Rantisi Muslim Store

Rantisi Muslim Store Menyediakan buku Islam, busana muslim dan aneka keperluan muslim lainnya.

Gubernur Bank Indonesia Mengundurkan diri Selama beliau menjabat berhasil meluncurkan:- QRISKita bisa dengan mudah trans...
28/07/2026

Gubernur Bank Indonesia Mengundurkan diri

Selama beliau menjabat berhasil meluncurkan:
- QRIS
Kita bisa dengan mudah transaksi antar e-wallet ataupun bank

- BI-FAST
dulu admin transfer antar bank 6,5k tapi karna ada BI-FAST jadi hanya 2,5k

Mundurnya Pak Perry Warjiyo bisa diartikan kalau Ekonomi kita tidak baik-baik saja 💀

Sebenernya negara bisa memaksa para ayah ini untuk membayar nafkah untuk anaknya dengan cara menagih dan memberikan mere...
05/07/2026

Sebenernya negara bisa memaksa para ayah ini untuk membayar nafkah untuk anaknya dengan cara menagih dan memberikan mereka sanksi seperti pajak.

Para ayah ini diwajibkan transfer ke rekening VA tertentu dengan besaran sesuai dengan putusan pengadilan dan batas waktu yang ditentukan, misalkan tanggal 10 tiap bulan. Atau bisa dibuat menjadi utang bank, bank "menalangi" nafkah anaknya, suami melunasinya ke bank. Jika tidak membayar, negara akan emngejarnya dengan tagihan, memaksa dengan memberikan sanksi seperti mewajibkan denda atau (seperti di Surabaya) menghambat layanan publik baginya.

Dengan ini para janda itu ga harus mengemis nafkah anak kepada mantan suaminya, negara hadir untuk itu, si janda tinggal nunggu transfer dari bank (dan bukan dari suami). Tinggal negara memaksa para janda ini dengan menggunakan uang mafkahnya sesuai dengan kebutuhan anak, bila perlu diminta laporan untuk apa uang itu dibelanjakan, jangan-jangan dipake arisan dan flexing biar dapat duda baru.

Ini pasti butuh kerjasama antar lembaga, seperti lembaga mana yang diberi wewenang untuk menagih? apakah peradilan atau diserahkan ke lembaga lain? bagaimana kerjasama dengan bank? Itu semua simpel aja sebenernya, karena Kopdes Merah Putih aja bisa berjalan, padahal melibatkan banyak sekali lembaga: Kemenkeu, Kemenkop, Bank Himbara, Agrinas, dan tak lupa: TNI.

Sekedar saran, kali aja bisa dipertimbangkan.

Fahmi Hasan Nugroho

ANGGARAN YANG TIDAK SESUAI NAMANYANama adalah janji. Dalam politik, nama bahkan merupakan kontrak pertama antara negara ...
28/06/2026

ANGGARAN YANG TIDAK SESUAI NAMANYA

Nama adalah janji. Dalam politik, nama bahkan merupakan kontrak pertama antara negara dan rakyatnya. Ketika pemerintah menamai sebuah kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG), publik tentu membayangkan sesuatu yang sederhana: sebagian besar uang negara akan berubah menjadi nasi, lauk, sayur, telur, susu, dan buah yang tersaji di hadapan jutaan anak Indonesia. Kata makan ditempatkan paling depan karena itulah tujuan yang hendak dicapai. Sisanya hanyalah sarana.

Tahun 2026, negara mengalokasikan anggaran sekitar Rp268 triliun untuk menjalankan program ini. Angkanya begitu besar sehingga publik berhak mengetahui satu pertanyaan paling mendasar: sebenarnya berapa persen dari uang itu yang benar-benar menjadi makanan?

Petunjuk menarik justru datang dari pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang. Saat menjelaskan penghentian sementara MBG selama libur sekolah, ia menyebut negara menghemat sekitar Rp3 triliun selama 21 hari. Pernyataan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya membuka jendela untuk membaca struktur anggaran MBG.

Jika angka Rp3 triliun dibagi 21 hari, diperoleh sekitar Rp142,85 miliar per hari. Itulah belanja yang berhenti ketika dapur tidak memasak. Dengan kata lain, inilah komponen yang berkaitan langsung dengan bahan makanan yang dikonsumsi anak.

Menggunakan asumsi sekitar 313 hari layanan efektif dalam setahun, maka total belanja makanan diperkirakan mencapai sekitar Rp44,7 triliun. Dibandingkan dengan total pagu anggaran sebesar Rp268 triliun, nilainya hanya sekitar 16,7 persen.

Artinya, jika estimasi tersebut mendekati struktur anggaran sebenarnya, maka dari setiap Rp100 anggaran MBG, hanya sekitar Rp16–17 yang berubah menjadi makanan di piring anak. Selebihnya mengalir ke berbagai komponen pendukung program.

Di sinilah ironi mulai muncul. Program ini bernama Makan Bergizi Gratis, tetapi struktur pembiayaannya tampak lebih berat menopang sistem yang memasak daripada makanan yang dimasak. Dapur menjadi lebih mahal daripada isi piringnya.

Tentu saja sebuah program nasional memang membutuhkan biaya operasional. Ada listrik, gas, transportasi, tenaga masak, distribusi, administrasi, hingga penyediaan fasilitas. Semua itu tidak mungkin dihapus. Namun persoalannya bukan pada keberadaan biaya tersebut, melainkan pada proporsinya. Ketika biaya penunjang berpotensi jauh melampaui nilai makanan yang menjadi tujuan utama program, maka publik berhak bertanya: apakah desain anggarannya sudah disusun sesuai prioritas?

Logika anggaran selalu sederhana. Yang seharusnya menjadi tujuan utama mestinya memperoleh porsi terbesar. Dalam dunia pendidikan, sebagian besar anggaran semestinya sampai kepada proses belajar. Dalam dunia kesehatan, mayoritas belanja semestinya sampai kepada pelayanan pasien. Maka dalam program yang bernama Makan Bergizi Gratis, ukuran keberhasilan pertama seharusnya adalah seberapa besar anggaran benar-benar menjadi makanan bergizi.

Realitas di lapangan justru sering memperlihatkan menu yang sangat ekonomis. Tidak sedikit sekolah menerima paket berupa roti, susu UHT, atau makanan sederhana dengan protein hewani yang minim. Fenomena ini tentu tidak otomatis membuktikan adanya kesalahan, tetapi memunculkan pertanyaan yang wajar: apakah keterbatasan nilai bahan makanan memang merupakan konsekuensi dari struktur anggaran yang terlalu berat pada biaya non-pangan?

Satirnya menjadi semakin terasa ketika yang paling "bergizi" dalam program ini justru tampak bukan makanan, melainkan ekosistemnya. Gedung tetap dibayar ketika kompor berhenti menyala. Fasilitas tetap memperoleh insentif ketika anak-anak sedang menikmati libur sekolah. Sementara satu-satunya komponen yang benar-benar berhenti hanyalah makanan itu sendiri.

Seolah-olah negara sedang berkata, "Yang penting dapurnya sehat, urusan isi piring nanti menyusul."

Dalam ilmu kebijakan publik, kondisi semacam ini dikenal sebagai goal displacement—ketika instrumen perlahan mengambil alih tujuan. Sistem yang semula dibangun untuk melayani masyarakat akhirnya lebih sibuk mempertahankan keberlangsungan dirinya sendiri. Yang semestinya menjadi alat berubah menjadi pusat perhatian, sedangkan tujuan utamanya bergeser ke belakang.

Tidak mengherankan apabila ruang publik kemudian dipenuhi pertanyaan. Apakah MBG adalah program gizi untuk anak-anak? Ataukah ia telah berkembang menjadi sebuah ekosistem pembiayaan yang tujuan akhirnya justru menjaga agar roda organisasinya terus berputar?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan mengingat program ini juga pernah diterpa persoalan hukum yang menyeret sejumlah pejabat Badan Gizi Nasional pada periode sebelumnya dalam perkara dugaan korupsi pengadaan. Terlepas dari proses hukum yang masih berjalan terhadap pihak-pihak terkait, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tata kelola MBG memang memerlukan tingkat transparansi yang jauh lebih tinggi daripada sekadar pernyataan pers.

Langkah koreksi yang dilakukan pimpinan baru BGN, seperti moratorium sebagian SPPG, audit internal, serta upaya efisiensi, patut diapresiasi sebagai ikhtiar memperbaiki tata kelola. Namun koreksi administratif saja belum cukup. Yang lebih penting adalah membuka struktur anggaran secara rinci kepada publik: berapa rupiah yang benar-benar menjadi makanan, berapa yang menjadi biaya operasional, berapa yang menjadi sewa fasilitas, dan bagaimana seluruhnya diawasi.

Karena pada akhirnya rakyat tidak sedang membeli cerita keberhasilan. Rakyat sedang membayar sebuah program melalui pajak dan utang negara. Yang mereka minta bukan pujian, melainkan kejelasan.

Nama sebuah program adalah janji moral. Bila namanya Makan Bergizi Gratis, maka ukuran keberhasilannya bukanlah banyaknya dapur yang berdiri, bukan p**a megahnya bangunan operasional, melainkan seberapa bergizi makanan yang benar-benar sampai ke mulut anak-anak Indonesia.

Sebab sejarah selalu mengingat satu hal yang sederhana: ketika nama dan kenyataan berjalan berlawanan, yang pertama kehilangan makna bukanlah anggarannya, melainkan kepercayaan rakyat.

Sumber: Facebook Rudi Sinaba

Inikah yang dimaksud budaya nusantara yang adiluhung itu?
22/06/2026

Inikah yang dimaksud budaya nusantara yang adiluhung itu?

Investor itu memahami pasar dengan data, bukan narasi.Saya nemu tulisan yang membandingkan turunnya IHSG hari ini dengan...
07/06/2026

Investor itu memahami pasar dengan data, bukan narasi.

Saya nemu tulisan yang membandingkan turunnya IHSG hari ini dengan saat covid, yang mana penurunan hari ini dikatakan belum separah saat covid. Masih dengan narasi yang serupa dikatakan bahwa penurunan nilai rupiah hari ini juga belum separah penurunan saat 1998.

Satu hal yang luput dari a**lisis itu adalah bahwa saat itu penurunan IHSG dan Rupiah ga terjadi sendirian. Saat Covid, Indeks pasar modal global turun bersamaan dan bisa recovery dengan singkat. Saat krisis 1998, sebagaimana yang saya tulis kemarin, semua mata uang ASEAN terkena dampak penurunan, termasuk Dolar Singapura meski tak separah yang lain.

Adapun hari ini, iHSG dan Rupiah turun terjadi sendirian. Tidak ada krisis yang berarti dan berdampak secara global ataupun regional seperti Covid dan krisis 1998. Pasar memang sempat resah ketika krisis selat Hormuz terjadi, tapi kini pasar sudah lebih tenang. Banyak mata uang ASEAN yang menguat dibanding USD, banyak indeks global yang naik, bahkan Indeks S&P 500 beberapa kali mencatat all time high, berbeda dengan IHSG yang justru kinerjanya menjadi yang terburuk dengan Rupiah yang kini ditutup di all time low.

Outflow dana asing tidak hanya terjadi di Pasar Modal, di Pasar Obligasi juga terjadi outflow. Dalam laporan CNN Indonesia (25/5), mengutip pernyataan Josua Pardede, dinyatakan hanya Indonesia yang mengalami outflow di Pasar Obligasi di banding negara-negara Asean lain.

Apa yang hendak ditunjukkan dari data ini?

Pasar saham dan pasar obligasi adalah tempat para manajer investasi asing menyimpan dana yang dititipkan kepada mereka. Karena memegang "uang orang lain", maka mereka akan lebih sensitif terhadap perubahan kondisi negara. Jika penurunan itu tidak terjadi karena krisis besar dan kita malah turun sendiri dibanding negara-negara lain, itu berarti ada yang salah di sini.

Mau tau sedihnya riset di Indoensia?funfact, anggaran riset BRIN di 2026 ini cuma Rp1,9 Triliun. Bandingin sama...> dana...
03/06/2026

Mau tau sedihnya riset di Indoensia?

funfact, anggaran riset BRIN di 2026 ini cuma Rp1,9 Triliun. Bandingin sama...

> dana MBG yg sehari Rp 1,2 Triliun
> Singapura yg anggaran risetnya Rp 60 Triliun
> US yang anggaran risetnya $892 miliar (Rp 14.000 triliun)

Mirisnya..

> ternyata dana MBG 2 hari itu bisa nutup biaya anggaran riset BRIN setahun
> Singapura GDP 2.5x lebih kecil dari Indonesia
> tapi anggaran risetnya 31x lebih besar dari BRIN
> untuk bisa semaju US, dana riset harus ditambah 7000 kali lipat

Sedihnya lagi,

> Indonesia cuma punya 1000 peneliti per satu juta penduduk
> Singapuran punya 7000 peneliti
> 2024 BRIN buka lowongan CPNS, minimal punya gelar S3
> Gaji awalnya cuma 7 - 11jt wkwk
> Dari 500 kuota yg dibuka, yg daftar 495
> Gak penuh kuotanya wkwk
> anggaran brin pas awal dibentuk di 2021 itu Rp12 triliun
> setiap tahun semakin berkurang

25/04/2026

LGBT Merangkai Duka

Dulu takut menjaga anak perempuan. tetapi sekarang lebih takut lagi menjaga anak laki-laki.

--------
Copas tulisan dari dr. Ani Hasibuan, ahli syaraf di RSCM.

Sekedar berbagi cerita dari poliklinik syaraf untuk para orang tua, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah.

Sejak 1997 saya berurusan dengan para gay. Sampai hari ini belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV yang saya tangani. Yang hidup tinggal beberapa sih. Barusan suster saya lapor ada lagi yg meninggal 3 hari lalu, dengan kriptokokus meningitis (infeksi jamur di otak).

Dari pengamatan saya, gay itu ada “kasta”nya.
Ada yang dominan; biasanya yang punya uang & lebih tua secara umur.
Ada yang submissif; kalau saya perhatikan, semacam “piaraan”. Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah. Ada juga yang kelas sandal jepit (bukan yang harga 18 ribu ya... )

Perlakuan dari yang dominan pada piaraan juga berbeda, sesuai KW si piaraan. Yang KW ori diperlakukan sangat istimewa.

Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, USA. Dia di sini tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis & kelihatan anak baik. Sang dominan sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget ya... dominannya ini seorang aktivitis LSM anti HIV! Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus2 punggung si submissif sambil bilang, “Sakit ya sayang? Yang mana yg sakit? Sabar ya sayang..” (Untung saya masih setia pada sumpah hipocrates. Kalau saya berkhianat, si dominan itu mau saya suntik fentanyl 1000 cc biar mokat, mampus..!).

Tetapi saya pernah juga mendapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis Tuberculosis. Jadi lumpuh kedua kakinya tiba2. Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Si submissifnya dibentak2, gak ada sayang2nya. Si submissif ini tampilannya sih kelas sandal jepit, manggil dominannya "Abaaangg...”
(jijik ya mendengarnya ).

Ada juga piaraan bayaran. Satu pasien saya asal Jogja (sekarang sudah meninggal dengan toksoensefalitis; bisul di dalam otak, karena kuman toksoplasma yang sering menempel di badan kucing, anjing). Mengaku dia bayaran, dipiara seorang laki2 Cina utk bayaran 1000 sampai 2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak & istrinya... 😩. Dia ini sejatinya bukan gay, jadi semacam pelacur lelaki (gi**lo) yang kerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan HIV & tokso, menangis meraung2. Selama dirawat baca Qur’an terus. Kalau saya periksa selalu terisak2 & bilang menyesal. Pas ketemu bininya saya yang berkaca2. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dgn dua balita yang juga berhijab.

Ada juga gay kakak adik. Sejak kecil dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tau2 yang kakak kena kriptokokus. Dicek HIV positif. Ditanya pasangannya siapa? Dia bilang adiknya. Pas adiknya dicek, positif juga HIV-nya. Kedua2nya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yg sama. Ayahnya sampai anak2 itu dikubur pun enggak pernah mau datang menengok. Kecewa berat.

Hati-hati dengan anak-anak....
Ajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba2 menggoda (gay).
Jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai2..!! Pengalaman saya dari anak2 yang tegoda para 'penyuka a**s' ini, mereka makin agresif kalau yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut. Tetapi langsung berhenti kalau yang digoda langsung main fisik. (Beberapa anak muda yang digoda gay konsultasi ke saya bersama ortunya).

Bila anak bepergian, jangan ijinkan kalau sendirian...!
Usahakan beramai2, supaya nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa menawarkan apa saja; bisa uang, bisa bujuk rayu, bahkan ancaman.

Dari wawancara dengan pasien2 gay, mereka ini tadinya SEMUA pernah mengalami a**l seks, sebagian besar secara paksa! Setelahnya mereka akan sangat dijaga & ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi pergaulan gay, dst.

Cerita tentang gay semua berakhir TRAGIS...!!! Belum pernah saya dengar yang berakhir seperti di cerita fairytopia... Misalnya berakhir kayak Cinderella, happily ever after... Kisah para gay berakhir dengan toksoplasmosis, kriptokokus tuberculosis, pnemonia, kandida, dan diujungnya mati sendirian tanpa didampingi kaumnya.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua... 🙏🏻

----
Bila Anda menganggap bahwa tulisan ini bagus dan perlu diketahui oleh banyak orang, tolong bagikan kepada teman, kerabat serta handai-taulan yang lain. Demi menyelamatkan generasi penerus bangsa.... 🇮🇩🇮🇩

Terimakasih dr. Ani Hasibuan.
Semoga informasi ini dapat membantu para orang tua yang awam tentang LGBT...

Gak heran kalo angka pernikahan di negeri ini makin turun dari tahun ke tahunDan sebaliknya, angka perceraian justru mak...
30/03/2026

Gak heran kalo angka pernikahan di negeri ini makin turun dari tahun ke tahun

Dan sebaliknya, angka perceraian justru makin naik. Kita udah sering disuguhi pemandangan orang daftarin gugatan cerai atau nunggu sidang cerai sampai antri panjang.

Wahai para konten kreator yang s**a membuat konten "standar pernikahan", lihatlah hasil pekerjaan kalian ini !

Puaskah kalian melihat banyak pasangan bercerai & angka pernikahan turun akibat "standar pernikahan" yang kalian gembor-gemborkan dari konten kalian ?

Puaskah kalian jika semakin banyak kaum perempuan di negeri ini yang menstandarkan pasangannya "harus mapan, minimal harus bisa ngasih sekian juta per bulan, harus bisa meratukan istri, tidak patriarki, berpenampilan glowing, rapi, wangi, tidak pernah marah", bla bla bla ?

Jika semakin banyak pasangan bercerai & semakin banyak orang takut nikah, terus kalian mau apa ???

Bensin ngantar anak sekolah, misal, 20.000, dihemat dengan anak sekolah online, tapi orang tua harus ke sekolah untuk am...
24/03/2026

Bensin ngantar anak sekolah, misal, 20.000, dihemat dengan anak sekolah online, tapi orang tua harus ke sekolah untuk ambil MBG, bensin juga 20.000

Masih harus beli kuota, yang belum ada HP harus beli HP, yang anaknya beberapa juga repot mengkondisikan satu anak dan lainnya.

Dan pemerintah sebenarnya punya data aoutput sekolah online COVID seperti apa? Terutama kejuruan dan vokasi, hasilnya jutaan anak dengan gelar dan ijazah tanpa keahlian.

Boro-boro kebijakan basisnya big data untuk efisiensi dan efektivitas, fakta-fakta depan mata saja diabaikan.

BAGI SEBAGIAN ISTRI, LEBARAN BUKAN HARI RAYA, TAPI HARI BERTAHANWilda Wahab Ternyata, tidak semua perempuan menyambut Le...
19/03/2026

BAGI SEBAGIAN ISTRI, LEBARAN BUKAN HARI RAYA, TAPI HARI BERTAHAN

Wilda Wahab

Ternyata, tidak semua perempuan menyambut Lebaran dengan bahagia. Ada yang memakai gamis terbaiknya, tapi sepanjang perjalanan ke rumah mertua, dadanya justru penuh sesak. Ada yang tersenyum saat turun dari kendaraan, padahal semalaman ia tidak benar-benar tidur. Ada yang duduk di ruang tamu yang penuh orang, namun hatinya merasa paling sendirian.

Tadi, saat membuka TikTok, aku menemukan video seorang istri yang berkata bahwa ia malas Lebaran. Bukan karena ia benci hari raya, bukan karena ia tak s**a silaturahmi, tapi karena setiap lebaran, ia harus datang ke rumah mertuanya, bertemu ipar-iparnya, duduk bersama orang-orang yang secara nama disebut keluarga, namun kehadiran mereka justru membuat batinnya letih.

Aku sempat membaca beberapa komentarnya. Dan yang kutemukan bukan satu dua keluhan, tapi banyak sekali perempuan yang ternyata menyimpan rasa yang sama.

Ada yang mengaku dadanya sesak setiap kali hendak ke rumah mertua. Ada yang tidak bisa tidur semalaman jika tahu besok harus berkumpul dengan keluarga suami. Ada yang berkata, “Bukan badan yang capek… tapi batin.” Bahkan ada yang menulis terang-terangan: “Aku trauma.”

Ini bukan cerita satu rumah. Bukan keluhan satu dua orang. Dan ini bukan p**a soal perempuan yang terlalu sensitif, Ini nyata. Dan diam-diam, jumlahnya banyak.

Ada perempuan yang memakai baju terbaik saat Lebaran, tapi hatinya seperti sedang dibawa ke ruang ujian. Ada yang terlihat anggun saat bersalaman, padahal baru saja menenangkan napas agar air matanya tidak jatuh lebih dulu. Maka kalau kamu termasuk perempuan yang mengalami itu, ingatlah satu hal: tidak semua rumah yang kita datangi terasa seperti tempat p**ang. Dan tidak semua senyum yang kita pakai berarti kita sedang baik-baik saja.

Lalu bagaimana kalau ujianmu memang ada di sana? Bagaimana kalau yang melelahkan justru orang-orang yang secara nama disebut keluarga?

Pertama, berhentilah memaksa semua orang harus paham perasaanmu. Ada fase dalam hidup di mana kita lelah bukan karena disakiti, tetapi karena terus berharap orang yang menyakiti itu akhirnya sadar. Padahal, tidak semua orang punya kedalaman hati untuk mengerti luka yang mereka buat. Maka jangan habiskan tenagamu untuk menunggu mereka berubah.

Kedua, jangan salah paham tentang sabar. Banyak perempuan hancur karena terlalu lama diajari satu kalimat yang sama: “Sabar ya…” Lalu ia menelan semuanya, menelan sindiran, menelan perbandingan, menelan kata-kata yang merendahkan, menelan suasana yang membuat jiwanya sesak. Ingat, sabar itu bukan berarti membiarkan dirimu dijadikan sasaran. Sabar bukan menyerahkan harga diri. Bukan mengizinkan luka masuk berulang kali tanpa pintu. Kalau perlu menjauh, menjauhlah. Kalau perlu p**ang lebih cepat, p**anglah. Kalau perlu membatasi waktu bertemu, batasi. Tetap sopan, tetap jaga adab. Sebab menjadi perempuan baik tidak pernah berarti harus rela hancur agar disebut santun.

Ketiga, jangan jadikan rumah mertua sebagai pengadilan nilai dirimu. Ini yang paling sering tak disadari. Banyak istri p**ang dari rumah keluarga suami bukan hanya membawa lelah, tapi juga membawa keraguan pada dirinya sendiri. Merasa kurang cantik karena dibandingkan. Merasa kurang pandai karena diremehkan. Merasa kurang pantas karena tak pernah benar-benar diterima. Padahal, orang yang memang tidak s**a padamu akan tetap menemukan alasan, bahkan saat kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Jadi jangan jadikan penerimaan mereka sebagai cermin untuk menilai siapa dirimu. Kamu tidak menjadi buruk hanya karena mereka tidak adil. Kamu tidak menjadi kecil hanya karena mereka senang merendahkan. Kamu tidak kehilangan nilai hanya karena mereka pelit menghargai.

Keempat, kalau memang harus datang, datanglah dengan niat yang lebih tinggi. Kadang memang ada keadaan yang tidak bisa sepenuhnya kita hindari. Tetap harus hadir, tetap harus bersalaman, tetap harus duduk bersama meski hati sedang tidak baik-baik saja. Kalau memang begitu, jangan datang dengan niat ingin menang. Jangan datang dengan niat ingin membuktikan, ingin dis**ai. Datanglah dengan niat agar dirimu tidak kehilangan adab. Sebab ketika kita terlalu sibuk ingin diterima ma**sia, kita akan mudah kecewa, tapi ketika kita menjaga diri karena Allah melihat, ada kekuatan yang berbeda.

Ladies, kamu tidak perlu menjadi menantu favorit untuk tetap menjadi perempuan mulia. Kadang yang membuat seseorang tinggi di sisi Tuhan bukan hidup yang mudah, melainkan caranya menjaga akhlak saat diperlakukan tidak layak.

Kelima, rawat hatimu setelah p**ang. Ini penting. Dan sering sekali diabaikan. Jangan p**ang dari rumah mereka lalu membawa semua racun itu untuk diminum sendirian berhari-hari. Kalau ada ruang untuk bicara, bicaralah pada suami dengan tenang, bukan saat emosimu sedang penuh. Kalau belum memungkinkan, carilah tempat yang aman untuk menenangkan hati: berdoa dan memberi jeda. Karena tidak semua perempuan diuji dengan kekurangan harta. Sebagian diuji dengan orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga, tetapi justru menjadi sumber letih paling lama. Dan bila itu yang sedang kamu alami, semoga Allah menjaga hatimu, menguatkan langkahmu, dan membuatmu tetap utuh meski sering p**ang dengan luka yang tak terlihat.

Address

Jalan H. Abdul Halim Hasan No. 36, Limau Sundai
Binjai
20716

Telephone

085262000442

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rantisi Muslim Store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category