04/06/2025
Judul: “Tenang di Pundakmu”
**Oleh: (Eny Tri Susanti)**
“Bukan rumah besar yang membuatku nyaman…
tapi pundakmu yang selalu siap kutangisi.”
Namaku Salma. Aku menikah dengan Haris tiga tahun lalu.
Pernikahan kami sederhana, tanpa pesta besar.
Cincin kawin kami pun hanya perak biasa, tapi Haris memakainya setiap hari, seolah itu mahkota.
Kami tinggal di rumah kontrakan kecil, tapi cukup untuk kami berteduh dan saling mencintai.
Haris bekerja sebagai guru honorer di sekolah swasta.
Gajinya tak seberapa, tapi dia selalu berangkat pagi dengan wajah bahagia.
Setiap pulang, dia membawa oleh-oleh kecil untukku. Kadang gorengan, kadang buku bekas dari pasar loak.
“Aku nemu buku ini di lapak, kayaknya kamu s**a,” katanya.
Dan aku tersenyum, bukan karena bukunya…
tapi karena dia selalu ingat aku, bahkan dalam kesederhanaannya.
Aku tahu Haris lelah. Tapi dia tak pernah mengeluh.
Bahkan ketika aku hamil dan harus berhenti bekerja, Haris menenangkan:
“Rezeki kita Allah yang jamin, Sayang. Tugas kita cuma berusaha dan saling percaya.”
Dan dia benar.
Setiap bulan cukup, walau pas-pasan.
Kami bahagia bukan karena isi dompet, tapi isi hati kami yang saling menguatkan.
Suatu malam, listrik rumah kami padam karena belum bayar.
Aku menangis di dapur, merasa gagal jadi istri.
Tapi Haris memelukku sambil berkata pelan:
“Kita nggak miskin, Sayang. Kita cuma sedang diuji. Tapi asal kamu tetap bersamaku, aku kuat menghadapi apa pun.”
Aku menangis lebih keras, tapi kali ini dalam pelukan yang penuh ketenangan.
Waktu terus berjalan.
Anak pertama kami lahir, dan Haris mencium keningku di ruang bersalin sambil berbisik:
“Terima kasih ya, sudah kuat. Kamu ibu terbaik untuk anak kita.”
Kini kami masih tinggal di kontrakan yang sama.
Masih makan sederhana. Tapi kami kaya.
Kaya dalam sabar, kaya dalam syukur.
Karena rumah tangga bukan tentang seberapa sering kamu tertawa…
tapi seberapa kuat kamu saling menggenggam, saat dunia terasa berat.