20/07/2018
Buya Hamka : Mujaddid Abad 20, Tokoh Panutan Ulama dan Masyarakat Sumatera Barat, Indonesia, bahkan Dunia Islam Internasional
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa kita mengenalnya sebagai Buya Hamka, 17 Februari tepat 109 tahun yang lalu dilahirkan, di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Putra dari Haji Rasul, ulama yang juga disegani oleh masyarakat. Sosok yang inspiratif, yang hasil karya dan buah pikiran keilmuannya terkenang hingga zaman setelahnya. InsyaAllah akan menjadi amal jariah ilmu yang bermanfaat bagi beliau, amin.
Hasil karya beliau sangat fenomenal dari bidang sastra, politik, ilmu agama/ tafsir, dan sebagainya. Baik berupa kaset-kaset ceramahnya, hingga buku-buku novel dan kitab tafsir Al Azhar yang fenomenal itu. Sosok yang mewarnai arah juang Masyumi dan Muhammadiyah, dan menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Imam Pertama Masjid Al-Azhar Kebayoran Jakarta, yang pembawaannya menjadi teladan bagi umatnya yang merindukan sosok rendah hati penuh kharisma.
Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padang Panjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Mekkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak.
Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama sementara waktu di Medan. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.
Di ranah politik, beliau adalah salah satu pengusul rumusan dasar negara, dan sangat tegas menolak kehadiran Komunisme, baik sebagai paham kemasyarakatan maupun dalam kiprah bernegara melalui partai politik. Tak heran, beliau belajar ilmu politik langsung dari beberapa founding father negara ini seperti H. Agus Salim, HOS Tjokroaminoto (Sarekat Islam), Suryopranoto (Budi Utomo), Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Muhammadiyah ke-5), dan AR Sutan Mansur (kakak iparnya, Ketua Muhammadiyah ke-6)
Hamka diakui secara luas sebagai seorang pemikir Islam Asia Tenggara. Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak, ketika menghadiri penganugeragan gelar kehormatan Honoris Causa oleh Universitas Kebangsaan Malaysia kepada Hamka, menyebut Hamka sebagai "kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara". John L. Espito dalam Oxford History of Islam menyejajarkan Hamka dengan Sir Muhammad Iqbal, Syed Ahmed Khan, dan Muhammad Asad. Menurut peneliti sejarah Asia Tenggara modern James Robert Rush, Hamka hanyalah satu di antara banyak orang dalam generasinya yang dikenal sebagai politikus, ulama, dan pengarang. Namun, "Hamka tampak menonjol ketika di antara mereka ada yang lebih terpelajar, baik dalam pengetauan Barat maupun studi yang mendalam tentang Islam."
Para pemuda harus banyak belajar dari keteladanan dan kegigihan Buya Hamka muda, yang pada usianya belum genap 20 tahun, sudah berkontribusi besar bagi negeri ini, seperti rintisan cabang Muhammaiyah di Sumatera Barat. Bersama Sutan Mansur,beliau ikut mendirikan Muhammadiyah di Pagar Alam, Lakitan, dan Kurai Taji. Kontribusi yang luar biasa. Dalam menuntut ilmu, keterbatasan biaya beliau siasati dengan bekerja sampingan. Yang penting bagi beliau, tekadnya menyerap ilmu dari ulama dan tokoh besar, bisa dipenuhi, dengan jalannya sendiri.
Dan Dari Buku Kenang-Kenangan Hidup ini kita akan lebih mengenal dekat sosok Hamka. Perjalanan hidup Hamka sejak lahir dan tumbuh di lingkungan adat Minangkabau,
Perjalanan kisah cinta, perjalanan dakwah, kehidupan beliau dalam suasana Perang Dunia, hingga hiruk pikuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan kehidupan pada masa setelah Indonesia Merdeka.
Buku ini sangat istimewa, karena ditulis sendiri oleh Hamka pada saat hidupnya semakin dekat dengan nafas terakhir.
========
✅ Judul: Kenang-Kenangan Hidup
✅ Penulis: Buya Hamka
✅ Cover: Hard Cover
✅ Halaman: 672 Hal.
✅ Berat: 1Kg
HARGA: Dari 200,000. diskon 20% menjadi Rp. 160,000
Pemesanan: https://bukuhamka.com atau WA ke 0812-1916-3414
Nb: Pengiriman Dari Depok, Jawa Barat
========
Sumber Tulisan: Patriot Minang