Rumah Siap Kerja, ada yang bilang akan mengembangkan Program OK OC ada juga yang mengatakan akan melanjutkan sekolah.

Daku tak tahu apa yang sebenarnya, tapi percayalah bahwa yang bisa kau lakukan jauh lebih banyak dari itu, apalagi sekedar melanjutkan S3. Mudah2an hanya hoax, tapi seandainya benar, sungguh yang terakhir ini rasanya konyol. Mirip seperti sarjana yang gagal diserap dunia kerja, lalu menghibur diri dengan Status Mahasiswa S2. Setelah menjadi Master, namun tak juga kunjung berguna, apa lantas mau melarikan diri dengan S3?

Saya tahu persis Bang Sandi adalah pelari, tapi bukan tipikal pelari dari kenyataan, bukan?
Saya tidak melarang abang sekolah lho, hanya jika ketika sekolah adalah ikhtiar lanjutan berkarya dan bukan karena miskin pilihan untuk mendustai keterasingan. Keberhasilan kehidupan pribadimu saat ini, membuat banyak doctor dan professor yang rela antri untuk mendengarkan nasihat bisnismu, banyak pengusaha besar maupun kecil rela antri untuk mengambil pelajaran dari kesuksesanmu.

Jadi, tetaplah belajar, di tengah tengah rakyat yang sedang bergerak, bukan menyepi disudut sudut perpustakaan kampus, hanya menunggu selembar sertifikat tanda administrative untuk disebut seorang terpelajar.

Bang Sandi, energi perubahan yang kau miliki, aura ketauladanan yang kau warisi, bersama dukungan seluruh figur2 istimewa di samping kiri kananmu itu ibarat bom nuklir yang daya ledaknya tiada kira. Hanya memang saat ini masih berupa potensi, belum terekstrak sepenuhnya alias masih semi berfungsi.

Di Pilpres memang Realitas Politiknya semacam tak berpihak padamu, tapi tidak berarti tertutup jalan bagimu. Ini hanya soal ruang dan dimensi waktu saja. Politik punya batasan, politik praktis punya logikanya sendiri. Lampaui itu, karena kepemimpinan adalah hal yang lain. Jabatan punya jalannya sendiri, tapi perubahan adalah sesuatu yang berbeda, cita cita bangsa tak bisa dibingkai hanya dengan sempitnya logika birokrasi.

Upayakan kembali agar gelombang energi perubahan itu sampai pada wujudnya yang sempurna. Tidak mudah memang, tapi begitulah kenyataanya. Kekuatan besar butuh upaya yang besar, yang kadang menimbulkan banyak kekecewaan dalam prosesnya. Tapi jika diformulasi dan diartikulasi dengan benar, akan ada perubahan besar yang mengejutkan.

Dengan semua potensi energi yang terhimpun dalam dirimu, dengan semua akumulasi semangat juang para emak emak, ulama dan para millennial selama ini, apa yang kau bisa lakukan jauh lebih besar dari pada apa yang kau bisa perbuat dengan jabatan sebagai hanya seorang Juru Kunci Istana!

Diluar sana, ladang perjuangan lebar tak bertepi. Ada ribuan orang bergerak dengan inisiatif dan upayanya sendiri. Mereka tersebar dalam kegiatan kegiatan perubahan dengan variasi dan batasan kemampuan nya sendiri. Ada yang mengumpulkan donasi untuk membuka warung gratis bagi yang papa, ada yang rela beredar dijalanan memunguti sampah karena cintanya pada lingkungan, ada yang rela memberikan waktunya mengkoleksi buku buka bekas untuk disalurkan pada anak anak putus sekolah. Bahkan dari sekump**an sahabat yang saya kenal sedang menginisiasi system koperasi anti riba dengan back up alat transaksi dari emas murni dan masih banyak lagi.

Mereka semua harusnya lebih sering kau datangi, lebih sering kau sapa, lebih layak kau bantu. Lebih dari yang sudah kau berikan pada pendukungmu di lapangan kampanye tempo lalu. Mereka yang bergerak dalam sunyi, mereka yang tak punya batas kesetiaan, mereka yang gigih tak peduli rintangan dan tak punya masa pensiun dalam pengabdian. Sepatutnya, merekalah yang seharusnya lebih kau cemaskan nasib kelangsungan ikhtiarnya, lebih kau khawatirkan keberlanjutan semangat juangnya.

Bang Sandi, kami semua penggemarmu akan tetap menjadi pendukungmu melampaui tahapan pemilu dan batasan birokrasi politik. Cintamu hari ini ada dalam ujian, kepedulianmu sedang kami amati, niat baikmu bagi negeri sudah terlanjur membekas dalam hati. Ikatan antar kau dan kami menjadi taruhan dalam kerasnya ujian perubahan.

Mari selamatkan energi rakyat untuk negeri ini melampaui keterbatasan pemilu, masa depan yang baik usianya lebih panjang dari sekedar periode kekuasaan, antrian kerja kerja pengabdian begitu banyak hingga tak kelihatan ujungnya, harapan harapan rakyat akan terus menagih siang dan malam. Suara suara nurani dan kejujuran itu tak bisa lagi diabaikan.

Kami tunggu kembali senyum sapamu, lebih tulus dari biasanya. Kami nanti hangatnya pengayomanmu lebih menggelora dari biasanya. Mari kita sama sama membuktikan siapa yang lebih mencitai, Rakyat kepada Indonesia atau Prabowo Sandi Kepada Rakyat Indonesia

Salam, IMAM MAHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt Harapan pada sanDI

Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat

10/07/2019

SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 6)

Dari: IMAM MAHDI

THAICHI-AGA SALAHUDIN UNO

Bang Sandi yang kami cintai, tidakkah engkau Tahu? Dalam dirimu kami melihat symbol kekuatan abadi yang kami butuhkan untuk membangun negeri ini kembali. Ada kekuatan yang tak pernah mati jika itu bernama mengabdi.

Mirip seperti Stephen Chow dalam film Kungfu Hustle, jika aliran thaichi itu terbuka, ia akan membuat yang memilikinya punya kekuatan extra-ordinary untuk menyelesaikan misi. Jikapun harus terluka, lebih cepat masa pulihnya. Ya luka hanya terluka, bagian dari seni dalam perjuangan, yang penting api semangatnya tak pernah musnah.

Spirit itulah yang kami kenal darimu, sipirit itu p**alah yang sebenarnya dibutuhkan oleh negeri ini dari pada hanya sekedar jabatan yang tak lebih hanya sekedar kursi dengan seluruh keterbatasannya. Energi thaichi bahkan lebih abadi, tidak usang per 4 tahun sekali.

Tak perlu repot repot keluar triliunan lagi hanya untuk memperpanjang durasi. Tak perlu repot menyenangkan anggota koalisi, tak perlu buang waktu untuk memoles citra diri, dan tak perlu merisaukan apakah akan terpilih lagi.

Tidakkah kau lihat dan juga tahu, lebih dari 50 juta selama masa kampanye pilpres mulai terinveksi juga aliran thai chimu. Lihatlah semangat mereka mendukungmu, tak sejengkalpun surut apapun yang terjadi. Yang lebih gila, siapapun presiden yang ditetapkan oleh Negara, bagi mereka hanya kau yang tetap menginspirasi.

Kalau Sandi seorang itu saja sudah bisa bermanfaat dalam banyak hal bagaimana dengan jutaan orang. Itulah mengapa B**g Karno hanya butuh 10 pemuda, saya yakin pemuda yang dimaksud adalah mereka yang di dalam darahnya mengalir energi THAICHI-AGA UNO

Namun kini mereka sedang bingung, kemana harus mengalirkan energi. Banyak yang tumpah berwujud aliran air mata di p**i, banyak juga yang menjelma menjadi isak sedu tak tertuju. Tak sedikit juga yang terurai di dunia maya merespon status palsu yang menyudutkan dirimu. Entah sampai kapan, aku juga tak tahu.

Yang aku tahu gumpalan energi yang menggunung itu kini tanpa tuan, liar menjalar menyebar dan nyaris barbar. Tak ada wujud yang dihasilkan, hanya digunakan untuk bertahan yang lama lama juga jebol karena sendiri tanpa haluan.

Bang Sandi yang saya hormati, masih tak pahamkan engkau bahwa bagi kami pemimpin itu yang menggerakan bukan menginstruksi. Pemimpin itu menginspirasi bukan sebatas nama dan jabatan administrasi. Semua itu kami lihat ada dan akan terus ada dalam dirimu.

Prestasimu di sekolah, bahagianya keluarga hingga Kesuksesanmu dalam bisnis adalah bukti semua itu. Masih ingat bukan saat saat kau datangi kami di lapangan kampanye, begitu besar cinta itu mengikat siapa saja untuk datang hanya untuk merasakan auramu. Tak peduli apa yang kau katakan, tak peduli apa yang terjadi setelah itu, yang mereka tahu adalah harapan itu telah datang.

Sekarang, pilpres 2109 yang kita perjuangkan sudah memilih “jalannya” sendiri. Realitas Politik telah menampakkan wujudnya, walau kami sadar kebenaran politik tetap memiliki logikanya sendiri. Begitu juga bagi kami, Pemimpin Rakyat memiliki logika dan konsekuensinya sendiri, tak terbatas periode apalagi penetapan administrasi. Pemimpin itu alamiah, perubahan besar hanya bisa dilakukan oleh mereka yang terikat oleh visi dan mimpi, bukan sekedar legalisasi dari Mahkamah Konsititusi.

Oleh karena itu, datanglah kembali, sesering masa kampanye pilpres, bahkan lebih sering. karena yang jadi perjuangan bukan lagi sekedar kursi 5 tahunan, bukan sebatas jabatan kepala Negara apalagi sekedar simbol kuasa. Kali ini yang menjadi target adalah cita cita bangsa, kembalinya warisan leluhur ratusan ribu tahun usianya, cita cita kemakmuran bagi seluruh rakyat, yang entah berapa lama lagi kami harus menunggunya.

Mengunjungi ratusan titik kampanye pada masa pilpres memang melelahkan, ya jika tujuannya sekedar berkompetisi. Kali ini, Di daerah daerah, para pengikutmu menunggu, ada ratusan ribu titik yang siap menanti kehadiranmu, untuk kampanye jilid 2 menuju kerja nyata yang sebenarnya.

Sudah seharusnya kita sudahi, memandang satu2nya cara mengabdi kepada bangsa adalah dengan menggunakan jabatan. Anggapan bahwa menolong rakyat hanya bisa melalui istana sudah tak relevan. Segeralah sadari bang, bahwa jabatan presiden terlalu lemah dan nyaris tak bisa berbuat banyak jika dibanding tantangan yang dihadapi rakyat untuk mewujudkan impian warga.

Justru, kekuatan itu yang sebenarnya ada pada kebersamaan yang selama ini sudah dibangun. Lupakah engkah bagaimana militannya para ulama? lupakah engkau bagaimana emak emak rela berpanas panasan di jalanan? Padahal biasanya, melawan jerawat saja mereka histeris. Tidakkah engkau merasa ada yang istimewa? Lihatlah kembali siapa siapa di sekelilingmu.

Saya tak akan lagi mengajari dan memberitahu siapa itu Dahlan Iskan, siapa yang tak kenal Anis Bawsedan, barangkali hanya Bayi yang belum kenal Ustadz Abdushomad dan Abdullah Gymnastiar. Ada Rocky Gerung dan Gamal Albin Said, keduanya lebih pop**ar di kalangan Muda dan Millenial dari siapapun artis kita, terutama yang masih sehat akalnya heehehe.

Belum lagi ada Bunda Neno Warisman, Pentolah Dewa 19 Dhani Ahmad dan Barisan Artis ternama seperti Ari Untung, Teuku Wisnu, Djaja Miharja hingga Raja Dangdut Rhoma Irama. Tidakkah kau melihat potensi Kekuatan itu. Energi mereka kalo digabung bukan saja bisa mengubah Indonesia, bahkan menjadi inspirasi Dunia.

Hanya saja perlu komitmen dari Anda untuk terus menjadi symbol persatuan dan perjuangan mereka atau tidak. Merekalah energi Thai-Chi mu yang sebenarnya, jangan kau punggungi!

Salam, IMAM MAHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt Harapan pada sanDI

Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat

10/07/2019

SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 5)

Oleh: IMAM MAHDI

Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman!

Abang tahu, bagaimana rakyat dibawah kan bang? Bukan saja harapan harapan2nya, tapi juga potensinya. Mereka yang mendukung abang bukan hanya berharap abang yang mereka cintai jadi wapres sehingga bisa menikmati foto ganteng abang di mana mana. Diantara mereka banyak yang juga pahlawan bagi lingkup kecil di daerahnya. Mereka yang telah lama bergerak dan berjuang sebelum abang daftar sebagai paslon ke KPU.

Ada yang bergerak di bidang ekonomi mikro, ada yang berjuang sebagai aktivis lingkungan, ada yang ingin melihat kejayaan seni budaya Indonesia bangkit kembali, ada yang rela berkorban untuk sekedar meningkatkan layanan kesehatan bagi orang orang di sekelilingnya, hingga mereka yang bergerak mengumpulkan buku buku untuk dibagikan kembali pada anak anak yang kurang beruntung untuk mengurangi kesenjangan layanan pendidikan.

Namun rata rata mereka diliputi keterbatasan mewujudkan impiannya untuk Indonesia. Ada yang kesulitan modal uang, minim keterampilan hingga kesepian karena kekurangan partner untuk bisa secara signifikan memberikan kontribusi pada negeri ini. Kebanyakan mereka terpisah pada keterbatasan masing2 dan tersebar di hampir pelosok negeri ini.

Tapi yang abang perlu tahu, mereka itu sepakat dalam satu hal, yaitu berharap Negeri ini maju, menang, adil dan makmur. Dan, lebih dari 50 juta dari mereka itu sepakat bahwa abanglah yang dianggap pantas memimpin mewujudkan cita cita.

Abang tentu tidak lupa momen momen emosionil saat kampanye bukan? Di kala air mata mengalir dari ratusan ribu bahkan jutaan p**i para pendukungmu di stadion? Abang tentu takkan pernah lupa bagaimana histerisnya ratusan ribu pendukung abang selalu ramai disetiap lapangan kampanye? Abang tak mungkin lupa kantong kantong bekas beras yang berisi uang receh dari pada pendukungmu? Abang juga tak mungkin lupa bagaimana alat peraga kampanye dari bahan daur ulang karung bekas di desa desa dan pelosok bang?

Itulah asset yang kau punya. Yang harus abang ketahui adalah abang punya HUTANG pada mereka. Lunasi dengan tetap membuat mereka terhubung satu sama lain, menjadi satu keluarga besar, lalu hadirlah abang ditengah tengah menuju Indonesia baru yang dibangun LANGSUNG oleh Rakyatnya sendiri, bukan oleh Investor dan duit hasil hutang. Mereka datang mengantarkan sendiri aspirasinya untuk abang perjuangkan. Ada yang charter pesawat, ada yang naik sepeda onthel, hingga yang rela jalan kaki berkilo kilo meter hanya untuk menitipkan mimpi masa depan yang lebih baik.

Mereka semua itu adalah para pendukung abang. Haruskah harapan mereka terkubur hanya karena abang mati gaya oleh sebab putusan MK? Haruskah mereka terus tenggelam dalam harapan. Sampai kapan mereka terus bergantung pada para politisi? Sampai kapan mereka abang biarkan menjadi korban PHP para pencari suara di ajang 5 tahunan?

Sekali lagi, hubungi lalu Hubungkan mereka satu sama lain. Yakinkan mereka bahwa mereka tidak bergerak sendiri untuk negeri ini. Berikanlah dukunganmu, agar mereka bisa lebih berenergi lalu bersinergi. Saya yakin abang punya banyak pengetahuan bagaimana melihat semua ini sebagai asset bangsa. Kesuksesan abang dalam bisnis sudah teruji, ijinkan kami juga mengalaminya dengan sekup dan area pengabdian kami masing masing.

Itulah People Power yang sebenarnya Bang. Dimana seluruh Anak negeri bersatu, bukan hanya berharap, dan berhenti mengundi nasib di TPS, tapi bersatu dalam tindakan jangka panjang untuk mewujudkan cita cita negeri. Bayangkan bang, betapa bangganya abang dan rakyat Indonesia jika berdaulat sepenuhnya atas bangsanya sendiri.

Abang jangan bertanya bagaimana caranya, saya yakin abang lebih canggih kalo urusan managemen potensi sumber daya manusia. Abang punya ribuan bahkan mungkin ratusan ribu kordinator pemenangan di daerah. Istimewanya, disitu ada para ulama, disitu ada milenial, disitu ada tokoh masyarakat, disitu ada aktivis dan yang istimewa disitu ada EMAK EMAK bang! inilah momentum itu.

Semua bisa Jangan lagi biarkan mereka pendukungmu larut menghayal musiman, dengan menebak nebak siapa yang akan menjadi presiden setiap 5 tahun. Indonesia membutuhkan perubahan besar untuk mengejar ketertinggalan. Mengubah dari Istana itu mirip mitos, 10 tahun menjabat sekalipun tak bisa berbuat banyak. Rakyat Indonesia itu besar, sebesar tantangan yang dihadapi. Tak mungkin bisa dilayani hanya dengan puluhan kementrian apalagi mengandalkan ASN yang jumlahnya tak signifikan.

Saya yakin abang faham. Tapi, jika abang masih ragu juga bagaimana memulainya, abang bisa inbox saya, kita kopi darat lalu bergerak melampaui keterbatasan waktu, sampai Indonesia kembali seperti cita cita GAJAH MADA!

Salam, IMAM MAMHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt Harapan pada sanDI

Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat

Address

Banyuwangi
Banyuwangi
68451

Telephone

085236638248

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Street Shop Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share