09/09/2026
Nomor : 50
Jumat Ke 02, September 2026
HASUD PANYAKIT HATI YANG BESAR BAHAYANYA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ ثُمَّ هَدَى وَ وَهَبَ لَهُ اَمْوَالًا وَّ اَوْلَادًا . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنْ عَذَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ خَيْرِ مَنْ نَالَ الْهُدَى . اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ فَكُنْتُمْ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَدَّ کَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا ۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَـقُّ ۚ فَا عْفُوْا وَ اصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى کُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Banyak diantara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu dari beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran telah jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah kepada mereka, hingga datang perintah dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” { QS. Al-Baqarah, ayat 109 }
Hadirin Ahli Shalat Jum`ah, Rahimakumullah !.
Awal mula iri hati dan cemburu bisa berasal dari keinginan terhadap apa yang dimiliki orang lain atau tidak menyukai melihat kesuksesan orang lain, mendapat anugrah, bahkan berharap hilangnya anugrah orang lain atau berharap nugraha berpindah kepada dirinya. Orang lain mampu, kita tidak mampu. Orang lain punya, kita tidak punya. Akhirnya, hati menjadi tidak puas, bahkan membenci orang lain. Penyakit iri hati dapat menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, tidak memandang ulama atau pelajar, pejabat atau rakyat, anak-anak atau orang tua, bahkan syetan {nenek moyang jin} pun terpengaruh oleh sifat iri hati, syetan berpaling dari perintah Allah, ia tidak mau bersujud{hormat} kepada Nabi Adam karena merasa lebih mulia daripada Adam.
Ini menjelaskan akar iri hati (cemburu). Sebenarnya, bukan karena orang lain salah, tetapi karena hati tidak menerima takdir yang telah Allah berikan. Ketika kita melihat orang lain mendapatkan keistimewaan, orang lain lebih kaya, lebih sukses, memiliki banyak anugrah, hati kita terkadang menjadi lemah dan tidak tahan. Daripada bersyukur atas apa yang ada, tapi hanya membandingkan dengan orang lain, lalu timbul perasaan tidak s**a, tidak menyukai melihat kebahagiaan orang lain. Padahal dalam Islam, rezeki dan bagian hidup telah diatur oleh Allah Ta'ala. Setiap orang memiliki bagiannya masing-masing. Apa yang diberikan kepada orang lain, belum tentu baik bagi kita. Apa yang tidak diberikan kepada kita, bisa jadi itu adalah perlindungan dari Allah.
Iri hati sangat berbahaya, ia dapat merusak amal perbuatan, mencemari hati dan membuat kita tidak tengtram, selalu gelisah, serta merusak hubungan sosial. Nabi Muhammad SAW bersabda
ااِنَّ الْغِلَّ وَ الْحَسَدَ يَأْكُلَانِ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: "Sesungguhnya iri hati dan hasud keduanya menghancurkan amal kebaikan, seperti api yang menghanguskan kayu bakar". {Tanbihul Ghafilin, halaman: 63}.
Sedangkan kebalikannya adalah rasa puas{ridlo} dan syukur. Orang yang puas akan tenang, meskipun ia tidak memiliki banyak. Orang yang bersyukur akan merasa cukup, meskipun ia memiliki sedikit. Oleh karena itu, jika melihat ken`matan orang lain, jangan iri, tetapi doakanlah. Tidak perlu membenci, tetapi introspeksi diri. Jangan membandingkan, tetapi bersyukurlah atas apa yang dimiliki. Karena yang menyakitkan hati bukanlah karena kurangnya keni`matan, tetapi kurangnya rasa puas dengan apa yang telah Allah tetapkan.
Yakinkanlah bahwa keberhasilan orang lain tidak akan mengurangi rezeki yang telah Allah siapkan untuk kita
Hadirin Yang Dimulyakan Allah !.
Jika iri hati kepada orang karena kemulyaannya di sisi Allah, ahli Surga, maka untuk apa iri hati kepada seseorang yang telah dimulyakan Allah, ahli Surga. Dan jika iri hati itu kepada orang hina disisi Allah, ahli Neraka, maka apa perlunya iri hati kepada seseorang yang dihinakan oleh Allah, ahli Neraka. Mendingan, memohon karunia{anugrah} kepada Allah, sebagaimana Allah telah memberikan karunia kepada orang lain, dan mintalah perlindungan dari siksa api Neraka.
Kita sebagai manusia biasa, yang tidak di ma`shum, tidak terjaga kesalahannya, mungkin sewaktu-waktu terjangkit penyakit iri hati dan hasud. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: "Ada tiga sifat yang seorangpun tidak mungkin terhindar darinya, yaitu berburuk sangka, iri hati, dan takut akan musibah karena suatu perkara." Rasulullah ditanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat terhindar dari ketiga hal ini?" Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjawab: "Jika kamu merasa iri, maka janganlah kamu mengungkapkannya dengan ucapan dan perbuatanmu, karena selama masih hanya di dalam hatimu, maka semoga Allah mengampuninya; jika kamu mempunyai pikiran buruk kepada orang lain, maka janganlah kamu mengungkapkannya {janganlah kamu menyelidikinya untuk mengetahui dan sesuai kenyataan}; jika kamu ingin keluar karena takut akan nasib buruk akibat keraguan karena suara burung, atau hal-hal lain yang menimbulkan kekhawatiran, maka janganlah kamu mundur, teruslah memenuhi kebutuhanmu". {Tanbihul Ghafilin, halaman: 63-64}
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّه‘ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KA II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ هَدَانَا لِهَذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لَا اَنْ هَدَانَا اللهُ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ اَلَّذِى لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَ الْبَلَاءَ وَ الْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ مِنْ بَلَادِنَا هَاذَا خَاصَّةً وَ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى اْلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ