29/05/2020
LANGSUNG DARI KESEHARIAN
Fitrah Ilhami gak butuh perencanaan cerita, gak perlu strategi dalam penyusunan plot, sebab cerita yang dia tulis bukan hasil ngarang, bukan hasil rekayasa, tapi real diambil dari keseharian dirinya.
Sebuah buku kadang menarik hanya pada bagian-bagian awal. Saya perkirakan karena penulis buku itu mendapatkan semangat menulis hanya pada saat awal-awal mengerjakannya. Pada bab pertama, kedua dan ketiga dia masih punya energi banyak, masih termotivasi, masih bersemangat melakukannya, namun terkadang, saat masuk ke bab pertengahan, dia mulai bosan, jenuh dengan tulisan yang digarapnya. Dia berusaha menulis hanya karena ingin menyelesaikan cerita itu, hanya biar novelnya tuntas.
Nah Mas Fitrah, gak mau menghasilkan tulisan seperti itu: Tulisan yang diselesaikan tanpa semangat. Maka waktu emak dari anak-anaknya menyarankan supaya menulis novel, dia nyatakan dirinya belum sanggup untuk itu. Mengutip kalimat Mbak Helvi Theana Rosa dalam sebuah seminar, "Menulis novel itu butuh nafas panjang." dan Fitrah Ilhami merasa nafasnya masih pendek.
Karena itulah, daripada menuliskan cerita panjang tanpa semangat, yang akibatnya hanya akan menghasilkan cerita membosankan, maka untuk saat ini hanya menggarap tulisan yang dia merasa akan tetap punya energi dan semangat hingga menyelesaikannya. Dia menulis langsung dari kehidupan sehari-hari. Kejengkelannya saat berupaya memahami istri, kebingungannya saat berusaha memahami omongan anak yang baru belajar bicara, dan problematika lainnya, dia tuliskan, yang bikin pembacanya seringkali dia bawa ketawa ngakak, merenung, bahkan berurai air mata.
WhatsApp: 082218909378