12/07/2019
SURAT TERBUKA UNTUK (RELAWAN) SANDIAGA UNO (PART 9)
Dari: IMAM MAHDI
Jokowi, Sang Ratu Adil?
Perlu Bang Sandi Tahu, Pak Jokowi adalah salah satu dari mereka yang diramal sebagai sosok Ratu Adil. Saya peribadi dalam ukuran tertentu sependapat dengan klaim itu. Setidaknya ukuran yang saya pakai adalah terkait dengan nasihat pop**ar yang mengatakan: Nikahilah dari perempuan perempuan satu, dua, tiga dan empat, jika kamu adalah (pria) adil. Berdasarkan pendapat ini, Pak Jokowi MUSTAHIL TIDAK ADIL, karena istrinya masih satu heheheehe.
Kembali ke Laptop!
“Realitas politik” telah jelas bahwa baik Survey, Situng KPU dan MK telah sepakat bahwa memang pemenang Pilpres 2019 adalah Bapak Jokowi. Bang Sandi pun telah mengucapkan Selamat Menjalankah Amanah bukan? Walau saya tahu, Realitas Politik tidak Serta Merta adalah Kebenaran Politik, karena kebenaran memiliki dimensi dan ukuran yang beragam yang sifatnya progressif namun juga spekulatif.
Akan tetapi, menjalankan Negara butuh “kepastian”. Maka kepastian itu sudah ada. Oleh karena itu, mari kita arahkan narasi dan diskursus bukan pada istilah Presiden dengan seluruh keterbatasan definisi dan realitasnya, menuju istilah yang lebih immortal dan abadi yaitu kepemimpinan dan perubahan sosial.
Saya tahu pelaksanaan pemilu tempohari banyak sekali catatan, namun demikian hidup terus berjalan ke depan. Pilihan sikap kita adalah kunci. Situasi, seburuk apapun adalah eksternalitis. Cara kita berpikir, bersikap dan bertindak lah yang sebenarnya kunci dalam menentukan masa depan. Terkait dengan situasi pasca keputusan MK, pilihan yang tersedia adalah larut dalam ketidakpastian atau memilih menyibak tabir walau perlahan menuju nasib baru yang lebih terang benderang.
Bang Sandi pasti mafhum, amanah terberat manusia itu adalah kepemimpinan, menjadi penguasa dan pejabat. Sekarang beban itu ada di Pak Jokowi. Saya tidak sedang menghibur diri apalagi Bang Sandi, karena memang hakikatnya begitu. Tengok saja sejarah kepemimpinan Dunia, pemimpin yang lurus identik dengan penderitaan. Bahkan Agus Salim mengatakan Leiden is Lejden.
Berbeda dengan kekuasaan, kepemimpinan seringkali menimbulkan konflik bathin bagi pelakunya, tumpuk demi tumpuk beban berada dipundaknya, mulai dari beban moralitas, beban untuk tidak ingkar janji, dan beban untuk mewujudkan harapan rakyat. Apalagi jika pemimpin itu di Negara bernama Indonesia yang masih jauh jarak perjalanannya menuju Negara sejahtera.
Lagi p**a Bapak Jokowi menurut KPU memiliki dukungan lebih banyak rakyat dari Abang. Jumlah mereka yang puluhan juta itu sudah lebih dari cukup untuk memastikan Pak Jokowi bekerja memenuhi Janjinya. Di belakang, kanan dan kiri pak Jokowi berjajar orang orang pilihan, sebut saja disana ada Yusuf Mansur, Yusril IM, Tuan Guru Bajang, mereka semua lebih dari cukup untuk menemani Pak Jokowi Memenuhi Amanahnya sebagai Presiden. Mudah mudahan demikian.
Kalaupun ada yang tidak sesuai, toh Sandiaga Uno dan para Pendukungnya tak mungkin disalahkan, karena sejak awal memang punya pilihan yang berbeda. Above All, kali ini biarlah Tuhan yang menjadi Hakim terbaik di antara kita, tak perlu kita repot2 mewakili.
Jika memang ada yang ingkar janji, dari pihak manapun, percayalah tak ada keputusan yang lebih adil dibanding keputusanNya. Sebagai manusia, usaha kita sudah sampai pada “titik darah penghabisan” di 27 Juni tempohari. Selebihnya biarkan Sang Pemilik waktu yang menghakimi dengan se adil adilnya.
Kalau Bang Sandi, saya percaya sudah terlatih dan teruji sikap kenegarawanannya. Namun, pada konteks ini saya berbicara tidak pada batasan pribadi, melainkan pada arena yang lebih luar terkait lebih dari 50-an juta pendukung abang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Gumpalan energi perjuangan yang sudah terkonsolidasi selama ini hendaknya jangan sampai berantakan hanya karena sebuah kursi kepresidenan. Terlalu banyak pe-er kita sebagai bangsa yang tak bisa dijangkau hanya dengan kewenangan yang terbatas sebagai seorang wapres. Disisi yang bersamaan, terlalu besar akumulasi energi pendukung abang jika hanya semburat dan terurai meladeni perang narasi di medsos yang tiap hari tak kunjung bermutu.
Ladang jihad, seperti itu yang biasa jadi idiom perjuangan, sangat terbuka lebar justru diluar kekuasaan. Nyaris di hampir semua isu, dari kemiskinan, kesenjangan hukum, hingga krisis lingkungan hanya bisa diselesaikan jika energi bangsa dikelola dengan efisien. Saya tidak mengatakan bahwa pilpres 2019 baik baik saja, saya tahu ada sejumlah catatan yang tak bisa diabaikan. Namun, membiarkan benturan energi anak bangsa tidak mengubah apapun, memperparah bisa jadi.
Mari bang, kita fokus mengkonversi energi ini kearah politik yang sebenarnya, politik dengan P besar yang tidak terbatasi oleh durasi dan legalitas. Politik kemanusiaan dan perubahan bagi kemaslahatan masyarakat.
Implementasinya bisa beragam dan menyasar banyak sektor. Memang butuh banyak tenaga (ahli) dan modal yang banyak untuk menuju kesana. Tapi, Lupakah abang bahwa 50-an juta pendukung abang yang militan lahir bathin itu adalah modal yang tidak biasa. Mereka datang dengan uang pribadi, tergerak mendukung tanpa instruksi, dan siap menjadi martir bagi sosok yang telah menjadi inspirasi.
Sekarang, bola perubahan ada di tangan abang. Kunjungi mereka lebih sering , perhatikan lebih banyak, beri dukungan lebih besar dari saat ketika masih dalam masa kampanye. Abang tahu kenapa dimudahkan dalam usaha, hingga asetnya triliunan rupiah? Betul bang.
Sama seperti Spiderman yang dinasehati oleh Pamannya: Within Great Power, There is Great Responsibility. Uang itu adalah fasilitas oleh Tuhan untuk menemani, mendukung dan membela kami para rakyat dalam memperbaikan dan memperjuangkan nasibnya yang lebih baik.
Kami tunggu bang, atau jika abang repot silah bikin janji, kami yang akan datang ke abang. Atau kita ketemu di tengah tengah biar terlihat setara dalam perjuangan.
Saya hanya bertugas menyampaikan. Abang akan biarkan mereka tak berinduk lalu mencari saluran versinya sendiri lalu tercerai dan bubar, ataukah abang tetap ambil tongkat kendali memberi arah dan orientasi. Pilihan sepenuhnya menjadi tanggung jawab abang sebagai Pemimpin.
Salam, IMAM MAHDI
Ikatan MAsyarakat MenggugAt Harapan pada sanDI
Bocoran 10 Parts , Judul aja ya :
Mencari Format Rekonsiliasi (PART 1)
Cebong Berbulu Kampret: Siapa Belum Move On? (PART 2)
Bentangkan (lagi) Layar, Ambil Kemudi (PART 3)
Presiden atau Pemimpin? (PART 4)
Membangun Inonesia dari Kampoeng Halaman! (PART 5)
THAICHI-AGA UNO (PART 6)
Rakyat BUKAN Tumpukan Tempurung (PART 7)
Ajian Rawa Rontek, Kstaria 5.0 (PART 8)
Jokowi, Sang Ratu Adil (PART 9)
SANDI, BUKAN YANG LAIN (PART 10)
Catatan Tambahan: Urgensi Surat