Cinta Buku Anak Muslim

Cinta Buku Anak Muslim Distributor buku anak
book advisor mandira dian semesta

08/12/2017

Saat Ananda Melakukan Kesalahan

Post on 16 November 2017

Oleh: Linda Ummu Hazimah*

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


โ€œSesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Dia menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada orang yang ramah sesuatu yang tidak Dia berikan kepada orang yang kasar dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya.โ€ (H.R. Muslim)



Suatu hari saat berada di taman hotel, saya melihat ada seorang anak berusia sekitar enam tahun. Anak itu berlari kecil menuju ibunya melewati kerumunan anak-anak lain sambil menggenggam sesuatu. Setelah sampai pada sang ibu yang sedang asyik berbincang dengan temannya, anak itu berteriak. โ€œBundaaaโ€ฆ..โ€ serunya bahagia, โ€œIni untuk Bunda..โ€ lanjutnya lagi, seraya tersenyum memberikan setangkai bunga mawar yang digenggamannya tadi. Namun sayang, respon yang didapatkan sang ananda rupanya di luar harapannya. Maksud hati ingin menyenangkan sang bunda, ternyata bundanya malah memarahi. โ€œKamu dapat darimana bunga ini, kembalikan. Nggak boleh ngambil sembarangan!โ€ hardik ibunya sambil melotot. Ibunya menyampaikan kata dan ekspresi sedemikian rupa di depan teman ngobrolnya dan banyak orang. Terlihat sekali raut muka sedih anak itu. Dia menunduk kemudian pergi meninggalkan ibunya menuju teman-temannya bergabung bermain dengan mereka.

Apakah yang dikatakan sang ibunda tadi salah? Tidak, maksud sang ibunda benar. Ia ingin anaknya menjaga diri dari mengambil yang bukan miliknya. Namun sayang, kalimat itu keluar dengan nada, pilihan kata, dan waktu yang kurang tepat. Apalagi di depan banyak orang. Pertanyaannya, apakah dengan cara demikian maksud yang ingin disampaikan sang ibunda akan diterima dengan baik oleh sang ananda?

Belum tentu. Boleh jadi yang diterima ananda adalah bahwa ibunya marah dan tidak senang dengan hadiah yang diberinya. Di waktu yang lain, sang anak pun akan enggan memberi hadiah kepada sang bunda.

Lalu bagaimana sebaiknya yang dilakukan orangtua ketika mendapatkan kondisi seperti cerita di atas?

Pertama, terimalah dengan baik dahulu apa yang diberi oleh anak kita. Namun begitu, kita tidak boleh serta merta melupakan โ€œpekerjaan rumahโ€ yang lain. Jika memang dirasa yang dilakukan buah hati kita kurang tepat, maka selesaikanlah dengan kata, waktu dan cara yang tepat. Misalnya saat kita sudah berada di rumah, di kamar, dan waktu bersantai. Lakukanlah hanya ketika sedang berdua dengan si anak, tanpa diketahui orang lain sekalipun dengan saudara kandungnya. Jangan menjatuhkan harga dirinya di depan banyak orang. Lalu, bicaralah dengan lembut, โ€œNak, bunda senang sekali dengan pemberian bunga dari tadi. Adek dapat darimana bunganya, sayang?โ€

โ€œAku tadi ngambil dari taman hotel, Bunda. Tadi bunganya udah jatuh dari pohonnya, terus tadi aku bilang sama tukang kebunnya, terus disuruh ambil ajaโ€

Coba kita bayangkan, jika ternyata kejadian sebenarnya adalah demikian. Sedang sang ibu terlanjur menerima bunga itu dengan marah-marah di depan banyak orang, bahkan menuduhnya yang tidak benar. Bayangkan kerusakan yang sudah kita lakukan pada anak kita. Perasaannya, harga diri yang sudah terkoyak di depan orang lain, dan lain-lain.

Namun apabila ternyata jawaban anak kita seperti berikut ini, โ€œAku tadi metik di taman, Bundaโ€

โ€œTerus tadi izin sama tukang kebun?โ€

โ€œNggakโ€

โ€œItu punya kita bukan, Dek?โ€

โ€œBukan, Bundaโ€

โ€œKira-kira kalau barang adek diambil orang lain tanpa izin bagaimana? S**a nggak?โ€

โ€œNggak sukaโ€ฆโ€

โ€œNah, berarti sama dengan bunga ini, Sayang. Bunga itu bukan punya kita, berarti kita tidak boleh mengambilnya. Lain kali adek harus minta izin dulu kalau mau petik bunga yaa.. โ€ (tersenyum)

*

Komunikasi adalah faktor penunjang penting dalam sebuah pengasuhan. Dalam mendidik buah hati, hendaknya kita berlaku dengan lembut, terlebih jiwa anak-anak masih polos dan lugu. Jiwa mereka merindukan sosok orangtua yang dapat mengarahkan mereka dengan kasih sayang. Bukan dengan celaan atau sikap kasar. Sebagaimana kita sendiri sebagai orangtua, yang ingin diberi masukan dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Ada empat faktor penunjang keberhasilan dalam berkomunikasi dengan buah hati, yakni:

Pilihan kata

Pilihan kata merupakan faktor penting dalam komunikasi. Sebagai orangtua, tentu kita harus dapat memilih dan memilah kata. Menurut pakar parenting bunda Elly Risman, ketika kita sebagai orangtua sedang berkomunikasi kepada anak, hendaknya bervisi ke depan, tidak hanya berhenti saat ini. Artinya kita sebagai orangtua harus pandai betul dalam mengeluarkan kata-kata yang berjangka panjang dan berakibat baik. Sambunglah tiap kata yang tepat menjadi kalimat yang pas dan mudah dipahami oleh anak-anak, namun tetap mendidik.

Nada

Apa itu nada? Nada yang dimaksud di sini adalah nada bicara. Nada bicara yang bersahaja, lemah lembut dan tidak ngotot atau tidak dalam keadaan seperti menahan emosi tentu akan mudah juga diterima oleh anak kita. Rasanya, meskipun kita sedang berbicara kebaikan, namun bila disampaikan dengan nada tinggi, tentu anak kita akan menangkapnya sebagai sebuah amarah atau celaan. Bukan pada maksud tujuan baik orangtuanya, meskipun pilihan kata katanya sudah baik.

Ekspresi

Tidak mungkin rasanya kata yang baik dan nada yang baik berjalan seimbang tanpa ekpresi yang semestinya. Ekspresi tenang dan menggembirakan, datar dan senyuman akan memudahkan kita menginternalisasi nilai yang sedang ingin kita tanamkan ke dalam diri ananda. Apabila kita menyampaikan dengan ekspresi muka ditekuk, apalagi dengan marah-marah, sang anak pun akan merasa tertekan ketika mendengarkan.

Pemilihan Waktu

Pemilihan waktu yang tepat dalam berkomunikasi merupakan faktor pendukung yang penting. Nasihat atau arahan akan lebih mudah jika diterima dalam waktu yang kondusif misalnya saat sedang santai, atau waktu lain yang nyaman. Bisa juga setelah subuh atau setelah membacakan dongeng menjelang tidur.

Demikianlah kita sebagai orangtua, harus jeli, baik, dan pandai dalam mengolah situasi, kondisi dan baik p**a cara dalam berkomunikasi. Jangan terbiasa mencela anak. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, โ€œJangan Anda banyak mengarahkan anak didik Anda dengan celaan setiap saat, karena sesungguhnya yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya, ia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi.โ€

Semoga kita termasuk orangtua yang tidak mudah menggunakan cara instan atau ingin cepat-cepat dalam segala proses pendidikan yang dilaluinya bersamanya. Dalam berkomunikasi atau bersikap hendaknya kita selalu menyadari bahwa kita sedang mendidik, mengarahkan, menanamkan nilai tauhid, menginternalisasi nilai positif kepada mereka. Mendidik mereka tanpa harus melukai. Wallahuaโ€™lam

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.

๐Ÿ“Linda ummu hazimah

Versi Lain dalam Mendidik Anak๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑSeorang ayah atau ibu ketika menghadapi kelakuan yang tidak menyenangkan ...
11/09/2017

Versi Lain dalam Mendidik Anak

๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ

Seorang ayah atau ibu ketika menghadapi kelakuan yang tidak menyenangkan dari anaknya ia bersedekah, atau memberi makan fakir miskin. Lalu ia membaca:

ุฎูุฐู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู‹ ุชูุทูŽู‡ู‘ูุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูุฒูŽูƒู‘ููŠู‡ูู…ู’ ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽุตูŽู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูŽูƒูŽ ุณูŽูƒูŽู†ูŒ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุณูŽู…ููŠุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ

โ€œAmbillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahuiโ€. (At Taubah: 103)

Ya Allah, ini untuk mentarbiyah akhlak anakku, sesungguhnya kerusakan akhlaknya lebih menyakitkan bagiku dari pada kerusakan fisiknya.

Ibu yang lain tidak memiliki harta yang akan disedekahkan, hidupnya pas-pasan. Ketika ia lelah melihat perangai anak atau suaminya ia berdiri melakukan shalat dengan membaca surat al Baqarah keseluruhan. Kemudian ia berdoโ€™a: โ€œYa Allah, inilah sedekahku, maka terimalah, dan perbaikilah untukku anak-anakku dan suamikuโ€.

Barangkali kita perlu cara lain untuk mendidik anak dan mengatasi masalah keluarga. Tidak cukup hanya dengan penerapan teori-teori mutakhir hasil penelitian para pakar. Meminta kepada Allah supaya mereka dibimbing langsung oleh Allah tidaklah kalah pentingnya.

Fudhail bin โ€˜Iyadh ketika sudah kelelahan mendidik anaknya, namun belum juga menampakkan hasil terhadap sikap anaknya, ia menadahkan tangan kelangit berdoโ€™a, sembari terus memperbanyak ibadah. Dia berkata: โ€œYa Allah, aku sudah putus asa mendidik anakku Ali. Ya Allah, didiklah ia untuk dirikuโ€.

Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa membolak-balikkan hati manusia. Setelah berdoโ€™a dan memasrahkan kepada Allah, kelakuan anaknya berubah dengan drastis. Dia mengikuti jejak ayahnya, menjadi orang yang paling shaleh di zamannya.

ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุฎู’ุดูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ ุชูŽุฑูŽูƒููˆุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ู’ููู‡ูู…ู’ ุฐูุฑูู‘ูŠูŽู‘ุฉู‹ ุถูุนูŽุงูู‹ุง ุฎูŽุงูููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ุง ุณูŽุฏููŠุฏู‹ุง

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An Nisaโ€™: 9)

๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ

--Zulfi Akmal, Lc, MA--

Silahkan share
Semoga bermanfaat ๐Ÿ˜Š

DEMI ENGKAU DUHAI ANAKKU.... ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญโค๐Ÿ’›๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’›๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’™๐Ÿ’›โค๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’›Bila saya dilanda kemalasan dari melaksanakan ibadah nawafil(sunnah), s...
23/08/2017

DEMI ENGKAU DUHAI ANAKKU.... ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

โค๐Ÿ’›๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’›๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’™๐Ÿ’›โค๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’›

Bila saya dilanda kemalasan dari melaksanakan ibadah nawafil(sunnah), saya mengingat anak-anak saya dan kesulitan-kesulitan dunia!!
Saya berusaha merenungi firman Allah: [Sedang ayahnya seorang yang shaleh] maka timbullah dalamnya rasa kasih sayang saya terhadap mereka, dan saya bersungguh-sungguh melaksanakannya.

Proyekmu yang harus berhasil adalah anak-anakmu. Untuk memperoleh keberhasilannya, ikutilah apa yang telah dikabarkan oleh seorang shahabat yang mulia "Abdullah bin Mas'ud" ketika beliau sholat di malam hari sedangkan anaknya yang masih kecil dalam kondisi tidur, maka beliau melihat kepadanya seraya berkata:

"Demi engkau duhai anakku," lalu dia membaca ayat:
ูˆูƒุงู† ุฃุจูˆู‡ู…ุง ุตุงู„ุญุง
[Sedang ayahnya seorang yang shaleh]

Sungguh, ini adalah resep ajaib untuk perbaikan anak-anak kita. Apabila seorang bapak menjadi teladan yang shaleh, hubungannya dengan Allah kuat, Allah akan menjaga anak-anaknya, bahkan anak dari anak-anaknya.

Maka inilah resep ajaib(persamaan ilahiyah).

Sebagaimana yang terdapat dalam kisah Surah Al Kahfi, dimana Allah menjaga sebuah harta karun untuk dua orang anak disebabkan keshalehan dari kakek ketujuh mereka.

Dan dalam bentuk yang lain berkaitan tentang pembahasan ini, ketika suatu waktu saya bersama dengan seorang teman yang sangat saya hormati_dia memiliki kedudukan yang tinggi di Kuwait dan bekerja pada beberapa lembaga pemerintahan_ ditengah kesibukannya dia selalu meluangkan waktunya beberapa jam tiap harinya untuk bakti sosial.

Maka suatu hari saya berkata padanya:"Mengapa Anda tidak fokus saja pada pekerjaan di kantor, bukankah Anda memiliki kedudukan yang tinggi?!

Dia menatapku dan berkata:" Saya ingin berbagi denganmu rahasia diri saya. Sebenarnya saya memiliki lebih dari enam orang anak, dan kebanyakannya laki-laki.

Sungguh saya sangat khawatir jika mereka melakukan penyimpangan, sedang waktu saya sangat terbatas untuk mendidik mereka.

Akan tetapi, saya menemukan begitu banyak nikmat Allah kepada saya, setiap saya memberikan waktu saya kepada Allah, Dia lebih banyak menjaga dan memperbaiki anak-anak saya."

Saudaraku, saya membagi hal ini kepadamu karena sungguh saya mencintai apa-apa yang baik untukmu sebagaimana saya mencintainya untuk diri saya ... semoga Allah memberimu kebahagiaan di dunia dan akhirat, menjadikanmu dan orangtuamu, serta siapa pun yang kau cintai dari hamba-hambaNya yang terjaga dari api neraka.

Ya Rabb, saya meniatkan risalah ini sebagai sedekah untuk anak-anak saya, jagalah mereka dari penyimpangan dan segala bentuk keburukan.

Share kepada orang-orang yang kau cintai dengan niat sedekah untuk anak-anakmu.

Saya mengirimkannya kepada seluruh bapak dan ibu.

๐Ÿ’œ๐Ÿ’›โค๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’œ๐Ÿ’›โค๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’œ๐Ÿ’›โค๐Ÿ’™๐Ÿ’œ๐Ÿ’›โค

*Terjemahan dari artikel arabia oleh Dhee AR

๐ŸŽ Ternyata Keshalihan Bisa Diturunkan ๐ŸŽโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธAllah Ta'ala berfirman :"Dan berikanlah keshalihan kepadaku (deng...
20/08/2017

๐ŸŽ Ternyata Keshalihan Bisa Diturunkan ๐ŸŽ

โ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธโ„๐ŸŒธ

Allah Ta'ala berfirman :

"Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku" (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

"Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku" (QS. Ibrahim [14]: 40)

Imam al-Bukhari rahimahullah, diantara sebab beliau menjadi anak yang shalih adalah karena keshalihan ayahnya yaitu Abul Hasan Isma'il bin Ibrahim...

Ahmad bin Hafsh berkata :

"Aku masuk menemui Abul Hasan Isma'il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata : "Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat" (Taariikh ath-Thabari 19/239 dan Tabaqaat asy-Syaafi'iyyah al-Kubra II/213).

Allah Ta'ala berfirman :

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang "ayahnya adalah seorang yang shalih", maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu..." (QS. Al-Kahfi [18]: 82)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

"Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ke-7, dan dikatakan juga kakek yang ke-10. Dan apapun pendapatnya (kakek ke-7 atau ke-10), maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang shalih akan dijaga keturunannya" (Al-Bidaayah wan-Nihaayah 1/348).

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ke-7 karena keshalihan seseorang...

Sa'iid bin Jubair rahimahullah berkata :

"Sungguh aku menambah shalatku karena putraku ini"
Berkata Hisyam : "Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya" (Tahdziibul Kamaal X/366 dan Hilyatul Auliyaa' IV/279)

Umar bin โ€˜Abdil โ€˜Aziz rahimahullah berkata :

"Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu" (Jamiโ€™ al-โ€˜Ulum wal Hikam 1/467)

Sekarang coba renungkan, apakah sudah termasuk orang-orang yang shalihโ€ฆ? Banyak beribadahโ€ฆ? Selalu menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat...?

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel, masih lalai dengan shalat, tidak mau diajak shalat ke masjid, sulit untuk menghafal al-Qur'an, tidak mau diajak ke taklim, tidak mau menutupi aurat dll...

"Bisa Jadi" sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya...

Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya, lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih...?

Akan tetapi pada asalnya insya Allah jika seorang ayah atau ibu itu shalih dan shalihah, maka Allah Ta'ala pun akan menjaga anak-anaknya...

Wahai Saudaraku...

Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah...?

Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya...?

Dan jika engkau menginginkannya..

Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua...?

Allah Ta'ala berfirman :

"...Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat..." (QS. Az-Zumar [39]: 15)

โœ Ustadz Najmi Umar Bakkar

โ„๐ŸŒธ*:::::::* ๐Ÿƒ๐ŸŽ๐Ÿƒ *:::::::*๐ŸŒธโ„

MAU DIBAWA KEMANA ANAKMU?โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„Anda tahu siapa juara 1 Hafidz Indonesia 2017? Ya, dia adalah Ahmad (Muhammad G...
18/08/2017

MAU DIBAWA KEMANA ANAKMU?

โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„โ„

Anda tahu siapa juara 1 Hafidz Indonesia 2017? Ya, dia adalah Ahmad (Muhammad Ghazali Akbar) santri ponpes De Muttaqin Yogyakarta.

Ahmad anak yatim, asal Tegal. Menghafal Al qur'an 30 Juz dalam waktu 8,5 bulan.Keunggulan Ahmad, selain hafalannya yang kuat, Ahmad tenang dan suaranya indah. Bahkan ia mampu melakukannya walau membaca mundur ayat sampai 100 halaman!

Lalu siapa juara lainnya? Dialah Kamil (Kamil Ramadhan) asal Magelang, santri ponpes De Muttaqin Yogya juga. Hafal 30 juz dalam waktu 6.5 bulan, dan juga mampu menghafal 500 hadits!

Kamil juga Anak yatim, ayahnya meninggal ketika kamil belum berusia 2 tahun. Kamil bahkan pernah menjadi pengemis untuk membantu biaya sekolah kakaknya. MasyaAllah.

Walau mereka sama2 yatim, tapi mereka mungkin lebih dekat dengan Allah daripada kita. Walau masih kecil, mereka juga mungkin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Al Qur'an daripada kita. Saya sangat yakin, anak2 yang begitu alim dan taat beragama ini lahir karena buah kesabaran dan ketaqwaan orang tuanya dahulu dalam mendidik dan membesarkannya.

Sungguh jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.

Namun, jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

"JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN AL-QURAN, IA BELAJAR MENJADI HAMBA SEJATI DAN MENJADI RAHMAT BAGI SEMESTA INI"

Semoga Allah menganugerahkan kita anak-anak yang shalih seperti Ahmad dan Kamil. Ingatlah untuk selalu membawa mereka pada ketaatan, bukan kesenangan dunia yang melalaikan.

Akhukum fillah,
Erwin Pandu

Bismillaah, Ummi... Abi... Ajarkan Anak-anak kita TAUHID sejak dini. Bahkan sejak mereka baru dilahirkan. Ajaklah mereka...
16/08/2017

Bismillaah,

Ummi... Abi...

Ajarkan Anak-anak kita TAUHID sejak dini. Bahkan sejak mereka baru dilahirkan.

Ajaklah mereka bicara, walaupun usianya belum genap satu hari.

"Bismillah... nak minum susu yuk, ASI ibu ini dari Allaah, Allaah yang menjadikannya Makanan untukmu saat ini. Semoga Allaah memberkahinya..."

Ummi.. Abi...

ketika engkau mendapati anakmu terjatuh, terbentur dinding, terguling, lalu seketika mereka menangis hingga menjerit kesakitan,
Jangan katakan "Uuh Sayang, mana yang sakit nak? Temboknya nakal ya? Pukul ya..."

Jangan umm.. jangan abi..
jangan ajari mereka untuk "marah" kepada Takdirnya.

Jangan ajari mereka untuk "kecewa" kepada Takdirnya.

Jangan ajari mereka untuk "membalas" setiap hal yang tidak baik yang menimpa dirinya.

Kita tidak sadari, kita sedang mendidik mereka menjadi pribadi pemarah, pendendam & mengajarkan kepuasan untuk membalas sesuatu yang buruk yg menimpanya.

Ini akan membekas dan tertanam dalam dirinya hingga dewasa.

Ya ummi.. abi... hingga dewasa. Jika tidak segera engkau perbaiki.

Ummi.. abi.. ajarkan mereka TAUHID...
ajarkan mereka kalimat "Qoddarullaah" dan "Qoddarullaahu Wama Sya'a Fa'ala"
Ajarkan mereka beriman kepada Takdir Allaah.

Dengan begitu, mereka akan memiliki hati yang lapang, jiwa yang tenang. Mereka tidak akan menjadi si kecil yang pemarah, mereka tidak akan mudah kecewa terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, karena dengan memahamkan mereka kepada Tauhid, mereka akan mengetahui dan menerima bahwa kehendak Allaah lah satu-satunya yang terbaik. Mereka akan memiliki hati yang terikat dengan RabbNya.

Mereka akan memohon terus menerus kepada RabbNya... akan sering mendatangi RabbNya dengan bibir dan Jari2 mungilnya.
Ketika kesedihan menyapanya, mereka akan berlari menuju Allaah.

Mereka mampu melenyapkan rasa takutnya karena mereka yakin bahwa Allaah akan melindunginya. Mereka mampu menahan emosinya, karena mereka mengerti bahwa Tidak ada satupun perbuatan Allaah yang sia-sia. Mereka semakin hari akan semakin memahami, bahwa Takdir Allaah maha sempurna.

Bandung, 07:12 AM
๐Ÿ“ Cherry Ummu Nathan

Baarakallaahu Fiikum..
Semoga Allaah ๏ทป senantiasa menjaga keluarga kita dari Api neraka.
Semoga kelak, Allaah ๏ทป menjadikan Surga Firdaus sebagai tempat terakhir untuk kita dan keluarga berkumpul selamanya.
Allaahumma Aamiin.

Ilmu parenting ๐Ÿ˜Š
12/06/2017

Ilmu parenting ๐Ÿ˜Š

Kump**an lagu2 islami anakDengan irama lagu anak-anakHappy singing ya AyBun ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰
12/06/2017

Kump**an lagu2 islami anak
Dengan irama lagu anak-anak

Happy singing ya AyBun ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰

Address

Grand Royal Permata
Jombang

Telephone

082134914040

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cinta Buku Anak Muslim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category