30/09/2017
"Saya terima nikah & kawinnya Wiwin Supiyah dengan mas kawin 25 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
π±ππ
Pernyataan sakral tersebut telah Saya ucapkan tepat 5 tahun lalu.
Tak terasa, sudah 5 tahun. Tapi entah kenapa, seakan kami menjalani kebersamaan ini sudah lebih 30 tahun. Kenapa? Saking rolercoasternya kehidupan yang kami alami.
Tanpa harus menunggu lama, ujian pernikahan pertama datang 18 hari pasca nikah. Kehidupan keluarga yang didambakan akan penuh dengan kebahagiaan, justru malah berbanding terbalik dengan kenyataan yang kami terima.
Ya, Saya mengalami kebangkrutan. Sangat tak mengenakkan. Sungguh mengecewakan.
"Dewa, kamu dimana? Saya mau ketemu!"
"Maaf sebelumnya, ada apa ya pak?", tanya Saya, sambil menahan rasa hati gak enak.
"Saya denger investasi yang kamu tawarkan itu ternyata bodong. Saya mau uang Saya balik! Secepatnya!!!"
Seketika, mendadak orang-orang banyak menelpon dan menghubungi Saya untuk minta ketemuan. Gak cuma itu, tak sedikit dari mereka yang langsung melayangkan ancaman macam-macam.
"Sia kamana! Tong kabur!"
"Balikkeun duit aing!"
"Ku aing penjarakeun siah!"
"Diduruk siah imah maneh!"
π±π±π±
Jujur, Saya makin deg-degan. Ya Allah... Hidup kok gini-gini amat... π
Sebelum menikah, banyak orang bilang katanya menikah akan membuatmu bahagia.
"Ah masa? Aku enggak...", jawab Saya dalam hati ketika itu.
Gak cuma itu, mereka pun pada bilang bahwa menikah itu akan mengayakan.
"Lha, kok aku sebaliknya ya? Malah bangkrut...", keluh Saya saat itu.
Tunggu.
Apakah ini ujian? Apakah ini peringatan? Apakah ini azab? Astagfirullah...
"Pasti ini gara-gara dia!"
"Tuh kan, bawa sial!"
"Saya bilang juga apa!"
Ungkapan-ungkapan yang menyudutkan istri di 1 bulan pasca pernikahan mulai keluar dari berbagai pihak. Bukan dari orang jauh, melainkan dari orang-orang terdekat.
Sedih? Pastinya.
Menangis? Jangan tanya.
Frustasi? Apalagi.
"Ya Allah, kenapa begini?", keluh Saya kepada Allah... π
Saya mencoba berpikir positif.
"Apa maksud Allah dari ujian ini?"
"Apa skenario akhir Allah setelah semua ini?"
Saya terus menjaga hati & pikiran untuk terus berpikir positif.
"Ya Allah, terimakasih Engkau telah menempaku dengan ujian ini, sehingga aku bisa semakin dekat dengan-Mu dan menghiasi malam-malamku dengan bermunajat & bersujud kepada-Mu..."
Malam berlalu. Siang pun tiba.
Lagi-lagi, ancaman yang masuk lewat handphone terus bermnculan.
"Kamu dimana?!! Saya mau ketemu!"
"Kalau uang saya gak balik, saya penjarakan kamu!"
"Awas aja, Saya bakar rumah kamu!!"
πππ
Semakin parah, karena ancaman dan hujatan di sosial media mulai bermunculan. Ranah gerak Saya pun untuk bisa move on makin dibatasi. Serba salah. Bingung mau gimana.
Saya pun terus berpikir positif. Sangka baik sama Allah. Sangka baik.
"Ya Allah, jika adanya ujian ini semakin mendewasakanku nantinya dan mendekatkanku pada-Mu, Saya ridho, Saya pasrah, Saya ikhlas..."
Tapi Istri semakin terpojokkan, "Ini gara-gara kamu!".
Sebagai suami, Saya merasa tak berguna. Tak berdaya, suami macam apa. π
Saya pun berusaha mengambil hikmah dari pernikahan yang terbilang muda ini...
"Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikanku Haura sebagai istriku. Jika seandainya Aku tak menikah dengannya, mungkin kerugian yang harus ku tanggung akan lebih dari 8 miliar. Tapi Kau jodohkanku dengannya, Engkau membuat skenario ini berubah. Terimakasih ya Allah..."
Ini adalah cara Saya merespon ujian yang Allah berikan.
Berat? Memang berat.
Sulit? Memang sulit.
Tapi sebagai mahluk Allah, siapa lagi yang akan menjadi tempat bersandar dan kembali selain pada-Nya? Allah Subhanahu Wata'ala...
Ya, Saya bersyukur karena menikahinya, Wiwin Supiyah.
Skenario yang Allah kasih, pasti untuk kebaikan kami berdua, juga keluarga.
Saya bersyukur, karena telah Allah jodohkan dengannya, semoga bisa jadi jodoh dunia akhirat. Doakan kami.
Saya bersyukur, karena Allah pilihkan , semoga bersamanya, kami bisa sama-sama berjuang menuju surga-Nya. Mohon doanya...
Aamiin...
PASTIKAN kamu termasuk orang pertama yang baca kisah lengkapnya! Klik bit.ly/fixordernovelbud atau bit.ly/joinWLnovelbud