Rok celana kulot Fay

Rok celana kulot Fay menyediakan kebutuhan bunda serta anak

Kehilangan semangat bun?? mungkin itu tanda ALLAH lagi rindu dengan kita..... Yuk bunda..bangun semangat lagi.. Semangat...
20/03/2017

Kehilangan semangat bun??
mungkin itu tanda ALLAH lagi rindu dengan kita.....
Yuk bunda..bangun semangat lagi..
Semangat mencari ilmu semangat mencari Rejeki yang udah Allah sebarkan dimuka bumi ini...
Semoga kedepan hidup kita lebih berarti..
AAMIIN..

Assalamualaikum... selamat pagi....
19/03/2017

Assalamualaikum... selamat pagi....

Allah memerintahkan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.Nabi Muhammad menyeru umatnya untuk terus mencari ilmu ...
19/03/2017

Allah memerintahkan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Nabi Muhammad menyeru umatnya untuk terus mencari ilmu yang disebutnya sebagai "harta karun milik orang beriman yang hilang" dan mengajarkannya.

Saat menjelang tidur, cek kembali keamaan rumah. Kunci pintu jendela, dan tengok kegiatan buah hati di dalam kamar.Janga...
15/03/2017

Saat menjelang tidur, cek kembali keamaan rumah. Kunci pintu jendela, dan tengok kegiatan buah hati di dalam kamar.
Jangan lupa matikan lampunya. Karena, tidur dalam keadaan lampu menyala ternyata banyak bahayanya (selain boros energi listrik).
Apa saja bahaya yang ditimbulkan?
Lampu yang terang bisa membuat mata tetap bekerja selama kita tertidur.
Padahal, esensi tidur adalah merelaksasi anggota tubuh supaya fit kembali di esok pagi. Selain mata, otak kita juga tetap bekerja sehingga tidur kurang nyenyak. Nah, sekarang sudah tahu kan bahayanya? Yuk, mulai sekarang tidur dalam keadaan lampu dimatikan.
Selamat malam dan selamat istirahat semuanya.
Jangan lupa panjatkan doa.

Salah satu fenomena anak dan remaja yang lagi ngetrend saat ini namanya  , kemarin saat saya menghadiri seminar parentin...
15/03/2017

Salah satu fenomena anak dan remaja yang lagi ngetrend saat ini namanya , kemarin saat saya menghadiri seminar parenting Bunda Elly Risman di Bandung pun dibahas tentang ini. Bunda Elly menyampaikan beberapa masalah dengan suara bergetar, sebagai orang tua saya pun tak terasa menitikkan air mata, trend yang memprihatinkan.
Skip challenge, sebuah tantangan yang SANGAT BERBAHAYA, dilakukan dengan menekan dada temannya sekeras mungkin dilakukan oleh 1-4 orang selama beberapa waktu dengan tujuan membuat seseorang kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, pingsan, kejang, dan bahkan bisa menyebabkan hal fatal cidera jantung dan kematian.
Mau nulis tentang ini, ehhh gayung bersambut, Bunda Elly Risman membuat tulisan khusus tentang ini dengan pendekatan psikologis disertai solusi lengkap.
Sila di simak ya parents.. Semoga membawa manfaat serta meningkatkan awarness kita sebagai orangtua kekinian.

=================
YUK TEMUKAN DAN AJARKAN KEMBALI : "KETERAMPILAN YANG HILANG" DARI ANANDA
Ditulis oleh : Elly Risman, Psi
🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺😊🌺
Teman teman tentu sudah dengar terkait permainan “Skip Challenge” bukan? Ternyata permainan ini bukan saja sudah pop**ar beberapa tahun yang lalu di US dengan nama “Choking Game” atau “Pass Out Chellenge” tapi juga sudah pernah terjadi di Indonesia sekitar 20 -25 tahun yang lalu, menurut menantu saya.
Di US permainan ini telah merenggut nyawa seorang anak laki laki berusia 11 tahun dan seorang remaja David Nuno yang menghembuskan nafas terakhir setelah pendarahan hebat karena ia tak sengaja membentur kaca, dan melukai dirinya sendiri. Setelah itu teman temannya melakukan kampanye anti permainan ini.
Permainan permainan seperti ini menurut hemat saya akan berkembang terus dan akan meningkat frekuensi kemunculannya serta tingkat kekejamannya. Hal ini tentu disebabkan oleh berbagai hal, termasuk mungkin kerusakan otak dan jiwa penciptanya dan dipermudah serta diperluas penyebarannya oleh tersedianya internet dan sosial media.
Dari sisi keluarga, berkurangnya waktu untuk bersama anak, komunikasi yang menjadi sangat terbatas, sehingga anak anak merasa kesepian, lonely, tidak berharga, kehilangan ikatan dan kehangatan dan merasa tidak diperdulikan baik fisik apalagi perasaan mereka.
Keseluruhan keadaan ini membuka peluang besar bagi anak anak untuk mencari jalan ”EXIT” dari beban rasa yang nyaris tak tertanggungkan dengan menganiaya dirinya sendiri menggunakan : narkoba, melukai dan menyakiti diri dengan menyayat tubuhnya, pornografi bahkan bunuh diri.
Beberapa tahun yang lalu saya menghadapi beberapa anak seperti tersebut diatas, antara lain menyayat tangannya dengan pisau cukur ayahnya, lalu setelah keluar darah dikirimkan ke pacarnya untuk protes mengapa tidak membalas pesan yang dikirimkannya. Sesederhana itu dan itu salah satu saja. Dari merekalah saya ketahui bahwa kegiatan seperti ini ada grup musiknya, ada lagunya dan ada support grupnya di internet.
Jadi tidak lah salah kalau hampir bersamaan dengan permainan “Skip Challenge” ini, sosmed meributkan p**a hal lain yang lebih gempar: yaitu Game yang mengajak BUNUH DIRI!.
Seperti yang dilansir oleh salah satu portal berita Indonesia beberapa hari yang lalu, game bunuh diri ini menjanjikan anak anak yang mau mengikuti permainan selama 50 hari ini dapat mengakhirinya hidupnya dengan apa yang disebut penciptanya: ”Died Happy!”
Pembuat game ini yang sekarang tersangka di Rusia karena berhasil membuat 17 remaja bunuh diri, mengatakan bahwa anak anak itu bersedia melakukan bunuh diri karena dia meyakinkan mereka akan memperoleh apa yang selama didunia ini tidak mereka dapatkan, yaitu : Warm, Understanding dan Connection!
Websitenya telah di ‘download’ lebih dari 100 juta kali. Bukan itu saja, kalau anak akan melakukan bunuh diri maka tugas akhirnya adalah memposting dulu gambar ikan yang jadi Icon dari games ini sebagai tanda dia akan melakukan tugas akhirnya: BUNUH DIRI!.
Jadi bagaimana dengan kita?.
Marilah kita menengok kedalam diri kita masing masing , bagaimana cara yang kita gunakan selama ini dalam mengasuh anak anak kita.
Saya teringat penjelasan dari seorang penulis yang bukunya sangat mengejutkan jiwa saya 12 tahun yang lalu: 2005. Buku itu berjudul: “The Epidemic”, yang ditulis oleh Robert Shaw MD. Dalam pengantar bukunya itu Dr Shaw mengatakan bahwa kondisi anak-anak saat itu sudah merupakan epidemic yaitu : Anak anak yang wajahnya merengut atau cemberut, kesal, kesepian, sikapnya tidak menyenangkan, sarat beban dan jelas nampak tidak bahagia. Dr Shaw melanjutkan bahwa kondisi ini ditemukannya di berbagai tempat. Keadaan anak-anak ini menurut Dr Shaw berada di tahap awal apa yang dia sebut sebagai “serious epidemic” yang berisi anak anak yang “terganggu” diujung perkembangannya nanti dan bisa saja menjadi penembak kawannya sendiri, seperti apa yang terjadi di Columbine High School, Litterton – Colorado 1999.
Saat itu, saya sudah gusar, karena fenomena awal yang digambarkan Dr Shaw itu bukan saja terjadi di Amerika, tetapi didepan mata, disini di negeri kita!.
Mereka ini menurut Dr Shaw bukanlah suatu penyimpangan melainkan adalah hasil alami dari cara pengasuhan yang kita lakukan yang membuat anak hidup dalam kenyamanan atau ke’makmur’an /affluent. Sekali lagi marilah kita menengok ke dalam diri kita sendiri sebagai orang tua, apakah kita mengasuh anak kita seperti yang diungkapkan oleh Dr Shaw diatas? Apakah kita telah memenuhi kebutuhan dasar anak kita berupa: Perhatian, Kasih sayang, Kehangatan, Pengertian dan Kebersamaan, serta sejuta kebutuhan jiwa lainnya? Bukankah si pencipta games bunuh diri diatas telah melakukan penelitian, sehingga menemukan kebutuhan dasar dari anak kita yang tidak terpenuhi untuk dia gunakan menjual produknya?
Tentu itu memerlukan waktu panjang untuk menemukan masalah masalah dalam keluarga kita masing masing, membicarakannya dengan pasangan dan memulai memperbaikinya pelan pelan. Tapi, kita harus bersegera menghadapi masalah yang sekarang ini sedang berlangsung disekitar anak kita. Berikut saran saya.
1. Tingkatkan lah dialog lebih dulu. Mulailah dengan belajar membaca bahasa tubuh anak kita, menebak perasaannya dan namakan. Ini salah satu cara paling efektif untuk mendekatkan diri pada anak.
2. Ciptakanlah suasana yang santai mulailah percakapan dengan hal hal yang umum, khususnya dengan apa yang terjadi hari itu pada anak dan bicaralah seputar perasaannya.
3. Lanjutkan bercerita tentang kasus diatas : “Skip Challenge”. Anda bisa mengatakan bahwa anda sudah mendengar banyak anak anak di sekolah atau di sekitar tempat tinggal teman kantor anda melakukannya. Tanyakan pengalamannya dan bagaimana perasaan dan sikapnya.
4.Tanyakan, Apakah dia pernah diajak, dipaksa oleh temannya untuk melakukan hal serupa? Bagaimana dan apa yang dia lakukan?.
5. Temukan keterampilan yang hilang. Kita sering menemukan bahwa anak kita sebenarnya sudah mencoba untuk bertahan dalam menghadapi teman temannya untuk tidak ikut ikutan melakukan sesuatu. Kemudian dia akhirnya menyerah seperti kasus Hanif diatas. Dalam hal inilah kita harus menemukan : Ketrampilan apa yang hilang pada anak kita sehingga dia menyerah.
6. Lakukan dialog untuk membantu menguraikan situasi secara bertahap Sebaiknya dialog ini dilakukan oleh ayah daripada oleh ibu. Mulai dengan menanyakan awal kejadian sebelum semuanya terjadi. Anak akan menjelaskan bahwa dia sedang bermain main dengan temannya sampai di titik dia dipaksa oleh semua teman temannya sehingga dia akhirnya menyerah.
7. Tanyakan mengapa dia menyerah, dan apa yang menurutnya harusnya dia lakukan dan mengapa dia tidak melakukannya. Jawabannya itulah yang kita sebut sebagai : “Ketrampilan yang hilang “. Pastikan dia memahaminya ada ketrampilan yang hilang dalam situasi itu yang seharusnya tidak boleh terjadi dan terulang dimasa yang akan datang. Kemudian kita minta dia mengatakan ketrampilan itu sekali lagi, misalnya :”Seharusnya aku minta maaf baik baik dan berani lari, nerobos teman temanku dan minta pertolongan orang dewasa yang ada di sekitar situ.”
8. Sambut pernyataannya dengan anthusias dan katakan :”Nah itu yang harus kamu lakukan !” Pintar anak ayah .
9. “Role Play” kan! Banyak sekali orang tua kurang faham bahwa instruksi atau kata penyemangat saja kurang KONKRIT dan tidak mudah diterapkan. Jadi PERAGAKAN – BUAT ROLE PLAYNYA .
Mengapa perlu Role Play?
1. Kita membangun kemampuan itu dalam diri anak karena kita tidak selamanya ada bersama mereka.
2. Seperti yang saya kemukakan diatas, kemungkinan hal serupa terjadi, dalam bentuk yang lebih beragam dan lebih kejam.
3. Anak harus memiliki “internal control” bukan external control.
4. Bila dialog dibuka, maka anak akan lapor apa yang dia alami sehingga kita bisa menindak lanjuti.
Bagaimana melakukan Role Play tersebut?
Caranya adalah dengan menciptakan situasi yang mirip dengan apa yang dihadapi anak.
- Misalnya kita panggil ibunya, pembantu atau supir dan adik serta kakaknya, untuk berperan sebagai teman temannya.
- Lalu kita ulang apa yang terjadi, dimana masing masing pemeran memainkan perannya
- Minta anak untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan yaitu : minta maaf dan menerobos serta melaporkan pada orang dewasa yang berada disekitar.
- Bila perlu anak melakukannya beberapa kali sehingga dia merasa yakin dan mampu
- Kita harus membantu meyakinkan bahwa dia bisa dengan kata yang positif dan menyemangati
- Kemudian membicarakan bagaimana kalau setelah itu dia di”tekan” oleh teman temannya. Prosesnya ulang semua dari awal lagi.
Begitulah teman teman, kita harus tetap berupaya untuk memantau perasaan dan pengalaman anak anak kita setiap hari. Semakin cepat kita mendeteksi apa yang dia alami, semakin cepat p**a kita menemukan dan melatih bila ada ketrampilan baru yang hilang atau yang belum dia miliki.
Perubahan terlalu cepat, mari berlari mendampingi anak anak kita dalam kehidupan yang semakin majemuk ini. Jangan lalai dan jangan abai, karena kita lah yang menerima amanah yang suatu hari nanti harus kita pertanggung jawabkan.
Bekasi, 12 Maret 2017

(Sumber: Yayasan Kita dan Buah Hati)

Jika tidak bisa menjauhi amarah, kurangilah dengan memberi jeda pada diri sendiri.. Sebelum marah, bertanyalah pada diri...
15/03/2017

Jika tidak bisa menjauhi amarah, kurangilah dengan memberi jeda pada diri sendiri.. Sebelum marah, bertanyalah pada diri sendiri..
Kenapa marah?

11/03/2017

Nasihat Pagi ..
" Setiap kali engkau memperbaiki niatmu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu "
Dan setiap kali engkau mengharapkan kabaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kabaikan dari arah yang tidak kamu sangka.
Dan saat kita hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberi kita rizki berupa orang lain yang akan membahagiakan kita.
Maka berusahalah untuk memberi, bukan menerima ..
Karena setiap kali engkau memberi, maka engkau akan menerima tanpa meminta sekalipun .
Syaikh Shalih Awadh Al Mughamisi
Imam Masjid Quba
Selamat hari sabtu,
Tetap smangat menggebu..
Semoga keberkahan dan keberlimpahan selalu menyertai kita ..
Aamiin aamiin aamiin .. .

BERHATI-HATILAH DENGAN KATA-KATA KITA SAAT BICARAKira-kira 7 tahun yang lalu saya pernah belajar ilmu Semantik atau Ilmu...
09/03/2017

BERHATI-HATILAH DENGAN KATA-KATA KITA SAAT BICARA
Kira-kira 7 tahun yang lalu saya pernah belajar ilmu Semantik atau Ilmu yang mempelajari makna kata serta efek yang ditimbulkan terhadap pikiran, perasaan dan perbuatan atau hasil.
Setiap kata yang kita ucapkan itu akan memberikan efek pada pikiran, perasaan dan tindakan kita.
Ambil contoh;
Ketika seseorang memilih kata Hiperaktif pada seorang anak, maka pikiran kita langsung beranggapan anak kita bermasalah, perasaan kita mungkin sedih, bingung, dan tindakan kita biasanya akan mengajak anak kita untuk di terapi.
Namun ketika kata tersebut kita ubah, dari Hiperaktif menjadi Energik dan Cekatan maka pikiran kita tidak lagi beranggapan anak kita bermasalah dan perlu terapi, melainkan kita akan memberikan banyak kegiatan untuk mengisi waktu luangnya agar ia bisa menyalurkan energinya melalui kegiatan tersebut.
Begitu juga dengan pilihan kata "anak nakal", yang akan berefek pada pikiran kita yang langsung menganggap anak kita bermasalah dan perasaan kita kesal, marah dan tindakan kita sering kali membentak atau menghukumnya.
Lalu saya ganti kata "anak Nakal" dengan "Anak Banyak Akal", coba rasakan perbedaan dari pikiran dan perasaan kita...., lalu apa tindakan kita selanjutnya... Marah kesal atau malah kita akan membawa anak kita untuk melakukan ekperimen membuat hal-hal kreatif dan inovatif...?
Begitu pentingnya arti kata dan pemilihan kata; dan begitu nyatanya efek sebuah kata pada pikiran, perasaan dan tindakan kita.
Saya sudah terapkan dan latihkan ini pada para guru kami; agar selalu berhati-hati dalam memilih sebuah kata dan dalam berkata-kata atau berkomentar.
Nah yang menarik adalah dalam aplikasi Agama saya punya pengalaman menarik, dulu saya sering menggunakan kata-kata "Musuh-musuh Islam"(seperti juga kebanyakan orang menggunakan kata-kata itu untuk menggambarkan orang yang tidak menyukai Islam).
Dan efek dari kata itu adalah saya jadi sering merasa benci dan marah pada musuh-musuh Islam dan hasilnya adalah saya banyak bermusuhan dengan orang lain yang saya anggap musuh Islam.
Lalu saya coba ganti kata "musuh-musuh Islam" itu dengan
"Orang-orang yang belum paham tentantang kebaikan ajaran Islam"
Dan sungguh hasilnya luar biasa, sejak saat itu saya tidak lagi merasa punya musuh, dan bermusuhan dengan siapapun, melainkan lebih fokus untuk menunjukkan kebaikan demi kebaikan dari ajaran-ajaran Islam pada orang-orang yang belum memahaminya.
Hasilnya karena saya selalu menunjukkan kebaikan demi kebaikan pada orang lain, maka orang lainpun menjadi sangat baik pada saya.
Sampai-sampai di hampir setiap kota di Indonesia saya selalu punya teman-teman yang baiknya sudah seperti saudara sendiri. Dan kedatangan saya selalu dinanti-nantikan di hampir setiap daerah. (bukan GR lho)
Jadi mari kita coba teliti lagi kata-kata yang kita pergunakan selama ini apakah menimbulkan efek negatif pada pikiran, perasaan dan perbuatan kita..?
Jika jawabannya ya....! maka segera cari kata pengganti yang lebih baik dan memberikan efek positif pada pikiran, perasaan dan perbuatan kita.
Mau coba ? lihat deh hasilnya menakjubkan.
Jika tulisan ini dirasa bermanfaat silahkan di share pada siapa saja.
Salam syukur penuh berkah,
Ayah Edy Wiyono

“Jangan bikin mama/ayah marah ya !”Berapa sering sudah selama anda menjadi ibu atau ayah anda mengucapkan kata kata sepe...
07/03/2017

“Jangan bikin mama/ayah marah ya !”
Berapa sering sudah selama anda menjadi ibu atau ayah anda mengucapkan kata kata seperti diatas kepada anak anda? sejak dia berusia berapa?. Iya , kalau anak anda satu bagimana kalau lebih?. Apakah masing masing mereka juga pernah menerima kalimat diatas dan sudah berapa kali?..
Pernahkah anda bertanya pada diri sendiri sebagai orang tua, mengapa anda mudah sekali marah ? Bahkan kadang untuk hal hal yang sepele dilakukan anak atau bahkan untuk perilakunya yang karena usianya dia belum tahu bahwa itu merupakan sesuatu yang salah. Bukankah seringkali juga ayah dan bunda sudah langsung naik marahnya semata mata karena anak tidak mendengar apa yang diucapkan, disuruh, dilarang oleh orang tuanya atau karena sekedar bertanya terus menerus?!.
Banyak hal memang yang bisa menjadi penyebab seseorang bisa marah : Capek, kurang tidur, banyak pikiran, lapar, kesal sama pasangan dan orang lain disekitar tetapi tak bisa di keluarkan, waktu terbatas tapi banyak hal harus diselesaikan/buru buru, stress, merasa terganggu dan beribu hal lainnya.
Tapi, kalau kemarahan anda itu begitu otomatis, sangat mudah dan polanya sama , misalnya : bila anak anda sebutlah “nakal” ( yang maknanya juga bisa seribu juga tergantung definisi dari masing masing orang tua) dan anda langsung serta SELALU menunjukkan nya dalam bentuk : mencubit, berteriak, memukul atau berkata kasar, maka anda HARUS MENYELAM kedalam diri anda dan MENGEMBARA kemasa lalu anda : Ada apa dengan anda mengapa anda bereaksi seperti itu.
Apa yang anda perlu lakukan terlebih dahulu adalah menemukan penyebab utama dari masa lalu tersebut. Anda juga harus bekerja sama dengan pasangan dan berusaha saling menemukan penyebab utamanya dan berusaha menyelesaikannya dengan : Menerima ,Memaafkan dan kemudian pelan pelan Mengendalikannya.
Banyak sekali orang tua tidak menyadari sebab utama dari mereka marah, dan mengeluarkannya dalam bentuk tertentu kemarahannya secara terus menerus.
Jadi :Siapa sebenarnya yang mengontrol dan yang di kontrol?
Kalau setiap kali anda mengatakan : “Jangan bikin ayah atau mama marah ya, kamu gak tahan nanti!” atau “kamu gak tahu apa yang akan terjadi!” atau berbagai bentuk kalimat yang sama.Sebetulnya sadarkah kita apa yang sebenarnya yang sedang kita lakukan?. Bukankah kalimat tersebut menunjukkan bahwa kita “menyerahkan kendali emosi kita kepada orang lain disekeliling kita, dalam hal ini anak kita sendiri? Mengapa kita jadikan dia yang memegang ‘Remote control’ nya emosi kita ? Berapa umurnya?” Dia kan anak anak anak yang mungkin otaknya saja belum bersambungan ?. Bukankah bagi kita orang dewasa reaksi emosional kita tergantung pada kita? Selalu ada pilihan yang bebas untuk kita lakukan. Kalau kita menyerahkannya kepada anak anak tidakkah itu kita sebenarnya sama sama anak anaknya dengan anak kita ?
Jangan jangan itulah yang merupakan salah satu sebab , mengapa ketika kita marah, kita tidak sadar apa yang terjadi, dan baru sadar setelah semua itu berlangsung baru kita jadi menyesal dan tidak jarang menangisinya. Tapi bukankah kemudian kejadian serupa terulang lagi ?
Kemampuan bertanggung jawab terhadap aksi atau perilaku kita sesungguhnya menunjukkan tingkat kematangan diri.Menjadi pemilik dari kesalahan diri sendiri tanpa melemparnya atau menyalahkan orang lain, situasi yang ada bahkan masa kecil itulah KEDEWASAAN!. Menjadi dewasa adalah tahap yang paling dasar untuk meraih kemampuan untuk mengontrol diri sendiri. Belajar untuk mengendalikan diri berarti kita berusaha bertanggung jawab terhadap keputusan kita sebelum , selama dan sesudah kita melakukan sesuatu. Ini membantu kita untuk mengenali bahwa tidak seorangpun bahkan anak kita bisa membuat kita merasakan, berfikir dan melakukan “sesuatu”!.
Pantaskah bila kita biarkan anak kita membuat kita terpojok, menekan tombol kesabaran dan mendorong kita melakukan sesuatu yang salah? . Kenyataannya mereka kan tidak segitunya “berkuasa” khan?
Bayangkanlah apa jadinya dengan anak kita bila keadaan seperti ini berlangsung terus, dimana anak sejak usia dini yang memegang kendali emosi orang tuanya?. Bagaimana anak ini nanti kalau sudah lebih besar dan bagaimana p**alah masa tua ayah ibunya?
Jadi, bagaimana d**g sebaiknya ?
1. Memang tidak semua orang tua marah pada anaknya, tapi pada umumnya semua kita mengalami “perjuangan” membesarkan dan mengasuh anak. Kita umumnya cemas dan kawatir bagaimana nanti “jadinya”anak kita. Hal ini membuat kita tak sengaja terlalu fokus pada anak sehingga lupa, bila sudah terlalu kawatir kita jadi kurang memperhatikan diri kita sendiri dan hilang kendali emosi.
2. Tolong jangan HANYA fokus pada anak, tapi fokus pada diri anda sendiri dulu. Seperti kita mengantar kan anak kesekolah dengan kendaraan: mobilkah atau motor, siapa yang mengendalikan kendaraan? anak atau kita?. Begitulah seharusnya . Jadi selesaikan dulu urusan dengan diri sendiri.
3. Berjuanglah untuk tetap memiliki kendali atas pikiran dan perasaan kita sebagai orang tua. Marah bukan tidak boleh, tetapi bila keseringan dan merupakan kebiasaan untuk berespons terhadap anak akan berakibat tidak baik bukan hanya bagi hubungan ortu anak tetapi juga terhadap “well being” nya. Karena marah tidak menyelesaikan masalah apalagi disertai kata kata yang tajam, bentakan dan hukuman fisik.
4. Mengendalikan diri dari marah juga harus dengan ilmu.Bahwa perubahan pertama yang dilakukan adalah terhadap diri sendiri . Kemudian harus meningkatkan ilmu agama selain dari ilmu pengasuhan. Pastilah dalam agama kita masing masing ada ketentuan dan aturan tentang mengendalikan marah sebagai salah satu sifat yang diciptakan ada dalam diri kita. Kalau tidak, kita tak akan berperang dengan diri sendiri dan dengan sekeliling kita bila kesalahan, kedhaliman , kemungkaran terjadi.
Dalam Islam, bila seseorang marah dia hendaknya menahan amarahnya dan memaafkan (3:134 ; 42: 37).bahkan dalam surah At Thagabun disebutkan bahwa : Wahai orang orang yang beriman, Sesungguhnya diantara istri istrimu dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.Maka berhati hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan, jangan marah serta ampuni mereka maka sungguh Allah Maha Pengeampun Maha Penyayang.
Bagaimana kita mampu melakukan semua itu : Memaafkan, tidak marah dan mengampunkan kalau kita tidak bisa mengendalikan diri kita sendiri?
Kalau hubungan ortu anak didasarkan dengan banyak marah dan teriak maka akan jadi bagaimanalah hubungan tersebut nantinya.
Allah maha Tahu akan apa yang Dia ciptakan. Mengapa kita harus maafkan anak kita dan sebaiknya tidak marah ? Kan otaknya belum bersambungan? Mereka membutuhkan :dikasih tahu tentang banyak hal : baik buruk , salah benar, boleh tidak boleh, halal dan haram dll. Untuk itu mereka sangat membutuhkan bimbingan, arahan yang penuh kasih sayang. Bukan Marah dan teriakan !.
Rasulullah saw dimintai wasiat yang singkat dan padat oleh seorang sahabat : Jariyah bin Qudamah ra .Rasulullah mengatakan: “Engkau Jangan marah!” (HR Buchari)
Hadist lain Rasulullah mengajarkan bila seorang marah hendaknya dia DIAM, sehingga terhindar dari mengeluarkan kata kata yang tidak patut dan keji.
Karena marah adalah bara yang dilemparkan syaithan kedalam hati anak Adam sehingga ia mudah emosi,dadanya membara,urat syraf menegang, wajah memerah dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal.
Rasulullah juga bersabda : Kalau seseorang marah dalam keadaan berdiri, maka sebaiknya dia duduk.Bila masih marah :berbaring. Bila masih marah juga sebaiknya di berwudhu.
Cara lain yang dianjurkan Rasulullah adalah mengucapkan : A’u dzubillahi minasyaithanir rajim…
Jadi kita telah diajarkan berbagai cara untuk mengendalikan diri kita dari amarah dan juga telah telah diberi tahu “ ganjarannya” yaitu sabda Rasulullah :
a. Jangan kamu marah maka kamu akan masuk syurga”
b. Barangsiapa menahan amarah, padahal dia mampu melakukannya, maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya dihadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.
Masih mau marah juga ? ya Ampuuun!!!
Jadi teman teman, perjuangan terbesar kita bukanlah bagaimana menghadapi dan membatasi anak kita dari pengaruh buruk TV, Internet, Pornografi,Miras dan Narkoba dan pergaulan bebas, tapi perjuangan mengatasi reaksi emosi kita sendiri!
Kalau kita ingin berpengaruh terhadap anak kita, Kontrol reaksi emosi!. Kita harus yaqqin bahwa kita bisa kok memilih reaksi emosi mana yang akan kita tunjukkan.
Pengasuhan adalah bisnis yang TIDAK BOLEH GAGAL!.
Kalau anda sudah kepenuhan dan sangat lelah, ini tips yang paling mudah : Duduklah bersandar, ingat anjuran Rasulullah untuk diam. Pandang anak anda dengan kasih, tarik nafas panjang dan dalam lalu hembuskan. Lakukan beberapa kali sambil katakan dalam hati anda: “Benar benar yah nih anaakkkkk… otaknya belum sempurna bersambungan!!”
Senyummm…...
Senyum, kata seorag ahli, membuat otot p**i berkerut, menghentikan aliran oksigen dari pembuluh darah yang satu ke pembuluh darah berikutnya, sehingga menyebabkan batang otak menjadi dingin dan kondisi itu memproduksi serotonin. Seretonin anti agresivitas…
Jadi gak mungkin sambil tersenyum anda menghampiri anak anda mencubit, memarahi atau membentaknya . iya khan?
Selamat berjuang mengatasi reaksi emosi yang negatif dan berhentilah bilang :”Jangan sampe bikin ayah/mama marah ya !” dengan wajah berang dan mata melotot…
Bekasi, Dini hari 30 Januari, 2017
Elly Risman
eradigital
Silahkan share bila perlu

28/02/2017

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. 66:6)

Adakah yang sama? Si kecil kalo habis main gadget emosinya jd makin tidak stabil, jadi makin rewel dan marah,.Tapi kalo ...
28/02/2017

Adakah yang sama?
Si kecil kalo habis main gadget emosinya jd makin tidak stabil, jadi makin rewel dan marah,.
Tapi kalo ga pegang, jadi aman terkendali hehe...😊

Address

Cianjur Regency
43216

Telephone

085794845071

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rok celana kulot Fay posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share