17/10/2022
Cinta Perempuan Biasa (1)
Leny Khan
🌹🌹🌹🌹🌹
“Aku ingin kuliah, Pa,” ungkapku pelan.
Papa yang baru saja menaruh cangkir tehnya menghela napas, lalu menatapku. “Kuliah? Dari mana biayanya? Papa nggak punya uang, Papa sakit-sakitan begini, sementara adikmu masih sekolah dan butuh biaya banyak, sedangkan ibumu—”
“Aku akan bekerja dulu barang setahun untuk mengumpulkan uang,” potongku penuh keyakinan. Posisiku masih saja menunduk, tak berani membalas tatapan pria paruh baya itu.
“Lalu bagaimana dengan lamaran Zulfi?”
Aku bergeming, memilin-milin ujung baju sambil mengatup bibir. Pertanyaan ini yang sungguh sulit kujawab. Pria bernama Zulfi, seorang Sarjana Ekonomi lulusan universitas ternama di Jakarta, minggu kemarin melamarku pada Papa. Namun, aku yang baru sebulan yang lalu melepas seragam putih abu-abu belum memberi jawaban apa-apa.
Zulfi bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sebagai laki-laki ia cukup mapan. Wajahnya tidak tampan, tetapi manis, penuh kharisma. Memiliki tubuh tegap dan ... laki-laki bangetlah pokoknya! Namun, entahlah, aku belum berpikir untuk menikah. Aku hanya ingin meneruskan pendidikanku agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Bisa membantu keuangan keluarga, agar Papa tak perlu lagi bekerja menjadi buruh angkat di pasar sayur.
Aku dan Zulfi terpaut usia cukup jauh, delapan tahun. Pertama kali kami bertemu saat aku terjatuh dari motor akibat keserempet mobilnya. Dia sangat bertanggung jawab dan segera membawaku ke rumah sakit terdekat, padahal cuma luka lecet saja tapi dia begitu khawatir. Karena itu p**a aku tidak jadi melanjutkan perjalanan ke sekolah, Zulfi mengantarku p**ang kembali. Sejak kejadian itu, selama beberapa hari dia yang mengantar dan menjemputku sekolah sebagai bentuk tanggung jawab penuhnya. Bukan berdua di mobilnya, tetapi aku dengan motorku sendiri dan dia mengikutiku dari belakang dengan mobilnya. Aneh, ya?
Zulfi pun sering ke rumah dan menjadi akrab dengan Papa. Papa juga terlihat sangat menyukai pemuda itu. Hingga akhirnya minggu kemarin, dia menyatakan keinginannya untuk melamarku. Padahal sebelumnya, dia tak pernah bicara apa-apa. Tak pernah bilang s**a atau menyatakan cinta. Hanya saja dia menunjukkan lewat sikapnya yang begitu perhatian padaku dan juga keluargaku.
“Zulfi pria mapan, kamu tak perlu bekerja jika sudah menikah nanti dengannya.” Suara papa membuatku terlempar dari lamunan.
“Tapi aku sangat ingin kuliah, Pa. Aku juga ingin sukses, agar bisa membahagiakan Papa dan juga Mira. Jadi Papa tak perlu lagi bekerja.” Mataku mulai terasa berkabut. Perlahan butiran bening itu pun membasahi p**i. “Tentang Uda Zulfi, biar aku yang bicara dengannya nanti, Pa,” pungkasku seraya berlalu tanpa menunggu jawaban persetujuan Papa. Aku menuju dapur, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Air mata masih setia menemani aktivitasku, kala teringat Ibu yang kini entah di mana. Karena kemiskinan ini, Ibu memlilih pergi dengan lelaki kaya itu. Dia tak pedulikan Papa dan juga anak-anaknya. Ah, sudahlah, toh kami baik-baik saja tanpanya.
***
Setelah menelepon Zufi, aku pun bergegas melajukan motorku ke tempat di mana kami telah disepakati untuk bertemu. Meskipun usiaku baru memasuki usia sembilan belas tahun, tak menjadikanku cengeng atau takut menghadapi kenyataan hidup. Kepergian Ibu yang seharusnya ada di sini untuk mendampingiku, tak membuat diri ini patah arang. Aku mencoba menyelesaikan semua masalahku sendiri tanpa mengeluh. Jika masalah yang kuhadapi terlalu berat, aku hanya minta pertolongan pada Allah, atau setidaknya berbagi dengan Lisa, sahabat karibku sejak SMU. Sayangnya, kini Lisa sudah tidak di Bukittinggi lagi. Sejak tamat SMU dia dan keluarganya pindah ke Palembang, sebab ayahnya dipindah tugaskan ke sana.
“Sudah lama, El?” Sebuah sapaan membuatku sontak menoleh ke sumber suara. Ternyata Zulfi.
“Baru sepuluh menit,” sahutku seraya tersenyum.
“Maaf, ya, Uda telat. Tadi ada meeting kecil-kecilan sebelum p**ang.” Lelaki itu duduk tepat di depanku. Suasana kafe alam yang terletak di pinggiran Kota Wisata ini tidak begitu ramai pada sore hari. Hanya ada beberapa pengunjung saja terlihat sedang asyik mengobrol.
“Iya, Uda. Nggak apa-apa. Oh, iya, Uda mau pesan apa? Biar aku pesankan,” ucapku seraya hendak berdiri.
“Tidak usah,” cegahnya. “Uda sudah pesan tadi pas baru datang.”
Aku mengurungkan niatku untuk berdiri. Benar saja, tak lama secangkir kapucino tersaji di depannya. Diantar oleh seorang pramusaji kafe.
Zulfi menatapku, tentunya dengan senyuman khas yang ia miliki. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana perasaanku pada lelaki ini, yang jelas di dekatnya aku selalu merasa nyaman dan terlindungi. Apakah aku menganggapnya sebagai kakak atau hanya sekedar teman, aku pun tak tahu. Jika soal cinta, aku sendiri tidak mengerti apa itu cinta. Karena bagiku cinta itu adalah Papa dan Mira, adikku satu-satunya.
“Katanya kamu mau bicara. Bicara apa, El?” tanyanya.
Aku menghela napas. Lalu memberanikan diri membalas tatapannya. “Kenapa Uda ingin melamarku?”
Zulfi tertawa kecil. “Ya karena Uda menyayangimu, El,” akunya kemudian.
“Uda tahu, kalau usiaku belum genap sembilan belas tahun?”
“Tahulah, Dik. Kamu apa-apaan sih, pertanyaannya kayak begitu?” Zulfi mengerutkan dahi. Lalu ia meneguk kapucinonya sebelum menyandarkan tubuh di kursi kayu itu.
“Aku hanya tamatan SMU, Da. Sementara Uda? Uda seorang sarjana, memiliki pekerjaan yang—”
“Elya!” potongnya hingga ucapanku terputus. “Uda tidak memandang latar belakang keluargamu atau pendidikanmu. Toh keluarga Uda juga tidak keberatan. Lagian setelah menikah nanti, Uda ingin kamu jadi ibu rumah tangga, mendidik anak-anak dan menunggu Uda di rumah saat p**ang bekerja. Itu impian terbesar Uda menikahimu.”
Aku terdiam.
“Uda mencintaimu, El.”
Kali ini ada sebuah rasa sesak memenuhi rongga dada, kala ia mengatakan kalimat itu.
“Tapi aku tidak tahu, apakah aku juga mencintai Uda atau tidak. Karena aku sendiri tak paham, cinta itu apa?”
“Uda tak peduli hal itu. Cinta bisa hadir saat kita sudah bersama nanti,” tampik Zulfi.
Aku tertegun. Embusan angin sore mempermainkan ujung jilbabku, menyapa hati yang tidak tahu harus bagaimana menyambut rasa yang diungkapkan lelaki itu.
“Aku ingin bekerja, mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Aku ingin meneruskan pendidikanku, Da,” ucapku pelan.
Kali ini Zulfi terdiam, tetapi masih menatapku.
“Berarti secara tidak langsung kamu menolak Uda?” tanyanya.
Aku membuang pandangan dari tatapan mata teduh pria itu.
“Bagaimana kalau kita menikah, dan Uda akan mengizinkanmu kuliah. Uda sendiri yang akan membiayai kuliahmu,” usulnya begitu antusias.
Kugelengkan kepala. “Aku ingin kuliah dengan jerih payahku sendiri.”
“Tapi El—“
“Maaf , Uda, keputusanku sudah bulat.”
Zulfi tampak menghela napas, lalu mengembuskannya perlahan. Gurat kecewa begitu nyata terpeta di wajahnya. Ia mengangguk-angguk pelan. Lama kami saling terdiam, larut dengan pikiran masing-masing.
“Baiklah, jika memang itu keputusanmu. Uda tidak akan memaksa,” ucapnya memecah keheningan.
Huft! Aku lega sekali mendengarnya.
“Tapi ....”
“Tapi apa, Da?”
“Uda akan menunggu hingga kamu selesai kuliah.”
Aku terperanjat. “Jangan Uda, jangan menungguku! Itu terlalu lama. Menikahlah dengan perempuan yang lebih pantas. Jangan menunggu yang tak pasti, aku tak ingin Uda kecewa.”
“Kecewa? Kecewa kenapa? Kamu punya lelaki lain?” tuduhnya.
“Bukan, bukan itu maksudku, Da. Aku ....”
“Uda tidak mau tahu, Uda akan tetap menunggumu,” pungkasnya. Lalu menyesap sisa kapucinonya hingga habis. “Ayo, kita p**ang, sudah begitu sore!” ajaknya sembari bangkit.
Aku masih bergeming.
“Elya! Ayo, Dik!”
Dengan malas aku pun bangkit, berjalan mengikutinya ke luar dari kafe. Kutunggu ia di dekat parkiran saat pria itu menuju kasir.
Dari kejauhan, kutatap pria yang sudah kukenal setahun belakangan. Ia yang sangat menyayangiku dan juga keluargaku. Aku bisa merasakan kasih sayangnya yang begitu tulus, tidak dibuat-buat. Alangkah beruntungnya wanita yang bisa bersanding dengan lelaki penyayang seperti dia. Namun, apalah daya, aku punya cita-cita yang ingin sekali kuwujudkan. Yaitu membahagiakan Papa dan juga Mira.
“Uda temani kamu p**ang,” ujarnya begitu sampai di dekatku.
“Aku bawa motor sendiri, Da.”
“Uda tahu, Uda akan mengikutimu dari belakang. Memastikan kalau gadis Uda ini selamat sampai di rumah.”
Seperti biasa, tidak boleh ada penolakan saat tawaran itu ia ajukan.
Kami memang tak pernah berduaan dalam satu mobil, kami juga tak pernah pergi jalan-jalan berdua saja. Jika pun jalan, pasti ada Mira atau pun Papa. Begitulah cara Zulfi menjaga dirinya. Bertemu berdua di kafe ini pun adalah hal pertama bagi kami, itu pun karena aku yang meminta dengan sedikit desakan.
***
Keputusan sudah dibuat. Kini aku akan menjalani skenario selanjutnya.
Seminggu aku mondar-mandir mencari kerja. Namun, tak jua kudapatkan. Tapi aku tak pernah menyerah, hingga akhirnya aku diterima menjadi seorang cleaning service di sebuah perusahaan swasta yang lumayan besar. Katanya, mulai besok aku sudah boleh bekerja.
Bahagia rasanya, saat membayangkan aku akan segera kuliah dengan hasil jerih payahku sendiri. Aku berjanji, akan bekerja dengan giat. Demi Papa dan Mira.
***