21/02/2026
Bolehkah ngumpul-ngumpul sama non muslim?
Bolehkah non muslim masuk ke masjid?
Bolehkah mall diadu dengan masjid?
Kemarin, keluarga besar kami ngumpul. Banyak juga yang non muslim. Ini adalah agenda tahunan kami, yang biasanya diisi dengan makan-makan dan tentunya saling bermaafan. Namanya juga suasana Lebaran.
Suatu ketika teman saya, seorang Chinese, mengantarkan saya ke masjid. Dia tidak masuk, berdiri saja di luar. Terus-terang, hati saya kurang nyaman melihatnya. Bukan apa-apa. Kalau di luar kan panas, kena terik matahari. Kalau di dalam, insya Allah lebih adem. Sekian menit, hati saya merasa bingung dan serba salah (padahal dalam ujian, kalau serba salah, artinya nggak lulus, hehehe).
Di lain kesempatan, saya berada di sebuah masjid di Korea. Ketika saya keluar dan memasang sepatu, tahu-tahu saya melihat seorang ibu-ibu mendekat ke masjid. Tak berkerudung, sepertinya dia non muslim. Seorang pengurus masjid langsung mencegah dia masuk. Sayang sekali, saya tidak mengerti Bahasa Korea (juga nggak pernah menonton drama Korea, hehehe). Dan mereka juga tidak mengerti Bahasa Inggris. Ya sudah, saya memilih untuk diam saja, apalagi saya pendatang. Akhirnya ibu-ibu itu tidak jadi masuk masjid. Padahal mungkin saja dia tertarik dengan Islam, pengen belajar, namun kesempatan langka itu hilang dan melayang begitu saja.
Di Masjid Turki di Jepang, saya melihat non muslim ramai berkunjung dan mereka diizinkan masuk. Paling banter mereka dipinjamkan kerudung sebelum masuk (tentunya mereka yang wanita, masak pria berjilbab?). Tak sedikit di antara pengunjung yang tertarik dengan Islam. Setidaknya, sesama pemeluk agama membuang prasangka, saling mengenal, saling menghormati, dan hidup berdampingan. Bukankah itu indah sekali? Ya, lebih indah daripada Indah Nevertari dan Indah Kalalo, hehehe.
Sewaktu kecil di Pekanbaru, saya punya tetangga non-muslim. Seorang ibu-ibu dan punya hotel. Dia sering masuk ke musholla kami. Kadang sekedar silaturahim, kadang ikut pengajian. Ibu-ibu yang lain senang menerimanya, termasuk nenek saya. Satu kali pun, mereka tak pernah mengungkit-ungkit soal agamanya. Dan dia bukanlah umat Kristiani abal-abal. Dia juga anak-anaknya adalah umat Kristiani yang taat. Salah satu buktinya, mereka aktif di berbagai kegiatan gereja.
Penasaran, saya pun bertanya sama guru-guru saya, “Bolehkah non muslim masuk masjid?” Nggak dilarang ternyata. Namun baiknya, ia masuk ke masjid disebabkan keperluan khusus dan diizinkan salah satu pemimpin muslim. Apakah harus mandi junub dahulu? Nah, syarat mandi ini hanya berlaku buat muslim. Kalau non muslim? Nggak harus. Sebagian tulisan ini, pernah saya munculkan di buku saya, Success Protocol (lanjutan dari 7 Keajaiban Rezeki).
Imam Syafi’i, Imam Hanafi, dan Imam Qurthubi membolehkan non muslim masuk ke masjid. Ini juga pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Utsaimin, dan Al-Albani. Kalaupun ada pengecualian, hanyalah Masjidil Haram. Dan sejarah menunjukkan, tamu-tamu non muslim dari Taif dan pendeta-pendeta dari Najran pernah diterima Nabi di masjid. Sewaktu masih musyrik, Abu Sufyan dan Umair bin Wahab juga pernah masuk ke masjid. Karena peristiwa-peristiwa itulah, kemudian Barack Obama diterima oleh Mustafa Yakub (Imam Besar Masjid Istiqlal saat itu).
Dalam bisnis ritel, ada yang namanya traffic generator (pengundang keramaian). Misalnya sebuah mall. Lazimnya, yang menjadi traffic generator adalah Hypermart, Giant, dan food court. Dengan begini, otomatis mall tersebut akan ikut ramai. Sekian lama saya berpikir, masjid hendaknya menjadi traffic generator. Lalu di sekitar masjid atau di lantai bawah masjid, dibuatlah unit-unit bisnis. Insya Allah unit-unit bisnis itu akan ikut ramai. Di Indonesia sudah banyak yang begini. Kalau nggak percaya, googling aja di Yahoo, hehehe!
Tiba-tiba saja, teman saya menepuk bahu saya dan menyambar, “Mas Ippho, gimana kalau sebaliknya?” Terus, dengan antusias ia menjelaskan, “Begini. Mall, plaza, pasar, dan tempat wisata yang sudah terlanjur ramai, dibuatkan saja masjid yang bagus di dalamnya atau di sampingnya. Nah, mudah-mudahan masjidnya akan ikut ramai.” Saya pun tersenyum. Ngomong-ngomong, apa pendapat Anda? Bantu share ya.