06/01/2026
Karawang itu unik. Tapi jujur aja, keunikan kita sering keburu lewat sebelum sempat dicatet. ๐
Di warung kopi, orang bisa cerita panjang soal sawah yang hilang, pabrik yang datang, kampung yang berubah, tokoh-tokoh lokal yang dulu disegani, sampai mitos-mitos gunung dan hutan yang masih dipercaya. Sayangnya, obrolan sehebat itu sering berhenti di meja kopi. Besoknya, ya ilang lagi.
Nah, di situlah kenapa Karawang perlu penerbit lokal.
Buku itu bukan cuma buat orang akademis atau anak kampus yang pakai kacamata tebal. Buku itu arsip ingatan. Kalau kita nggak nulis cerita kita sendiri, nanti cerita Karawang ditulis orang luarโdan belum tentu rasanya sama. Bisa jadi Karawang cuma dikenal sebagai โkota industriโ, titik di peta, tanpa jiwa dan tanpa cerita.
Penerbit lokal itu ibarat tukang nyatet obrolan warung kopi, tapi dibikin rapi. Cerita petani, buruh, seniman, ulama kampung, sejarah desa, sampai kegelisahan anak muda Karawangโsemuanya punya hak buat jadi buku. Bukan buat gaya-gayaan, tapi supaya anak cucu kita nggak cuma kenal Karawang dari baliho dan data statistik.
Dan ini penting juga buat pendidikan. Buku-buku lokal bikin anak sekolah ngerasa: โOh, ternyata tempat gue layak ditulis.โ
Itu efeknya gede. Rasa percaya diri daerah tumbuh, literasi naik, dan identitas nggak gampang hilang.
Lagipula, masa iya Karawang yang kontribusinya gede ke negeri ini nggak punya banyak buku tentang dirinya sendiri? Kita ini rajin produksi beras, rajin produksi industri, tapi produksi cerita sendiri masih kalah. ๐
Penerbit lokal bukan soal bisnis doang. Ini soal kedaulatan cerita. Supaya Karawang nggak cuma jadi objek, tapi juga subjek. Bukan cuma ditonton, tapi bisa ngomong.
Jadi ya, menurut saya, penerbit lokal itu penting. Biar obrolan warung kopi hari ini, besok bisa jadi buku. Dan 20 tahun lagi, masih bisa dibacaโtanpa harus nanya, โDulu Karawang itu kayak gimana sih?โ