09/10/2025
"JURNALISME ABHOTNEOโ: IDE, BACAAN, DAN TULISAN YANG HIDUP DI MANA SAJA
Dunia jurnalistik di Tanah Air mendapat suntikan semangat baru lewat gagasan unik yang disebut โJurnalisme Abhotneo.โ Konsep ini digagas oleh seorang pegiat literasi dan jurnalis independen asal Sumatera Utara, bernama Abhotneo (nama pena), yang menekankan bahwa seorang jurnalis sejati harus banyak membaca, rajin berpikir, dan tidak berhenti menulis โ di mana pun dan kapan pun.
Abhotneo dikenal sebagai sosok yang lugas dan berpandangan progresif. Ia percaya bahwa akar dari semua tulisan berkualitas adalah bacaan yang mendalam. Bagi dirinya, membaca bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan kewajiban moral bagi setiap jurnalis.
โJurnalis tanpa bacaan ibarat pena tanpa tinta. Tak akan bisa menghasilkan apa-apa. Membaca itu nafas utama bagi penulis,โ ujar Abhotneo.
Ia meyakini bahwa jurnalis sejati bukan hanya piawai mengejar berita, tetapi juga haus akan bacaan, peka terhadap lingkungan, dan mampu melahirkan gagasan di mana pun ia berada โ bahkan di tempat yang paling tidak terduga.
โJurnalis yang baik harus banyak membaca sebelum menulis. Tanpa bahan, tulisan hanya jadi deretan kata kosong. Dan jangan tunggu inspirasi datang, karena ide bisa muncul di mana saja โ bahkan di toilet sekalipun,โ ujar Abhotneo dengan gaya khasnya yang lugas dan jenaka.
๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐จ ๐
๐ช๐ง๐ฃ๐๐ก๐๐จ
Dalam pandangan Abhotneo, seorang jurnalis tidak boleh berhenti belajar. Membaca buku, artikel, bahkan percakapan publik di media sosial adalah cara untuk memahami dunia dengan lebih utuh.
Ia menilai, banyak tulisan dangkal lahir karena penulisnya miskin referensi. โTulisan yang kuat lahir dari kepala yang penuh bahan bacaan,โ katanya. โKalau tidak membaca, bagaimana mau menulis sesuatu yang memberi makna?โ
๐๐๐ฃ๐ช๐ก๐๐จ ๐๐ ๐๐ค๐๐ก๐๐ฉ, ๐ฝ๐ช๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ ๐๐๐๐ง ๐๐๐ฉ๐๐๐ค๐ง๐
Salah satu ciri khas gagasan โJurnalisme Abhotneoโ adalah ajakan yang terdengar nyeleneh tapi bermakna: menulis, bahkan di toilet sekalipun.
Menurutnya, kalimat itu bukan sekadar ajakan harfiah, melainkan simbol bahwa kreativitas tidak mengenal batas tempat. Toilet, yang biasanya dianggap ruang pribadi dan sunyi, justru bisa menjadi tempat munculnya ide jernih.
โToilet itu ruang refleksi. Di situ kita sendiri, tenang, dan bisa berpikir jernih. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk melahirkan ide tulisan?โ ujarnya sambil tertawa kecil.
๐๐๐ข๐๐๐๐, ๐๐ค๐ฃ๐๐๐จ๐ ๐๐ช๐ก๐๐จ๐๐ฃ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐ช๐๐ฉ
Menurut Abhotneo, dunia jurnalistik saat ini sering tergoda oleh kecepatan, bukan kedalaman. Banyak berita lahir dari sumber tunggal tanpa perenungan, padahal pembaca membutuhkan tulisan yang memberi makna, bukan sekadar informasi.
Ia menegaskan, membaca adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Dari bacaan, seorang jurnalis belajar memperluas sudut pandang, memperkaya diksi, dan memahami konteks di balik peristiwa.
โTulisan yang baik itu seperti pohon: akarnya adalah bacaan, batangnya pengalaman, dan buahnya ide. Kalau akar tak ada, pohon itu pasti tumbang,โ ujarnya.
๐๐๐ฃ๐ช๐ก๐๐จ ๐๐ ๐๐ค๐๐ก๐๐ฉ: ๐๐๐ข๐๐ค๐ก ๐๐ง๐๐๐ฉ๐๐ซ๐๐ฉ๐๐จ ๐๐๐ฃ๐ฅ๐ ๐ฝ๐๐ฉ๐๐จ
Salah satu gagasan paling menarik dari Jurnalisme Abhotneo adalah ajakan untuk โberkarya bahkan di toilet sekalipun.โ Kalimat ini sering menimbulkan senyum bagi yang mendengarnya, namun memiliki makna filosofis yang dalam.
Abhotneo menjelaskan bahwa ajakan tersebut adalah simbol kebebasan berpikir. Ide bisa muncul di mana saja โ saat bekerja, berjalan, bahkan di tempat yang paling sunyi.
โToilet itu ruang sunyi. Di sana orang sering berpikir jernih. Kalau ide datang, catat. Jangan tunggu waktu sempurna untuk menulis, karena ide tak kenal tempat,โ katanya sambil tertawa kecil.
๐๐๐ฃ๐ช๐ก๐๐จ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ก๐๐ฃ ๐
๐๐ฌ๐
Bagi Abhotneo, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati untuk menulis demi kebenaran dan pencerahan. Ia mengingatkan bahwa tugas jurnalis bukan hanya melaporkan fakta, tetapi juga memaknai peristiwa agar publik bisa berpikir lebih kritis.
โTugas jurnalis itu bukan mengejar sensasi, tapi memberi arah. Dan arah itu lahir dari tulisan yang jujur, hasil dari membaca dan merenung,โ tegasnya.
Kini, konsep โJurnalisme Abhotneoโ mulai diperbincangkan di kalangan penulis muda dan komunitas literasi di berbagai daerah. Beberapa komunitas di kampus jurnalistik bahkan berencana menjadikannya tema diskusi dalam pelatihan menulis kreatif.
Abhotneo menutup setiap sesinya dengan kalimat yang kini mulai viral di kalangan pegiat literasi kalangan generasi muda: โBaca di mana pun, tulis apa pun, karena ide tak pernah tidur โ bahkan di balik pintu toilet sekalipun.โ