21/01/2026
Jurus Lampu Senter: Menghadapi Masalah Tanpa Darah Tinggi
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Teman-teman semua yang insyaallah disayang Allah, dan semoga cicilannya pada lancar semua ya!
Pernah nggak sih ngerasa kalau hidup ini kayak benang kusut yang habis dikunyah kucing? Ruwet banget! Padahal sekarang zaman sudah canggih, apa-apa tinggal klik. Tapi kok ya masalah bukannya hilang, malah makin tumpang tindih kayak antrean sembako. Sampai kadang kita mikir, "Ya Allah, apa saya ini memang ditakdirkan buat pusing seumur hidup ya?"
Sabar dulu... mari kita main tebak-tebakan matematika sebentar. Kalau saya tanya, berapa hasil dari 2.004.678 dikali 0? Pasti anak SD juga tahu jawabannya: Nol! Padahal angkanya jutaan, kelihatannya serem dan bikin mual, tapi kok jawabannya gampang banget? Karena kita tahu rumusnya. Apapun masalahnya, kalau dikali nol, ya habis.
Nah, begitulah hidup. Di dunia ini sebenarnya nggak ada masalah yang beneran "susah". Yang ada itu cuma kita yang "belum ketemu rumusnya".
Allah SWT sudah berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Jadi kalau kita ngerasa beban ini berat banget sampai mau copot bahu, itu tandanya "lampu" atau ilmu kita belum nyampai ke level masalah itu. Kita panik bukan karena masalahnya raksasa, tapi karena kita lagi di tempat yang gelap.
Ibaratnya nih, kamu masuk ke kamar yang gelap gulita. Lagi enak-enak jalan, jederrr! Kaki kepentok meja. Kamu marah-marah, meja nggak bersalah pun kamu maki-maki sampai bawa-bawa nama binatang. Padahal, mejanya diem aja. Begitu saklar lampu kamu cetek-in dan lampu nyala, baru deh malu sendiri. "Oalah, ada meja di situ, pantesan kepentok." Kamu tinggal menghindar, beres kan? Masalahnya bukan mejanya, tapi kamu nggak lihat mejanya!
Makanya, kita disuruh belajar dari ayunan sampai ke liang lahat. Bukan biar gaya-gayaan punya gelar berderet kayak kereta api, tapi supaya kita punya "lampu senter" yang terang buat nyari jalan.
Orang yang ilmunya luas itu, dadanya juga jadi luas. Masalah sebesar gajah kalau ditaruh di lapangan bola, ya nggak berasa. Tapi kalau gajah kamu paksa masuk ke kamar kos-kosan ukuran 2x3 meter, ya mampet! Napas aja susah. Sama kayak orang yang bisa berenang. Kalau dia nyemplung ke kolam, ya dia santai aja, malah gaya punggung atau gaya batu (kalau mau tenggelam). Baginya, kolam itu bukan masalah, tapi tempat main.
Tapi bagi kita yang nggak bisa berenang, boro-boro mau gaya, kena air dikit aja sudah panik kayak lihat mantan lewat. Padahal airnya sama, dalamnya sama. Yang beda cuma satu: ilmunya.
Bahkan nih, untuk urusan "kalah bola" saja butuh ilmu. Kalau Arsenal kalah lagi di menit akhir, itu bukan kurang strategi, itu kita yang kurang ilmu sabar! Ilmu buat nerima kalau memang belum nasibnya juara.
Jadi, mumpung hari belum malam, mumpung belum "gelap" total, ayo perbanyak tabungan cahaya kita. Allah juga sudah mengingatkan kita dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
Bukan cuma derajat di akhirat, tapi derajat ketenangan hati di dunia. Biar kalau ada masalah, kita nggak langsung "reaktif" kayak mercon disulut, tapi bisa tenang karena punya kuncinya.
Yuk, sekarang kita cari "baterai" buat lampu kita lewat jalur langit. Kita ambil air wudhu, kita bersihkan hati, kita minta sama Yang Punya Cahaya biar hidup kita terang benderang.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.