05/04/2020
MENGAPA AL ZAYTUN BERANI LOCKDOWN?
Tak hanya megah gedung pembelajaran dan asramanya serta sarana pendukung fasilitas pendidikannya, tapi di dalam area kampusnya memang memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa untuk sebuah institusi pendidikan.
Urusan pangan sudah jauh-jauh hari disiapkan secara mandiri oleh sang maestro, Dr. AS. Panji Gumilang, M.P- Pimpinan Ponpes Al Zaytun.
Pantas saja Syaykh Al Zaytun, dengan cepat me-lockdown area kampusnya, sebab kebutuhan yang seperti di bawah ini mereka sudah sedia :
1. Beras Putih
2. Beras Merah
3. Gula Pasir
4. Gula Merah
5. Kopi
6. Garam
7. Telur Ayam
8. Peternakan Ayam Potong
9. Peternakan Kambing
10. Peternakan Sapi
11. Ikan Air Tawar
12. Minyak Wijen
13. Air Mineral
14. Buah-buahan
15. Sayur-mayur
16. Tanaman Bumbu Dapur
17. Tanaman Obat (Apotik Hidup)
18. Susu Sapi dan Kambing
19. Toserba Al Zaytun
20. Perkhidmatan Kesihatan (Poliklinik)
Persediaan beras berton-ton tersimpan apik di Istana Beras Al Zaytun, hasil dari areal persawahan milik sendiri. Stok gula dari kebun tebu milik sendiri. Begitu p**a stok kopi, wijen, sayur-mayur, buah-buahan semua dihasilkan dari ladang sendiri. Peternakan ayam di Al Zaytun hasil produksinya bahkan sudah dipasarkan keluar kampus dan memenuhi kebutuhan pelanggan di pasar tradisional Indramayu. Persediaan bahan makanan di Al Zaytun sudah memenuhi kebutuhan 4 sehat 5 sempurna.
Keren sekali gaya komunitas yang sudah terencana dan boleh dikatakan mapan pangan. Namun berbeda halnya dengan beberapa pesantren lainnya yang saat ini justru terpaksa memulangkan santri-santrinya ke rumah. Bisa jadi karena tak memliki kesiapan pangan mandiri seperti Al Zaytun.
Bagi Syaykh Al Zaytun, beliau justru merasa khawatir dengan keselamatan para santri, apabila dip**angkan ke rumah masing-masing dengan berbagai kondisi yang belum tentu terjamin. Sebab kita tahu betapa carut-marutnya kebijakan lockdown di beberapa daerah dan berbagai situasi rentan lainnya. Bila mengambil pernyataan dari pengamat politik beken, Rocky Gerung- "Rakyat cari selamat sendiri-sendiri".
Maka keadaan santri yang di lockdown di dalam kampus Al Zaytun, sesungguhnya adalah kondisi terbaik, teraman sekaligus tersehat baik fisik maupun jiwanya yang tak sekhawatir orang-orang yang berada di luar kampus mereka.
Keputusan lockdown Al Zaytun, patut diapresiasi walau tak terpublikasikan media, faktanya ribuan wali santri Al Zaytun sangat berterima kasih atas sikap dan tindakan Syaykh dalam melindungi putra dan putrinya pada situasi sekarang.
Lingkungan kampus telah disterilkan, para santri dan civitas pun telah menjalani vaksinasi influenza. Aktivitas sekolah tetap berjalan dengan pemberlakuan social distancing, sholat berjama'ah pun tak ditinggalkan. Semua dengan mudah dikondisikan, karena tingkat kedisiplinan santri sudah cukup baik. Santri tak alami kejenuhan seperti para pelajar pada umumnya yang sedang terpaksa dirumahkan.
Wali Santri juga bersyukur telah menyekolahkan putra-putrinya di Pondok Pesantren Al Zaytun yang sangat terlihat progres kemajuannya baik pengembangan SDM juga pengelolaan SDA yang otomatis menjadi pembelajaran aktual dan faktual bagi para santrinya.
Kita berharap bangsa Indonesia bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang besar atas ujian berat di tahun ini. Tak elok bila bangsa ini terus saja lalai untuk menggarap sawah dan ladang, tidak mau berpikir sebagai produsen, dan berperilaku sangat konsumtif.
Apalagi jika negara terus digiring menjadi pelaku impor. Negara ini pasti akan menuju jurang kehancuran. Tak akan kuat menghadapi persoalan dan tantangan global. Maka bisa jadi ujian 'Lockdown Negara' adalah latihan bagi setiap negara untuk mampu berdiri diatas kaki sendiri.
Adakah tempat-tempat di Indonesia saat ini yang juga lulus ujian 'lockdown' seperti di Al Zaytun?
www.al-zaytun.sch.id
By : Ade Chan