Al Futuhat

Al Futuhat Edukasi, motivasi & inspirasi

Orang bodoh sering menganggap pikirannya paling benar dan terbaik.Sedang orang berilmu memahami bahwa pendapatnya hanyal...
06/06/2026

Orang bodoh sering menganggap pikirannya paling benar dan terbaik.
Sedang orang berilmu memahami bahwa pendapatnya hanyalah salah satu opsi terbaik yang bisa ditawarkan bukan dipaksakan. Karena semakin luas ilmu seseorang, semakin sadar ia bahwa dirinya bisa saja salah.
رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar.”

Kajian Kitab Riyadussholihin. باب ودع الصاحب ووصيته عند فراقه.Hadis ke 2**An Abi Sulaimana** — diriwayatkan dari sahabat...
23/04/2026

Kajian Kitab Riyadussholihin. باب ودع الصاحب ووصيته عند فراقه.

Hadis ke 2

**An Abi Sulaimana** — diriwayatkan dari sahabat Abi Sulaiman. Kalau dalam bahasa kita, *Abi* itu artinya Pak — jadi Pak Sulaiman.

Nama aslinya siapa? **Malik ibnu al-Huwairth** — *radhiyallahu anhu*, semoga Allah meridhai beliau.

Nah, ini saudara — ini istilah dalam ilmu hadis. Kalau di belakang nama seseorang disebutkan kata-kata *radhiyallahu anhu*, itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut adalah **sahabat Nabi**. Memang tidak selalu begitu — misalnya kalau kita baca manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani, setiap menyebut nama beliau juga diembel-embeli *radhiyallahu ta'ala anhu*, padahal beliau bukan sahabat. Tapi dalam ilmu hadis, itulah kebiasaannya. Kalau orang biasa — bukan sahabat — biasanya diucapkan *rahimahullah*, semoga Allah merahmatinya. Ini istilah saja sebetulnya.

---

Baik. Perawi mengatakan:

**"Qala: Ataina an-Nabiyya sallallahu alaihi wasallam"**

Berkata Abi Sulaiman: *"Kami datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam."*

**"Wa nahnu syababatun mutaqaribun"**

*Wawu* di sini bukan *wawu athaf* yang bermakna "dan", tapi **wawu hal** — yang menunjukkan keadaan. Maknanya: *"padahal kami..."* atau *"sedang kami..."*. Jadi: *"...padahal kami adalah pemuda-pemuda yang berdekatan usianya"* — artinya usia mereka tidak terpaut jauh satu sama lain.

**"Faqamna indahu isyrina lailatan"**

*"Maka kami pun bermukim di dekat Nabi selama 20 malam."*

Nah, ini saudara — Abi Sulaiman dan teman-temannya ini tampaknya datang dari luar daerah, dari tempat yang jauh. Mirip seperti para santri di sini — bukan orang asli sini, tapi bermukim di sini untuk belajar.

Para sahabat Nabi itu ada bermacam-macam. Ada yang memang penduduk asli Madinah, yaitu sahabat **Anshar**. Ada yang pendatang dari Makkah, yaitu sahabat **Muhajirin**. Dan ada p**a yang hanya datang ke Madinah untuk beberapa waktu — tidak menjadi penduduk tetap — tapi tinggal cukup lama, seperti ini: 20 malam, artinya sekitar 20 hari.

Apa tujuan mereka? **Belajar.** Dan cara belajar para sahabat dulu itu tidak seperti sekarang. Bukan hanya duduk mendengarkan ceramah — tapi dengan **melihat langsung** apa yang dilakukan Nabi. Itulah sunah Rasul. Nabi itu disebut *"Al-Qur'an berjalan"* — artinya apa yang beliau lakukan, akhlak beliau, semuanya sesuai dengan ajaran Al-Qur'an. Jadi kalau ingin mengamalkan Al-Qur'an, tiru Nabi.

---

**"Wa kana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam rahiman rafiqan"**

*"Dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah seorang yang maha pengasih lagi penyayang."*

*Rahim* dan *rafiq* itu maknanya mirip — pengasih, penyayang.

**"Fa dhanna anna qad isytaqna ila ahilna"**

*"Maka beliau mengira bahwa kami sudah rindu kepada keluarga kami."*

Ya, 20 hari meninggalkan kampung halaman, meninggalkan keluarga — tentu kelihatan ya. Dan ini beda dengan santri sekarang yang umumnya masih kecil dan belum berkeluarga. Sahabat Nabi itu rata-rata sudah dewasa, sudah punya istri, punya anak. Makanya rindu itu sangat terasa.

Dan di sinilah kita belajar: dalam Islam, **belajar tidak dibatasi usia**. Ada ungkapan: *"Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi"* — tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat. Bukan sampai menikah saja, tapi seumur hidup. Para sahabat menerapkan prinsip ini — *lifelong learning* dalam istilah modern.

---

**"Fasaala anna man tarakna fi ahlina"**

Nabi bertanya kepada kami: *"Siapa yang kalian tinggalkan di rumah? Siapa keluarga kalian?"*

Kami pun menceritakan tentang keluarga yang kami tinggalkan. Nabi mengambil kesimp**an — sudah kelihatan bahwa mereka benar-benar kangen.

Maka Nabi bersabda:

**"Irji'u ila ahlikum"**

*"Pulanglah kalian kepada keluarga kalian."*

Sudah — p**ang saja. Kalau sudah rindu berat, belajar pun tidak bisa konsentrasi. Di sini tampak sekali betapa Nabi itu sangat pengasih dan **peka perasaannya** — beliau tahu, tanpa harus banyak ditanya, bahwa para sahabat ini sudah ingin p**ang.

Kita seharusnya begitu juga — apalagi kalau jadi pemimpin atau tokoh, jangan seenaknya. Harus peka terhadap keadaan orang-orang di sekitar kita.

---

Lalu Nabi melanjutkan sabdanya:

**"Faqimu fihim wa allimuuhum wa muruuhum"**

*"Maka tinggallah kalian di antara mereka, ajarilah mereka, dan suruhlah mereka..."*

Nah, ini tugas santri ya, saudara. Para sahabat ini sudah 20 malam belajar pada Nabi — tentu banyak ilmu yang mereka dapatkan. Maka ilmu itu jangan hanya ditumpuk sendiri. Diamalkan, lalu **diajarkan kepada orang lain** yang membutuhkan.

Mengajar itu tidak harus jadi ustaz. Berdakwah tidak harus jadi dai, mubaligh, atau kiai. Kita semua bisa berdakwah — dengan cara yang bijak, tidak menggurui. Ada pepatah Madura: *"Jek wa' matoah"* — jangan merasa sok tua, sok paling tahu.

Saya teringat cerita — ada supir bus, kebetulan almarhum Kiai Hefni Mahfud pernah naik bus itu dari Banyuwangi mau p**ang ke Madura. Berangkat malam, sampai di Sidoarjo sudah subuh. Si supir memarkirkan busnya di depan masjid, lalu mengumumkan kepada penumpang: *"Bapak-bapak, Ibu-ibu — saya sengaja parkir di sini. Saya mau salat subuh. Kalau Bapak-Ibu mau salat subuh, silakan."* Supir bus bisa berdakwah seperti itu — mestinya santri lebih bisa, tapi dengan cara yang bijak.

---

**"Wa sallu salata kadza fi kadza... wa sallu k**a ra'aitumuni usalli"**

*"Dan salatlah kalian — salat ini di waktu ini... dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat."*

Ini tambahan dari riwayat **Imam Bukhari**. Sabda Nabi ini tegas: salat itu harus **mengikuti cara Nabi**, tidak boleh dikarang sendiri. Tentu tidak harus persis 100% — yang penting syarat dan rukunnya terpenuhi, sebagaimana dibahas dalam kitab-kitab fikih seperti *At-Taqrib*.

---

**"Wa idza hadharat as-salatu falyuadzin lakum ahadukum, walyaummakum akbarukum"**

*"Dan apabila waktu salat telah tiba, hendaklah salah seorang dari kalian azan, dan hendaklah yang paling sepuh di antara kalian menjadi imam."*

Nah, *akbar* di sini bukan semata-mata paling tua usianya — tapi lebih kepada **keilmuan dan amaliah**. Orang yang ilmunya tinggi dan amalnya bagus, dialah yang lebih berhak jadi imam, meskipun usianya lebih muda. Kalau ilmunya sama, barulah usia yang menentukan — yang lebih tua lebih berhak.

Anak-anak bolehkah jadi imam? **Boleh** — selama salatnya benar dan bacaannya benar. Di negara-negara Arab itu sudah biasa anak-anak jadi imam sementara makmumnya orang-orang tua. Bahkan ada yang khotbah Jumat masih anak-anak. Asalkan sudah *tamyiz* — sudah bisa melakukan dengan benar.

---

**Kaitannya dengan bab ini apa?**

Hadis ini menunjukkan pesan Nabi kepada para sahabat yang hendak p**ang ke kampung halaman: **amalkan ilmu yang sudah didapat, dan ajarkan kepada orang-orang di sana.** Ini sesuai dengan firman Allah:

*"Falawla nafara min kulli firqatin minhum tha'ifatun liyatafaqqahu fid-din..."*

Hendaklah dari setiap golongan ada sekelompok orang yang khusus mendalami agama. Saya berharap para santri di sini termasuk dalam golongan *mutafaqqih* ini — yang mendalami agama dan mengamalkannya.

Pondok pesantren itu didirikan untuk membekali santri dengan ilmu agama. Kalau ada lembaga yang tidak mengajarkan ilmu agama, hanya ilmu IPTEK saja, itu bukan pondok — itu asrama.

---

**"Muttafaqun 'alaih"**

Hadis ini disepakati oleh **Imam Bukhari dan Imam Muslim**.

---

Satu catatan kecil tentang lafal **"rahiman rafiqan"** — ada dua riwayat bacaan. Pertama: *rafiqan* — dengan fa dan qaf — artinya penyayang. Kedua: *raqiqan* — dengan dua qaf tanpa fa — artinya **peka perasaannya**, mudah tersentuh, mudah memahami perasaan orang lain. Itulah *riqah* namanya. Dan kedua sifat itu memang ada pada diri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

*Wallahu a'lam.*

23/04/2026

Kajian Fathul Qorib. Bab Aiman Wa Nudzur
Part 1.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, washalatu wassalamu 'ala asyrafil mursalin, sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Mushannif rahimahullahu ta'ala — semoga Allah merahmati beliau, memberikan manfaat kepada kita melalui beliau dan ilmu-ilmunya, memanjangkan madad-nya kepada kita, serta melimpahkan berkah dan rahasia-rahasia beliau kepada kita di dua negeri. Amin.

Mushannif rahimahullah mengatakan:

**"Kitabu ahkamil aimani wan nuzuri"**

Ini adalah **Kitab Hukum-Hukum Sumpah dan Nazar**.

Kata **"kitab"** di sini bukan berarti tulisan, tapi bermakna **himpunan** — kump**an pembahasan. **"Ahkam"** artinya hukum-hukum, yakni ketentuan-ketentuan syariat. **"Al-aiman"** artinya sumpah-sumpah — ini bentuk jamak dari *yamin*. Dan **"wan nuzur"** artinya dan nazar-nazar — jamak dari *an-nadzr*.

Jadi bab ini membahas dua hal: **sumpah** dan **nazar**.

---

Nah, saya kira kita sudah tahu ya kira-kira apa itu sumpah. *"Demi Allah"* — itu diucapkan untuk memperkuat pernyataan kita. Biasanya kita bersumpah karena dituduh bohong. Misalnya: *"Demi Allah, saya kemarin masuk sekolah."* Gitu ya.

Kalau **nazar**, apa itu saudara? Nazar adalah **mewajibkan diri pada sesuatu yang asalnya tidak wajib**. Contohnya begini — membaca Yasin itu tidak wajib, puasa Senin Kamis juga tidak wajib. Tapi kalau kita bernazar, *"Saya bernazar akan puasa Senin Kamis,"* maka jadilah itu kewajiban bagi diri kita sendiri. Atau nazar yang dikaitkan dengan syarat tertentu, misalnya: *"Kalau saya lulus ujian dan diterima di UIN Malang, saya akan baca Yasin 40 kali."* Nah, itulah yang disebut nazar.

---

Sekarang mushannif menjelaskan istilah-istilahnya satu per satu. Beliau mengatakan:

**"Al-aiman — bifathil hamzati — jam'u yaminin"**

Kata *aiman* — dengan difathahkan hamzahnya — adalah bentuk jamak dari *yamin*. Jadi: *yaminun, yaminani, aimanun*. Bukan *iman* yang itu masdar dari *amana-yu'minu-imanan* ya — ini berbeda.

Lalu beliau melanjutkan:

**"Wa asluha lughatan: al-yadul yumna"**

Makna asli kata *aiman* dalam bahasa Arab adalah **tangan kanan**. *Al-yadu* — tangan, *al-yumna* — kanan. Itu aslinya.

**"Tsumma utliqat 'alal halafi"**

Kemudian kata ini diistilahkan untuk makna **sumpah** (*halaf*). Makanya, *yamin* sering diartikan sumpah, selain arti aslinya tangan kanan.

---

Nah, kenapa tangan kanan bisa berarti sumpah? Karena dulu orang Arab kalau bersumpah atau membuat perjanjian, mereka berjabat tangan — dan tangan yang dipakai ya tangan kanan. Dari situlah kemudian *yamin* diistilahkan menjadi sumpah.

---

Sekarang, apa makna *yamin* dalam istilah syariat? Mushannif mengatakan:

**"Wa syar'an: tahqiqu ma yahtamilul mukhalafata, takiduhu bidzikrismillahi ta'ala au sifatin min shifati dzatihi"**

Dalam istilah syarak, *yamin* (sumpah) adalah: **menyatakan atau membuktikan sesuatu yang ada kemungkinan berbeda antara ucapan dan kenyataan — dengan cara menyebut nama Allah Ta'ala atau salah satu sifat zat-Nya** — untuk menguatkan perkataan tersebut.

Mari kita urai satu per satu.

**"Tahqiqu"** — menyatakan, membuktikan. **"Ma yahtamilul mukhalafata"** — sesuatu yang ada kemungkinan *mukhalafah*-nya. *Mukhalafah* artinya perbedaan antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Misalnya, seseorang mengaku kemarin mengajar — padahal kenyataannya tidak. Itulah *mukhalafah*.

Nah, ketika orang lain tidak percaya dan mengira kita berbohong, kita bersumpah untuk membuktikan bahwa ucapan kita benar. Itulah fungsi pertama sumpah.

**"Au takiduhu"** — atau menguatkannya. Ini fungsi kedua. Bukan karena dituduh bohong, tapi karena pendengarnya masih **ragu-ragu**. Contohnya: seorang ayah berkata kepada anaknya yang mau mondok, *"Kamu mondok saja, Nak, nanti semua biaya Ayah yang tanggung."* Kalau si anak ragu — jangan-jangan hanya omongan saja — maka sang ayah bersumpah: *"Wallahi, Ayah akan bayar semuanya."* Itulah fungsi pengokohan dalam sumpah.

**"Bidzikrismillahi ta'ala au sifatin min shifati dzatihi"** — dengan cara menyebut nama Allah atau sifat-sifat zat-Nya. Seperti *"Wallahi"*, atau *"Wa Rabbil 'alamin"*, atau menyebut sifat seperti *al-Qahhar* — Yang Mahaperkasa.

Dalam bahasa Arab, sumpah biasanya menggunakan huruf **wau** yang disebut *wau qasam*. *"Wallahi"* artinya *"Demi Allah"*. *"Wa Rabbil 'alamin"* artinya *"Demi Tuhan yang menguasai alam ini."*

---

Karena itulah, Saudara, sumpah ini **tidak boleh dipermainkan**. Kalau dibuat main-main, itu namanya *su'ul adab* — tidak sopan kepada Allah. Bersumpah dengan nama selain Allah pun tidak diperbolehkan. Misalnya, *"Demi ayah ibuku"* — itu bukan sumpah dalam pengertian syariat. Sekalipun bisa-bisa saja diucapkan, tapi tidak boleh dianggap sebagai sumpah, karena seolah-olah menyamakan ayah-ibu dengan Tuhan. Itu jelas tidak boleh.

---

Baik. Sekarang mushannif menjelaskan hukum-hukum sumpah. Beliau mengatakan:

**"Layan'aqidu al-yaminu illa billahi"**

Sumpah itu **tidak sah kecuali dengan menyebut nama Allah**. Contohnya seperti ucapan orang yang bersumpah: *"Wallahi"* — *wau* di sini adalah *wau yamin* yang bermakna "demi".

Tapi nama Allah yang mana? Mushannif menerangkan:

**"Au bismin min asmaihi al-mukhtas bihi"**

Yaitu nama Allah yang **khusus bagi-Nya** — nama-nama yang tidak dipakai untuk selain Allah. Misalnya *Rabbil 'alamin* — itu khusus Allah. Berbeda dengan *rabb* saja yang bisa digunakan untuk selain Allah, seperti *rabbid-dar* — tuan rumah, pemilik rumah. Tapi kalau sudah *Rabbil 'alamin*, itu khusus Allah, maka bersumpah dengannya adalah sah.

**"Au sifatin min shifati dzatihi al-qaimati bihi"**

Sumpah juga sah dengan menyebut **sifat-sifat zat Allah yang melekat pada-Nya**, seperti *ilmu-Nya* dan *qudrat-Nya*. Sekalipun kata *ilmu* bisa digunakan untuk selain Allah — seperti pada kata *alim* atau *ulama* — tapi kalau sudah disebut *"ilmullah"*, maka itu khusus Allah, dan sumpah dengannya sah.

---

Sekarang, mushannif menjelaskan: **siapa yang sah bersumpah?**

Beliau mengatakan:

**"Wa dhabthul halifi: kullu mukallafin, mukhtarin, nathiqin, qashidin lil yamini"**

Adapun batasan orang yang sah bersumpah adalah: **setiap mukallaf, yang bebas memilih, yang bisa berbicara, dan yang memang bermaksud bersumpah.**

Mari kita jelaskan satu per satu.

**Pertama — mukallaf.** Yaitu orang yang sudah **baligh** (dewasa) dan **berakal sehat** (tidak gila). Anak-anak belum mukallaf. Orang gila meskipun sudah dewasa juga bukan mukallaf. Mukallaf itu artinya orang yang diperintahkan dan dibebani untuk menjalankan aturan syariat. Karena itulah anak-anak yang melanggar aturan tidak bisa dihukum sesuai ketentuan hukum — paling banter diberi pembinaan, bukan hukuman resmi. Misalnya, hukum cambuk bagi orang yang mabuk itu 40 kali — tapi kalau yang mabuk itu anak-anak, tidak bisa diterapkan.

**Kedua — mukhtar**, bebas memilih, **tidak dipaksa**. Kalau seseorang dipaksa melakukan sesuatu di luar kemauannya, maka ia tidak dianggap mukallaf dalam hal itu. Contohnya seperti perbedaan antara orang yang berzina atas kemauan sendiri dengan orang yang diperkosa — keduanya mirip secara fisik, tapi sangat berbeda secara hukum. Yang dipaksa tidak terkena hukum.

**Ketiga — nathiq**, bisa berbicara. Karena sumpah harus diucapkan. Kalau tidak diucapkan, tidak bisa dianggap sumpah.

**Keempat — qashid lil yamin**, **memang bermaksud bersumpah**. Ini penting, Saudara. Di kalangan orang Arab, kata *"Wallahi"* sering hanya jadi bumbu pembicaraan, bukan dimaksudkan sebagai sumpah sungguhan. Tapi di Indonesia, lafal *"Demi Allah"* umumnya sudah dianggap sebagai sumpah yang serius — maka orang yang mengucapkannya dianggap bermaksud bersumpah.

---

Jadi, singkatnya, sumpah yang sah harus memenuhi empat syarat: **mukallaf** (baligh dan berakal), **bebas memilih**, **bisa berbicara**, dan **memang bermaksud bersumpah**.

Nah, lalu apa **konsekuensi** dari sumpah? Ini pembahasannya agak panjang — kita sampai di sini dulu ya, insyaallah dilanjut lain waktu.

*Wallahu a'lam.*

Syekh Zainuddin al-Malibari pengarang Fathul Mu'in menulis dalam kitab Hidayatul Adzkiya’ sebuah kalimat yang menembus r...
21/01/2026

Syekh Zainuddin al-Malibari pengarang Fathul Mu'in menulis dalam kitab Hidayatul Adzkiya’ sebuah kalimat yang menembus relung jiwa:

تقوى الإله مدارك كل سعادة # وتباع أهوا رأس شر حبائلا

Akar kebahagiaan adalah takwa,
dan akar kegelisahan adalah mengikuti hawa nafsu.

Takwa membuat hati tenang meski hidup sederhana, sebab ia bersandar pada Allah yang Maha Cukup. Sedangkan hawa nafsu membuat jiwa lelah meski dunia digenggam,karena nafsu tak pernah mengenal kata puas.

Banyak orang mengejar bahagia dengan menambah apa yang dimiliki, padahal para ulama mengajarkan: bahagia lahir ketika kita mengurangi keinginan dan menambah ketundukan. Maka bila hati gelisah tanpa sebab, bukan dunia yang kurang, barangkali takwa yang mulai menjauh dan nafsu yang terlalu dimanjakan.

Inilah nasihat halus para salaf pelan, tapi menembus; singkat, tapi mengubah arah hidup.

https://id.shp.ee/yDhfBQa

Membeli kitab tak pernah rugi,harta pergi, berkah kembali.Satu lembar ilmu yang dibeli,Allah ganti rezeki berlipat kali....
15/01/2026

Membeli kitab tak pernah rugi,
harta pergi, berkah kembali.
Satu lembar ilmu yang dibeli,
Allah ganti rezeki berlipat kali.

مَنْ أَنْفَقَ فِي سَبِيلِ الْعِلْمِ خَلَفَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَضْعَافًا

Barang siapa berinfak di jalan ilmu, Allah akan menggantinya berlipat ganda.

Dalam hidup, kita sering berharap pada manusia, lalu kecewa ketika harapan itu tak kembali sebagaimana doaHal itu karena...
03/01/2026

Dalam hidup, kita sering berharap pada manusia, lalu kecewa ketika harapan itu tak kembali sebagaimana doa

Hal itu karena manusia bisa berubah, janji bisa pudar, dan pertolongan bisa terhenti di tengah jalan.

Namun Allah tidak pernah lalai,
tidak pernah lelah mendengar doa,
dan tidak pernah salah dalam menentukan waktu terbaik untuk kita.

Sandarkanlah harapanmu pada Allah semata, bukan untuk menjauh dari manusia.
Supaya hati tak mudah terluka, saat harapan tak kembali sebagaimana doa.

فَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Jika harus berharap, berharaplah kepada Allah.
Jika butuh pertolongan, mintalah kepada Allah.
Sebab manusia bisa mengecewakan, namun Allah tak pernah meninggalkan.

*📖 تحرير الكلام**في ترجمة كفاية العوام**(Syarah dan Terjemah Perkata Kifayatul Awam)*🏷️ *Deskripsi Buku*Kitab Kifayatul ...
02/01/2026

*📖 تحرير الكلام*
*في ترجمة كفاية العوام*

*(Syarah dan Terjemah Perkata Kifayatul Awam)*

🏷️ *Deskripsi Buku*

Kitab Kifayatul Awam merupakan salah satu karya penting dalam disiplin ilmu tauhid yang menjelaskan pokok-pokok akidah menurut mazhab Asy'ariyah. Dengan bahasa yang sederhana namun tetap komprehensif, kitab ini memaparkan dasar-dasar ilmu akidah hingga pembahasan inti yang menjadi fondasi keimanan, dengan uraian yang luas, runtut, dan mendalam. Karena itu, kitab ini sering dijadikan sebagai jenjang lanjutan bagi para santri setelah mempelajari kitab-kitab dasar tauhid seperti Aqidatul Awâm, Jawahirul Kalámiyyah, dan sejenisnya.

🗒️ Keistimewaan Buku:

(1) Tawassul dan Do'a sebelum belajar
(2) Teks Arab Tanpa Syakal
(3) Terjemah Perkata dan Murod
(4) Rumus kode i'rob

🏷️ *Spesifikasi Buku*

(1) Halaman : 151
(2) Sampul : Soft Cover
(3) Kertas : HVS
(4) Berat : 250 gram
(6) Harga : 30.000

*Penting Untuk Segera Anda Miliki !!!*

31/12/2025

Kesalahan yang dilakukan secara berjamaah sering tampak kuat saat tersembunyi.
Namun ketika terbongkar, yang muncul bukan saling menanggung,
melainkan saling menyalahkan.
Kesimp**an ini saya petik dari firman Allah Ta‘ala:
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ (38)
وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ (39)

Walhasil:
Berjamaah dalam kesalahan tidak menyelamatkan siapa pun.
Saat kebenaran tersingkap, yang menyuruh dan yang mengikuti sama-sama diminta pertanggungjawaban oleh Allah.

05/11/2025

Hidup bertetangga dan bermasyarakat bukan sekadar tinggal berdekatan,
tapi tentang bagaimana menjaga perasaan, menghormati perbedaan,
dan menahan lisan dari ucapan yang menyinggung tanpa disadari.

Banyak hati yang hancur bukan karena pukulan tangan,
tapi karena luka dari ucapan yang tak ditimbang.
Kadang hanya satu kalimat, tapi bisa memutus silaturahmi yang bertahun-tahun dibangun.

Maka jika ingin hidup tenang dan dihormati,
belajarlah menahan diri dari membicarakan sesuatu yang belum tentu benar.
Karena tidak semua yang kita dengar pantas untuk disebar,
dan tidak semua yang kita tahu layak untuk diucap.

Maka diam bukan berarti kalah,
tapi tanda kebijaksanaan yang menjaga hati dari salah.
Karena kata yang tak dijaga bisa menjadi fitnah,
dan fitnah bisa menghapus berkah.

04/11/2025

Kesuksesan bukan diukur dari seberapa tinggi gelarmu,
tapi dari seberapa kuat tekadmu melangkah tanpa menyerah.
Sebab gelar bisa dimiliki banyak orang,
namun tekad hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar berjuang

Address

Puri Antirogo
Jember Lor
68121

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Al Futuhat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share