30/09/2018
HATI - HATI : TIDAK SELAMANYA OBAT HERBAL AMAN DIKONSUMSI !!!
By: pak Bambang Priyambodo
Trend penggunaan bahan alam, baik berupa Tanaman Obat maupun Obat Tradisional (TO&OT) – yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Obat Herbal (OH), terus semakin meningkat. Anggapan bahwa Obat Herbal lebih aman dan memiliki efek samping yang lebih kecil dibanding dengan obat – obat kimia modern (sintesis), tidak sepenuhnya salah. Namun demikian, sampai saat ini masih banyak penggunaan Obat Herbal yang tidak tepat di masyarakat, sehingga tidak memberikan daya guna yang baik bahkan sering kali menimbulkan efek samping yang bahkan bisa berakibat fatal bagi yang mengkonsumsinya. Demikian p**a adanya anggapan masyarakat bahwa pada umumnya obat herbal adalah aman, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Jum’at malam, 10 Maret 2017, seorang wanita paruh baya berusia 50-an tahun, ditemukan terbaring lemah di rumahnya setelah mengkonsumsi teh herbal yang dibeli di sebuah toko herbal di “The Sun Wing Wo“ Trading Company, 1105 Grant Ave. di Chinatown - San Francisco. Sebelumnya, seorang pria berusia 30-an tahun juga ditemukan dalam kondisi sekarat gara – gara mengkonsumsi teh yang sama. Dari hasil penyelidikan Dinas Kesehatan setempat diketahui bahwa teh yang dikonsumsi kedua orang tersebut terdapat tanaman Aconitum (Aconitum variegatum) yang sangat beracun.
Tanaman yang banyak memiliki sebutan ini, antara lain aconite, monkshood, wolf’s bane, leopard’s bane, women’s bane, devil’s helmet atau blue rocket ini adalah salah satu genus dari lebih 250 spesies tumbuhan bunga yang berasal dari keluarga Ranunculaceae. Tanaman ini secara tradisional digunakan untuk memperlambat denyut nadi, dan sebagai obat penenang. Di samping itu, tanaman ini juga sering kali digunakan untuk mengurangi keringat kelebihan keringat serta mengurangi rasa sakit. Karena sifatnya yang sangat beracun, orang – orang suku Minaro di Ladakh di Pegunungan Himalaya, menggunakan tanaman ini untuk berburu kambing hutan. Sedangkan suku Ainus di Jepang, menggunakannya untuk berburu beruang.
Kasus paling dramatis berkaitan dengan penggunaan obat herbal pernah terjadi di Belgia. Dalam kurun waktu 1990 – 1992, lebih dari 1.741 orang mengalami gangguan pada ginjalnya, 105 orang di antaranya divonis gagal ginjal kronis (nephropathy) - 70 orang di antaranya harus menjalani transplantasi ginjal dan 30 orang lainnya harus menjalani cuci darah seumur hidupnya gara-gara mengkonsumsi obat pelangsing herbal “Zhiyuan Xinqinkeli“ yang produksi oleh Sichuan Zhiyuan Aquarious Pharmacy, Co., Ltd., China. Dari hasil penyelidikan, obat herbal yang mereka konsumsi ternyata mengandung tanaman Aristolochia manshuriensis (bunga angsa) – yang dalam bahasa China disebut “Guang Fan Ji“ yang sangat beracun dan karsinogenik karena banyak mengandung asam aristolochic. Padahal sesuai dengan komposisi yang tercantum dalam kemasan obat herbal tersebut “seharusnya“ adalah tanaman Stephania tretandra – yang dalam bahasa China disebut “Han Fan Ji“ yang memang berkhasiat untuk meredakan sakit dan berfungsi sebagai diuresis. “Kesalahan“ yang disebabkan karena nama keduanya yang mirip (dalam bahasa China) dan juga bentuk simplisia yang hampir serupa. Kasus yang sama juga ditemukan di Spanyol pada tahun 1996, sebanyak 4 orang harus menjalani transplantasi ginjal akibat mengkonsumsi obat yang sama. Sedangkan di Jepang dan di Inggris ditemukan 2 orang juga harus menjalani transplantasi ginjal akibat mengkonsumsi obat herbal tersebut. Otoritas Pengawasan Obat di China, akhirnya menutup pabrik obat herbal yang berlokasi di Provinsi Sichuan tersebut.
PERHATIKAN 6 TEPAT AGAR MANFAAT OBAT HERBAL OPTIMAL
Dibandingkan dengan obat – obat modern, Obat Herbal memang memiliki beberapa kelebihan, antara lain: efek samping yang relative lebih kecil jika digunakan secara tepat; komponen dalam satu bahan memiliki efek saling mendukung; pada satu tanaman obat bisa memiliki beberapa efek farmakologis; untuk pengobatan penyakit – penyakit degenerative, maka penggunaan Obat Herbal lebih cocok karena untuk pemakaian jangka panjang dengan efek samping lebih minimal.
Obat Herbal akan lebih bermanfaat dan aman digunakan asalkan mempertimbangkan 6 aspek tepat, yaitu tepat takaran, tepat waktu dan cara penggunaan, tepat pemilihan bahan/bagian tanaman yang digunakan, dan tepat telaah informasi dan sesuai dengan indikasi penyakit yang dideritanya.
1. TEPAT TAKARAN
Obat Herbal tak ubahnya dengan obat modern, tidak bisa dikonsumsi sembarangan, tetapi ada dosis/takaran yang harus dipatuhi. Misalnya Daun Seledri (apium graveolens) telah dibuktikan secara ilmiah dan terbukti mampu menurunkan tekanan darah, tetapi penggunaan harus hati – hati karena pada takaran/dosis berlebih (over dosis) dapat menurunkan tekanan darah secara drastis sehingga bisa menyebabkan syok anafilaksis. Untuk itu disarankan, agar tidak mengkonsumsi air perasan daun seledri lebih dari satu gelas sekali minum. Demikian p**a dengan mentimun yang juga bisa menurunkan tekanan darah, takaran yang diperbolehkan untuk sekali makan tidak lebih dari 2 biji besar.
Demikian p**a penggunaan Gambir (uncaria gambir) untuk menghentikan diare, cukup hanya satu ibu jari. Lebih dari itu akan menyebabkan kesulitan buang air besar selama berhari – hari karena konstipasi. Sebaliknya penggunaan minyak jarak untuk urus – urus yang tidak sesuai takaran akan menyebabkan iritasi saluran penceranaan dan kehilangan cairan tubuh. Kasus yang pernah terjadi di salah satu Rumah Sakit di Semarang, banyak ditemukan pasien di mana kadar sel darah merah di urine jauh melebihi ambang normal, ternyata pasien tersebut mengkonsumsi daun kejibeling yang berlebihan yang justru malah memperberat kerja ginjal.
2. TEPAT WAKTU PENGGUNAAN
Waktu penggunaan Obat Herbal juga penting untuk diperhatikan. Waktu penggunaan yang tidak tepat justru akan merugikan bahkan bisa membahayakan bagi penggunanya. Contoh yang paling sederhana adalah Jamu kunir asem yang cocok digunakan pada saat haid karena bersifat abortivum sehingga haid menjadi lebih lancar karena ekstrak kunyit terbukti mempunyai efek stimulan pada kontraksi uterus sehingga bisa mengurangi nyeri pada saat haid. Namun Kunir Asem sangat tidak dianjurkan digunakan pada saat kehamilan, terutama pada masa – masa awal kehamilan karena meningkatkan risiko keguguran. Demikian p**a dengan Jamu Sari Rapet, sangat baik digunkan oleh ibu – ibu rumah tangga atau digunakan setelah bersalin, namun sangat tidak dianjurkan untuk gadis yang belum berumah tangga karena dapat menyebabkan memperkecil peranakan sehingga akan sulit untuk mendapat keturunan.
3. TEPAT CARA PENGGUNAAN
Secara umum, orang berpendapat bahwa lazimnya penggunaan tanaman obat secara tradisional adalah dengan cara direbus/diseduh dengan air hingga mendidih lalu diminum air seduhannya. Hal ini tidaklah salah, tetapi juga tidak selalu benar, karena ada beberapa obat herbal yang penggunaannya tidak selalu direbus. Misalnya daun kecubung (Datura metel L.) untuk pengobatan penyakit asma, penggunaannya adalah denga cara dikeringkan lalu digulung dan dibuat rokok serta dihisap seperti merokok. Namun banyak masyarakat tidak mengetahui cara penggunaan ini. Umumnya masyarakat memperlakukan daun kecubung seperti jamu pada umumnya, yaitu direbus dan diminum air rebusannya. Akibatnya akan terjadi keracunan karena tingginya kadar alkaloid dalam darah. Orang jawa menyebutnya “mendem kecubung”, di mana salah satu tandanya adalah midriasis (mata membesar dan membelalak).
4. TEPAT PEMILIHAN BAHAN
Tanaman obat terdiri dari beragam spesies yang kadang kala sulit dibedakan. Misalnya tanaman lempuyang, ternyata ada 3 jenis lempuyang yaitu, lempuyang pahit (Zingiber amaricans L.), lempuyang gajah (Zingiber serumbert, L.) dan lempuyang wangi (Zingiber aromaticum, L.). Lempuyang pahit dan lempuyang gajah berwarna kuning, berasa pahit dan digunakan sebagai penambah nafsu makan. Sedangkan lempuyang wangi yang berwarna lebih putih, rasa kurang pahit, agak pedas dan berbau lebih harum, banyak digunakan bersama daun jati belanda dan rimpang bengle justru digunakan sebagai komponen jamu pelangsing.
5. TEPAT TELAAH INFORMASI
Perkembangan teknologi informasi saat ini mendorong derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses. Namun demikian banyak informasi yang beredar di masyarakat ternyata banyak yang menyesatkan. Misalnya informasi tanaman pare yang dapat mencegah penyakit AIDS karena kaya akan mineral nabati kalsium dan fosfor serta mengandung karotenoid. Pare juga mengandung senyawa a,b-momorchorin dan momordica antiviral protein 30 (MAP30) yang dipercaya bisa menjadi obat anti AIDS. Namun pare juga mengandung triperpenoid yang memilki aktivitas antispermatozoa yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria. Bahkan, penggunaan pare dalam jangka panjang berpotensi merusak liver. Bagi wanita hamil, pare bisa menyebabkan terjadinya keguguran.
6. SESUAI DENGAN INDIKASI PENYAKIT TERTENTU
Ada banyak pilihan dalam penggunaan obat tradisional, sehingga pemilihan jenis bahan obat alami yang akan digunakan untuk terapi harus dilakukan dengan tepat. Rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping yang ditimbulkan harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan ramuan obat herbal.
Daun tapak dara (Catharantus roseus atau Vinca rosea) misalnya, mengandung senyawa alkaloid yang bermanfaat untuk menurunkan gula darah sehingga sering digunakan untuk pengobatan diabetes. Namun, daun tapak dara juga mengandung vinkristin dan vinblastin yang dapat menurunkan kadar leukosit (sel darah putih) sehingga penderita menjadi lebih rentan terhadap penyakit-penyakit infeksi. Contoh lain, penggunaan daun kejibeling (Strobilantus crispus) untuk pengobatan batu ginjal, ternyata dapat menyebabkan terjadinya kerusakan ginjal karena efek diuretiknya yang sangat kuat. Akan lebih efektif jika digunakan daun kumis kucing yang dikombinasi dengan daun tempuyung yang lebih aman.
EFEK SAMPING DAN PENYALAHGUNAAN OBAT HERBAL
Meskipun terbuat dari bahan-bahan alami, sebenarnya obat herbal juga memiliki potensi efek samping yang sama dengan obat sintetis. Kandungan senyawa yang terdapat dalam obat herbal ini, selain berkhasiat juga kemungkinan dapat menyebabkan efek samping yang dapat merugikan. Merica (Piperis sp) misalnya, baik digunakan untuk penderita diabetes, namun ternyata juga berefek menaikan tekanan darah, sehingga bagi penderita diabetes sekaligus hipertensi dianjurkan untuk TIDAK memasukan merica dalam ramuan jamu/OT yang dikonsumsi. Kencur (Kaempferia galangal) berkhasiat untuk penderita batuk, namun juga berpotensi untuk menaikan tekanan darah, sehingga pasien batuk yang juga hipertensi sebaiknya tidak mengkonsumsi beras kencur. Demikian juga dengan Brotowali (Tinospora sp.) yang dinyatakan memiliki efek samping dapat menganggu kehamilan dan menghambat pertumbuhan plasenta, seyogyanya tidak dikonsumsi oleh wanita hamil.
Beberapa laporan hasil penelitian tentang tanaman obat menyebutkan bahwa suatu tanaman obat yang dahulu digunakan dalam pengobatan ternyata dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan sehingga sekarang tidak digunakan lagi. Salah satu contoh adalah daun Piper methysticum atau kava-kava yang terbukti dapat menyebabkan kerusakan hati. Di samping itu beberapa tanaman obat terbukti dapat berinteraksi dengan obat-obat kimia yang umumnya diberikan dokter pada penderita penyakit tertentu sehingga dapat menyebabkan efek keracunan maupun menghilangkan efek dari obat kimia itu sendiri. misalnya herba Hypericum perforatum atau St. John's wort dan rhizoma Hydrast is canadensis atau Golden seal. Beberapa tanaman obat ternyata juga mengandung senyawa berkhasiat yang sangat toksik atau beracun sehingga digolongkan dalam obat keras dan produknya tidak dapat dijual bebas, di antaranya adalah Atropa belladonna, Digitalis sp.. Ephedra sp. dan Rauwolfia serpentina. Hal-hal ini umumnya tidak diketahui oleh sebagian besar masyarakat sehingga timbul anggapan bahwa semua tanaman obat adalah aman untuk dikonsumsi.
Untuk melindungi masyarakat dari penggunaan tumbuhan obat yang mempunyai potensi menyebabkan risiko kesehatan, kerusakan organ tubuh, ataupun berpotensi berinteraksi dengan obat-obat lain yang merugikan kesehatan, maka Badan POM telah mengeluarkan suatu daftar tumbuhan yang dilarang digunakan sebagai obat bahan alam. Lihat daftarnya disini :
http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=oVk9ZTWDveaZ4u3e0cYofwKcpMirvIc4Ordow8UyuAc%3D
http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=FDm6nvv%2FlFd1tSJ1InT5YRky%2BbDkbo1robvDlLsEUug%3D
http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=%2BLqE7%2FrBcAO8rrBRuLBZE9kmsnRukIlRUohtU2y8PcY%3D
PENYALAHGUNAAN OBAT HERBAL
Sebagaimana halnya obat-obat sintesis, obat-obat tradisional seringkali disalah gunakan oleh oknum tertentu, baik untuk pemakaian sendiri maupun ditujukan kepada orang lain dengan maksud – maksud tertentu. Di antaranya yang sering terjadi adalah kasus penyalahgunaan cara pemakaian, misalnya daun g***a dan o***m dicampur dengan rokok, daun kecubung untuk fly dan sebagainya. Terkadang juga beberapa bahan jamu digunakan untuk tujuan – tujuan tertentu (dalam artian tujuan yang tidak baik), misalnya jamu terlambat bulan dicampur dengan jamu pegel linu untuk abortus atau pengguguran kandungan. Serta penyalahgunaan lain, seperti meng-oplos anggur jamu dengan alkohol yang dapat menyebabkan penyakit hati (liver) yang parah bahkan hingga kematian.
Belum lagi ulah beberapa orang yang tidak bertanggung jawab dengan mencampur jamu atau obat herbal dengan Bahan Kimia Obat (BKO). Ada lebih dari 20 jenis BKO yang sering digunakan sebagai campuran obat herbal, antara lain paracetamol, CTM, piroxicam, antalgin dan lain – lain. Bahkan beberapa obat keras seperti prednison, siproheptadin, allupurinol, Sildenafil dan tadalafil juga ditambahkan dengan takaran sesuka hati para peraciknya. Bukannya kesembuhan yang didapat justru akan obat herbal yang dicampur BKO tersebut akan merusak tubuh bagi masyarakat yang mengkonsumsinya.
Jadi, meskipun jamu atau obat herbal ini relatif aman dikonsumsi dibanding dengan obat kimia, namun di tangan yang salah, justru bisa menjadi “bencana”.
Waspadalah.. waspadalah... !!!
Semoga bermanfaat