27/12/2021
AKU DI DALAM ASU
(Seekor makluk yang paling disayang Tuhan)
Sejujurnya...inilah aku, B**g!
Aku yang sangat beruntung
Walau di awal hidupku dimutilasi dengan kulit bumbung
Tubuhku di gantung, perasaanku selalu dipenthung-penthung
Kreativitasku dipasung, kecerdasanku dibendung
Tapi aku tak pernah menyerah jadi mendung
Apalagi disihir menjelma jadi belatung
Duhhhhh.....Biyung....Biyung...
Mengapa aku mengada hanya untuk ditimbun dendam bergunung?
Duhai orang-orang yang mengaku berdarah biru
(Sesumbar menyayang dan merawatku, karena takdir rah - aku batih trah kalian itu)
Berotak intelek, kalian katakan selalu
Untuk menghinaku yang lahir dari rahim bisu
Penghuni desa sepi tak ada aksara di atas batu
Gelapnya langit, kerontangnya sawah ladang meranggas waru
Tapi kemiskinan malam ajarkan cahaya-Nya jujur satuhu
Waktu berlarian, jejalkan empedu dari kalian ke mulutku
Piring dan cangkir kaleng di sudut dapur itu selalu menungguku
Sekepal nasi berkawan tahu tempe tersenyum rela jadi santapanku
Tapi mulutku selalu kaku, lidahku kelu, geligiku mengunyah tak mau
Aku tahu karena kuncup hati dalam rongga dadaku mendarah sembilu
Di luar tubuh keringku mulut-mulut itu menghina dan memaki-makiku: bocah bodo, anak asu!
Jiwa merah jambuku pun menggigil tapi darah juangku mengapi, membara, nafasku mengangin dan kaki-kakiku menjadi phinisi besi kayu
Semua derita membentang menjadi samudera biru
Aku berlayar, seekor camar mengawalku: mahaguruku
Gunung gunung ombak pernah menggulungku
Barisan badai badai pernah menghempaskanku
Tapi mahaguruku mengajariku jadi pesut dan hiu
Sampailah aku di Pulau Pena - dermagaku
Tak apa bisu, tak mengapa sunyi, juga sepa tanpa madu sepi melati. Tapi Tuhanku menemaniku -- di sini
Aku seekor ciptaan-Nya yang sangat Dia sayangi.
*) puja puji menutup tahun 2021