FDL STORE

FDL STORE FDL STORE ONLINE SHOPPING

18/01/2019

โ–ˆโ–ˆโ–ˆ ๐๐”๐‹๐” ๐Š๐”๐‚๐ˆ๐๐† ๐€๐๐ƒ๐€ ๐‘๐Ž๐๐“๐Ž๐Š ? โ–ˆโ–ˆโ–ˆ
----------------- ๐–๐€๐‰๐ˆ๐ ๐๐”๐๐˜๐€
โ›” ๐’๐€๐‘๐”๐๐† ๐“๐€๐๐†๐€๐ ๐†๐‘๐Ž๐Ž๐Œ๐ˆ๐๐†โ›”
โ™จ ๐˜ฝ๐˜ผ๐™๐˜ผ๐™‰๐™‚ ๐™Ž๐˜ผ๐™ˆ๐™‹๐˜ผ๐™„ ๐˜ฝ๐˜ผ๐™๐™ ๐˜ฝ๐˜ผ๐™”๐˜ผ๐™.....๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ
โ›”

๐…๐‘๐„๐„ ๐Ž๐๐†๐Š๐ˆ๐‘ ๐‰๐€๐๐Ž๐ƒ๐„๐“๐€๐๐„๐Š
2 ๐๐„๐Œ๐๐„๐‹๐ˆ ๐๐„๐‘๐“๐€๐Œ๐€ ๐“๐ˆ๐€๐ ๐‡๐€๐‘๐ˆ๐๐˜๐€
minat langsung saja whatap
klik๐Ÿ“ฒ >> http://bit.ly/fasresponsSTG
klik๐Ÿ“ฒ >> http://bit.ly/fasresponsSTG
klik๐Ÿ“ฒ >> http://bit.ly/fasresponsSTG

Doa Kami Selalu, untuk keselamatann Saudara - saudara kita di Palu dan Sekitarnya.
29/09/2018

Doa Kami Selalu, untuk keselamatann Saudara - saudara kita di Palu dan Sekitarnya.

18/09/2018

๐๐ˆ๐’๐€๐” ๐๐ˆ๐๐“๐€๐‘
-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-ฬถ-
>> แดŠแด€ษดษขแด€ษด แด…ษชแด›แดษดแด›แดษด - ส™ษชแด‹ษชษด แด˜แด‡ษดษขแด‡ษด >>>๐Ÿ“ฒ http://bit.ly/pisaupintars

12/09/2018

๐‡๐š๐ญ๐ข-๐‡๐š๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ ๐Š๐ฎ๐œ๐ข๐ง๐  & ๐€๐ง๐ฃ๐ข๐ง๐ 
ini solusinya
๐’๐š๐ซ๐ฎ๐ง๐  ๐“๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐†๐ซ๐จ๐จ๐ฆ๐ข๐ง๐ 
minat langsung saja whatapp
klik >> https://bit.ly/fastnfuriusrespons
โ›”๐™ ๐™๐™ช๐™จ๐™ช๐™จ ๐™Ÿ๐™–๐™—๐™ค๐™™๐™š๐™ฉ๐™–๐™—๐™š๐™  - ๐™จ๐™ช๐™ง๐™–๐™—๐™–๐™ฎ๐™– - ๐™™๐™ก๐™ก ๐™๐™๐™€๐™€ ๐™Š๐™‰๐™‚๐™†๐™„๐™ ( syarat dan ketentuan berlaku )
โ™จ๐˜ฝ๐˜ผ๐™๐˜ผ๐™‰๐™‚ ๐™Ž๐˜ผ๐™ˆ๐™‹๐˜ผ๐™„ ๐˜ฝ๐˜ผ๐™๐™ ๐˜ฝ๐˜ผ๐™”๐˜ผ๐™.....

JANGAN DIBACA !!!! BIKIN AIRMATA KELUARBerikut Tulisan panjang yang membuat mata basah dari Wewey Wita, atlit yang baru ...
30/08/2018

JANGAN DIBACA !!!! BIKIN AIRMATA KELUAR

Berikut Tulisan panjang yang membuat mata basah dari Wewey Wita, atlit yang baru saja menyumbangkan emas dan membuat kita bersorak syukur saat kata " Indonesia" di ucapkan. Mereka berjuang dan berpelukan dalam selubung merah putih. Kami Bangga padamu Wewey Wita. Kamu manis

Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya
Oleh : Wewey Wita

Segala hal tentang hidupku serupa paradoks.

Aku seorang perempuan. Aku berdarah Tionghoa dan papaku warga negara Singapura. Aku bertarung untuk Indonesia.

Ada sebuah streotipe di negara ini bahwa orang-orang Tionghoa pasti mapan dan berada. Tentu saja itu omong kosong. Percayalah, jika situasi ekonomi setiap keluarga ibarat garis start bagi anak-anak yang terlahir darinya, aku mulai jauh, jauh, dari belakang.

Pada mulanya keluarga kami berkecukupan. Namun, suatu ketika Papa, yang berbisnis kayu, ditipu rekannya sendiri. Hidup seketika jadi bak abu di atas tanggul. Segalanya goyah, lalu ambruk. Bank menyita rumah, mobil, dan harta lainnya. Hidup di kota semakin menekan. Kemiskinan mendesak kami ke tepi.

Papa memboyong seluruh keluarganya ke kampung halaman Mama di Ciamis. Tinggal di kota kecil tak serta merta membuat hidup kami membaik. Papa enggan menumpang di rumah nenek karena ia enggan jadi beban. Ia ingin mandiri walau sulit.

Kami tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Papa dan Mama mencoba bangkit berkali-kali, mulai dari berjualan bakso hingga barang-barang kelontong. Kami berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi.

Utang membengkak. Kami bahkan tak sanggup menanggung biaya keperluan sehari-hari seperti beras, minyak, gula dan lain-lain. Suatu kali listrik rumah kami diputus karena pembayaran terlalu lama ditunggak. Bermalam-malam gelap gulita. Untuk mengecas ponsel Papa, satu-satunya alat komunikasi kami, aku terpaksa menumpang di rumah tetangga.

โ€œMemang listrik punya nenek moyang lu?โ€

Bentakan itu akan selalu tergiang dalam kepalaku.

Papa bernama asli Yeo Meng Tong. Ketika ia masih berduit, orang-orang memanggilnya Mr. Tong dengan lagak manis. Begitu kami kere, orang enteng saja menyapanya Atong. Terkadang malah Otong. Itu membuatku jengkel. Kau tahulah, itu nama yang sering diberikan laki-laki buat alat kelaminnya sendiri.

Bagaimana pun, aku selalu merasa beruntung memiliki Papa yang tangguh dan penyabar. Dia tak pernah menyuruh istri atau anak-anaknya bekerja buat meringankan bebannya. Bahkan hal-hal sepele seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring, sering ia lakukan sendiri.

Aku pernah memergokinya berkata, dengan mesra, kepada Mama: โ€œBiar Papa saja.โ€ Papa adalah pemimpin keluarga kami, dan ia mengerti bahwa pemimpin sejatinya ialah pelayan.

Papa tak banyak bicara. Dia selalu memberi contoh dengan tindakan. Sifat konsekuen papa mulai kutiru sejak aku kecil. Sedari dulu aku sudah menyadari aku harus punya andil dalam keluarga ini.

Sejak kecil aku terbiasa bergaul dengan laki-laki. Aku jago bermain kartu dan gundu. Jika menang, gundu dan kartu mereka yang kumenangkan bisa kujual kembali. Uangnya kuserahkan ke Mama.

Itu bukan satu-satunya trik yang kupunya buat mencari uang. Bukan, bukan beternak tuyul. Dulu, ada snack berharga Rp500 yang kadang berisi hadiah uang Rp.5,000. Di warung langgananku, satu demi satu bungkus snack itu kukocok, kutimbang, kudengarkan bunyinya. Kalau cocok, aku ambil. Jika tidak, dengan polosnya aku akan berlalu meninggalkan penjaga warung yang cemberut karena barang dagangannya aku acak-acak. Konyol, jelas. Naif, mungkin. Tapi kisah itu benar belaka.

Saat aku lahir, Papa menamaiku Yeo Chuwey. Dalam bahasa Indonesia, artinya cukup keren: nomor satu yang paling bersinar. Sayang, kegaduhan politik di Indonesia waktu itu membuat Papa berpikir nama Tionghoa hanya akan membuat hidupku makin sulit. Maka, di akta kelahiranku tertera nama utama yang โ€œlebih Indonesiaโ€: Wewey Wita.

Sampai di sini, setelah mengetahui latar belakang keluargaku, kau mungkin mengira aku seorang atlet badminton, wushu, kungfu, basket, bridge, atau olahraga-olahraga yang telanjur lekat dengan etnis Tionghoa. Salah, aku adalah seorang pesilat.

Pencak silat cenderung lebih dekat dengan identitas keindonesiaan yang dibatasi pada satu entitas yakni etnis Melayu. Berkulit coklat, bukan kuning. Tentu pencak silat sendiri tak melahirkan sekat-sekat itu. Pembatasan, kukira, hanya ada dalam kepala kita. Pencak silat, seperti Indonesia, memeluk siapa saja yang mencintainya, termasuk aku.

Aku sendiri tak menyangka silat bisa jadi bagian dari hidupku. Memang semasa kecil aku biasa bermain dengan anak lelaki dan ikut beragam ektrakurikuler olahraga, mulai dari voli dan basket hingga karate dan taekwondo. Mama selalu memaksaku menampakkan sisi feminin, sampai-sampai dia pernah memaksaku ikut lomba peragaan busana yang diadakan Radio Pitaloka, stasiun radio terkenal di Ciamis.

Aku terpilih sebagai juara 2.

Tetapi aku tak peduli. Buatku, berlenggak-lenggok itu tak nyaman. Kurasa bakatku memang olahraga. Semua guru olahraga mengenalku. Dalam berbagai kejuaraan olahraga antar sekolah, namaku selalu muncul dan mereka banggakan. Lalu, terjadilah sesuatu yang mengubah hidupku.

Dalam sebuah pesta perpisahan kakak kelas, seorang guru mendatangiku. Dengan enteng dia bilang: โ€œWewey, Bapak udah daftarin kamu, ya. Uang pendaftaran sudah masuk. Dua hari lagi pertandingan.โ€

Tentu aku terbelalak. โ€œTanding apa, Pak?โ€ kataku.

โ€œSilat.โ€

Aku bingung. Mau membantah takut durhaka. Tapi kalau harus mengembalikan uang pendaftaran, aku tak tahu harus mencari ke mana. Dengan terpaksa, aku menurut.

Hanya ada dua hari untuk belajar. Dan yang lebih ajaib, guru itu hanya mengajariku etiket masuk gelanggang, salam kepada wasit, dan hal-hal sepele lainnya. Sama sekali tak ada teknik pertarungan. Dan, oh, untuk kejuaan pertamaku itu, meski masih kelas 4 SD, berat badanku melewati ambang batas yang ditentukan. Maka, aku diturunkan melawan anak-anak SMP.

Takut? Jelas. Musuhku adalah atlet-atlet pencak yang punya jam terbang, sedangkan aku cuma berlatih memberi salam selama dua hari. Aku menang dengan skor 3-2 dalam pertandingan pertamaku berkat teknik tendangan karate. Tendang, tendang, dan tendang. Aku gagal menjadi juara umum, namun saat juara terbaik diumumkan, namaku disebutkan di podium. Sejak saat itulah aku diminta guru-guru menggeluti pencak silat secara serius.

Popwilnas. Popda. Popnas. Satu demi satu kejuaraan berjenjang untuk pelajar itu kuikuti.

Seperti aku jelaskan di awal, hidupku penuh paradoks. Dan itu terjadi lagi di kejuaraan senior pertamaku, saat membela Kabupaten Ciamis di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda).

Dalam sebuah kompetisi, lazimnya kasus pencurian umur terjadi saat si atlet mengurangi umur agar tak melebihi batasan. Aku malah sebaliknya. Waktu itu, atlet Porda harus berusia 17-35 tahun, sedangkan aku baru 14 tahun. "Kalau kamu siap, gampang, semuanya bisa diurus," kata pelatih kepadaku.

Saat itu, aku tak begitu paham dan peduli apakah yang kulakukan benar. Yang kuinginkan hanya ikut kejuaraan dan berprestasi. Lagi p**a, kita sama-sama tahu, sulap-menyulap bukan hal yang aneh di negara ini.

Aku memenangkan emas. Kabar soal pencurian umur yang kulakukan pun bocor dan jadi perbincangan. Namun, orang-orang sepertinya malah bangga sebab seorang atlet berusia dini mampu mengalahkan atlet-atlet yang lebih senior.

Emas Porda itu semestinya berarti bonus Rp10 juta untukku, tetapi yang kuterima hanya Rp7,5 jutaโ€”kukira aku tak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana itu bisa terjadi. Aku tak mempermasalahkan hakku yang raib, lagi p**a Rp7,5 juta bagi seorang anak SMP sepertiku saat itu sudah teramat besar.

Dari titik itulah karierku sebagai atlet pencak silat melejit. Aku bergabung dengan PPLP di Bandung.

Selain Papa dan Mama, aku beruntung memiliki kakek dan nenek yang amat berjasa ketika aku meniti karier di Bandung. Meski sulit, mereka selalu memaksaku menerima uang pemberian mereka, yang aku tahu didapat dengan susah payah.

Saat di Bandung, aku kadang tak bisa makan dengan lahap. Apakah keluarga di Ciamis sudah makan atau belum? Aku merasa telah meninggalkan keluargaku dalam situasi sulit.

Namun, pilihan pelik merantau ke Bandung harus kuambil. Hanya dari sanalah aku bisa berharap membantu Mama, Papa, dan lima adikku menyambung hidup dengan uang saku dan bonus kemenanganku di pelbagai kejuaraan.

Jika boleh jujur, aku sebenarnya sudah letih. 15 tahun aku bertarung, bertarung, bertarung. Aku sadar bahwa menjadi atlet bukan jaminan pasti untuk masa depanโ€”ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang. Namun, di sisi lain, kerja belum selesai, belum apa-apa. Aku akan berhenti hanya jika sudah memberikan prestasi terbaik bagi bangsaku, negaraku: Indonesia.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Lagi...... Lagi..... Lagi....... Terimakasih Hanifan Yudani Kusumah untuk EMAS ke 29 hari ini untuk Indonesia.Kita berju...
29/08/2018

Lagi...... Lagi..... Lagi.......
Terimakasih Hanifan Yudani Kusumah untuk EMAS ke 29 hari ini untuk Indonesia.
Kita berjuang bersama untuk mengibarkan bendera ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จdan kumandangkan Indonesia Raya tanda kejayaan KITA.


Yess EMASS Lagi..EMAS ke-26 Indonesia, dari Pencak Silat dari Nomor Seni Ganda Putri atas nama Ayu Sidan Wilantari dan N...
29/08/2018

Yess EMASS Lagi..
EMAS ke-26 Indonesia, dari Pencak Silat dari Nomor Seni Ganda Putri atas nama Ayu Sidan Wilantari dan Ni Made Dwiyanti.
Selamaattttt...Terimakasih atas perjuangan dan persembahannya yang terbaik untuk INDONESIA.Kalian LUAR BIASA...Selamat!!


JADWAL PERTANDINGAN HARI INIASEAN GAMES 2018Ayo terus dukung dan doakan para atlet kita yang berlaga di Asian Games 2018...
29/08/2018

JADWAL PERTANDINGAN HARI INI
ASEAN GAMES 2018

Ayo terus dukung dan doakan para atlet kita yang berlaga di Asian Games 2018 kareni ini adalah Asian Games Kita.



tag n share teman kamu biar ikut suport hari ini
noted : pagi ini 1 Emas dari cabang Pencak Silat

Indonesia kembali mendapat tambahan medali. Kali ini dari cabang olahraga voli pantai atas nama Mohammad Ashfiya dan Ade...
28/08/2018

Indonesia kembali mendapat tambahan medali. Kali ini dari cabang olahraga voli pantai atas nama Mohammad Ashfiya dan Ade Candra Rachmawan berhasil meraih medali perak untuk Indonesia.
Terima kasih Ashfiya dan Ade Candra, penampilan kalian di babak final tadi sungguh luar biasa. Kami bangga!

24 EMAS / 19 PERAK / 29 PERUNGGU
TOTAL : 72 MEDALI
PERINGKAT : Ke-4

MEDALI EMAS KE-24 UNTUK INDONESIA!Pasangan ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon berh...
28/08/2018

MEDALI EMAS KE-24 UNTUK INDONESIA!
Pasangan ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon berhasil memenangkan pertandingan All Indonesia Final dari cabang olahraga Bulutangkis yang luar biasa dan berhak meraih medali emas untuk Indonesia.
Selamat Kevin dan Marcus Gideon, kalian luar biasa!

Address

Bekasi
17424

Opening Hours

Monday 08:00 - 19:00
Tuesday 08:00 - 19:00
Wednesday 08:00 - 19:00
Thursday 08:00 - 19:00
Friday 08:00 - 19:00
Saturday 08:00 - 19:00
Sunday 08:00 - 19:00

Telephone

085959594354

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when FDL STORE posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to FDL STORE:

Shortcuts

Share