13/12/2023
Ditulis oleh Wiwin Pramulia
Anakku.. bukan anak yang berprestasi. Dari SD anak ini ga pernah ikut lomba2. Bukan p**a anak yang menonjol dalam akademik.
Setelah 5 hari liburan dari mondok.. aku mulai memahami bakat anakku yang luar biasa.
Anak ini senang sekali bercerita tentang teman2nya, kakak kelas, ustadzah, pengurus sekolah. Tentang kekagumannya pada orang2 yang berprestasi, pinter, baik, ramah.
Dia s**a sekali memuji. Semua temannya, kakel, ustadzah : cantik, pintar, baik. Dia mengingat banyak nama-nama orang.
Dia selalu bercerita ttg orang lain secara positif dgn mata berbinar2.
Ketika saya tanya apa yang paling dia s**ai dari sekolahnya? Jawabannya ga ada kaitannya sama akademik π. Dia s**a sekali melihat aksi panggung, pertunjukan dari kakel & teman2nya. Dia s**a bertepuk tangan & sering terlihat duduk paling depan. Dia s**a dengan ibu kantin & ibu penyapu sekolah karena ramah. Dia s**a teman sekamarnya. Dia s**a Ustadzahnya yang sabar.
Aku jadi teringat sebuah tulisan yang pernah kubaca beberapa tahun silam :
βBu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.β
*βIBU... AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN... AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALANβ*
Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.
Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, tidak ada hasad & berjiwa besar. MENGAPA ANAK-ANAK KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK & JUJUR.
MasyaAllah tabarakallah anakku adalah SUPPORTER YANG HEBAT β€οΈ