29/01/2022
Hari ini, lagi dan lagi mendapatkan keluhan berada putus asa dari seorang Ibu-Ibu pemilik warung Krama Desa Adat di Jalan Pantai Nyanyi.
"Pak, mangkin wenten warung 24 jam baru driki, sami pelanggan tyg mrike. Tiang sampun putus asa, wau diskusi sareng anak tiang, ten je wenten sane ngicen tuntunan, mangde mresidayang warung titiang bersaing?"
"Yen ten kenten, jeg pasti tyg kalah pak".
________________________
Kami memahami Psikologi ibu ibu yang didampingi anaknya sebut saja Pak Gede, saat menelepon kami.
Sebuah gerakan besar, yang tentu saja diback up kekuatan besar, telah masuk bahkan sampai ke banjar banjar untuk mengambil peluang "ketidakpedulian" kita terhadap fenomena yang terus merongrong perekonomian, membawa keluar uang orang Bali yang sudah sedikit beredar dengan mendirikan warung kelontong dimana mana.
Kita? Masih saja sibuk berdiskusi, berlarut larut dalam diskusi tanpa henti. Padahal, kondisi warung milik Krama Adat kita sudah di titik nadir, ditambah kemampuan kompetisi yang rendah.
Apakah faktor faktor yang menyebabkan kita kalah bersaing?
1. WARUNG, KIOS, TOKO KITA, berdiri sendiri, sedangkan kompetitor berjaringan. Mulai dari warung kecil 24 jam, minimarket semuanya berjaringan.
2. Ada pihak yang PEDULI dan mau mendukung, mendorong untuk sebuah kepentingan yang lebih besar, yakni MELINDUNGI EKONOMI DI SEKTOR DISTRIBUSI yang merupakan salah satu pilar penting untuk rajegnya Bali.
3. Permodalan dibantu dengan skema antah berantah.
4. Mereka bersatu, bergerak dengan dukungan semua lini. Tidak mudah dipecah belah dan dihasut.
5. Para pengelolanya dilatih dan dimotivasi melalui komunitas.
Sampai kapankah kita terus menunggu? Dari potensi Rp 6 Triliun perputaran di sektor ritel mikro (Jalur General Trade), Rp 1,4 Triliun sudah diambil.
Ayo bergerak! Jangan menunggu kawanmu, gerakan kakimu, ayunkan tanganmu, jadilah pelaku sejarah, bukan hanya menonton dan menyerah.