Mahad Hamalah Quran

Mahad Hamalah Quran Menyediakan Media Edukasi Anak Muslim Air mata bisa menjadi cara untuk mengukur siapa dan kualitas diri kita. mengapa ia jatuh? untuk apa?

berbahagialah siapapun yang airmatanya luruh jatuh untuk kesedihan yang benar, untuk ketakutan yang akan membebaskannya dari semua yang ia takutkan, air mata yang akan menjauhkan dirinya dari adzab. sungguh malang siapapun yang airmatanya ikut berderai mengalun mengiringi alunan lagu (laghwu) sendu, kasihan sekali siapapun yang air matanya jatuh karena luka yang keliru, karena penyesalan yang ters

esat.
..dan hanya orang beriman yang air matanya mengalun bersama ayat ayat alQur'an, yang akan membawanya ke muara ridho, firdaus, menemui sang terkasih. www.facebook.com/mahayusru

31/07/2025

Hanzhalah Al Ghasil Radhiallahu Anhu

Beliau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang syahid pada perang Uhud.

Pada malam pertama pernikahannya, sebelum sempat mandi junub, ada seruan jihad bersama Rasulullah. Hanzhalah bersegera memenuhi panggilan jihad tersebut, bergabung bersama para mujahid lainnya, hingga beliau gugur di medan Uhud dan masih dalam keadaan junub, hingga malaikat lah yang memandikan beliau. Sehingga beliau dikenal dengan sebutan Al Ghasil, orang yang dimandikan malaikat.

-----
Nasab Hanzhalah & Istrinya

Hanzhalah adalah putra dari Abu Amir Ar Rahib. Abu Amir ini merupakan salah satu inisiator pendirian masjid dhiror yang disebutkan dalam surat At Taubah: 107.

Istri beliau, Jamilah merupakan putri dari gembong munafik madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul.

Demikianlah, sebagaimana iman tidak bisa diwariskan, begitup**a kekufuran.

Wallahu A'lam
Disarikan dari berbagai sumber

12/05/2021

30 hari berlalu. Semoga tak ada yang sia-sia: amal baik diterima, dosa-dosa diampuni, segala doa dikabulkan.

Penyesalan tentu ada. Tapi hei! Jangan tunggu ramadan tahun depan untuk memerbaikinya.

Kita bukan hamba ramadan. Kita adalah hamba dari Yang Mahapengasih, Ia yang ampunanNya selalu kita butuhkan, kapanpun.

Dan di luar sana, banyak saudara kita yang tak perlu menunggu ramadan untuk merasakan lapar dan haus.

Selamat Idul Fitri 1422H.

Mengagumi, hingga mencintai keindahan adalah fitrah manusia. Memelajari dan mengajarkan alQuran, mestilah memenuhi aspek...
03/01/2020

Mengagumi, hingga mencintai keindahan adalah fitrah manusia.

Memelajari dan mengajarkan alQuran, mestilah memenuhi aspek keindahan, hingga kita, anak-anak kita bisa benar-benar mencintai Al Quran.

02/01/2020

Di antara fasilitas pendukung dalam menghapal Quran adalah Mushaf. Mushaf yang bagus, sedap dipandang, bisa menambah semangat. Insyaallah.

05/11/2019

_*Permintaan Maaf Syaikh Abdurrazzâq Al-Badr Kepada Seorang Mahasiswa*_
____________________________________

Seorang mahasiswa jenjang master pada jurusan Dakwah & Tsaqafah Islam Universitas Islam Madinah, yang berasal dari Nigeria berkisah :

"Aku bukan tokoh dalam kisah ini, namun aku hadir saat itu dan menyaksikannya.
Kisah ini masih melekat dalam ingatanku meskipun telah berlalu cukup lama.
Mungkin hal ini kembali pada pelajaran dan ibrah serta adab yang tinggi yang terkandung dalam kisah ini.

Pada suatu hari di bulan Ramadhan yang penuh berkah tahun 1427 H, di ruangan 103 fakultas Hadits dan studi Islam, Uiversitas Islam Madinah, pada waktu itu kami masih duduk di semester satu jenjang S1. Saat itu kami sedang belajar mata kuliah Tauhid dan pengajarnya adalah yang mulia Prof. Dr. Syaikh Abdurrazzâq bin Abdulmuhsin Al-'Abbâd Al-Badr _hafizhahullah_.
Tak perlu diperkenalkan lagi siapa beliau.
Tatkala Syaikh _hafizhahullah_ memanggil nama-nama mahasiswa untuk absensi, sampailah pada seorang teman kami berkebangsaan Srilangka yang bernama Muhammad Shiyâm yang tidak hadir pada hari itu.
Di sini lah segera keluar kata-kata dari Syaikh yang mana beliau berkata : _'Muhammad Shiyâm Shâma Fanâma'_ (artinya: Muhammad Shiyâm, dia puasa lalu tidur).

Kata-kata itu lewat di pendengaran kami tanpa kami pedulikan, namun sangat besar dalam diri Syaikh.
Tak berselang lama, beliaupun beristighfar kepada Allah atas uacapannya tadi.
Di sinilah kami baru sadar dengan kata-kata beliau, apa yang bisa mewakilinya dan apa hukumnya dalam syariat.

Syaikh _hafizhahullâh_ tidak cukup hanya beristighfar, beliau mengikutinya dengan meminta kehalalan kepada teman kami yang kebetulan hadir di hari berikutnya. Ketika Syaikh sampai pada nama mahasiswa tadi dan beliau dapati ia tengah hadir, Syaikh pun berhenti dan memberitahunya tentang apa yang terjadi, bahwa kemarin beliau memanggil namanya dan ia tidak hadir lalu keluarlah ucapan di atas, beliau pun berkata kepadanya : "saya harap kamu dapat memaafkan saya.
Syaikh berulang kali menyampaikan permintaan maafnya, sementara mahasiswa tersebut meyakinkan Syaikh bahwa ia benar-benar telah memaafkan gurunya.
Ketika Syaikh yakin bahwa mahasiswa ini telah memaafkannya atas ucapannya kemarin, beliau pun melanjutkan pelajarannya.

Di pekan berikutnya, kami dikagetkan oleh Syaikh. Beliau membawa setumpuk buku yang berharga.
Setelah pelajaran usai, Syaikh memanggil mahasiswa itu dan beliau berikan kitab-kitab ini kepadanya sambil berkata : "ini disebabkan kata-kata kemarin yang saya ucapkan kepadamu dan saya harap kamu dapat memaafkan saya".

Aku tak mungkin menggambarkan perasaan mahasiswa tersebut pada waktu itu, kecuali wajahnya yang menampakkan sebagian perasaan bahagia bercampur kagum dalam dadanya dengan adab dan ketawadhu'an Syaikh.

Sebagaimana kisah ini pun memberikan pengaruh besar pada diri kami semua dan memberikan pengaruh bahkan pada cara interaksi kami dengan Syaikh.

Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan balasan kebaikan kepadanya".
____________________________________
Diterjemahkan oleh:
Lanlan Tuhfatul Lanfas, B.A dari buku :
*_Juhûd Al Jâmi'âh Al Islâmiyah fî I'dâd Al Kafâât Ad Da'wiyyah Wa Ri'âyatihim_*, karya : Dr. Sulthan bin Umar Al Hushayyin, hal. 80-82
____________________________________
*Bandung*, 18 Safar 1441 H/17 Oktober 2019 M

30/01/2018

Rumah yang Shalih
Ust. M Fauzil Adhim

Jika rumah menjadi sebaik-baik tempat menenangkan fisik, meneduhkan hati, maka sejauh apa pun kaki melangkah, rumah juga yang menjadi tempat paling dirindukan. Jika rumah bukanlah soal bangunannya yang kokoh, tetapi tempat kebaikan bersemi dan ketenteraman hati diraih, maka hiburan terbaik bagi jiwa yang penat adalah rumahnya sendiri. Ini rumah dalam makna maskan yang shalih

Ada banyak paradoks. Betapa sering kita menjumpai orang yang sangat jarang di rumah, sebelum Subuh sudah ia tinggalkan untuk kerja dan malam baru tiba, tetapi saat libur tiba justru ia tinggalkan untuk mencari ketenangan, memperoleh hiburan. Demi meraih ketenangan itu, ia rela berpayah-payah menempuh kemacetan yang menegangkan. Hanya sesaat istirahat, esok atau lusa harus segera kembali bergulat dengan kemacetan agar dapat segera tiba di rumah. Kenapa? Esok Subuh harus kembali berangkat kerja

Lalu mengapa ia tak tertarik untuk meneduhkan hati di rumah yang jarang ia nikmati suasananya itu? Saya tak tahu apa jawabnya. Saya khawatir karena rumahnya tidak shalih. Padahal inilah satu dari tiga kunci kebahagiaan
Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ سَعَـادَةِ ابْنُ آدَمَ ثَلاَثَةٌ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْـكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنُ آدَمَ: اَلْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ. .

“Kebahagiaan manusia ada tiga: wanita shalihah, tempat tinggal yang shalih, dan kendaraan yang shalih. Sedangkan kesengsaraan manusia ialah: Wanita yang buruk (perangainya), tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk.” (HR. Ahmad).

Istri shalihah, tempat tinggal yang shalih dan kendaraan yang shalih. Bukan soal kemegahan dan kemewahan fisik. Apa itu shalih? Ringkasnya, terhimpun dua hal, yakni: 1. terhindar dari kerusakan, keburukan serta bahaya; 2. bermanfaat dan mendatangkan kebaikan

Nah, bagaimana dengan rumah kita? Bagaimana p**a kendaraan kita? Ataukah rumah dan kendaraan kita menjadi jalan keburukan? Megahnya membuat lalai dan menyombongkan diri; sementara kerusakan dan kurangnya membuat kufur nikmat? Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Bagaimana p**a dengan istri kita? Adakah ia qana’ah, menjadi penggugah motivasi saat berada di samping kita, mendorong teraihnya sebab barakahnya harta? Apa itu, harta barakah itu بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ ([diperoleh] dengan jiwa yang sederhana dalam berharap). Ia sederhana dalam mengharap dan bersungguh-sungguh dalam menetapi amanah maupun ikhtiar. Bukan بِإِشْرَافِ نَفْسٍ (dikejar dengan jiwa yang serakah, sangat haus harta, dan mengharap seringan-ringan usaha). Bentuknya bisa berupa mengharapkan harta yang sangat banyak berupa pemberian atau mengharapkan pendapatan lebih banyak daripada kepatutan kinerjanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

25/01/2018

ULAMA BISA KELIRU, IKUTI SAJA AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH!!!

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في قولي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوا به وما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

Artinya: “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa salah, bisa benar. Lihatlah setiap perkataanku, semua yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Dikutip dari kitab I’lam Al-Muwaqqi’in ‘An Rabb Al-‘Alamin, Juz 1, hlm. 60)

Inilah cara beragama generasi salafus shalih. Perkataan seorang manusia, selain Rasul, bisa diambil, bisa p**a ditinggalkan. Perkataan mereka pun, perlu ditimbang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Yang sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah, kita ambil, yang bertentangan dengan keduanya, kita tinggalkan.

Ini adalah cara beragama yang benar, yang disepakati oleh seluruh ulama salaf, disepakati oleh seluruh imam Ahlus Sunnah, termasuk imam empat madzhab. Timbangan kebenaran adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah, bukan perkataan fulan dan allan.
.........................

Hanya saja, ada beberapa catatan penting tentang hal ini, di antaranya:

1. Taqlid kepada ulama diperbolehkan, bahkan wajib hukumnya bagi kalangan yang tak punya pondasi keilmuan memadai. Ini disebutkan dalam banyak kitab Ushul Fiqih, di antaranya kitab Ushul Al-Fiqh Al-Islami Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, juga di kitab karya ulama Saudi, Al-Ushul Min 'Ilm Al-Ushul.

2. Fakta yang sering terjadi, mereka yang "menyebut diri mereka sendiri sebagai penuntut ilmu" tidak sedang menimbang perkataan ulama dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, melainkan "menilai dan menghukumi perkataan serta pendapat ulama", berdasarkan penjelasan ustadz nganu dan syaikh anu.

Artinya, hakikatnya, mereka menolak atau melemahkan pendapat ulama A atau imam B, bukan dengan timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, tapi dengan timbangan "fatwa" ustadz-ustadz mereka.

3. Terkait poin 2, orang yang bisa menilai pendapat ulama A atau ulama B, dengan timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, adalah orang yang memiliki kapasitas ilmu yang cukup untuk memahami berbagai pelajaran dan hukum yang terkandung dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Di antara ilmu tersebut, misalnya ilmu nahwu-sharaf, balaghah, isytiqaq, ushul tafsir, asbabun nuzul, ushul hadits, asbabul wurud, ushul fiqih, nasikh-mansukh, dan lain-lain.

Kesimp**annya, yang bisa menilai pendapat ulama A atau ulama B, dengan timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, adalah seorang ulama juga, yang kapasitas ilmunya memadai.

4. Yang tak memiliki kapasitas ilmu memadai, hakikatnya taqlid juga, bahkan bisa jadi "taqlid dalam posisi terendah", yaitu taqlid kepada ustadz anu dan ustadz nganu, yang bisa jadi sebenarnya ustadz-ustadz tersebut pun belum punya kemampuan ijtihad sama sekali.

Wallahu a'lam.

~ Muhammad Abduh Negara ~

19/01/2018

Syeikh Syinqity rahimahullah berpesan kepada anaknya:

Wahai anakku kejarlah (hafalan) al quranmu sampai benar-benar tertanam di relung sanubari.

Ingatlah! Kelak akan ada wisuda (sebenarnya) di hari kiamat, dimana tidak seperti wisuda saat di dunia.

Maka jagalah terus hafalanmu agar tidak banyak koreksian.

Dan bersiaplah, suatu saat (Hari kiamat), kamu akan diminta untuk membaca (kembali) hafalan al quran, kemudian Naik ke suatu tempat yang tinggi (sehingga banyak orang bisa memandang), kemudian membacanya dengan sangat jelas.

Sumber: Status Ustadz Guntara Adiana Poetra Hafizhahullah

Sila yang berminat...
12/01/2018

Sila yang berminat...

10/01/2018

Penekanan hafal Quran bagi seorang da'i bukan barang baru, para ulama terdahulu maupun terkini sering menekankan.

Ust. Adi Hidayat dalam ceramahnya seringkali menekankan. Singkat pesannya, jadilah da'i yang hafal quran, bahkan beliau berkata, rugilah mereka yang semasa hidupnya tidak hafal. (Karena keutamaannya).

bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam beberapa hadits turut menyemangati perihal keutamaan hafal.

Setiap kali saya bertanya kepada seseorang, kenapa anda mau bersusah payah menghafal?

"Kami ingin memakaikan mahkota bagi kedua orangtua kami kelak" begitu jawab mereka sesuai isyarat hadist Nabi.

Apa anda tidak ingin membuat orangtua anda tersenyum bahagia kelak, di hari tidak ada naungan selain naungan Allah? (Barangkali banyak bakti kita yang kurang atau kita sudah merasa paling berbakti?)

Syeikh Al Azhar terdahulu Syeikh Thantawi rahimahullah lebih tegas lagi, ia berujar:

Bukan azhari sejati (lulusan al Azhar) yang belum hafal Quran.

Kata-kata beliau selalu diulang2 di hadapan ribuan mahasiswa Al Azhar, tujuannya, supaya "mikir".

Syeikh Thantawi menambahkan, "kalau kalian tidak hafal, lantas apa yang hendak kalian dakwahkan ke publik?"

Berangkat dari sini, maka usahlah jadikan dalil "ballighu 'anni walau ayat" sebagai bentuk pembenaran atas kemalasan, apalagi yang berucap "penuntut ilmu", jika orang awam hal itu tak masalah.

Para da'i/ustadz, jika hatinya tulus dan bersih, dia malah senang dibakar semangatnya, ucapan "ustadz malas" tidak jadi masalah, tak perlu juga sensi.

Sahabat Ustman bin Affan radhiyllahu 'anhu, bertutur, "jika hati seseorang bersih niscaya ia tidak akan kenyang baca quran"

Terbukti, hadist perihal keutamaan ahli quran itu dibawa dari jalur Ustman sebagaimana diriwiyatkan imam Bukhari, dan beliau gugur (syahid) saat sedang membaca Quran dan dalam kondisi berpuasa.

Seharusnya kita malu dan menangis, berapa banyak "orang berkebutuhan khusus" dan para lansia sangat bersemangat dan rajin menghafal.

Guru-guru maupun kyai saya yang sudah sepuh berpesan, "jadilah da'i yang hafal quran, saya menyesal dahulu (waktu muda malas) belum sempat ngafal" hal ini diucapkan dihadapan ribuan santrinya.

Ilmu itu sumber utamanya adalah al Quran, rasululllah hafal Quran dalam dada dan lisannya, turun ke murid-muridnya, begitu seterusnya.

Seorang dokter, pilot dan profesor saja idealnya harus pintar bahasa Inggris, itu sudah kebutuhan. Pun dengan para pemangku "amanat keagamaan", idealnya "hafal".

Di Timur Tengah, tidaklah seseorang bisa bebas bicara agama di publik, televisi, kecuali mereka adalah para penghafal Quran, imam mushola saja hafal al Quran, apalagi nongol di TV, kasih fatwa di hadapan jutaan pasang mata.

Dokter spesialis (itupun jika ada) yang lemah bahasa inggrisnya, ibarat da'i yang belum hafal. Solusinya perdalam bahasa atau duduk manis menghafal.

Tidak ada hubungan antara jasa/kebaikan para ustadz dengan kriteria dai/ustadz yang ideal. Keduanya punya pembahasan tersendiri.

Disini saya (terkait postingan sebelumnya) sedang membahas da'i ideal. Nasehat ini khususnya untuk diri sendiri dan umumnya pembaca.

Yang terpenting, niatnya, untuk apa dan siapa menghafal?!

Semoga Allah Ta'ala mudahkan urusan kita semua. Ya Robbanaa

🔳 Ust. GUNTARA NUGRAHA ADIANA PUTRA

Address

Cianjur
43275

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 11:00
Saturday 08:00 - 13:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mahad Hamalah Quran posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mahad Hamalah Quran:

Shortcuts

Share

Category