19/09/2020
Akan Lockdown (Sendiri) Pada Waktunya
Tiba tiba sy teringat sebuah diskusi kira kira 6 bulan yg lalu waktu baru satu dua minggu kasus merebak. Sy diskusi dengan orang yang bukan tidak faham dunia per-virus-an apalagi pandemi. Pandemi itu sudah terjadi sejak ribuan bahkan mungkin puluhan ribu tahun lalu. Jadi, epidemiologi itu bukan ilmu dadakan lima enam bulan lalu. Tapi sudah melalui sejarah peradaban manusia ribuan tahun.
Waktu itu sy bertanya, ini kira kira apa cara mengatasi pandemi covid yg benar? Beliau menjawab: "caranya ya hanya lockdown"
Selain sesuai keilmuan, lockdown-pun sudah ada UU-nya. Sy berpikir iya juga ya, sudah sesiap itu sebetulnya.
Lalu sy bilang (waktu itu sy masih kontra lockdown. Ya, sy 10 tahun belajar ekonomi, pasti kerangka pikir sy ekonomi): Tapi negeri ini akan kolaps ekonominya dan pemerintah tak ada uang utk cover lockdown.
Apa jawabannya?, ini bukan masalah ekonomi, ini masalah kesehatan. Mau selamat dari pandemi jawabannya ya hanya lockdown. Ekonomi biar dipikir ekonom saja, tapi jika pertanyaanmu mengatasi pandemi ya cuma lockdown (karantina wilayah) jawabannya.
Sy tanya lagi, bagaimana jika lockdown tidak menjadi opsi utk dieksekusi?, jawabnya: ya silahkan, akan lockdown sendiri pada waktunya.
Simple banget diskusi kala itu, tapi sy jadi yakin memang strategi lockdown itu tak bisa ditawar (dlm konteks redam pandemi loh ya). Akan tetapi jika dicampur dgn ekonomi ya jadi lain lagi ceritanya. Sy ingat betul waktu itu sebetulnya me-lockdown total Jabodetabek aja mungkin masih cukup. Disertai tutup se-Indonesia semua akses manusia dari luar negeri. Mungkin hasilnya akan jauh lebih baik dari hari ini.
Hari ini, sy mendapat kabar dari daerah di luar Jakarta bagaimana kantor2 banyak yg tutup karena terkena "klaster", termasuk kantor pemerintah. Nah disitulah sy jadi ingat diskusi 6 bulan lalu ini, "akan lockdown (tutup) sendiri pada waktunya" Nahh kan..
Cerita diatas bukan omong kosong, walau mungkin bagi sebagian anda konten diskusi tersebut dianggap omong kosong... Santai aja..
🙂🙂🙂
Sirojuddin Said salah ternyata, lagi lagi sy diskusi dengan org yg sy anggap kapabel menanggapi isue ini. Lockdown justru akan paling menghantam (berasa) org yg paling kaya. Makin kaya makin berasa itu efek lockdown.
Org2 bawah itu ekonominya bergerak di akar rumput yg sifatnya daily dan jalan terus. Itu aja masih dapat bansos p**a. Jadi dimana benarnya opini lockdown paling berasa buat orang bawah?
Nah justru akan sangat berasa bagi org kaya. Org2 super kaya berpotensi kehilangan kekayaan hingga 50% bahkan lebih. Ambil contoh group Djarum yg kekayaannya 300 T. Itu bisa kehilangan kekayaan sampai 150 T dan bisa lebih. Kebayang kan gimana takutnya mereka?
Tapi pedagang pasar, kios, kakilima.. tak ada itu cerita kehilangan kekayaan.
So jadi, siapa sebetulnya yg paling takut?
Ya, negeri ini penuh opini, itulah opini yg dikembangkan oleh golongan super kaya melalui buzzer2 bayarannya. Dengan mengedepankan kepentingan org bawah, tapi justru sebetulnya penuh kepentingan mereka sendiri.
Ada lagi yg bilang loh negara tak punya uang utk cover lockdown. Really? Coba cek program PEN berapa T..? 😄..
Skr corona menyebar kemana2 justru rakyat yg sengsara. Akhirnya tutup sendiri sendiri. Rakyat yg kena corona. Banyak korban berjatuhan karena rakyat harus tetap beredar di pasar2, di kantor2, di pabrik2...
Kemana golongan super kaya? Mereka sembunyi di kastil kastil mewah mereka.. Kolam renang ada. Tennis ada. Joging bisa. Bioskop pun punya. Gym tersedia. Semua fasilitas ada. 😁😁😁