Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia

Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia Group WA tersedia file pdf nya . klik saja https://chat.whatsapp.com/KbvijFNKqo46HvAn5jLbrt?mode=ems_copy_t

09/09/2026

Nomor : 50
Jumat Ke 02, September 2026
HASUD PANYAKIT HATI YANG BESAR BAHAYANYA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ ثُمَّ هَدَى وَ وَهَبَ لَهُ اَمْوَالًا وَّ اَوْلَادًا . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنْ عَذَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ خَيْرِ مَنْ نَالَ الْهُدَى . اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ فَكُنْتُمْ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَدَّ کَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا ۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَـقُّ ۚ فَا عْفُوْا وَ اصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى کُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: “Banyak diantara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu dari beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran telah jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah kepada mereka, hingga datang perintah dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” { QS. Al-Baqarah, ayat 109 }
Hadirin Ahli Shalat Jum`ah, Rahimakumullah !.
Awal mula iri hati dan cemburu bisa berasal dari keinginan terhadap apa yang dimiliki orang lain atau tidak menyukai melihat kesuksesan orang lain, mendapat anugrah, bahkan berharap hilangnya anugrah orang lain atau berharap nugraha berpindah kepada dirinya. Orang lain mampu, kita tidak mampu. Orang lain punya, kita tidak punya. Akhirnya, hati menjadi tidak puas, bahkan membenci orang lain. Penyakit iri hati dapat menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, tidak memandang ulama atau pelajar, pejabat atau rakyat, anak-anak atau orang tua, bahkan syetan {nenek moyang jin} pun terpengaruh oleh sifat iri hati, syetan berpaling dari perintah Allah, ia tidak mau bersujud{hormat} kepada Nabi Adam karena merasa lebih mulia daripada Adam.
Ini menjelaskan akar iri hati (cemburu). Sebenarnya, bukan karena orang lain salah, tetapi karena hati tidak menerima takdir yang telah Allah berikan. Ketika kita melihat orang lain mendapatkan keistimewaan, orang lain lebih kaya, lebih sukses, memiliki banyak anugrah, hati kita terkadang menjadi lemah dan tidak tahan. Daripada bersyukur atas apa yang ada, tapi hanya membandingkan dengan orang lain, lalu timbul perasaan tidak s**a, tidak menyukai melihat kebahagiaan orang lain. Padahal dalam Islam, rezeki dan bagian hidup telah diatur oleh Allah Ta'ala. Setiap orang memiliki bagiannya masing-masing. Apa yang diberikan kepada orang lain, belum tentu baik bagi kita. Apa yang tidak diberikan kepada kita, bisa jadi itu adalah perlindungan dari Allah.
Iri hati sangat berbahaya, ia dapat merusak amal perbuatan, mencemari hati dan membuat kita tidak tengtram, selalu gelisah, serta merusak hubungan sosial. Nabi Muhammad SAW bersabda
ااِنَّ الْغِلَّ وَ الْحَسَدَ يَأْكُلَانِ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: "Sesungguhnya iri hati dan hasud keduanya menghancurkan amal kebaikan, seperti api yang menghanguskan kayu bakar". {Tanbihul Ghafilin, halaman: 63}.
Sedangkan kebalikannya adalah rasa puas{ridlo} dan syukur. Orang yang puas akan tenang, meskipun ia tidak memiliki banyak. Orang yang bersyukur akan merasa cukup, meskipun ia memiliki sedikit. Oleh karena itu, jika melihat ken`matan orang lain, jangan iri, tetapi doakanlah. Tidak perlu membenci, tetapi introspeksi diri. Jangan membandingkan, tetapi bersyukurlah atas apa yang dimiliki. Karena yang menyakitkan hati bukanlah karena kurangnya keni`matan, tetapi kurangnya rasa puas dengan apa yang telah Allah tetapkan.
Yakinkanlah bahwa keberhasilan orang lain tidak akan mengurangi rezeki yang telah Allah siapkan untuk kita
Hadirin Yang Dimulyakan Allah !.
Jika iri hati kepada orang karena kemulyaannya di sisi Allah, ahli Surga, maka untuk apa iri hati kepada seseorang yang telah dimulyakan Allah, ahli Surga. Dan jika iri hati itu kepada orang hina disisi Allah, ahli Neraka, maka apa perlunya iri hati kepada seseorang yang dihinakan oleh Allah, ahli Neraka. Mendingan, memohon karunia{anugrah} kepada Allah, sebagaimana Allah telah memberikan karunia kepada orang lain, dan mintalah perlindungan dari siksa api Neraka.
Kita sebagai manusia biasa, yang tidak di ma`shum, tidak terjaga kesalahannya, mungkin sewaktu-waktu terjangkit penyakit iri hati dan hasud. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: "Ada tiga sifat yang seorangpun tidak mungkin terhindar darinya, yaitu berburuk sangka, iri hati, dan takut akan musibah karena suatu perkara." Rasulullah ditanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat terhindar dari ketiga hal ini?" Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjawab: "Jika kamu merasa iri, maka janganlah kamu mengungkapkannya dengan ucapan dan perbuatanmu, karena selama masih hanya di dalam hatimu, maka semoga Allah mengampuninya; jika kamu mempunyai pikiran buruk kepada orang lain, maka janganlah kamu mengungkapkannya {janganlah kamu menyelidikinya untuk mengetahui dan sesuai kenyataan}; jika kamu ingin keluar karena takut akan nasib buruk akibat keraguan karena suara burung, atau hal-hal lain yang menimbulkan kekhawatiran, maka janganlah kamu mundur, teruslah memenuhi kebutuhanmu". {Tanbihul Ghafilin, halaman: 63-64}
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّه‘ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KA II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ هَدَانَا لِهَذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لَا اَنْ هَدَانَا اللهُ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ اَلَّذِى لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَ الْبَلَاءَ وَ الْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ مِنْ بَلَادِنَا هَاذَا خَاصَّةً وَ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى اْلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

03/09/2026

Nomor : 49
Jumat Ke 01, September 2026
BERSEGERA BERANGKAT KE MESJID

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ . وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَ الْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوةَ وَ اٰتَى الزَّكٰوةَ وَ لَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰۤ اُولٰٓئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: " Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk ". (QS. At-Taubah 9: Ayat 18)
Hadirin Ahli Jum`ah, Rahimakumullah !.
Dalam Kitab Dhurratun Nashihin, halaman 30, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Pada Hari Kiamat, ketika Allah mengumpulkan seluruh manusia, akan ada sekelompok orang yang wajahnya bersinar seperti cahaya bintang. Para malaikat bertanya kepada mereka: ‘Apa amal perbuatan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami apabila mendengar seruan azan s**a bersegera berwudhu, meninggalkan pekerjaan kami. Ada kelompok lain yang wajahnya seperti cahaya bulan. Para malaikat bertanya kepada mereka: ‘Apa amal perbuatan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami ketika mendengar seruan azan kami sudah memiliki wudhu.’ Kemudian ada kelompok lain yang wajahnya seperti cahaya matahari. Ketika ditanya, mereka menjawab: ‘Kami manakala mendengar seruan azan sudah berada di dalam masjid.’”
Orang yang mendengar seruan azan sedangkan ia sudah berada di dalam masjid besar kemungkinan banyak amalan yang telah dilakukan dengan sempurna karena mereka memiliki banyak waktu, tidak tergesa-gesa pergi ke masjid. Seperti berwudhu dengan sempurna di rumahnya, menyempurnakan sunat-sunat wudlunya, berdo`a setelah wudlu, kemudian shalat sunat syukul wudhu, dan membaca QS. Al-Qadr tiga kali. Hadits diriwayatkan oleh Ad-Dailami, Nabi SAW bersabda::
اَنَّ مَنْ قَرَأَهَا فِى أَثَرِ وُضُوْئِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً كَانَ مِنَ الصِّدِّقِيْنَ وَ مَنْ قَرَأَهَا مَرَّتَيْنِ كُتِبَ فِى دِيْوَانِ الشُّهَدَاءِ وَ مَنْ قَرَأَهَا ثَلَاثًا حُشِرَ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ
Artinya: "Barangsiapa membaca Surah Al-Qadr sekali setelah berwudhu, maka ia termasuk golongan shiddiqin; barangsiapa membacanya dua kali, namanya tercatat dalam catatan para syuhada; barangsiapa membacanya tiga kali, maka ia akan dikumpulkan bersama para Nabi". {I'anah Tolibin I, halaman 54}
Setelah berdoa diteruskan laksanakan shalat sunnah dua rakaat yang disebut shalat shukurul wudhu. Pada rakaat pertama setelah membaca Surah Al-Fatihah, membaca Surah An-Nisa ayat 64, dan pada rakaat kedua setelah fatihah membaca Surah An-Nisa ayat 110. Setelah shalat, pergi ke masjid dengan tenang sambil membaca doa pergi ke masjid, memohon agar diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Pergi ke masjid tanpa ada niat berbuat jahat, tanpa niat pamer, tanpa niat ingin menarik perhatian, ingin dikatakan orang yang rajin ibadah, tetapi ke masjid disertai hati rasa takut akan murka Allah, mencari ridha Allah. Itulah isi dari doa ketika pergi ke masjid. Di setiap langkahnya hati berharap diampuni dosa-dosanya dan dinaikan martabat di dunia dan akhirat.
Tiba di masjid, di pintu masuk masjid, melangkahkan kaki kanan dahulu tidak lupa berdoa masuk masjid memohon diampuni dosa oleh Allah dan dibukakan pintu rahmat, kemudian melaksanakan shalat sunnah dua rakaat tahiyat masjid, setelah selesai shalat, duduk menunggu azan dengan niyat-niyat yang baik, seperti niat i'tikaf, mema`murkani masjid, menunggu shalat, menahan diri dari perbuatan dosa, dan niyat bersilaturahmi dengan jamaah. Niyat-niyat ini dilakukan agar dalam satu amalan bisa mendapatkan banyak pahala, karena dalam satu amalan bisa mendapatkan banyak pahala tergantung pada banyaknya yang diniyatkan. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayatul Atqiya, halaman 42, dikatakan
وَ اعْلَمْ اَنَّهُ يُتَضَاعَفُ الْعَمَلُ الْوَاحِدُ بِقَدْرِ النِّيَّاتِ فِيْهِ كَجُلُوْسِ فِى الْمَسْجِدِ ... الخ
Artinya: “Ketahuilah bahwa suatu amal perbuatan akan dilipatgandakan sesuai dengan niat amal perbuatan tersebut”.
Ketika adzan berkumandang, ia menjawab seluruh kalimat adzan dengan sempurna dan doa setelah adzan. Kemudian melaksanakan shalat sunnah, seperti 4 rakaat sebelum zuhur dan sesudahnya, 4 rakaat sebelum asar, 2 rakaat sebelum maghrib dan sesudahya, 2 rakaat sebelum isya dan sesudahnya, tidak lupa 2 rakaat sebelum subuh. Juga tidak ketinggalan melaksanakan dzikir-dzikir setelah shalat yang diakhiri dengan berdo`a kepada Allah Ta`ala.
Hadirin sekalian, Rahimakumullah!
Seseorang yang istiqomah dalam amal perbuatannya sejak berwudhu hingga kembali ke rumah dibarengi akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-harinya pasti akan mendapat kemuliaan dari Allah, dosa-dosanya akan diampuni, dan di akhirat kelak wajahnya akan bercahaya. Semoga kita semua diberi petunjuk dan pertolongan oleh Allah untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada-Nya, dan semoga kematian kita berakhir dengan baik {husnul Khatimah}. Aamiin!
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّه‘ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KA II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ و َرَسُوْلُه ُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِه ِ. اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى الْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

27/08/2026

Nomor : 48
Jumat Ke 04, Agustus 2026
KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI SAW

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ . وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ ۚ وَ اِنْ كَانوْا مِنْ قبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Artinya : " Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS. Ali 'Imran, Ayat 164)
Hadirin, Jamaah Shalat Jumat, Rahimakumullah !.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW, memang anugerah dan kado terindah bagi umat manusia dari Allah yang wajib kita syukuri. Sosok Rasulullah saw memang selalu dikaitkan dengan keagungan syafaatnya. Syafaat Nabi adalah pertolongan atau perantaraan yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw kepada ummatnya dengan izin Allah SWT, khususnya pada hari kiamat. Syafaat Nabi ini bentuk kasih sayang Nabi kepada ummatnya dan merupakan salah satu harapan besar bagi kaum muslimin agar mendapatkan ampunan dan rahmat Allah. Syafaat Rasulullah saw sangat diharapkan saat umatnya mengalami masalah atau dalam situasi sulit, seperti dilansir dalam perkataan imam Busyhiri dalam burdahnya:
هُوَ الحَبيبُ الذي ترْجَى شَفاعَتُهُ . لِكُلِّ هَوْلٍ مِّنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ
Artinya: “ Dialah al-habib sang kekasih yang diharapkan syafaatnya untuk menghadapi setiap peristiwa dahsyat yang menimpat ummat manusia”.
Nabi SAW Bersabda:
شَفَاعَتِيْ لِاَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ اُمَّتِيْ
Artinya: “ Syafaatku untuk ummatku yang banyak berbuat dosa besar”. {Sunan AtTirmidzi, Juz 4, kaca 433}.
Hadirin, Rahimakumullah !.
Diantara jalan untuk mendapatkan syafaat Rasulullah saw yaitu memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW. Banyak sabda Nabi yang menerangkan tentang keutamaan dan manfaat memperbanyak membaca shalawat kepadanya, disamping akan mendapat syafaat, Diantaranya, yaitu: Akan mendapatkan rido Allah, semua makhluk akan memohon ampunan kepada Allah untuk orang itu setelah kematiannya, memadamkan murka Allah, penerang di kuburnya dan penerang ketika menyeberangi jembatan pada Hari Kiamat, penerang di Surga, mempermalukan tipu daya Setan, memperbanya istrinya di Surga, Allah mengharamkan tubuhnya dari api Neraka. Penerang hati yang gelap.
Besar dan mulianya memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW, karena beliau adalah pemberi syafaat yang agung bagi kita semua, karena beliau sebagai perantara yang agung bagi kita semua, bahkan Beliau yang menjadi asal adanya semua makhluk (alam semesta dan segala isinya) serta keberadaan Surga dan Neraka. Allah Ta`ala berfirman dalam Hadits Qudsi:
لَوْ لَاكَ لَوْ لَاكَ لَمَّا خَلَقْتُ الْأَفْلَاكَ
Artinya: “ Jika bukan karena Engkau, Jika bukan karena Engkau { Wahai Muhammad }, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini “. {Kifayatul Atqiya, kaa 6-7}
Memperbanyak membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad (saw) akan menghapus kesalahan-kesalahan dan diampuni dosa, meningkatkan derajat seseorang, dan mencukupkan segala kebutuhan yang pebting di dunia dan akhirat. Memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW itu untuk membedakan antara orang munafik dan orang kafir yang tidak membacakan shalawat. Memperbanyak membaca shalawat adalah mengikuti perbuatan para malaikat abror. Dipenuhi segala kebutuhan, dan diselamatkan dari api neraka {Ibid, bab 119}.
Imam Busyairi Rahimahullaah dalam syairnya berkata:
وَتَزَوَّدِ التَّقْوَى فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ . فَمِنَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ . صَلَّى عَلَيْهِ اللَّهُ إِنَّ صَلَاةَ مَنْ . صَلَّى عَلَيْهِ دَخِيرَةٌ لَمْ تَنْفَدِ
Artinya: "Bekalilah dirimu dengan takwa. Jika hal itu tidak mampu engkau lakukan, maka bacalah selawat atas Nabi mu, Muhammad sumber segala ilmu. Semoga rahmat selalu tercurah kepadanya. Tak diragukan lagi, salawat adalah simpanan yang tidak akan habis”. {Qurrotul `Uyun, halaman: 5}.
Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan keteguhan kepada kita semua dalam memperbanyak bacaan shalawat kepada Muhammad SAW. Agar kita semua menerima syafaat Nabi SAW. nanti di akhirat. Dan semoga Allah menurunkan keberkahan hidup kepada kita semua. Aamiin, Yaa Rabbal `Aalamiiin !.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KA II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ و َرَسُوْلُه ُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِه ِ. اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ حُبَّكَ وَ حُبَّ مِنْ يُحِبُّكَ وَ الْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنَا حُبَّكَ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ رَبَّنَا ءاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى الْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

19/08/2026

Nomor : 47
Jumat Ke 03, Agustus 2026
SAYAFAAT NABI MUHAMMAD SAW

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ : إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا . أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُسْلِمُوْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: " Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman ".
(QS. At-Taubah, Ayat 128)
Jama’ah Jumat rahimakumullah,
Manusia adalah makhluk lemah yang tidak pernah luput dari dosa. Sebaik-baik manusia akan tetap memiliki kekhilafan. Namun Allah yang Maha Pengasih tidak menutup pintu ampunan bagi hamba-Nya. Bahkan Allah menganugerahkan kepada kita seorang Nabi yang penuh kasih sayang, yang kelak di hari kiamat akan memberikan syafaat kepada umatnya, terutama kepada para pendosa yang menyesal dan bertaubat. Rasulullah saw bersabda:
شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي
Artinya: Syafaatku diberikan untuk umatku yang melakukan dosa-dosa besar. {Al-Jami`ulKabir- Sunan At Turmudzi, Juv 4, halaman 433}. Hadits ini memberikan harapan besar bagi kita semua, bahwa meski manusia banyak terjerumus dalam dosa, jika ia tetap berpegang pada iman dan tidak menyekutukan Allah, maka ia berhak mendapatkan syafaat Rasulullah saw. Syafaat Nabi adalah salah satu bentuk kasih sayang beliau kepada kita. Sejak di dunia, beliau selalu mengkhawatirkan umatnya.
Betapa besar kasih sayang Nabi SAW. Beliau tidak hanya memikirkan sahabat-sahabat yang dekat dengannya, tetapi juga kita yang lahir berabad-abad setelah beliau wafat. Namun, jangan sampai kita salah memahami syafaat. Syafaat bukan berarti tiket gratis untuk berbuat dosa ses**a hati. Syafaat adalah rahmat Allah yang diberikan melalui Rasul-Nya kepada orang-orang yang masih memiliki iman, yang menyesali dosanya, yang berusaha kembali kepada Allah meski penuh kekurangan. Allah swt berfirman:
يعْلَمُ مَا بيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُوْنَۙ اِلَّا لِمَنِ ارْتَضٰى وَهُمْ مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُوْنَ
Artinya: “ Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka (malaikat) dan yang ada di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridai dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya”. (QS Al-Anbiya: 28). Artinya, yang mendapat syafaat hanyalah mereka yang masih dalam ridha Allah, bukan orang yang mati dalam keadaan kufur dan syirik.
Jama’ah yang dimuliakan Allah !.
Jika kita ingin mendapat syafaat Rasulullah saw kelak, mari kita berusaha memenuhi syarat-syaratnya, yakni menjaga tauhid, jangan pernah menyekutukan Allah dengan apapun, mencintai Nabi Muhammad saw, membuktikan cinta dengan meneladani sunnahnya, memperbanyak bershalawat kepadanya, karena Nabi SAW bersabda:
اَوْلَى النَّاسِ بِيْ يوْمَ الْقِيَامَةِ اَكْثرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً
Artinya: “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku” (HR Tirmidzi).
Hadirin, Rahimakumullah,
Di hari kiamat nanti, manusia akan berada dalam ketakutan luar biasa. Matahari didekatkan, keringat bercucuran, semua manusia mencari pertolongan. Para nabi pun berkata, “nafsi, nafsi”, “diriku, diriku sendiri”. Hanya Nabi Muhammad saw yang berani berkata, “Ummatku, ummatku.” Beliau sujud memohon kepada Allah, dan Allah mengizinkan beliau memberi syafaat kepada umatnya. Betapa besar kasih sayang Rasulullah saw kepada kita. Maka alangkah malunya kita jika di dunia ini kita lalai, enggan mengikuti sunnahnya, enggan bershalawat kepadanya, bahkan lebih mencintai dunia daripada mencintai Nabi kita.
أَقوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَ أَسْتغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة . أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ . اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِيْنَ ٱتَّقَواْ وَ الَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ . ‎اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ‎اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَ ارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَ اَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَ ارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ الرِّضَى وَ الْيَقِيْنَ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

12/08/2026

Nomor : 46
Jumat Ke 02, Agustus 2026
MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ . أَشْهَدُ أَنْ لَّا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا الْحَضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُـوْعِ وَالْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ
Artinya: " Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat". (QS. An-Nahl٬ Ayat 112)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Kemerdekaan adalah rahmat dari Allah dan merupakan nikmat bagi kita semua. Jika kita terus bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat-nikmat Allah lainnya, maka Allah akan menambahkan nikmat-nikmat-Nya sebagaimana yang Ia firmankan:
وَ اِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: " Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat ". (QS. Ibrahim , Ayat 7)
Mensyukuri nikmat adalah dengan tidak menggunakannya dalam bermaksiat kepada Allah. Kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan melakukan berbagai kebaikan dan berbuat baik kepada orang lain. Kita syukuri kemerdekaan ini dengan melaksanakan semua kewajiban dan menjauhi seluruh larangan Allah. Kita lakukan tugas dan kewajiban kita sebagai ayah, ibu, anak, sebagai suami, istri, sebagai guru, murid, sebagai pejabat, rakyat, pemimpin, sebagai orang yang hidup bertetangga, sebagai orang yang hidup bermasyarakat dan sebagai orang yang hidup berdampingan dengan umat agama lain. Jika masing-masing dari kita telah mengetahui, memahami dan melakukan tugas dan kewajibannya sebagaimana mestinya, maka negara ini akan senantiasa aman dan sentosa.
Kemerdekaan adalah nikmat yang menjadikan kita terbebas dari berbagai belenggu. Nikmat kemerdekaan adalah pintu yang membuka nikmat-nikmat yang lain. Dengan nikmat kemerdekaan, kita dapat merasakan nikmatnya beribadah dengan leluasa. Dengan nikmat kemerdekaan, kita dapat merasakan nikmatnya belajar dan mengajar. Dengan nikmat kemerdekaan, kita dapat menikmati kebersamaan kita sebagai saudara-saudara seagama, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Dan dengan nikmat kemerdekaan, kita bisa membangun negeri ini secara bersama-sama. Oleh karena itulah, kita rawat dan lestarikan nikmat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nikmat yang agung ini terlepas dari kita. Bagaimana cara merawat dan melestarikannya? Dengan cara terus membangun negeri ini dan memperbaikinya. Kita mulai dengan membangun dan memperbaiki diri dan keluarga kita. Lalu meluas ke masyarakat. Ibarat sebuah bangunan, maka Indonesia terdiri dari banyak sekali batu-bata dan komponen-komponen lainnya. Kita dan keluarga kita adalah salah satu dari batu-bata negeri ini.
Jika semua batu-bata dan komponen lainnya baik dan kuat, maka bangunan negeri ini akan kuat. Sebaliknya, jika ada satu saja atau beberapa batu-bata yang rapuh, maka bisa jadi hal itu akan berakibat rapuhnya bangunan seluruh negeri, bahkan bisa menjadikan seluruh bangunan menjadi runtuh.
Hadirin Rahimakumullah.
Negeri ini tidak hanya berupa wilayah geografis, yaitu tanah, air dan udara semata. Tapi lebih dari itu, negeri ini juga mencakup manusia yang merupakan penduduk negeri yang di tangan merekalah nasib negeri ini akan seperti apa. Oleh karena itu, kita utamakan membangun manusia daripada membangun yang lain. Karena sendi dan tiang penyangga dari bangunan negeri ini tiada lain adalah akhlak karimah.
Jika kita mencintai negeri ini, jika kita cinta tanah air ini, maka buktikan cinta itu. Yaitu cinta yang senantiasa mendorong kita untuk terus membangun dan memperbaiki negeri ini. Kita bangun dan perbaiki negeri ini dengan menjadi pribadi-pribadi yang saleh. Yaitu pribadi-pribadi yang berilmu, beramal dan penuh dedikasi untuk membangun negeri. Pribadi-pribadi yang saleh akan melahirkan keluarga-keluarga yang saleh. Dan keluarga-keluarga yang saleh akan mewujudkan masyarakat yang saleh. Jadi kesalehan individu akan mewujudkan kesalehan sosial. Kesalehan sosial akan menjadikan negeri ini aman, sentosa dan sejahtera. Dengan kesalehen sosial, segala bentuk kejahatan akan terputus.
مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوُجْدَانِهَ عَرَفَهَا بِوُجُوْدِ فُقْدَانِهَا
Artinya: “ Siapa orang yang tidak merasakan nikmat ketika nikmat-nikmat itu masih ada, maka ia akan merasakan nimat-nimta itu ketika nikmat nya sudah tiadak ada”.
أَقوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى . أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الضِّدْقِ الْوَفَا ـ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ . اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَ ارْزُقْ اَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ . رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَّ اجْنُبْنِيْ وَ بَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ . اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِنَا . اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَعِنْهُمْ عَلَى الِقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا اَمَرْتَهُمْ . اَللَّهُمَّ اَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَ الْمُفْسِدِيْنَ وَ قَرِّبْ اِلَيْهِمْ اَهْلَ الْخَيْرِ وَ النَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share