Cerita Bareng MbaMoll

Cerita Bareng MbaMoll Cerita pendek yang menyayat hati serta memberikan inspirasi...
Semoga terhibur...

29/08/2026

Kalian tim mana nih guys? Kasih komentar kalian ya....

08/06/2025

Pengen buat cerbung, kalian s**a cerita apa sih? Komen yaaa...

Judul: “Masih Anakmu, Bu”Oleh: (Eny Tri Susanti)“Ibu… Aku sudah menikah. Tapi bukan berarti aku tidak ingin ditanya,‘Kam...
07/06/2025

Judul: “Masih Anakmu, Bu”

Oleh: (Eny Tri Susanti)

“Ibu… Aku sudah menikah. Tapi bukan berarti aku tidak ingin ditanya,

‘Kamu sudah makan?’ atau sekadar…

‘Apa kamu bahagia, Nak?’”

Namaku Laila.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara.
Dulu aku anak kesayangan Ibu.
Setiap pulang sekolah, beliau selalu menyiapkan teh manis dan lauk kes**aanku.
Tapi semuanya berubah sejak aku menikah.
Awalnya aku pikir wajar.
Aku sekarang punya keluarga sendiri.
Ibu pasti ingin memberi ruang.
Tapi lama-lama… bukan ruang yang kurasakan.
Melainkan sepi.
Ibu tak pernah lagi menelepon lebih dulu.
Tak pernah bertanya kabar.
Saat aku datang berkunjung, Ibu hanya sibuk dengan adik-adikku.
Aku hanya duduk memandangi beliau dari balik dinding dapur.
Padahal aku rindu.
Rindu pelukan yang dulu hangat.
Rindu percakapan panjang sambil menyisir rambutku.
Pernah sekali aku berkata sambil tersenyum getir:
“Bu, Laila kangen, lho…"
Tapi Ibu hanya menjawab singkat:
“Kamu kan sudah punya suami. Jangan terlalu sering mikirin rumah sini.”
Hatiku mengkerut.
Aku tahu Ibu tidak bermaksud jahat…
Tapi tetap saja, kalimat itu seperti tembok yang semakin menjauhkan kami.
Sampai suatu hari aku jatuh sakit.
Demam tinggi, suami sedang dinas luar kota.
Dan aku menggendong anakku sambil menangis diam-diam.
Tak ada yang tahu.
Tak ada yang bertanya,
“Laila, kamu kenapa?”
Ibu hanya kirim pesan ke grup keluarga:
“Besok arisan, jangan lupa ya. Bawa kue.”
Aku menangis lama malam itu.
Bukan karena demam.
Tapi karena aku merasa tak lagi menjadi "anak" di mata Ibu.
Hanya seseorang yang pernah dititipkan… lalu dilupakan.
Padahal Bu,
Aku masih ingin dimarahi karena pulang malam.
Masih ingin ditanya,
“Udah makan belum?”
“Jangan terlalu capek ya, Nak.”
Aku masih anakmu, Bu…
Sekalipun aku sudah menjadi istri dan ibu.
Hatiku tetap ingin pulang…
Pulang ke hatimu.

Judul: “Tenang di Pundakmu”**Oleh: (Eny Tri Susanti)**“Bukan rumah besar yang membuatku nyaman…tapi pundakmu yang selalu...
04/06/2025

Judul: “Tenang di Pundakmu”

**Oleh: (Eny Tri Susanti)**

“Bukan rumah besar yang membuatku nyaman…

tapi pundakmu yang selalu siap kutangisi.”

Namaku Salma. Aku menikah dengan Haris tiga tahun lalu.

Pernikahan kami sederhana, tanpa pesta besar.

Cincin kawin kami pun hanya perak biasa, tapi Haris memakainya setiap hari, seolah itu mahkota.

Kami tinggal di rumah kontrakan kecil, tapi cukup untuk kami berteduh dan saling mencintai.

Haris bekerja sebagai guru honorer di sekolah swasta.

Gajinya tak seberapa, tapi dia selalu berangkat pagi dengan wajah bahagia.

Setiap pulang, dia membawa oleh-oleh kecil untukku. Kadang gorengan, kadang buku bekas dari pasar loak.

“Aku nemu buku ini di lapak, kayaknya kamu s**a,” katanya.

Dan aku tersenyum, bukan karena bukunya…

tapi karena dia selalu ingat aku, bahkan dalam kesederhanaannya.

Aku tahu Haris lelah. Tapi dia tak pernah mengeluh.

Bahkan ketika aku hamil dan harus berhenti bekerja, Haris menenangkan:

“Rezeki kita Allah yang jamin, Sayang. Tugas kita cuma berusaha dan saling percaya.”

Dan dia benar.

Setiap bulan cukup, walau pas-pasan.

Kami bahagia bukan karena isi dompet, tapi isi hati kami yang saling menguatkan.

Suatu malam, listrik rumah kami padam karena belum bayar.

Aku menangis di dapur, merasa gagal jadi istri.

Tapi Haris memelukku sambil berkata pelan:

“Kita nggak miskin, Sayang. Kita cuma sedang diuji. Tapi asal kamu tetap bersamaku, aku kuat menghadapi apa pun.”

Aku menangis lebih keras, tapi kali ini dalam pelukan yang penuh ketenangan.

Waktu terus berjalan.

Anak pertama kami lahir, dan Haris mencium keningku di ruang bersalin sambil berbisik:

“Terima kasih ya, sudah kuat. Kamu ibu terbaik untuk anak kita.”

Kini kami masih tinggal di kontrakan yang sama.

Masih makan sederhana. Tapi kami kaya.

Kaya dalam sabar, kaya dalam syukur.

Karena rumah tangga bukan tentang seberapa sering kamu tertawa…

tapi seberapa kuat kamu saling menggenggam, saat dunia terasa berat.

Judul: “Sepasang Sandal Butut”Oleh: (Eny Tri Susanti)“Ayahku bukan orang hebat di mata orang lain.Tapi kini aku sadar…Di...
02/06/2025

Judul: “Sepasang Sandal Butut”

Oleh: (Eny Tri Susanti)

“Ayahku bukan orang hebat di mata orang lain.

Tapi kini aku sadar…

Dialah orang paling luar biasa yang pernah Allah titipkan padaku.”

Namaku Fikri. Sejak kecil aku tinggal hanya berdua dengan ayahku.

Ibuku wafat saat aku masih lima tahun.

Ayah bekerja sebagai tukang becak. Pendiam, kurus, dan sering dianggap remeh orang.

Termasuk olehku.

Aku tumbuh jadi anak yang mudah merasa malu.

Malu punya ayah dengan baju lusuh.

Malu saat ayah mengantar ke sekolah pakai becak sendiri.

Malu saat teman-teman menertawakan sandal bolong yang dipakainya.

Ayah hanya senyum. Tak pernah membalas.

Dia tetap antar aku ke sekolah, tetap beri uang jajan meski sedikit.

Ketika aku remaja, sikapku makin dingin.

Jarang bicara, sering menghindar.

Saat diajak makan bersama, aku lebih memilih makan di luar.

Saat dia belikan nasi bungkus, aku malah buang karena gengsi.

“Fikri, ini Ayah bungkusin dari warung sebelah. Masih hangat.”

“Udah, Ayah. Aku nggak mau makan makanan murahan!”

Wajah ayah menunduk. Tapi tetap diam. Seperti biasa.

Sampai suatu malam… aku pulang larut.

Lapar. Kesal. Lelah. Rumah gelap dan sepi.

Aku buka dapur, dan menemukan sepiring nasi goreng dengan telur dadar dan sambal kes**aanku.

Di sampingnya, secarik kertas:

“Maaf ya, Fik. Ayah cuma bisa masak seadanya. Semoga cukup buat ganjal perutmu.”

–Ayah

Aku mendengus. Tak memakan makanan itu.

Keesokan paginya, aku bangun karena suara tetangga panik.

Ayah ditemukan tergeletak di teras masjid.

Jatuh pingsan setelah sholat Subuh.

Kami larikan ke rumah sakit.

Tapi nyawanya tak tertolong.

Kata dokter kelelahan berat dan lambungnya luka karena sering menahan lapar.

Aku pulang ke rumah dengan dada sesak.

Menangis sendirian di kamarku.

Lalu kutemukan dompet ayah yang usang di atas meja.

Isinya hanya uang sepuluh ribu, dan selembar kertas doa.

Tulisannya:

Lanjut kolom komentar ya!!!

Judul: “Satu Mangkok Sayur, Seribu Penyesalan”Oleh: (Eny Tri Susanti)“Aku ingin suami seperti yang di Instagram: romanti...
02/06/2025

Judul: “Satu Mangkok Sayur, Seribu Penyesalan”

Oleh: (Eny Tri Susanti)

“Aku ingin suami seperti yang di Instagram: romantis, mapan, penuh kejutan.

Tapi aku lupa…

Bahwa suamiku yang sederhana adalah jawaban dari doa ibuku:

‘Semoga kau menikah dengan lelaki yang sabar dan tak pernah menyakitimu.’

Namaku Siti. Usia 28 tahun.

Menikah dengan Hasan, lelaki yang bekerja sebagai buruh bangunan.

Kami tinggal di rumah kontrakan kecil dengan dapur yang selalu bocor saat hujan.

Sejak awal pernikahan, aku sering mengeluh.

“Kapan sih bisa tinggal di rumah sendiri?”

“Aku bosan makan tempe terus, Mas…”

“Coba Mas kerja di kantor, bukan bawa pasir tiap hari!”

Hasan hanya diam. Kadang tersenyum, kadang menghela napas.

Temanku sering pamer di grup WA:

suami mereka ajak staycation, beli gelang emas, atau kirim bunga di kantor.

Sementara aku?

Hanya mendapat satu mangkok sayur bayam dan kecupan di kening tiap pagi.

“Jangan lupa sarapan ya, Siti…” katanya setiap hari sebelum berangkat kerja.

Tapi aku malah merasa jijik dengan kesederhanaannya.

Sampai suatu hari, aku pergi menginap ke rumah kakakku.

Ingin “istirahat” sejenak dari Hasan dan hidup miskin ini.

Tiga hari aku di sana. Hasan hanya mengirim pesan:

“Siti sehat? Kalau capek, nggak usah masak. Nanti Mas pulangin uang lebih.”

Aku tidak balas.

Malam keempat, aku pulang ke rumah.

Rumah kosong. Gelap. Tapi ada aroma harum dari dapur.

Di meja, ada sepiring nasi, telur dadar, dan semangkuk sayur bayam.

Lalu kudengar suara langkah dari arah kamar.

Hasan muncul dengan wajah pucat dan kaki yang dibalut perban.

“Maaf ya, Siti. Mas jatuh dari tangga proyek kemarin.

Tapi Mas sempat masak, Mas tahu kamu s**a sayur bayam.”

Aku terdiam.

Lelaki itu… yang kupandang rendah… tetap memikirkan seleraku,

bahkan saat tubuhnya sendiri sakit.

Malam itu aku menangis di sajadah.

Bukan karena Hasan marah. Tapi karena dia terlalu sabar…

dan aku terlalu buta.

Lanjut di kolom komentar ya!!!

**Judul: “Terlambat Mencintai”**Oleh: (Eny Tri Susanti)“Dia cerewet, s**a menangis, dan terlalu sabar…Maka aku mengabaik...
01/06/2025

**Judul: “Terlambat Mencintai”**

Oleh: (Eny Tri Susanti)

“Dia cerewet, s**a menangis, dan terlalu sabar…

Maka aku mengabaikannya.

Tapi saat liang kubur menelannya…

barulah aku sadar, aku telah kehilangan surga yang paling nyata di dunia ini.”

Namaku Rizal. Dan aku tidak pernah menjadi suami yang baik.

Istriku, Aini, adalah perempuan yang sangat sederhana.

Tak cantik menurut standar kebanyakan. Tak pintar berdandan. Tak pernah protes meski aku pulang larut tanpa kabar.

Kami menikah karena dijodohkan.

Dan sejak hari pertama pernikahan, aku tak pernah benar-benar mencintainya.

Aku sering marah tanpa sebab.

Sering membandingkannya dengan perempuan lain.

Sering menyindir masakannya, bajunya, bahkan tangisnya.

Dan dia?

Dia hanya diam. Sesekali tersenyum. Kadang hanya bilang,

“Maaf, Mas… Aini belum bisa jadi istri yang baik.”

Lucunya, justru aku yang jauh dari kata “baik”.

Beberapa tahun menikah, aku mulai punya penghasilan lebih.

Pergaulanku naik kelas. Aku sering pergi dengan teman-teman kantor.

Pulang makin malam, kadang tidak pulang.

Dan Aini tetap menungguku.

Dengan secangkir teh. Dengan wajah lelah. Dengan mata sayu.

Dan satu kalimat yang terus ia ucapkan:

“Mas sudah makan?”

Aku tak pernah sadar… bahwa itu adalah bentuk cinta paling tulus.

Suatu malam, Aini demam tinggi.

Aku menganggapnya sepele.

Bilang saja, “Minum paracetamol, besok juga sembuh.”

Paginya, dia pingsan di dapur.

Dan itu terakhir kalinya aku melihat matanya terbuka.

Dokter bilang ia terlambat ditangani. Infeksi berat.

Hanya sempat masuk ICU sebentar… sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Saat aku pulang dari rumah sakit, aku melihat kamarku kosong.

Tapi rapi. Teratur. Seperti biasa.

Di atas meja, ada surat. Tulisan tangan Aini.

“Mas Rizal…

Terima kasih sudah menikahi Aini.

Maaf kalau Aini belum bisa membahagiakan Mas.

Tapi setiap malam Aini selalu berdoa…

agar Allah jaga Mas walaupun Aini nggak pandai menjaganya.

Lanjut kolom komentar

Address

Jalan Rasemun No 37
Batu

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Bareng MbaMoll posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category