19/03/2026
BAGI SEBAGIAN ISTRI, LEBARAN BUKAN HARI RAYA, TAPI HARI BERTAHAN
Wilda Wahab
Ternyata, tidak semua perempuan menyambut Lebaran dengan bahagia. Ada yang memakai gamis terbaiknya, tapi sepanjang perjalanan ke rumah mertua, dadanya justru penuh sesak. Ada yang tersenyum saat turun dari kendaraan, padahal semalaman ia tidak benar-benar tidur. Ada yang duduk di ruang tamu yang penuh orang, namun hatinya merasa paling sendirian.
Tadi, saat membuka TikTok, aku menemukan video seorang istri yang berkata bahwa ia malas Lebaran. Bukan karena ia benci hari raya, bukan karena ia tak s**a silaturahmi, tapi karena setiap lebaran, ia harus datang ke rumah mertuanya, bertemu ipar-iparnya, duduk bersama orang-orang yang secara nama disebut keluarga, namun kehadiran mereka justru membuat batinnya letih.
Aku sempat membaca beberapa komentarnya. Dan yang kutemukan bukan satu dua keluhan, tapi banyak sekali perempuan yang ternyata menyimpan rasa yang sama.
Ada yang mengaku dadanya sesak setiap kali hendak ke rumah mertua. Ada yang tidak bisa tidur semalaman jika tahu besok harus berkumpul dengan keluarga suami. Ada yang berkata, “Bukan badan yang capek… tapi batin.” Bahkan ada yang menulis terang-terangan: “Aku trauma.”
Ini bukan cerita satu rumah. Bukan keluhan satu dua orang. Dan ini bukan p**a soal perempuan yang terlalu sensitif, Ini nyata. Dan diam-diam, jumlahnya banyak.
Ada perempuan yang memakai baju terbaik saat Lebaran, tapi hatinya seperti sedang dibawa ke ruang ujian. Ada yang terlihat anggun saat bersalaman, padahal baru saja menenangkan napas agar air matanya tidak jatuh lebih dulu. Maka kalau kamu termasuk perempuan yang mengalami itu, ingatlah satu hal: tidak semua rumah yang kita datangi terasa seperti tempat p**ang. Dan tidak semua senyum yang kita pakai berarti kita sedang baik-baik saja.
Lalu bagaimana kalau ujianmu memang ada di sana? Bagaimana kalau yang melelahkan justru orang-orang yang secara nama disebut keluarga?
Pertama, berhentilah memaksa semua orang harus paham perasaanmu. Ada fase dalam hidup di mana kita lelah bukan karena disakiti, tetapi karena terus berharap orang yang menyakiti itu akhirnya sadar. Padahal, tidak semua orang punya kedalaman hati untuk mengerti luka yang mereka buat. Maka jangan habiskan tenagamu untuk menunggu mereka berubah.
Kedua, jangan salah paham tentang sabar. Banyak perempuan hancur karena terlalu lama diajari satu kalimat yang sama: “Sabar ya…” Lalu ia menelan semuanya, menelan sindiran, menelan perbandingan, menelan kata-kata yang merendahkan, menelan suasana yang membuat jiwanya sesak. Ingat, sabar itu bukan berarti membiarkan dirimu dijadikan sasaran. Sabar bukan menyerahkan harga diri. Bukan mengizinkan luka masuk berulang kali tanpa pintu. Kalau perlu menjauh, menjauhlah. Kalau perlu p**ang lebih cepat, p**anglah. Kalau perlu membatasi waktu bertemu, batasi. Tetap sopan, tetap jaga adab. Sebab menjadi perempuan baik tidak pernah berarti harus rela hancur agar disebut santun.
Ketiga, jangan jadikan rumah mertua sebagai pengadilan nilai dirimu. Ini yang paling sering tak disadari. Banyak istri p**ang dari rumah keluarga suami bukan hanya membawa lelah, tapi juga membawa keraguan pada dirinya sendiri. Merasa kurang cantik karena dibandingkan. Merasa kurang pandai karena diremehkan. Merasa kurang pantas karena tak pernah benar-benar diterima. Padahal, orang yang memang tidak s**a padamu akan tetap menemukan alasan, bahkan saat kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Jadi jangan jadikan penerimaan mereka sebagai cermin untuk menilai siapa dirimu. Kamu tidak menjadi buruk hanya karena mereka tidak adil. Kamu tidak menjadi kecil hanya karena mereka senang merendahkan. Kamu tidak kehilangan nilai hanya karena mereka pelit menghargai.
Keempat, kalau memang harus datang, datanglah dengan niat yang lebih tinggi. Kadang memang ada keadaan yang tidak bisa sepenuhnya kita hindari. Tetap harus hadir, tetap harus bersalaman, tetap harus duduk bersama meski hati sedang tidak baik-baik saja. Kalau memang begitu, jangan datang dengan niat ingin menang. Jangan datang dengan niat ingin membuktikan, ingin dis**ai. Datanglah dengan niat agar dirimu tidak kehilangan adab. Sebab ketika kita terlalu sibuk ingin diterima ma**sia, kita akan mudah kecewa, tapi ketika kita menjaga diri karena Allah melihat, ada kekuatan yang berbeda.
Ladies, kamu tidak perlu menjadi menantu favorit untuk tetap menjadi perempuan mulia. Kadang yang membuat seseorang tinggi di sisi Tuhan bukan hidup yang mudah, melainkan caranya menjaga akhlak saat diperlakukan tidak layak.
Kelima, rawat hatimu setelah p**ang. Ini penting. Dan sering sekali diabaikan. Jangan p**ang dari rumah mereka lalu membawa semua racun itu untuk diminum sendirian berhari-hari. Kalau ada ruang untuk bicara, bicaralah pada suami dengan tenang, bukan saat emosimu sedang penuh. Kalau belum memungkinkan, carilah tempat yang aman untuk menenangkan hati: berdoa dan memberi jeda. Karena tidak semua perempuan diuji dengan kekurangan harta. Sebagian diuji dengan orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga, tetapi justru menjadi sumber letih paling lama. Dan bila itu yang sedang kamu alami, semoga Allah menjaga hatimu, menguatkan langkahmu, dan membuatmu tetap utuh meski sering p**ang dengan luka yang tak terlihat.