08/01/2025
Judul : Puji
Membalas mertua dan adik ipar
Author : Intan Puji Lestari
"Bu.. "
Rena mendekati Risma yang terlihat kesal.
"Apa, kau ingin membuat ibu semakin kesal Rena? " Ucap Risma yang terlihat mengatur nafasnya.
Rena menghembuskan nafas, lalu memilih duduk di sebelah ibunya.
"Bu, Rena menemukan buku tabungan milik Puji, lihatlah bu ternyata tabungan yang dimilikinya sangat besar," Rena berniat memberi tahu bu Risma dengan menunjukan isi dalam buku rekening yang di temukan olehnya.
" Halah paling juga uang pemberian anakku Raiz, dia memiliki uang dari mana jika dia tak bekerja dan pekerjaannya hanyalah mengurus rumah dan Darren."Ucap bu Risma
"Tapi bu, ada pemasukan cukup besar, dan Rena tahu gaji mas Raiz tidaklah sebanyak ini bu. Kira-kira dari mana dia memiliki uang sebanyak ini." Rena bertanya pada bu risma.
"Alah, memang apa yang bisa dia lakukan Rena? paling yang dia menjual dirinya. Kamu tahu sendiri Puji jika berdandan dia akan terlihat sedikit cantik."
"Bu, rasanya itu tak mungkin. Mengingat Rena sangat tahu mba Puji tak pernah keluar rumah, tanpa di antar oleh mas Raiz." Ucap Rena yang memang sedikit mengetahui pribadi Puji.
"Cukup Rena, jangan membuat Ibu semakin kesal karena kau membahas wanita kampung itu." Nu risma beranjak meninggalkan Rena yang tengah duduk di sofa ruang TV.
"Rasanya aku tak percaya jika mba Puji menjual diri mengingat dia wanita katro yang bahkan keluar rumah harus meminta izin mas Raiz, atau di antar Mas. Tapi dari mana dia memiliki penghasilan rutin puluhan juta seperti ini. Sepertinya aku bisa mengambil uangnya, biarlah Ibu tak mempercayai buku tabungan ini. Setidaknya aku bisa mengambil tabungannya dan bersenang-senang dengan uang dari perempuan kampung itu
Rena bersenandung sembari memikirkan rencananya besok.
Di sisi lain, puji berusaha menawarkan pakaian yang masih sedikit layak dengan harga murah. Sampai seorang ibu memperhatikan puji dan mendekat.
"Mengapa kau menjual pakaianmu nak? Ucap seorang ibu yang datang menghampiri puji yang sibuk menjual pakaiannya.
Puji menatap sedikit termenung, lalu kemudian menjawab pertanyaan seorang ibu di depannya.
"Ah, maaf Bu. Hanya ini yang dapat saya lakukan, untuk mendapatkan sedikit uang bu, saya harus membeli susu dan makanan untuk anak saya." Jawab puji masih mengeluarkan beberapa pakaiannya,
"Simpan kembali pakaianmu nak, ikutlah denganku nak. Ibu akan membelikan susu untuk anakmu nak, mana rumahmu? Sepertinya ibu tidak pernah melihatmu di sini." Ujar bu puspa meminta puji merapikan pakaiannya karena tidak akan seorang pun yang mau membeli pakaian bekas di wilayahnya.
" Saya dari desa wonorejo bu, namun saya merantau ke Jakarta mencari pekerjaan dan akhirnya saya menikah, namun ibu mertua saya mengusir saya kemarin, setelah beberapa hari suami saya meninggal." Ucap puji menunduk.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Lalu di mana kamu tinggal saat ini nak?" Tanya bu puspa mendekati puju
"Saya berniat akan menginap di masjid ini bu." Jawab puji memasukkan kembali pakaiannya.
"Lebih baik kau ikut ibu saja nak, tiduk di mushola tidak aman untuk anakmu. Kasihan dia. Yuuk ikut, tinggallah bersama ibu.
Puji terdiam apa dia bisa menginap sementara di rumah orang yang tidak di kenalnya.
"Nak, ayolah. Tak perlu takut, rumah ibu tak jauh dari sini. Ibu hanya tinggal sendiri untuk itu jika kamu menginap di rumah, ibu akan sangat senang.
"Tapi bu...," puji tampak urung mengikuti ibu yang mengajaknya tinggal di rumahnya. "Saya tidak mengenal ibu."
"Ah iya, saya hampir lupa. nama saya puspa. Ayolah nak hari sudah malam, tidak baik wanita membawa bayi berada di luar.
Puji pun akhirnya beranjak mengikut ibu Puspa,
"Ini rumah ibu, memang tidak besar. Tapi cukup untuk kita bertiga nak. Baiklah ada baiknya kau beristirahat dulu, biar ibu siapkan makan malam untuk mu, kamu belum makan kan nak?"
Puji, menatap bu puspa dengan mata berkaca-kaca. Mengapa orang yang tidak di kenalnya dapat begitu baik padanya bahkan mengajaknya menginap di rumahnya, sedangkan ibu mertuanya justru mengusir nya dari rumahnya sendiri.
"Nak, kenapa? " Bu puspa melihat puji, tanpa beranjak sedikit pun
"Mengapa ibu begitu baik padaku sedangkan ibu tak mengenal saya, bagaimana jika saya orang jahat bu?" Puji menundukkan kepalanya.
"Ibu yakin kau anak yang baik nak. Ibu tak akan salah mengenal orang. Sudah tak perlu bersedih sekarang makanlah dan beristirahat. Apa anakmu tidak akan kau bersihkan. Dia akan gatal-gatal jika tidak di bersihkan
Puji terdiam, dia belum sempat memandikan putranya, bahkan putranya belum makan dia hanya memberikan susu warung tadi. Untuk itu dia akan membangunkannya untuk memberinya makan, karena saat ini dia tak memiliki susu untuk Darren sedikit pun.
Nak, apa susu untuk anakmu habis? Maaf ibu sempat melihatmu memberikan susu kotak padanya.
Puji menunduk, sebenarnya susunya masih ada bu, hanya tertinggal di rumah bahkan dot susunya pun tidak ada.
Bu puspa menghembuskan nafas, dia mengambil ponselnya dan mengutak-atik ponselnua, tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dan bu puspa segera membuka pintu untuk mengambil pesanannya di depan.
"Nak, ini ibu sudah belikan susu dan dot untuk anakmu, ada baiknya kau berikan makan anakmu terlebih dahulu, biar ibu merebus dot ini agar steril terlebih dahulu."
"Terima kasih banyak bu, semoga allah memberi keberkahan atas kebaikan ibu pada saya.
"Sudah sekarang segera bersihkan tubuhmu dan anakmu, setelah makan makan malam lebih baik pergi beristirahat dan bersiap dengan apa yang akan kamu lakukan besok."
"Baik bu, Terima kasih untuk bantuannya bu."
"Tak perlu sungkan, ibu menganggapmu sebagai pengganti putra ibu yang hilang, ibu harap kamu tak keberatan." Ucap bu Puspa yang memang sangat merindukan putra kecil yang di bawa oleh suami.
Puji yang mendengar jika bu Puspa menganggap dirinya sebagai putrinya sangat terharu, disaat kesulitan dan tidak adanya keluarga yang dimilikinya, Allah justru mengirimkan orang baik serta tulus untuk membantunya.
"Terima kasih bu, Terima kasih karena ibu sudah sangat baik dan menganggap ku sebagai putri ibu." Puji memeluk bu Puspa dan keduanya menangis haru, karena akan ada orang yang menemani hari-harinya.