13/10/2016
🌷 *Ber-Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu*
Berilmu sebelum Beramal: ﺍَﻟْﻌِﻠْﻢُ {AL 'ILMU} adalah *MA'RIFAH (PENGETAHUAN)« sebagai lawan dari » ﺍَﻟْﺠَﻬْﻞُ {AL-JAHL} atau KEBODOHAN* «
SUNGGUH BENAR DNG APA YANG TELAH DIUNGKAP OLEH Seorang *'Ulama Tabiin* bernama *Imam Sufyan ats-Tsauri,-gurunya (Abu Hanifah) ﺭﺣﻤﻪﺍﻟﻠّﻪ ,-smg Allah merahmatinya (wafat thn. 161 H)* pernah mengatakan:
ﺇِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ، ﺃَﻻ ﺗَﺤُﻚَّ ﺭَﺃْﺳَﻚَ ﺇِﻻ ﺑِﺄَﺛَﺮٍ ﻓَﺎﻓْﻌَﻞْ
"Jika kamu bisa tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya, maka lakukanlah."
*Rujukan*: [Kitab, 'Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami’ al-Hadits (hlm. 1/197)]
Ulama ini menasehatkan agar setiap amal yang kita lakukan sebisa mungkin didasari dengan dalil. Sampai-pun dalam masalah kebiasaan kita, atau bahkan sampai dalam masalah yang mungkin dianggap sepele'. Apalagi dalam masalah ibadah. Karena inilah syarat mutlak seseorang dikatakan mengamalkan dalil.
Imam *Ibnu Baththal*, dengan mengutip keterangan *al-Muhallab*, yang mengatakan:
Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah. Inti dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah janjikan, serta memahami tata cara ikhlas kepada Allah dalam beramal. Dalam keadaan semacam ini, bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya. [Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Baththal, Syamilah, (hlm. 1/145)]
"Dalam kaidah ilmu ushul fikih ada perkataan ulama:
ﺍَﻟْﻌِﻠْﻢُ - ﺍَﻟْﻔَﻬْﻢُ
*Al 'Ilmu - Al Fahmu*
Artinya, *'ILMU' itu adalah FAHAM atau MENGERTI*
Sedangkan makna secara al-Lughoh (bahasa) nya:
ﺍَﻟْﻌِﻠْﻢُ
*AL-'ILMU* adalah lawan dari,
ﺍَﻟْﺠَﻬْﻞُ
*AL- JAHL* atau *KEBODOHAN* yaitu *MENGETAHUI SESUATU SESUAI DNG KEADAAN YANG SEBENARNYA, DNG PENGETAHUA YANG PASTI*
Sedangkan, Secara istilahnya dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa *» ﺍَﻟْﻌِﻠْﻢُ {AL 'ILMU} adalah *MA'RIFAH (PENGETAHUAN)« sebagai lawan dari » ﺍَﻟْﺠَﻬْﻞُ {AL-JAHL} atau KEBODOHAN* «
Menurut seorang Ulama lainnya: Ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui.
"Adapun ilmu yang saya maksudkan adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk.
Maka, ilmu yang di dalamnya terkandung pujian dan sanjungan adalah ilmu wahyu, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah saja."
*Rujukan* [Lihat dlm Kitaabul ‘Ilmi (hlm. 13),- KARYA: Al-'Allaamah Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wuhaiby at-Tamimi {ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻌﺜﻴﻤﻴﻦ},-[Lahir thn.1349H/1928 M,- di Unaizah,-dan Wafat thn. 1422 H/2001M,- dlm usia ke 73thn di Jeddah] ﺭﺣﻤﻪﺍﻟﻠّﻪ (smg Allah merahmatinya) Cet. Daar Tsurayya lin Nasyr, thn. 1420 H].
Jadi, Sesungguhnya ilmu itu adalah: *mengetahui sesuatu sesuai dengan sifatnya, dengan pengetahuan yang pasti*
"Al Munawiy ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata: *'Ilmu adalah keyakinan yang pasti dan kokoh, yang mencocoki kenyataan*.” [At Ta’arif (hlm. 523-524)].
Dan *ILMU itu dibangun di atas DALIL (argumen wahyu)
»AND CATAT! BUKAN MENURUT MAIN RO'YU (Mantiq, Lologikaan)
Al-Allamah Asy-Syaikhul Islam (pembela Islam) Ibnu Taimiyyah[1],-ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ،-{smg Allah Yang Mahatinggi merahmatinya,- wafat thn. 728 H} berkata:
“Sesungguhnya *ILMU* itu adalah sesuatu yang DALIL itu tegak di atasnya. Dan *ILMU* yang bermanfaat adalah yang dibawa oleh Rasûlullâh ﷺ. Maka yang penting adalah kita berkata dengan *ILMU*, yaitu penukilan yang dibenarkan dan penelusuran yang dipastikan.” [Majmu’ul Fatawa (hlm. 6/388)].
"Dan barangsiapa yang hanya ikhlash krn Allah سبحانه وتعالى, tetapi ia tidak mengikuti sunnah (contoh) dari Rasulullah ﷺ, maka semua ibadah-ibadahnya menjadi Tertolak (Roddun), berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ .
☑ *"Man'amila 'amalan Laisa 'alaihi amrunaa fahuwa roddun*
“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan (petunjuk,contoh dalil) dari kami, maka amalan tersebut roddun (tertolak).”
*Sanad* [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 2697), Muslim (no. 1718 [18]) dan Ahmad (VI/146, no. 180, 256), dari Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها(semoga Alloh meridhainya)]
Sedangkan, *'Ber-Amal (ibadah) Secara Ikhlash itu, tidak mengalir begitu saja (dengan sendirinya) tanpa adanya proses, namun ia butuh pengorbanan dan perjuangan secara wujud nyata, karena maqsud (niat) yang sudah terbetik di dlm hati akan terwujud dalam (amalan) lahiriah (zhahir) dan bisa dilihat secara Kasat (Mata), atau Konkrit (secara Fakta), atau Realitas (Kenyataan) dlm ranah tindakan nyata."
Sebagaimana diungkap oleh ulama salaf (para pendahulu)
ヅ✍ ❧ 'Imam al-Fudhail bin 'Iyadh [wafat thn. 187 H] ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ (semoga Allah Yang Mahatinggi merahmatinya) mengatakan,
ヅ✍ ❧ *'Sesungguhnya amal (perbuatan) apabila dilakukan dengan »IKHLASH« namun tdk benar (menurut syariat), 'Maka ia tdk akan diterima (disisi Allah)*.
ヅ✍ ❧ 'Dan apabila dilakukan dng benar namun »TIDAK IKHLASH« 'Maka tdk akn diterima hingga ia dilakukan dng Ikhlash dan Benar (bersesuaian dng syariat).
ヅ✍ ❧ 'Yang dilakukan dng Ikhlash ialah hanya ditujukan untuk Allah Ta'ala (Yang Mahatinggi), sedangkan yg benar ialah yang bersesuaian dng *Sunnah Nabiy ﷺ ." (Lihat al-'Ubudiyah (hlm. 84-85)
ヅ✍ ❧, (Beliau) imam al-Fudhail bin Iyadh juga menjelaskan,
ﺗَﺮْﻙُ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺭِﻳَﺎﺀٌ، ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺷِﺮْﻙٌ...,
"Meninggalkan amalan (perbuatan) karena manusia adalah riyaa', sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan...,"(Sedangkan letak)-ikhlash itu adalah, ketika Allah menyelamatkan kita dari keduanya.
*Rujukan* (Lihat dlm kitab, Majmuu' al- Fataawaa (hlm. 23/174-175) oleh 'Syaikhul Islam [Pembela Islam] Ibnu Taimiyyah (wafat thn. 728 H) ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ (semoga Allah Yang Mahatinggi merahmatinya)]
Hal ini juga terdapat Penjelasan di dalam kitab Syarah Arbain, karya al-Imam al-Allaamah al-Muhaddits An-Nawawi [*] Beliau ﺭﺣﻤﻪﺍﻟﻠّﻪ (smg Allah merahmatinya) menjelaskan :
“Perkataan Fudhail bahwa orang yang meninggalkan amal karena manusia adalah riya', sebab ia melakukannya karena manusia. Adapun kalau meninggalkan amal karena ingin melakukannya di saat sepi atau sendirian, maka diperbolehkan dan ini sunnah, kecuali dalam perkara yang wajib, seperti shalat wajib lima waktu atau zakat, atau ia seorang alim yang menjadi panutan dalam ibadah, maka menampakkannya adalah afdhal (utama)."
[Syarah Arbain, karya al-Imam Syaikh an-Nawawi, (hlm. 6)]
*Sedangkan inti dari amal (perbuatan, ibadah) yang ikhlash, bergantung dari Niat, Maqoshidnya (maksud dan tujuan) yang ia niatkan (dlm hati), sebagaimana Hujjah (dalil):
"Dari al-Amirul Mukminin-'Al Faruq Abu Hafsh Umar bin al- Khaththab رضي الله عنه (semoga Allah meridhainya) ia pernah berkata,”Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
*'Innamal A'maalu Binniyaat'*
'Sesungguhnya segala amal perbuatan itu (sah atau tidaknya) tergantung (terletak) pada niatnya,
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
*'Wa Innamaa Likullimri'in Maa Nawaa'*
'dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya."
'Dan barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita (orang yg dicintai) yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya."
*Rujukan*: [Muttafaqun 'alaih: syarh al-Bukhari dlm Fathul Bari (hlm. I/9, No.1), dan Muslim (hlm. III/1515, No. 1907), 'Aunul Ma'bud (hlm. VI/284, no: 2186), at-Tirmidzi (hlm. III/100, No. 1689), Ibnu Majjah (hlm. II/1413, No. 4227) dan an-Nasa'i (hlm. I/59), dari Umar bin Al-Khoththob, dan lain-lain. Lihat al-Irwaa’ no.22].
*SALAM SUKSES WAL BERKAH AND MET BERAKTIFITAS RUTIN, SEMOGA kemudahan dan keselamatan senantiasa menyertai langkah-langkahmu sahabatku fillah jamii'an (all)*
ヅ✍ ❧ *'Semoga ilmu yang sedikit ini ada manfaatnya*..... :-)
وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
'*Walloohul Musta’aan."*
(Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya)."(QS. Yusuf [12]:18)
*Note di Ketik ulang dan di Update share-kan kepublik secara bebas