18/10/2019
Bahaya Istri Tersinggung
===
Sejak kejadian itu, aku jadi lebih berhati-hati memilih kata sebelum diucapkan tatkala ngobrol dengan istri. Sebab, sedikit salah ucap bisa panjang urusannya.
***
Beberapa hari lalu, aku melakukan kekhilafan. Dan itu berakibat bikin aku pusing sendiri.
Ceritanya, pada suatu pagi istri bilang,
"Bang, minta tolong pijitin kepalaku bentar, d**g. Agak pusing, nih."
Aku menurut, memijat kepalanya bagian kiri dengan pelan.
"Kenapa pusing, Neng?" aku bertanya. Terus memijat kepalanya.
"Kayaknya gara-gara gak bisa bobo nyenyak tiap malem."
Keningku berkerut, "Gak bisa bobo nyenyak? Kenapa?"
Aku pikir istri akan bilang sambil nyanyi, "Karena banyak nyamuk di rumahkuuu, gara-gara akuuu, malas bersih-bersih."
Ternyata tebakanku meleset.
"Gak bisa bobo gara-gara kebangun terus, tiap malem anak-anakmu rewel. Gantian nangis, minta minum minta dianter pipis," istri manyun.
Aku pun menanggapi, kelak aku akan menyesal mengapa mengatakan hal ini pada istri, penyesalan tak berujung.
"Masa', Neng? Anak-anak loh gak pernah rewel. Buktinya aku gak denger anak-anak nangis tiap malem. Apalagi minta minum atau pipis."
Istri menjawab, "Iya, soalnya Abang bobo kayak orang pingsan. Jangankan denger suara anak rewel, ada gempa pun gak bakal denger."
"Ah, Neng ngarang, anak-anak bobonya anteng kok tiap malem." Aku tersenyum.
Setelah itu istri melepas tanganku dari kepalanya. Aku pegang lagi kepalanya, dia lepas. Aku mau pegang lagi, dia ngelak. Mau aku pegang untuk kesekian kalinya, dia ngancam bakal teriak maling.
Istri pun menatapku agak emosi, "Abang gak ngerti sih, tiap malem aku bangun-bangun terus ngeladenin anakmu. Sengaja aku gak bangunin Abang biar nyenak bobonya. Aku kasihan, soalnya pagi Abang bakal kerja. Eh, sekarang malah bilang gitu. Tersinggung aku. Awas, mulai nanti malem aku bakal bangunin Abang kalau anak-anak bangun. Biar Abang ngerti susahku tiap malem."
"Eh, maksudku gak gitu, Neng," aku garuk-garuk leher yang gak ga