15/10/2014
KETELADANAN KISAH SUKSES ABDURRAHMAN BIN ‘AUF
Abdurrahman bin Auf lahir 10 tahun sesudah tahun gajah. Ia masuk islam sesudah Abu Bakar dan termasuk dalam delapan orang yang pertama kali masuk islam. Nama lengkapnya Abdurrahman bin Auf bin Harits bin Zuhrah. Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk perang Badar. Beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di Baqi`.
Seorang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga ini adalah cermin yang mesti kita tiru dalam kehidupan ini keteladanannya. Kesuksesannya berbisnis tak membuatnya sombong dan berbangga diri, tapi sebaliknya ia tetap menunjukkan kebersahajaan dan keikhlasannya untuk berbagi bahkan berbagi sesuatu yang paling ia cintai.
Salah satu yang menarik dari pribadi beliau adalah keyakinannya yang baik akan potensi dirinya.
Kalimat yang pernah terluncur dari lisan beliau yang mashyur adalah; “Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak.
Dalam hal ini Abdurrahman bin Auf memberikan contoh konsep diri yang baik.
Konsep diri berupa keyakinan akan potensi yang luar biasa yang ada pada setiap diri manusia itulah optimis.
Kalimat di atas bukanlah merupakan isyarat kesombongan dari Abdurrahman bin ’Auf,
melainkan sebuah pikiran positif terhadap potensi yang diberikan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Karena sesungguhnya karunia Alloh begitu luas di semesta raya ini.
Persoalannya tinggal bagaimana kita mampu menggali potensi lalu mengembangkan potensi dan karunia Allah tersebut.
Sehingga kita mampu mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada orang lain seperti yang telah dilakukan Abdurrahman bin ‘auf.
Abdurrahman bin ’Auf telah membuktikan bahwa untuk mencapai keberhasilan, modal awal yang harus dimiliki setiap insan adalahberpikir positif terhadap dirinyayakni memberikan kepercayaan, keyakinan akan potensi besar yang ada pada dirinya.
Setelah meyakini diri sendiri, Abdurrahman bin ’Auf mencontohkan pada kita bagaimana ia membangun keyakinan akan kekuasaan Alloh. Ia yakin bahwa Alloh tak pernah tidur.
Alloh akan memberikan apapun yang diminta hamba-Nya.
Selagi hambanya melakukan ikhtiar yang tepat dan maksimal untuk membuktikan pikiran positifnya tersebut. Sejati nya Ia sedang mengisyaratkan jika seorang hamba Allah mau bekerja, berjuang, berikhtiar dan melakukan kreatifitas maka pasti setiap perjuangan & ikhtiar nya akan menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat kepada dirinya.
Abdurrahman bin Auf terkenal sebagai pedagang yang ulung. Setiap perniagaan yang ia lakukan, senantiasa menghasilkan keuntungan yang besar. Namun ia juga dikenal dengan sifat kedermawanannya. Ketika Rasulullah SAW membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum dalam perang Tabuk, ‘Abdurrahman bin ‘Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah:”Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”
Maka, Rasulullah SAW bertanya kepada Abdurrahman:“Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?” Abdurrahman menjawab:“Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang saya sumbangkan.” “Berapa?” Tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.” Subhanallah.
Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. ‘Abdurrahman bin ‘Auf shallallahu ‘alaihi wasallam kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.
Suatu hari, iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta yang dimuati bahan pangan, sandang, dan barang-barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Terdengar suara gemuruh dan hiruk-pikuk, ‘Aisyah RA bertanya kepada seseorang:“Suara apakah itu?”
Orang itu menjawab:“Iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:“Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada ‘Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Orang itu langsung menemui ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari ‘Aisyah RA. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah RA:“Wahai Ummul Mukminin, apakah ibunda mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah SAW?” “Ya,” jawab Aisyah RA.“Seandainya aku sanggup, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah.”
Sejak mendengar bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat berinfak dan bersedekahnya makin meningkat. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang,dan 1.500 ekor unta ia sumbangan untuk peruangan menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. Mendengar hal itu, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu mendoakan:“Semoga Allah memberinya minum dengan air dari telaga Salsabil (nama sebuah telaga di surga).”
Konsep tadi bukanlah isapan jempol belaka, dan ini terbukti pada saat beliau hendak turut berhijrah ke madinah .Dimana beliau meninggalkan seluruh harta kekayaannya di mekah.
Seperti hal yang dilakukan sahabat lainnya, beliau hanya membawa harta yang sangat amat sedikit sebagai bekal hijrah ke Madinah. Beliau adalah sosok manusia yang tidak menggenggam hartanya di hati, ia bisa mengikhlaskan apa yang ia tinggalkan tersebut.
Waktu di Madinah, seperti halnya yg diberlakukan atas seluruh Sahabat Radhiyallahu’anhum.Masing-masing Sahabat Muhajirin mendapatkan seorang saudara dari penduduk Madinah (Anshar) yang dijalinkan persaudaraan mereka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Di Madinah, Abdurrahman bin Auf Rasulullah persaudarakan dengan Sa’ad Bin Rabi Al Anshari radhiyallahu ‘anhu.
Dan saking kuatnya hubungan persaudaraan yang dijalinkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagi mereka, Sa’ad bin Rabi’ satu ketika menyampaikan tawaran yang sangat luar biasa kepada Abdurrahman bin ‘Auf
Dia berkata; “Silahkan ambil separuh hartaku untukmu”. hal ini dikarenakan rasa cinta,simpati & hormat Saad terhadap Abdurrahman yang telah dengan Ikhlas meninggalkan seluruh hartanya demi untuk memilih jalan Islam dan hidup bersama Rasulullah di Madinah.
Namun, apa jawaban Abdurrahman atas tawaran sodars Anshar nya itu? Beliau menolak dengan halus seraya berkata; “Terima Kasih, Semoga Allah memberkahi hartamu. Cukup kau tunjukkan saja padaku di mana letak pasar!”
Dan mulai saat itulah Abdurrahman bin ‘Auf memulai usaha mandirinya, mengawali perniagaannya dengan menjadi seorang penunjuk jalan bagi warga yang ingin mencari kebutuhannya dipasar tanpa pernah mematok tarif atas jasanyaberapapun uang yang diberikan kepadanya selalu beliau terima. Hingga akhirnya terkumpul modal usaha untuk memulai menjual. Barang yang pertama kali ia dagangkan, yakni tali pengikat kuda. Kemudian usahanya berkembang dan ia memulai menjual minyak samin, lalu berkembang dan terus berkembang pesat Sehingga dari perniagaannya, Allah menjadikan beliau sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yg paling kaya raya,dan sangat berjasa dalam membangun kekuatan serta kesejahteraan Umat Muslim di masanya.
📚 Apa pelajaran yang perlu kita ambil dari kisah keteladanan Abdurrahman bin ‘Auf ini?
Mereka saling mendahulukan kepentingan saudaranya, Allah bukakan keberkahan, Allah bukakan peluang menguasai ekonomi ummat, Pasar Madinah yang tadinya dikuasai yahudi berpindah ke tangan muslimin, berawal dari sikap tolong-menolong (ta’awun) sesama muslimin, bermula dari saling memecahkan masalah saudaranya, menjadi penguasa ekonomi saat itu, inilah hukum Allah, inilah sunnatullah.
Inilah cara melibatkan Allah… bukan dengan cara bersaing dengan pebisnis non-muslim melalui sistem yang dibuat oleh non-muslim juga, mustahil akan tampil. Bila ingin ummat ini kembali lagi menuju kejayaannya tidak pernah terjadi dan unggul melalui sistem buatan manusia. Kalau mau tampil harus kembali bersandarkan kepada SunnatuLLah dan Sunnah RasulNya.
Salah satunya adalah bahwa modal sukses tidaklah semata faktor modal materi dan pendidikan yang tinggi.Sukses selalu diawali oleh pikiran positif seseorang dalam memandang potensi yg Alloh titipkan dalam dirinya, dan juga meyakini kekuasaan Alloh dan cara pandang yang tepat terhadap kehidupan yang akan ia jalani juga berkhusnudzan kepada Alloh dan berfikir positif terhadap potensi diri, InSyaa Allah kita pasti mampu menghasilkan sesuatu.
Kita akan lebih banyak berkreasi dari pada bereaksi, karena kita akan lebih fokus mencapai tujuan kita.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.
Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.
Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya. (HR. Muslim)