Toko buku Al-Fatih

Toko buku Al-Fatih Toko Buku Menyediakan Buku-buku berideologi Islam

Apakah Anda Merasa Sendiri? Meskipun ramai orang di sekeliling, tapi rasa sendiri dan sepi itu tetaplah ada. Sebelum dat...
08/02/2015

Apakah Anda Merasa Sendiri? Meskipun ramai orang di sekeliling, tapi rasa sendiri dan sepi itu tetaplah ada. Sebelum datang seorang kekasih hati yang selama ini dicari, kesendirian selalu menjadi musuh bagi jiwa. Tapi apakah belahan jiwa hanya cukup ditunggu saja? Ataukah boleh kita aktif berusaha menjemputnya? Buku “Ya Allah, Aku Tak Ingin Sendiri” ini mengajak Anda berbicara dari hati ke hati. Tentang kenapa memilih menunda, kalau pernikahan yang barakah sudah berada di hadapan. Tentang apa yang harus dilakukan ketika pernikahan selalu terhalang, sehingga hati harus dibelenggu oleh kenyataan. Tentang Anda yang tidak seharusnya memelas terhadap kondisi kesendirian, menanti yang tak pasti dan dirundung gelisah yang semakin parah. Agar Anda tahu bahwa Anda bisa melakukan banyak hal daripada sekadar duduk termangu menunggu.

Tentang pendapat para ulama tentang kesendirian menanti kekasih, siapa tahu akan memotivasi hidup Anda menjadi lebih baik. Dan yang paling menarik adalah tips jitu bagaimana menikmati kesendirian dan mencoba berbuat sesuatu untuk mendapatkan pasangan hidup idaman. Tanpa harus banyak berkata-kata, buku ini sangat sesuai bagi remaja dewasa yang sedang galau menghitung kapan datang kekasih sejati.

Daftar Isi

KENAPA JODOH TAK KUNJUNG DATANG
Kapan nikah?
menyengaja menunda
menunda karena keadaan
YA ALLAH, AKU TAK INGIN SENDIRI

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.Pembaca yang budiman, Indonesia adalah sebuah negeri yang kaya-raya. Sumbe...
07/02/2014

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, Indonesia adalah sebuah negeri yang kaya-raya. Sumberdaya alamnya melimpah. Segala kekayaan alam ada di negeri ini: minyak bumi dan gas, batubara, emas, perak, nikel, tembaga, bijih besi, dan masih banyak yang lainnya. Tanahnya subur. Hutannya amat luas lengkap dengan keanekaragaman hayatinya. Itu baru di daratan. Di lautan—yang areanya jauh lebih luas—kekayaan alam Indonesia juga melimpah-ruah. Bukan hanya jutaan ton ikan dengan berbagai ragam jenisnya, tetapi juga kekayaan bawah laut dan keanekaragaman hayatinya. Belum lagi minyak bumi lepas pantai dan yang lainnya.
Jika semua itu dikaitkan dengan APBN kita—yang tentu memuat penerimaan maupun pengeluaran negara—sejatinya penerimaan negara dari berbagai kekayaan alam negeri ini amatlah besar; bisa mencapai ribuan bahkan puluhan ribu triliun pertahun. Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, tentu pengeluaran untuk rakyat juga sejatinya besar. Namun, gambaran seperti ini rupanya sekadar asumsi. Faktanya, dari tahun ke tahun, postur APBN kita berkebalikan dengan gambaran di atas. Penerimaan terbesar APBN kita (rata-rata 75%) bukan berasal dari hasil-hasil sumberdaya alam kita yang melimpah-ruah itu, tetapi dari pajak yang notabene sebagian besarnya dari rakyat. Mengapa? Karena sebagian besar sumberdaya alam itu sudah dikuasai pihak swasta dan terutama pihak asing. Ironisnya, sebagian besar pengeluaran APBN kita ternyata bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi untuk yang lain: membayar utang dan bunganya; gaji pegawai negeri; juga fasilitas dan perjalanan dinas para pejabat. Bahkan tren pengeluaran untuk fasilitas dan perjalanan dinas para pejabat meningkat dari tahun ke tahun. Sebaliknya, pengeluaran untuk rakyat—melalui subsidi—terus-menerus dikurangi.
Dengan postur APBN yang seperti itu, jelas bahwa Pemerintah dengan sengaja telah menzalimi rakyat. Pemerintah telah memeras dan menindas rakyatnya sendiri. Sebaliknya, Pemerintah terus-menerus memanjakan segelintir orang (para pejabat), pihak swasta dan terutama pihak asing.
Pertanyaannya: Mengapa semua ini bisa terjadi? Apa akar penyebabnya? Apa indikasinya? Bagaimana p**a solusinya menurut Islam? Dalam sistem Khilafah, adakah yang namanya APBN, dan bagaimana penjabarannya?
Itulah di antara sejumlah pertanyaan yang akan di jawab dalam tema utama al-wa’ie kali ini, selain tema-tema lain yang aktual dan penting untuk dikaji oleh pembaca.

Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.Pembaca yang budiman, tahun 2014 ini oleh sebagian pejabat, politisi dan p...
07/02/2014

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, tahun 2014 ini oleh sebagian pejabat, politisi dan pengamat dianggap sebagai ‘tahun politik’ semata-mata karena pada tahun ini negeri ini kembali menyelenggarakan Pemilu. Penyebutan ‘tahun politik’ menyiratkan setidaknya dua hal. Pertama: Politik dalam sistem demokrasi sekular lebih didominasi oleh rebutan kekuasaan di pentas Pemilu, baik sekadar untuk menjadi wakil rakyat di pusat dan daerah ataupun menjadi presiden dan wakil presiden, yang memang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Kebetulan, setelah lima tahun lalu, Pemilu dan Pilpres diselenggarakan kembali pada tahun 2014 ini, tepatnya tanggal 9 April.
Kedua: Karena dalam sistem demokrasi politik lebih kental bernuansa rebutan kekuasaan, politik dalam arti yang sebenarnya—yakni bagaimana mengurus urusan rakyat—justru terabaikan. Pasalnya, dalam dua tahun pertama dipastikan para wakil rakyat dan penguasa akan berusaha mengembalikan modal politik yang amat besar—rata-rata miliaran, puluhan bahkan ratusan miliar untuk sebagai capres dan cawapres—terutama untuk kampanye Pemilu. Karena gaji yang ‘tak seberapa’ tak akan bisa membuat balik modal, mengkorupsi uang rakyat menjadi satu-satunya cara yang paling efektif dan efisien. Berikutnya, dalam dua tahun terakhir masa jabatan, para wakil rakyat dan penguasa itu telah mulai sibuk kembali mempersiapkan diri untuk ‘rebutan kekuasaan’ lagi atau mempertahankan kursi kekuasaannya. Lalu kapan rakyat diurus, padahal mereka dipilih oleh rakyat justru untuk mengurus rakyat? Entahlah. Yang pasti, di alam demokrasi di negeri ini, rakyat faktanya tambah sengsara dan menderita karena harga-harga makin mahal, daya beli makin menurun, biaya kesehatan dan pendidikan makin tak terjangkau, lapangan kerja makin sempit, dst. Singkatnya, rakyat tetap miskin, tetap susah dan tetap tak pernah hidup sejahtera. Yang sejahtera justru wakil-wakil mereka DPR maupun di pemerintahan.
Bagaimanapun, itulah sedikit potret demokrasi yang sesungguhnya; sebuah sistem yang nyata-nyata gagal mengurus rakyat. Pertanyaannya: Mengapa semua ini bisa terjadi? Apa akar penyebabnya? Bagaimana p**a solusinya menurut Islam?
Itulah di antara sejumlah pertanyaan yang akan di jawab dalam tema utama al-wa’ie kali ini, selain tema-tema lain yang aktual dan penting untuk dikaji oleh pembaca.

Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Menjadi Pemikir dan Politisi Islam
06/02/2014

Menjadi Pemikir dan Politisi Islam

Muhammad al Fatih 1453Ini adalah kisah ketika dunia hanya mengenal dua wilayah, Barat dan Timur. Ini adalah persaingan a...
30/01/2014

Muhammad al Fatih 1453

Ini adalah kisah ketika dunia hanya mengenal dua wilayah, Barat dan Timur. Ini adalah persaingan antara dua negara; Imperium Romawi dan Khilafah Islam. Ini adalah cerita saat dunia terpolarisasi menjadi dua bagian; Kristen dan Islam. Ini adalah epik antara dua kekuasaan; Byzantium dan Utsmani.
Pada suatu masa ketika dunia hanya terbagi menjadi dua bagian, sudah menjadi kewajaran bagi Barat untuk menaklukkan Timur. Namun ada satu pemuda yang membalik semuanya dan menaklukkan sebagian besar Barat.
Pemuda yang mengukir namanya dalam sejarah emas dunia,dengan prestasi dan pencapaian yang tidak pernah ada pada masanya ataupun sebelumnya, prestasi yang jauh melebihi masanya.
Ini adalah salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah Islam dan sejarah dunia. Pertempuran yang sangat berpengaruh pada relasi Kristen dan Islam. Serta panglima terbaik yang telah diramalkan oleh Rasulullah saw.
Harga Buku: Rp 78,000

Al-Fikru al-Islami, secara harfiah berarti pemikiran Islam. Pemikiran Islam adalah hukum terhadap fakta berdasarkan pers...
30/01/2014

Al-Fikru al-Islami, secara harfiah berarti pemikiran Islam. Pemikiran Islam adalah hukum terhadap fakta berdasarkan perspektif Islam. Fakta yang dimaksud bisa dalam bentuk aktivitas hati (a'mal al-qalb), seperti akidah; bisa dalam bentuk aktivitas fisik (a'mal al-jawarih), seperti hukum syara'; dan bisa dalam bentuk benda (asyya') yang menjadi obyek dari perbuatan fisik. Fakta-fakta ini dihukumi dengan perspektif Islam. Outputnya disebut pemikiran Islam (al-fikr al-Islami).

Karena itu, pembahasan buku ini mencakup keseluruhan hukum tentang fakta-fakta di atas. Hanya saja, keistimewaan buku ini tidak hanya memberikan gambaran hukum tentang fakta-fakta tersebut, tetapi yang lebih penting dari semuanya itu adalah buku ini memberikan kerangka berpikir (mindfream). Kerangka yang sangat berguna bagi setiap Muslim untuk berpikir dan mengambil langkah dan tindakan.

Namun, untuk sampai ke sana, pertama-tama siapapun yang mengkaji buku ini harus sampai pada tingkat mengimani pemikiran yang harus diimani, atau paling tidak sampai pada tingkat ghalabat ad-dhan terhadap pemikiran yang memang level-nya hanya pada tingkat ghalabat ad-dhan. Hingga sampai pada ihtiar sungguh-sungguh untuk mendalami dan menerapkannya dalam kehidupan. Hanya dengan cara itulah, pemikiran Islam ini akan mampu mengubah hidup kita, dan lebih jauh mengubah dunia.
Harga Buku: Rp 45,000

Address

Batam
29437

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Toko buku Al-Fatih posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share