03/03/2022
*DARDA radhiallahu 'anha dan ABU DARDA radhiallahu 'anhu*
Memilih Agama Ketimbang Istana untuk Putrinya yang Jelita
Uwaimir bin Malik nama aslinya.
Berkunyah Abu Darda dari nama putrinya.
Abu Darda bermakna ayahnya Darda.
Mereka adalah keluarga kaya.
Hingga Abu Darda meninggalkan nikmat dunia.
Karena ia ingin lebih banyak beribadah daripada bekerja.
Ia hidup secukupnya tak perlu banyak harta.
Darda putri yang jelita.
Ia tak keberatan hidup bersahaja.
Lalu belajar agama dari ayahnya.
Hingga ia pun menjadi wanita istimewa.
Keistimewaan Darda menarik hati gubernur Syam.
Ialah shahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan.
Ia ingin melamar Darda untuk Yazid, putranya.
Namun, Abu Darda menolaknya.
Warga pun gempar mendengar berita.
Bahwa Abu Darda menolak lamaran penguasa.
Lalu memilih pria biasa untuk putrinya.
Seseorang pun bertanya mengapa.
Abu Darda menjawab sebabnya.
“Aku memilih pria yang paling baik untuk agama Darda.
Jika Darda di tengah pelayan dan jiwanya
berada di istana, akan jadi apa agamanya?”
---
*HIKMAH Kisah*
Pernahkah ayah melarangmu bermain dan berkunjung ke tempat tertentu?
Ayah akan memilihkan teman dan lingkungan yang terbaik untuk agamamu.
---
Yuk, bacakan kisah lain selengkapnya hanya di buku Shahabat Nabi & Ayahnya :)
*TRIVIA SHAHABAT NABI dari buku SNA*
*- ABADILLAH -*
Tahukah kamu?
Ada banyak sekali shahabat Rasulullah yang bernama Abdullah.
Namun hanya 4 orang Abdullah yang paling istimewa hingga dikenal sebagai Abadillah (jamak dari Abdullah).
Mereka adalah putra shahabat utama. Mereka p**a ulama di kalangannya.
Siapakah mereka?
Ialah Abdullah bin Umar bin Khaththab, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhum.
Di buku SNA, kalian akan mendapati kisah tiga dari empat Abadillah.
Tertarik dengan sosok para Abdullah?
Pendidikan apa yang ditanamkan ayah mereka hingga para Abdullah tumbuh menjadi anak istimewa?
Yuk order buku SNA -- Shahabat Nabi & Ayahnya, sebelum kehabisan waktu promonya. ^-^
*UMAR, PUTRANYA, & SEJARAH AZAN*
Tahukah kamu? Di dalam majelis diskusi para shahabat, ketika merumuskan panggilan azan untuk shalat, hadir di sana Umar bin Khaththab. Ada p**a putra beliau, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Umar turut berpendapat. Abdullah menyaksikan, merekam, hingga kemudian dialah yang meriwayatkan hadits tentang momen bersejarah tersebut.
Abdullah bin Umar berkata, “Ketika orang-orang mukmin tiba di Madinah, mereka berkumpul dan saling menyeru untuk melakukan shalat, sebab belum ada saat itu seruan khusus untuk melakukan shalat.
Pada suatu hari, sebagian mereka berkata, “Pakailah naaqus (kayu panjang dipukul dengan kayu kecil), seperti naaqus-nya orang-orang Nasrani. Sementara sebagian yang lain mengatakan, “Pakailah buq (seruling jika ditiup mengeluarkan bunyi), seperti orang Yahudi mengumpulkan pengikutnya. Kemudian Umar bin Khaththab bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mengutus seseorang untuk menyerukan shalat?” Beliau berkata, “Wahai Bilal, banghun dan serukan shalat.” (HR. Bukhari, 2:77 dan Muslim, 4:75-76)
Di balik sejarah tentang dikumandangkannya azan, kita bisa mengambil sisi hikmah lain. Ialah Umar yang seringkali mengajak putranya di majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Cukup banyak hadits & atsar yg menggambarkan kedekatan Umar dan Abdullah, putranya.
Tiga kisah di antaranya, ada di dalam buku Shahabat Nabi & Ayahnya.
Iya, tiga! Ada tiga kisah Ibnu Umar bersama ayahanda, Al-Faruq.
* *
*Masya Allah Tabarakallah*
Alhamdulillah, atas izin Allah Ta'ala hingga pagi ini buku *Shahabat Nabi & Ayahnya* sudah terpesan sebanyak 1.850++ eksemplar ^-^
---
Ayah & Bunda sudah ikut Pre Ordernya belum?
Yuk ikut list PO nya segera, sebelum harga kembali normal, lho...