14/07/2020
Sekali lagi;
Untuk para sahabat yang bersetia di jalan leluhur
// Kenapa kemudian orang Bali membangun tempat pemujaan bernama Sanggah Kamulan? Apa gerangan makna dari pemujaan Kawitan itu?//
Radite Umanis Wuku Ukir. Hari penting bagi masyarakat Bali asli Klungkung, dan sebagaian pemeluk Hindu Bali di Karangasem, Gianyar, serta Bangli. Hari itu dilakuan pemujaan kehadapan Bhatara Hyang Guru, yang dipuja di Sanggah Kamulan. Ada juga yang menyatakan pemujaan kehadapan Hyang Paramesti Guru atau Hyang Siwa Guru. Ada sejumlah kata kunci, siapa sejatinya Hyang Guru yang dipuja di Sanggah Kamulan itu.
Pengertian awal bisa kita runut kenapa pemujaan itu dilakukan pada Radité Wukir. Kata Radite, disamping merujuk sebagai hari pertama dalam hitungan hari bersiklus tujuh sebagaimana dibentangkan dalam kalender Jawa-Bali, Radite mengingatkan juga pada Siwa Raditya [Surya], Tuhan sumber segala penghidup, sumber maha energi. Kata Wukir merujuk pada pengertian gunung sebagai "lingga acala", simbol Siwa abadi. Kata Kamulan [ka- mula-an] merujuk pada pengertian perihal muasal, atau kawitan. Terhubung p**a pada pengertian perihal "sangkan paraning dumadi" sumber dari mana kelahiran, kehadiran ini datang.
Sementara kata GURU dalam pemaknaan teks-teks Ta**ra, di samping juga berarti berat, GURU juga bermakna yang pengusir kegelapan. Dalam pemujaan menuju Tuhan yang tunggal, orang Bali selalu melewatinya dari jalan yang berlapis dan berjenjang, dalam beragam entitas kedewaan.
Dalam proses yoga, undagan-undagan ini layaknya kebangkitan prana muladara, lalu menaik meniti meru danda hingga sampai ke Brahma Randra atau Sahasrapadma, padma dengan helai seribu. Begitu bila kita umpamakan perjalanan seorang peyoga, kebangkitan pasti dimulai dari cakra bawah.
Begitu p**a bila orang Bali memuja Tuhan bersifat saguna, pertama-tama ia memuliakan Tuhan-nya paling dekat dan paling nyata, yakni mulai dari orangtua yang melahirkan kita. Bila "Tuhan" yang nyata bisa dibuat tersenyum bahagia, undaggan-undagan berikutnya, mulai dari Kaki [Kakek], Kumpi, Buyut, Kelab, Kelambiung, Krepek, Canggah, Bungkar, Wareng, Kalewaran, Klakat, Kawitan, dan seterusnya, hingga kawitan paling akhir Siwa Guru dipastikan juga ikut termuliakan. Lalu dalam konteks pemujaan itu lapisan-lapisan inilah yang dimuliakan, leluhur didoakan supaya bersatu dengan lapisan paling absolut bernama Hyang Tunggal. Bila hari ini kata "sembahyang" telah menjadi kosa kata umum bahasa Indonesia, kata bentukan ini bisa dieja menjadi "sembah hyang" maknanya menautkan puja kehadapan Hyang. Kata 'hyang' adalah kata asli Nusantara, artinya: yang dimuliakan.
Memang dalam bahasa orang awam, sepintas terlihat orang Bali mengambil jalan berbeda dengan doktrin yang diajarkan Bhagawad-Gita, yang memuja pitra cuma sampai ke surga pitra, yang memuja dewa hanya sampai ke surga dewa. Intinya tidak ada jalan by pass ditempuh orang Bali bersatu dengan Sang Maha Pencipta. Seluruh entitas, seluruh lapisan roh didoakan menuju sempurna. Jalan ini saya sebut sebagai "jalan leluhur". "tar malupeng pitra puja, tak lupa memuja leluhur, " begitu kata Mpu Yogiswara, dalam karya sastra terpanjang Nusantara, Kakawin Ramayana. Ini juga yang menjadi alasan paling masuk akal, kenapa orang Bali memuliakan leluhurnya di Sanggah Kamulan.
Orang Bali yakin, dengan memuliakan kawitan sama artinya memuliakan sang pengada paling absolut. Dia dinamai Batara Kamimitan, Hyang Kamulan, yang berarti Tuhan maha muasal semua. Disadari dari leluhur yang numadi , leluhur yang terlahir kembali itu diyakini membawa watak masa silamnya, watak atau sifat turunan [hereditas] ini dialirkan lewat benang halus bernama GEN dan DNA. Dari sini p**a segala kecerdasan, bakat, watak, dan guna karma diturunkan. Dari situ p**a "Gen Tuhan" dititipkan.
Inilah keyakinan-keyakinan orang Bali yang kelak dibahasakan lisan dengan frase: mulih ngidih daar dan mantuk pawayangan, yang tak cuma diartikan sebagai lahir kembali (numitis, numadi), namun lebih dari itu ada pengertian penurunan sifat, watak, heriditas, termasuk bekal atau titipan perihal kemampuan fisik dan rohani. Karenanya bayi yang baru lahir, setelah disucikan dengan sejumlah upacara daur hidup, mulai dari lepas awon, tlu bulanan, otonan, kerap disebut sebagi raré maraga déwa. Seperti p**a kertas putih yang belum diberi gambar atau tulisan, ia dalam keadaan suci bersih, belum disentuh perbuatan baik dan buruk, namun membawa serta watak atau yoni kelahiran terdahulu.
Teks-teks semisal Tatwa Jñāna, Agastya Parwa memperjelas watak bawaan itu. Misalnya, yoni gandarwa, gemar akan segala kesenian, s**a bertamasya untuk menikmati keindahan alam. Yoni widyadhara, gemar akan olah kanuragan, rela mempertaruhkan jiwa, tidak ragu dalam bertindak, batin dan pikirannya jernih, dan memiliki ketetapan hati. Dua contoh yoni ini digolongkan sebagai yoni dengan karakter buddhi sattwam. Ada empat belas watak dalam garis demarkasi yoni satwam- rajas- tamas.
Tentang keluhuran yang jauh, atau kawitan yang tak terjamah, Steve Olson menjelaskan asal usul manusia begitu memukau, lewat buku menantang bertajuk Maping Human History [2004], hal mana asal-usul itu diurai dari Gen dan Ras ---- dengan kesimp**an, Afrika adalah muasal seluruh gen manusia yang tersebar di bumi. Ini tentu pendekatan yang rumit dan materialistik. Karena rumit dan misterinya yang disebut "awang-awang" orang Bali menamai kawitan itu sebagai Bhatara Hyang Guru. Di mana DIA dimuliakan karena telah membentangkan DNA begitu panjang, melampaui waktu, abad, dan geografi. Ini p**a yang tergambar dalam mantra singkat: Ong Maha Pitra ya namah. Ong muasal dari semua yang ada.
Bentangan- bentangan muasal abadi ini kemudian didekatkan, dimuliakan sebagai Batara Hyang Guru, dilinggihkan di Sanggah Kamulan atau Mrajan. Kutipan lontar Catur Loka Pala memberi penjelasan mendasar perihal bagaimana kawitan muasal itu dihadirkan dalam pemuliaan lebih dekat, dan kenapa kemudian orang Bali membangun tempat pemujaan bernama Sanggah Kamulan.
Begini antara lain disuratkan, " lahya kita manusa kabéh, haywa kita tan énget ri kami, kami mulaning sariranta kabéh, kami Sanghyang Guru Réka, angréka saisining rat kabéh, kami sinanggêh Bhatari Hyang Widhi, Dewa Hyang Kawitan ta kabéh, kami panunggalanira Sang Hyang Siwa Uma Kala, kami masasira Sanghyang Brahma Wisnu Iswara, menget ta kita kabéh, mangké wenang kita samuha, magawé sanggar kawitan ta rong tiga sana, apan mabhéda-bhéda pawitaning wwang, padha wijiling Panca Siwa, Sad Paramarta teke kami, kami utpati sthiti linanta......"
"Wahai engkau semua, jangan lupa kepadaKu, Akulah muasal semua sariramu, Aku adalah Sang Guru Reka, yang mengadakan semua isi dunia, Aku disebut Bhatari Hyang Widhi, Dewa Hyang Kawitanmu semua, Aku menyatu dengan Sang Hyang Siwa Uma Kala, Aku berbadan Sang Hyang Brahma Wisnu Iswara, ingatlah semua, sekarang kamu wajib bermufakat, membuat Sanggah Kawitan Rong Tiga, karena berbeda-beda asal manusia, keluar dari Panca Siwa, Sad Paramarta PadaKu, aku pencipta, pemelihara, pengembali.
".....maka hetu bhaktin ta ring kawitan. Punah na castute karmah. Muwah yan kita tan bhakti ring kawitan, Sang Hyang Kala pinaka tadahane kita, ndah tan urung pwa kita amanggih bhaya agung, haywa kita wismreti...."
".....karena itu hormatlah pada kawitan. Tiada pahala semua karma. Bila tidak berbakti pada kawitan, Sang Hyang Kala akan penadahmu, tidak urung kamu akan menemui bahaya besar, hendaknya jangan lupa hal ini......"
Perihal pentingnya mendirikan Sanggah Kamulan dan Kahyangan Tiga sebagai tempat pemujaan, lontar Raja Purana membentangkan hal ini begitu gambelang, "....ngraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur sila, makadi ngwangun Sanggah Kamulan, ngwangun Kahyangan Tiga, Pura Dalem, Puseh mwang Bale Agung.
Selanjutnya empat peraturan agama dibentangkan, empat cara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan, termasuk membangun Sanggah Kamulan, Kahyangan Tiga, Pura Dalem, Puseh dan Bale Agung.
Lalu apa gerangan makna pemujaan Batara Hyang Guru di Sanggah Kamulan itu? Lontar Padma Bhuwana memberi jawaban tegas."...pamerajan tegesipun pamujan, pangastawan Ida Sang Hyang Widhi, pangarcana Ida Sang Hyang Kawitan -- pemerajan berarti pemujaan, menghaturkan sembah bakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi, pengarcana pemuliaan terhadap Ida Sang Hyang Kawitan.
Inilah yang dimaksud "jalan leluhur" itu, jalan yang terbentang dari "langit" paling bawah, penghormatan pada ayah-ibu, Tuhan nyata dalam s**a-duka hidup -- hingga menembus langit keluhuran Hyang Paramesti Guru sebagai muasal segala yang ada, sebagai entitas Tuhan absolut bernama Embang, Suwung, Widhi, Kamulan, Kamimitan dan Sangkan Paraning Dumadi. Jalan ini sekaligus menunjukkan kearifan, bahwa dalam perjalanan kembali itu manusia diajarkan senantiasa mengingat segala hutang pada entitas apapun saat hidup. Semua didoakan, semua dimuliakan -- karena sejatinya semua kehadiran bersumber dari Kawitan Tunggal itu. @@
I Wayan Westa, penulis, pekerja kebudayaan