05/06/2018
Buku “Pak AR Sang Penyejuk” tebal xxvi + 298 Halaman (ukuran 197-134 mm). Harga Rp 65.000,-
Pengantar: Ahmad Syafi’i Maarif
Pak AR, Ulama Penyejuk Hati
Siapa pun yang pernah mengenal pribadi dan mendengar ceramah Pak AR (KH Abdur Rozaq Fachruddin) di era 1970-1990 an, niscaya akan terkesan: Beliau seorang ulama yang sederhana, tawaduk, wara’, dan merakyat. Begitu sederhananya kehidupaan beliau sehingga sampai akhir hayatnya, Pak AR tak punya rumah. Rumah di Jl Cikditiro 19 A (yang kemudan berubah menjadi Cikditiro 23, kini kantor PP Muhyammadiyah) – tempat kos Syaefudin Simon, penulis buku Pak AR Sang Penyejuk, adalah pinjaman Muhammadiyah.
Pak AR adalah ulama yang tawadhu. Rendah hati dan tidak sombong. Dalam posisi sebagai Ketua PP Muhammadiyah, orang nomor satu di persyarikatan yang punya ratusan rumah sakit dan perguruan inggi besar di Indonesia -- Pak AR kemana-mana, baik untuk berdakwah maupun menemui pembesar di Yogya, naik sepeda motor (Yamaha 70 CC, tahun 70-an). Motor berwarna oranye tersebut jadi kendaraan Pak AR sampai beliau tak mampu lagi mengeadarainya karena usianya yang sepuh. Dan harap tahu: motor Yamaha itu pun bukan milik pribadi Pak AR. Tapi sumbangan dermawan pengusaha batik, Prawiro Yuwono, karena “kasihan” melihat Pak AR. Menurut cerita Pak Sukriyanto, putra kedua Pak AR, di rumah Cikditiro pun, tak ada tivi. Karena Pak AR tak mampu membelinya. Padahal Pak AR adalah penceramah tetap di TVRI Yogya.
Kewara’annya, jangan ditanya. Pak AR tak tersentuh sumbangan yang mengguyur Muhammadiyah, baik dari pengusaha, pejabat, maupun istana. Padahal sumbangan itu melalui tangan Pak AR. Fauzi, putra bungsu Pak AR sempat nyeletuk.
“Talang kok ora teles!” (Talang air kok tak basah)
Pak AR menimpalinya: “Yo ben, talang plastik kok.” (Biar saja, talang plastik kok).
Fauzi berkomentar seperti itu karena sering diminta Pak AR menghitung uang pemberian pengusaha dan pejabat untuk Muhammadiyah melalui tangannya. Jumlahnya puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Tak sepeser pun Pak AR mengambil uang itu. Fauzi hanya menghitung, apakah uang itu utuh sesuai catatan. Hanya itu. Lalu, uang pun diberikan ke PP Muhammadiyah tanpa tercuil sedikit pun. Itulah sebabnya Fauzi menyebut ayahnya, talang air (rezeki) yang tak pernah basah.
Pak AR, meski karena posisinya sering terguyur uang, tapi tetap konsisten bersikap wara’. Dalam sebuah ceramahnya seperti dikutip buku “Pak AR Sang Penyejuk” Pak AR menyatakan, kalau hati manusia sudah menyintai harta – di mana tempanya cinta Allah? Allah, sangt pencemburu kepada para kekasihNya.
Melihat hidup Pak AR yang wara seperti itulah, banyak tokoh NU seperti Pak Ud (KH Yusuf Hasyim) dan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) menganggap Pak AR adalah waliyulllah. Sebuah gelar kehormatan untuk seorang yang alim dan wara’ di NU, yang tak ada dalam literasi Muhammadiyah.
Pak AR dikenal sebagai ulama yang merakyat. Sasaran dakwahnya rakyat kecil yang terpinggirkan. Pak AR, misalnya, lebih memilih dakwah di mushala kecil pinggir Kali Code jika ada undangan yang sama untuk berdakwah di Kepatihan (kompleks kantor walikota dan DPRD DIY). Beliau bahkan tak segan mendatangi para pelacur di Pasar Kembang untuk berdakwah. Tanpa rikuh. Karena bagi Pak AR, siapa pun orangnya, sehina apa pun pekerjaaanya, tetap punya hati nurani. Hati nurani adalah tempat Tuhan bersamayan dalam diri manusia. Itulah yang ingin dibangkitkan Pak AR.
Kenapa? Bagi pak AR, menjadi pelacur, pengemis, dan gelandangan bukan kehendak mereka. Tapi kondisi ketidakadilan yang membuat mereka terjerembab dalam kubang-kubang kehinaan. Dan Pak AR ingin menyelamatkan mereka yang terpinggirkan itu.
Salah satu keistimewaan Pak AR adalah kepiawaiannya dalam berkomunikasi. Beliau bisa berkomunikasi sangat baik, dengan rakyat maupun pejabat. Pak AR adalah sedikit orang yang bisa mengobrol berjam-jam dengan Pak Harto. Dan obrolannya, bukan hanya tentang Muhammadiyah, umat, dan negara. Tapi juga tentang hal-hal yang bersifat manusiawi seperti keluarga, kenangan masa kecil yang indah, dan sisi-sisi kemanusiaan lainnya.
Pak Harto sangat mempercayai Pak AR karena beliau tak pernah minta apa pun darinya, kecuali untuk Muhammadiyah dan kebutuhan umat. Pak AR tak pernah mau ditawari mobil, rumah, dan jabatan menteri oleh Pak Harto. Pak AR sudah merasa cukup dengan kehidupannya yang sederhana; apa adanya. Kesederhanaan adalah kekayaannya. Bagi Pak AR, cukup Allah yang menjadi sandaran hidupnya. Kekayaan dan jabatan tak pernah menjadi tujuan hidupnya.
Di buku ini, Syaefudin Simon menceritakan, bagaimana halusnya Pak AR ketika minta bantuan untuk mendirikan Universitas Muhammdiyah Yogya kepada Pak Harto. Juga ketika minta bantuan untuk membangun masjid jami’ Wates, Kulon Progo dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogya. Tak hanya itu. Pak AR juga pernah minta Pak Harto “istirahat” seperti dirinya yang mengundurkan diri dari kepemimpinan Muhammadiyah di awal tahun 1990-an. Ajaib, Pak Harto tidak marah sama sekali kepada Pak AR, meski permintaannya – kalau orang lain yang menyampaikan – niscaya membuat “penguasa Orde baru” itu murka. Ini terbukti ketika Pak AR wafat, Pak Harto termasuk orang pertama yang datang takziyah di RS Islam, Jakarta. Pak Harto p**a yang memerintahkan TNI AU menyediakan pesawat Hercules untuk mengantar jenasah Pak AR dari Jakarta ke Yogyakarta.
Kenapa demikian? Karena Pak AR berkomunikasi dengan Pak Harto menggunakan tutur bahasa yang lemah lembut (qaulan layyinan). Dalam Alqur’an, misalnya, Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut (Thaha 43-44). Padahal Fir’aun sudah mengaku jadi tuhan. Dan Allah tak menyukai kesombongan Fir’aun
Ajaran kelemah-lembutan inilah yang kini hilang di tengah umat. Alih-alih tutur bahasa lemah lembut yang sampai kepada pimpinan umat dan negara, yang menyeruak justru tutur bahasa kasar, ujaran kebencian, dan kalimat caci maki.
Bila sudah demikian, kacaulah kondisi masyarakat. Mencuatlah kebencian dan sak wasangka buruk antara pimpinan umat dan pimpinan negara; antara umat dan pimpinannya. Dan antara umat dan umat lain yang beda pandangannya. Inilah yang kini menggejala di tengah masyarakat Indonesia.
Dari perspektif inilah, keteladanan hidup Pak AR yang menyejukkan umat perlu ditampilkan kembali. Syaefudin Simon, aktivis Masjid Syuhada yang pernah kos di rumah Pak AR di Jalan Cikditiro 19 A Yogyakarta, menuliskannya dengan gaya yang khas. Gaya tulisan seorang wartawan dan eseis. Dia memberikan figura indah terhadap keteladan hidup Pak AR, ulama penyejuk hati itu.
Syaefudin Simon tak hanya menulis biografi keteladanan Pak AR. Tapi juga memberinya perspektif dalam konteks filsafat, sufisme, pluralisme, dan toleransi kehidupan beragama. Karenanya, buku ini enak dibaca dan perlu. Juga mengasikkan dan menginspirasi. Membaca buku ini, seakan Pak AR hidup kembali di tengah kita.
Akhirnya, di tengah kehidupan umat yang haus kekuasaan dan cinta harta, keteladanan Pak AR bisa menjadi cermin sekaligus oase kehidupan kita. Humor-humor tulus Pak AR yang membuat senyum dan penjelasan Pak AR yang sederhana dan indah tentang kehidupan beragama, menyadarkan kita bahwa Islam itu agama rahmat untuk kemanusiaan. Agama yang menyelamatkan dan cinta kehidupan. Bukan agama laknat yang acap tampil di permukaan, seperti yang kita saksikan di berbagai belahan dunia saat ini.
Itulah misi Islam dan kitab sucinya, Alqur’an. Islam diturunkan Allah sebagai agama yang santun, indah, dan rahmah. “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta” (Al-Anbiya 107).