Jrgd. Mangku Sandhi

Jrgd. Mangku Sandhi Madu Asli dan Murni
lebah
kekele/ Trigona

Madu AsliKeleLebahWa ,: 08123995411
01/09/2022

Madu Asli
Kele
Lebah
Wa ,:
08123995411

Sekali lagi;Untuk para sahabat yang bersetia di jalan leluhur// Kenapa kemudian orang Bali membangun  tempat pemujaan  b...
14/07/2020

Sekali lagi;
Untuk para sahabat yang bersetia di jalan leluhur

// Kenapa kemudian orang Bali membangun tempat pemujaan bernama Sanggah Kamulan? Apa gerangan makna dari pemujaan Kawitan itu?//

Radite Umanis Wuku Ukir. Hari penting bagi masyarakat Bali asli Klungkung, dan sebagaian pemeluk Hindu Bali di Karangasem, Gianyar, serta Bangli. Hari itu dilakuan pemujaan kehadapan Bhatara Hyang Guru, yang dipuja di Sanggah Kamulan. Ada juga yang menyatakan pemujaan kehadapan Hyang Paramesti Guru atau Hyang Siwa Guru. Ada sejumlah kata kunci, siapa sejatinya Hyang Guru yang dipuja di Sanggah Kamulan itu.

Pengertian awal bisa kita runut kenapa pemujaan itu dilakukan pada Radité Wukir. Kata Radite, disamping merujuk sebagai hari pertama dalam hitungan hari bersiklus tujuh sebagaimana dibentangkan dalam kalender Jawa-Bali, Radite mengingatkan juga pada Siwa Raditya [Surya], Tuhan sumber segala penghidup, sumber maha energi. Kata Wukir merujuk pada pengertian gunung sebagai "lingga acala", simbol Siwa abadi. Kata Kamulan [ka- mula-an] merujuk pada pengertian perihal muasal, atau kawitan. Terhubung p**a pada pengertian perihal "sangkan paraning dumadi" sumber dari mana kelahiran, kehadiran ini datang.

Sementara kata GURU dalam pemaknaan teks-teks Ta**ra, di samping juga berarti berat, GURU juga bermakna yang pengusir kegelapan. Dalam pemujaan menuju Tuhan yang tunggal, orang Bali selalu melewatinya dari jalan yang berlapis dan berjenjang, dalam beragam entitas kedewaan.

Dalam proses yoga, undagan-undagan ini layaknya kebangkitan prana muladara, lalu menaik meniti meru danda hingga sampai ke Brahma Randra atau Sahasrapadma, padma dengan helai seribu. Begitu bila kita umpamakan perjalanan seorang peyoga, kebangkitan pasti dimulai dari cakra bawah.

Begitu p**a bila orang Bali memuja Tuhan bersifat saguna, pertama-tama ia memuliakan Tuhan-nya paling dekat dan paling nyata, yakni mulai dari orangtua yang melahirkan kita. Bila "Tuhan" yang nyata bisa dibuat tersenyum bahagia, undaggan-undagan berikutnya, mulai dari Kaki [Kakek], Kumpi, Buyut, Kelab, Kelambiung, Krepek, Canggah, Bungkar, Wareng, Kalewaran, Klakat, Kawitan, dan seterusnya, hingga kawitan paling akhir Siwa Guru dipastikan juga ikut termuliakan. Lalu dalam konteks pemujaan itu lapisan-lapisan inilah yang dimuliakan, leluhur didoakan supaya bersatu dengan lapisan paling absolut bernama Hyang Tunggal. Bila hari ini kata "sembahyang" telah menjadi kosa kata umum bahasa Indonesia, kata bentukan ini bisa dieja menjadi "sembah hyang" maknanya menautkan puja kehadapan Hyang. Kata 'hyang' adalah kata asli Nusantara, artinya: yang dimuliakan.

Memang dalam bahasa orang awam, sepintas terlihat orang Bali mengambil jalan berbeda dengan doktrin yang diajarkan Bhagawad-Gita, yang memuja pitra cuma sampai ke surga pitra, yang memuja dewa hanya sampai ke surga dewa. Intinya tidak ada jalan by pass ditempuh orang Bali bersatu dengan Sang Maha Pencipta. Seluruh entitas, seluruh lapisan roh didoakan menuju sempurna. Jalan ini saya sebut sebagai "jalan leluhur". "tar malupeng pitra puja, tak lupa memuja leluhur, " begitu kata Mpu Yogiswara, dalam karya sastra terpanjang Nusantara, Kakawin Ramayana. Ini juga yang menjadi alasan paling masuk akal, kenapa orang Bali memuliakan leluhurnya di Sanggah Kamulan.

Orang Bali yakin, dengan memuliakan kawitan sama artinya memuliakan sang pengada paling absolut. Dia dinamai Batara Kamimitan, Hyang Kamulan, yang berarti Tuhan maha muasal semua. Disadari dari leluhur yang numadi , leluhur yang terlahir kembali itu diyakini membawa watak masa silamnya, watak atau sifat turunan [hereditas] ini dialirkan lewat benang halus bernama GEN dan DNA. Dari sini p**a segala kecerdasan, bakat, watak, dan guna karma diturunkan. Dari situ p**a "Gen Tuhan" dititipkan.

Inilah keyakinan-keyakinan orang Bali yang kelak dibahasakan lisan dengan frase: mulih ngidih daar dan mantuk pawayangan, yang tak cuma diartikan sebagai lahir kembali (numitis, numadi), namun lebih dari itu ada pengertian penurunan sifat, watak, heriditas, termasuk bekal atau titipan perihal kemampuan fisik dan rohani. Karenanya bayi yang baru lahir, setelah disucikan dengan sejumlah upacara daur hidup, mulai dari lepas awon, tlu bulanan, otonan, kerap disebut sebagi raré maraga déwa. Seperti p**a kertas putih yang belum diberi gambar atau tulisan, ia dalam keadaan suci bersih, belum disentuh perbuatan baik dan buruk, namun membawa serta watak atau yoni kelahiran terdahulu.

Teks-teks semisal Tatwa Jñāna, Agastya Parwa memperjelas watak bawaan itu. Misalnya, yoni gandarwa, gemar akan segala kesenian, s**a bertamasya untuk menikmati keindahan alam. Yoni widyadhara, gemar akan olah kanuragan, rela mempertaruhkan jiwa, tidak ragu dalam bertindak, batin dan pikirannya jernih, dan memiliki ketetapan hati. Dua contoh yoni ini digolongkan sebagai yoni dengan karakter buddhi sattwam. Ada empat belas watak dalam garis demarkasi yoni satwam- rajas- tamas.

Tentang keluhuran yang jauh, atau kawitan yang tak terjamah, Steve Olson menjelaskan asal usul manusia begitu memukau, lewat buku menantang bertajuk Maping Human History [2004], hal mana asal-usul itu diurai dari Gen dan Ras ---- dengan kesimp**an, Afrika adalah muasal seluruh gen manusia yang tersebar di bumi. Ini tentu pendekatan yang rumit dan materialistik. Karena rumit dan misterinya yang disebut "awang-awang" orang Bali menamai kawitan itu sebagai Bhatara Hyang Guru. Di mana DIA dimuliakan karena telah membentangkan DNA begitu panjang, melampaui waktu, abad, dan geografi. Ini p**a yang tergambar dalam mantra singkat: Ong Maha Pitra ya namah. Ong muasal dari semua yang ada.
Bentangan- bentangan muasal abadi ini kemudian didekatkan, dimuliakan sebagai Batara Hyang Guru, dilinggihkan di Sanggah Kamulan atau Mrajan. Kutipan lontar Catur Loka Pala memberi penjelasan mendasar perihal bagaimana kawitan muasal itu dihadirkan dalam pemuliaan lebih dekat, dan kenapa kemudian orang Bali membangun tempat pemujaan bernama Sanggah Kamulan.

Begini antara lain disuratkan, " lahya kita manusa kabéh, haywa kita tan énget ri kami, kami mulaning sariranta kabéh, kami Sanghyang Guru Réka, angréka saisining rat kabéh, kami sinanggêh Bhatari Hyang Widhi, Dewa Hyang Kawitan ta kabéh, kami panunggalanira Sang Hyang Siwa Uma Kala, kami masasira Sanghyang Brahma Wisnu Iswara, menget ta kita kabéh, mangké wenang kita samuha, magawé sanggar kawitan ta rong tiga sana, apan mabhéda-bhéda pawitaning wwang, padha wijiling Panca Siwa, Sad Paramarta teke kami, kami utpati sthiti linanta......"

"Wahai engkau semua, jangan lupa kepadaKu, Akulah muasal semua sariramu, Aku adalah Sang Guru Reka, yang mengadakan semua isi dunia, Aku disebut Bhatari Hyang Widhi, Dewa Hyang Kawitanmu semua, Aku menyatu dengan Sang Hyang Siwa Uma Kala, Aku berbadan Sang Hyang Brahma Wisnu Iswara, ingatlah semua, sekarang kamu wajib bermufakat, membuat Sanggah Kawitan Rong Tiga, karena berbeda-beda asal manusia, keluar dari Panca Siwa, Sad Paramarta PadaKu, aku pencipta, pemelihara, pengembali.
".....maka hetu bhaktin ta ring kawitan. Punah na castute karmah. Muwah yan kita tan bhakti ring kawitan, Sang Hyang Kala pinaka tadahane kita, ndah tan urung pwa kita amanggih bhaya agung, haywa kita wismreti...."
".....karena itu hormatlah pada kawitan. Tiada pahala semua karma. Bila tidak berbakti pada kawitan, Sang Hyang Kala akan penadahmu, tidak urung kamu akan menemui bahaya besar, hendaknya jangan lupa hal ini......"

Perihal pentingnya mendirikan Sanggah Kamulan dan Kahyangan Tiga sebagai tempat pemujaan, lontar Raja Purana membentangkan hal ini begitu gambelang, "....ngraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur sila, makadi ngwangun Sanggah Kamulan, ngwangun Kahyangan Tiga, Pura Dalem, Puseh mwang Bale Agung.
Selanjutnya empat peraturan agama dibentangkan, empat cara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan, termasuk membangun Sanggah Kamulan, Kahyangan Tiga, Pura Dalem, Puseh dan Bale Agung.

Lalu apa gerangan makna pemujaan Batara Hyang Guru di Sanggah Kamulan itu? Lontar Padma Bhuwana memberi jawaban tegas."...pamerajan tegesipun pamujan, pangastawan Ida Sang Hyang Widhi, pangarcana Ida Sang Hyang Kawitan -- pemerajan berarti pemujaan, menghaturkan sembah bakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi, pengarcana pemuliaan terhadap Ida Sang Hyang Kawitan.

Inilah yang dimaksud "jalan leluhur" itu, jalan yang terbentang dari "langit" paling bawah, penghormatan pada ayah-ibu, Tuhan nyata dalam s**a-duka hidup -- hingga menembus langit keluhuran Hyang Paramesti Guru sebagai muasal segala yang ada, sebagai entitas Tuhan absolut bernama Embang, Suwung, Widhi, Kamulan, Kamimitan dan Sangkan Paraning Dumadi. Jalan ini sekaligus menunjukkan kearifan, bahwa dalam perjalanan kembali itu manusia diajarkan senantiasa mengingat segala hutang pada entitas apapun saat hidup. Semua didoakan, semua dimuliakan -- karena sejatinya semua kehadiran bersumber dari Kawitan Tunggal itu. @@

I Wayan Westa, penulis, pekerja kebudayaan

Om swastiastu, om saraswati patastra ya namah. Salah satu lanjutan ajaran kanda pat dan dasa aksara adalah menjalankan D...
01/07/2020

Om swastiastu, om saraswati patastra ya namah.
Salah satu lanjutan ajaran kanda pat dan dasa aksara adalah menjalankan Dharma Pitulung ( membantu sesama dan memberikan solusi). Untuk itu, mari kita kenali macam macam penyakit niskala :
1. Grubug Agung
Grubug sering kali membawa kematian masal pada waktu itu adalah akibat gerubug muntah mising atau disebut juga Ngutah bayar , ( ngutah berak, kolera), yg diidentifikasi sebagai wabah Kolera dan sangat di takuti oleh masyarakat krn bisa mengakibatkan kematian masal dalam waktu singkat.
Pada waktu itu, masyarakat Bali percaya bahwa wabah ini di sebabkan oleh ulah seorang yang sakti mandraguna yang bermukim di Nusa Penida, bersiam di dalem ped dan dijuluki RATU GEDE MECALING atau Jro Gede Macaling. Krn bermukim di daerah terpencil di suatu p**au di kelolingi laut maka beliau di beri gelar p**a: Bhatara Tengahing Segara. Untuk kisah kemunculan beliau, akan di bahas di Ts yg lain.
Setelah taringnya di patahkan dan dewa siwa mai mengakui sebagai anaknya dngn Ibu dewi Uma maka puaslah raksasa itu, kemudian dewa siwa menugaskan raksasa itu untuk tinggal di PURA DALEM PED Nusa Penida serta di tugaskan utk mengawasi orang Bali tetap taat menjalankan dharma Agama, jika masyarakat lupa menjalankan dharma Agama, raksasa ini di beri Kuasa untuk menimbulkan Grubug atau wabah. Utk tugas ini, raksasa ini di berikan pengikut BREGALA yg berupa bhuta bhuti utk menebar penyakit ke desa desa. Juga diberikan kuasa mengawasi para nelayan jika melanggar dharma selama mencari ikan, maka diberi wewenang untuk menenggelamkan sampan, jukung, janggolan maupun perahu mereka.
Untuk antisipasi dan nyomya Ulah Bregala ini maka di masing rumah ditancapkan sanggah cucuk sebagai tempat sajen berisi ayam bukakak dan Rajah Ghanapati untuk menolak Bala. Untuk anak anak juga diberikan berupa gelang benang Tri datu. Juga di pasang Pandan berduri berisi Rajah tapak dara dri pamor dan ung Mang Ang sebagai penolak bala, dengan harapan Grubug tidak meluas dan memakan lebih banyak korban.
Penduduk akan mengoreksi kedalam diri, apa gerangan perbuatan mereka yg telah melanggar dharma Agama ( Bukan menghakimi keluar), jika perbuatan mereka bisa diidentifikasi maka penduduk akan menghaturkan Guru piduka. Pelanggaran ini bisa berupa TRI MALA berupa: manah - mala ( pikiran buruk), Sabda mala ( berkata kata kotor), dan ulah-mala ( berbuat kotor dan tdk senonoh yg mencemari keskralan dan kesucian).

2. DESTI
Desti termasuk penyakit niskala yg di buat oleh perorangan kepada orang atau keluarga dengan berbagai sarana, benda dan rerajahan dan kekuatan mantra yg ditujukan ke WONG PINAKSA ( orang yg di target), contoh mantra: ang ung Ong, bancut atmane i syanu, bancut bayu sabda idepne, mawastu Rumpuh, tan kena angucap lan pejah,.... biasanya di lakukan pada malam hari, krn pada malam hari I Rare Cilik akan pergi dan mudah dimasuki desti atau bhuta bhuti kiriman, sehingga penting Ngregep Catur Sanak pada malam hari agar saudara catur sanak tetap menjaga Kita dri serangan Desti.

3. PAPASANGAN adalah sarana yg telah diisi kekuatan gaib yg di pasang di tempat tertentu utk membencanai orang yg ditarget, bisa di pekarangan, lebuh dll, cendrung di 3 tempat yaitu: lebuh agar dilangkahi, dekat tempat air dan dapur atau longkungan rumah orang yg di target. Biasanya sarana yg digunakan berupa tulang, bisa juga berupa Canang . Mantra yg di gunakan: Ang , Ung sang Bhuta Dengen bancutt atmane i syanu...,
Maka penting tetep menjaga diri dengan kanda pat dan memohon perlindungan selalu dengan hyang Guru dan taksu di pekarangan.

4. LEYAK sering berwujud binatang atau manusia siluman yang seram, dengan tehnik menyulap/ sihir mata target agar yg tampak didepannya sesuai dengan keinginan si penyihir.
Dalam Lontr DURGA PURANA TATWA menyinggung asal usul Leyak, dan juga lontar TATING MAS TATING RAT. Leyak ternyata tidak selamanya jahat, ternyata ada jenis jenis pengeleaka, leak yang baik sering disebut Leak Sari/ leyak petak/ leyak putih dan sering dikuasai oleh Balian Penengen, sedangkan leyak yang tidak baik biasanya disebut Leak Wegig/ leyak pamoroan/ leyak Badeng atau leyak selem. Leyak Sari Gurunya adalah dewa Brahma yang memiliki tingkat lebih tinggi dari bhatari Durga, bahkan dewa brahmalah yg menganugrahi ajaran ngeleyak kepada Durga. Sedangkan leyak pamoroan biasanya berguru kepada bhatari Durgha dan merupakan abdi Durga, krn motif durga menebarkan ajaran ini agar bnyak orang mati sehingga mayatnya bisa di makan oleh durga.
Tata cara memohon anugrahnya pun berbeda antara leyak sari dan leyak pamoroan, dimana leyak sari biasanya menghadap ke utara: dengan mantra: ong ah ang sanghyang brahma wisesa, ingsun aminta lugraha kesaktian, Ong sidhi rastu astu...,
Makanan leyak sari biasanya: bunga yang harum, dan mampu menidurkan semua mahluk yangbjahat sehingga mahluk yang jahat tdk dapt melakukan aksinya.
Jika di andaikan antara leyak sari dan leyak pamoroan, seperti halnya : Kupu kupu adalah leyak sari, dan Lalat adalah leyak pamoroan.
Seekor lalat walau di taman Bunga, yang di cari akan tetap Bangkai dan sesutu yg busuk.
Ini sebabnya penting sekali saat sembahyang mengahturkan bunga bunga harum, seba harum agar meredam kekuatan yang jahat.

5. BEBAHI di buat dari janin yg sudah di mantra yg dikirim ke seseorang utk membuat sakit. Menurut lontar usada Sasah Bebahi, tanda tanda orang bebahinan adalah: orang merasakan sakit di siksikan ( perut di atas kemaluan di bawah pusar), sakitnya sperti nusuk nusuk, kemudian berpindah ke pusar, terasa spt benda keras sebesar pisang menyumbat di hulu ati, akhirnya si sakit jatuh pingsan. Ada juga diawali dengan nyeri kemudian kesemutan, gelisah dan terasa sakit di tusuk tsuk di seluruh tubuh, dan badan terasa bengkak, jika sakit samapai ke kepala maka si sakit speerti orang Gila, jika sakitnya ke pergelangan si sakit akan kejang kejang dan mengigau, jika ke lidah maka si sakit akan bicara tidak karuan. Sering juga menangis dan menjerit sejadi jadinya di luar kontrol yg bersangkutan. Kalau di pegang maka akan meronta ronta dan mengeluarkan tenaga yg luar biasa melebihi kekuatan orang normal.
Karena Bebahi ini berasal dari unsur kanda pat, maka penetralisirnyapun dari kanda pat, ingat kembali kawisesan kanda pat:
- kawisesan anggapati : melukat sarwa letehing sarira/ kekotoran Badan.
- kawisesan mrajapati : kekuatan menolak segala marabahaya dan kaletehan.
- banaspati : memiliki kekuatan mengalahkan kesaktian sarwa sastra muang mantra, mengalahkan berbagai ilmu dan mantra. Dialah taksu ( kekuatan magis) dr para balian, dalang dan sastrawan.
- Banaspati Raja : dia mampu menghilangkan desti, pepasangann dan segala macam penyakit non medis, menjadi penguasa pekarangan.
Karena kawisesan dari kanda pat ini, manusia bisa terhindar dari marabhaya, sehingga utk tetap saling asih dan menjaga, maka mereka berempat selalu diingat dan di beri sajen pada hari hari tertentu.

6. TUJU TELUH, TERANGJANA dan MORO
Ketiga sumber penyakit ini jika menyerang akan mengakibatkan targetnya Tiwang ( kaku dan tidak sadarkan Diri), disertai dengan mengeluarkan kata kata yg tidak ada ujung pangkalnya, tidak karuan. Terkadang diperut seperti ada benda yg berputar, sendi terasa sakit, kepala berdenyut, mata berputar, kemudian pingsan. Bisa juga terjadi pembengkakan, ( biukan, kejang),menusuk nusuk dan berpindah pindah sakitnya, tanpa sebab yg jelas, beseh tanpa krana.

7. CORONA VIRUS DEASES 2019 ( Covid 19)
Di perkirakan menyerang saluran pernapasan sampai paru paru dan menginfeksi Paru sehingga fungsi paru2 tidak baik dan bisa menyebabkan kematian, dengan ciri: masa inkubasi 2 minggu menimbulkan reaksi kekebalan tubuh: badan panas, sesak nafas, dan sulit berbafas. Belum di temukan ida bhatara mana yg menyebabkan, di Di duga Ulah Siluman dari Wuhan 😁
Demikian sekelumit tentang sumber sumber penyakit dan kaitannya dengan kanda Pat dan dasa aksara. Jika ada memiliki gejala spt diatas, segera Hubungi Balian.
Note : sumber dari buku Usada Bali, Prof Ngurah Nala.

15/03/2020
Kasih ibu itu bagaikan tetesan air mata, meski tak bersuara, tetapi bisa meresap sampai ke relung hati yang kering; dia ...
02/09/2019

Kasih ibu itu bagaikan tetesan air mata, meski tak bersuara, tetapi bisa meresap sampai ke relung hati yang kering; dia biasa-biasa saja, tetapi mengandung sebuah keagungan yang luar biasa !

Address

Peumahan Nuansa Penatih Denpasar
Denpasar
80571

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jrgd. Mangku Sandhi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Jrgd. Mangku Sandhi:

Share