Toko Buku Naimata

Toko Buku Naimata Buku-buku sastra, filsafat dan humaniora dengan harga terjangkau di Kota Kupang.

Kiat Menjadi Diktator: Pelajaran dari Para Pemimpin EdanMikal HemPenerjemah: Irwan SyahrirMarjin KiriRp79.000Politikus m...
25/08/2024

Kiat Menjadi Diktator: Pelajaran dari Para Pemimpin Edan
Mikal Hem
Penerjemah: Irwan Syahrir
Marjin Kiri
Rp79.000

Politikus manakah di Indonesia yang tidak punya Hasrat terpendam untuk bisa berkuasa secara mutlak tanpa direcoki oleh tetek-bengek aturan demokrasi dan gangguan kubu oposisi?

Dalam satire politik kocak yang sudah diterjemahkan ke belasan bahasa ini, jurnalis Mikal Hem menguraikan kiat-kiat sukses untuk menjadi dictator, dari mulai cara mencurangi pemilu, memperkaya diri sendiri dan keluarga, hingga membangun kultus individu guna melanggengkan kekuasaan.

Belajarlah dari para kampiun ini:
- Cara menjadi ilmuwan terpandang pemimpin lembaga riset tanpa perlu lulus sekolah
- Cara menjadi penulis bestseller dengan mewajibkan seluruh pegawai negeri membeli bukumu
- Cara membangun ibu kota baru dengan menarik donasi dari siswa sekolah

“Menggelikan sekaligus menggundahkan, buku satire politik suka-suka.” Kirkus Review

“Topik serius digarap dengan cara yang paling jenaka … ia bisa menjadi pengingat akan korupsi, pembunuhan, dan kacaunya pemerintahan.” Faedrelandsvennen

“Kajian pemikiran politik yang luar biasa lucu, serius di balik permukaannya, berisi lelucon gelap dan fakta-fakta yang bukan main.” Dagbladet

Runtuh dari Dalam: Serangan Komersialisasi terhadap Pagar Api Jurnalistik di IndonesiaNanang KrisdinantoMarjin KiriRp124...
25/08/2024

Runtuh dari Dalam: Serangan Komersialisasi terhadap Pagar Api Jurnalistik di Indonesia
Nanang Krisdinanto
Marjin Kiri
Rp124.000

Buku ini ditulis dengan semangat membunyikan lonceng tanda bahaya bagi jurnalisme di Indonesia. Pagar api jurnalistik (firewall)—salah satu filosofi dasar jurnalisme yang selama ini dibayangkan sebagai sekat yang membatasi ruang redaksi dan ruang bisnis dan tidak boleh diterabas siapa pun demi menjaga independensi atau objektivitas praktik jurnalisme—tengah diruntuhkan secara terang-terangan oleh desakan komersialisasi dalam industry media massa.

Fenomena ini terlihat dalam sejumlah praktik kontemporer: meluasnya keterlibatan jurnalis dalam aktivitas mencari iklan; meluasnya penggunaan advertorial yang menyamarkan iklan sebagai berita; pengukuran kinerja jurnalis dengan indikator iklan; meluasnya konsep sinergi divisi redaksi-divisi bisnis untuk mendisiplinkan jurnalis. Yang paling mengkhawatirkan, praktik-praktik tersebut dijalankan oleh jurnalis sendiri dengan kesadaran yang semakin bergeser bahwa mereka melakukan sesuatu yang benar dan lumrah.

Memakai pemikiran sosiologis Pierre Bourdieu mengenai arena, habitus, dan doksa, buku ini menelaah fenomena ini dengan rinci berdasarkan kasus surat kabar-surat kabar yang terbit dan beredar di Surabaya. Ia mengkaji bukan hanya kebijakan formal pemberitaan di tingkat Perusahaan, melainkan juga bagaimana individu wartawan secara perorangan meresponsnya.

Serikat Buruh 1945—1948: Menduduki Stasiun, Menguasai Perkebunan, Menjalankan PabrikJafar SuryomenggoloPenerjemah: Keena...
25/08/2024

Serikat Buruh 1945—1948: Menduduki Stasiun, Menguasai Perkebunan, Menjalankan Pabrik
Jafar Suryomenggolo
Penerjemah: Keenan Nasution
Marjin Kiri
Rp86.000

“Serikat Buruh 1945—1948 tampak seperti sebuah karya sejarah perburuhan. Namun demikian, implikasi dari buku Suryomenggolo yang diriset dengan teliti serta memiliki argument yang cermat ini jauh melampaui hal-hal spesifik dari masa empat tahun aktivisme serikat buruh tersebut.” Southeast Asian Studies Vol. 3 No. 2

Tahun-tahun 1945—1948 bukan hanya menandai puncak dari masa revolusi Indonesia, tetapi juga menjadi masa awal pembentukan hubungan antara kaum buruh dengan negara Indonesia modern yang baru Merdeka.

Menimba dari banyak ragam sumber sejarah, Jafar Suryomenggolo merekonstruksi dorongan awal kaum buruh dalam membentuk dan memberi orientasi bagi serikat-serikat mereka selama periode genting tersebut. Buku ini menantang asumsi-asumsi yang ada selama ini yang melihat gerakan buruh sekadar sebagai perpanjangan tangan politik negara pascakolonial.

Kami Sudah Lelah dengan Kekerasan: Reformasi, Pembunuhan Munir, dan Pencarian Keadilan di IndonesiaMatt EastonPenerjemah...
25/08/2024

Kami Sudah Lelah dengan Kekerasan: Reformasi, Pembunuhan Munir, dan Pencarian Keadilan di Indonesia
Matt Easton
Penerjemah: Keenan Nasution
Marjin Kiri
Rp151.000

Pada suatu malam bulan September 2004, aktivis hak asasi manusia Munir bertolak ke Belanda dengan pesawat Garuda untuk memulai studi pasca-sarjananya, namun dia tak pernah tiba di Amsterdam dengan selamat. Munir tewas diracun dalam perjalanan.

Ditulis berdasarkan wawancara, pengamatan di ruang siding, bocoran dokumen-dokumen, dan berkas-berkas kepolisian, karya Matt Easton ini menelusuri salah satu konspirasi pembunuhan paling dramatis di Indonesia. Dengan menarik kronologi dari masa muda Munir dan Suciwati, kasus Marsinah, 27 Juli, penculikan aktivis, penembakan Semanggi, lahirnya aksi Kamisan, hingga hasil pengadilan kasus Munir dan kesudahannya, kita akan membaca upaya penegakan HAM yang tak henti-hentinya diperjuangkan di Indonesia.

“Best Book of the Year” oleh majalah The Economist

“Terbaca Bagai kisah legal-prosedural whodunnit yang mencekam, seraya bukti perlahan-lahan terkuak dari rekaman-rekaman telepon, dokumen-dokumen hliang yang dipulihkan dari berkas-berkas computer yang sudah dihapus, dan saksi-saksi baru yang membuat penasaran bermunculan…” —The Economist

“Sangat penting bagi kita untuk mengenal naratif seperti ini: bagaimana riwayat seseorang bersilangan dengan sejarah bangsa. Idealisme yang dibayar Munir dengan hidupnya, bermakna sebagai Pelajaran, dari seorang besar yang sederhana, tentang perjuangan kemanusiaan.” —Seno Gumira Ajidarma

Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi AntikolonialBenedict AndersonPenerjemah: Ronny AgustinusMarjin Kir...
25/08/2024

Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial
Benedict Anderson
Penerjemah: Ronny Agustinus
Marjin Kiri
Rp99.000

Dalam buku ini, Benedict Anderson menyelidiki gelanggang perpolitikan dan kebudayaan akhir abad ke-19 dengan berfokus pada Gerakan anarkisme militant di Eropa dan benua Amerika, runtuhnya imperium Spanyol yang ditandai dengan pemberontakan bersenjata José Marti di Kuba dan tumbuhnya nasionalisme Filipina, serta protes-protes anti-imperialis di Tiongkok dan Jepang. Anderson memetakan interaksi intelektual yang kompleks antara dua penulis besar Filipina, José Rizal dan Isabelo de los Reyes, dengan perpolitikan dan sastra avant-garde Eropa dan menunjukkan bagaimana simpul-simpul terbentuk dan terhubung dalam suatu “globalisasi perdana” antara gerakan-gerakan nasionalis dengan para anarkis global saat itu.

Di Bawah Tiga Bendera adalah karya brilian yang sungguh orisinal, eksplorasi menggetarkan tentang keterkaitan saling-silang antara perjuangan kemerdekaan di tingkat nasional dengan arus politik di aras global.

“Anderson mengajukan argumentasinya dengan kegigihan seorang peneliti yang sedang membongkar sejarah tersembunyi, merujuk sumber-sumber dari berbagai bahasa dalam rentang yang mengagumkan … paparan memukau tentang arus global ide-ide anarkis dan anticolonial.” Publishers Weekly

“Kisah sejarah perlawanan anticolonial yang ganjil namun memikat.” Guardian

“Anderson mencoba menyajikan hubungan dinamis yang terlupakan antara Gerakan anarkis internasional abad ke-19 dengan nasionalisme Filipina yang baru tumbuh.” A Contra Corriente

“Anderson sendiri tak bisa dengan gampang digolong-golongkan. Seorang ilmuwan politik dan poliglot sejati dengan minat yang tak habis-habisnya pada budaya, sejarah, dan jelas segala sesuatu lainnya… [ia] menderetkan bukti-bukti yang tak lazim, yang disusun secara inovatif, dan tak sungkan-sungkan menampakkan simpati politiknya sendiri.” In These Times

Strange Pilgrims (Para Peziarah yang Janggal)Buku CerpenGabriel García MárquezGramedia Pustaka UtamaRp84.000Para Peziara...
25/08/2024

Strange Pilgrims (Para Peziarah yang Janggal)
Buku Cerpen
Gabriel García Márquez
Gramedia Pustaka Utama
Rp84.000

Para Peziarah yang Janggal adalah kumpulan dua belas cerita pendek tentang kehidupan orang-orang Amerika Latin di Eropa. Di dalamnya, García Márquez bertutur tentang kemuraman, kegigihan, duka lara, dan aspirasi dalam menjalani kehidupan di negeri asing.

Di Barcelona, seorang pelacur Brazil yang mulai uzur melatih anjing-anjingnya untuk menangis di makam yang telah dipilih untuk dirinya sendiri. Di Vienna, seorang wanita mencari nafkah dengan menjual mimpi-mimpinya. Di Jenewa, seorang sopir ambulans dan istrinya memberikan bantuan kepada mantan Presiden yang kesepian dan sekarat, tetapi sang mantan Presiden ternyata masih sangat ambisius.

Dan cerita-cerita lainnya.

Love in the Time of Cholera (Cinta di Tengah Wabah Kolera)NovelGabriel García MárquezGPURp203.000Lima puluh satu tahun, ...
25/08/2024

Love in the Time of Cholera (Cinta di Tengah Wabah Kolera)
Novel
Gabriel García Márquez
GPU
Rp203.000

Lima puluh satu tahun, sembilan bulan, dan empat hari telah berlalu semenjak Fermina Daza menolak cinta menggebu Florentino Ariza dan menikahi dr. Juvenal Urbino. Selama setengah abad, Florentino jatuh ke pelukan begitu banyak wanita, namun cintanya hanya untuk Fermina. Setelah bersumpah setia, Florentino menunggu-nunggu hari ketika ia dapat menjumpai Fermina lagi.

Ketika suami Fermina meninggal sewaktu mencoba menangkap burung nuri kesayangannya yang kabur ke pohon mangga, Florentino menyambar kesempatan ini untuk menyatakan cintanya yang abadi kepada Fermina. Tetapi bisakah cinta masa muda bersemi kembali pada masa-masa senja kehidupan mereka?

Pedro PàramoNovelJuan RulfoKata Pengantar: Gabriel García MárquezGramedia Pustaka UtamaRp70.000Demi memenuhi janji terak...
25/08/2024

Pedro Pàramo
Novel
Juan Rulfo
Kata Pengantar: Gabriel García Márquez
Gramedia Pustaka Utama
Rp70.000

Demi memenuhi janji terakhir kepada ibunya, Juan Preciado bertolak ke Comala untuk mencari ayahnya, Pedro Pàramo. Alih-alih menemukan kota yang selalu diceritakan dengan penuh nostalgia kebahagiaan, ia tib di Comala yang gersang dan ditinggalkan.

Namun, Comala tak sepenuhnya mati. Kota itu dipenuhi bayang-bayang dan gumaman, dan Juan Preciado pun mendengar berbagai kisah muram bagaimana Comala menderita dalam cengkeraman kekuasaan Pedro Páramo. Di celah-celah tipis antara yang hidup dan yang mati, Comala masih didiami penghuni-penghuni terakhirnya yang tak mau--dan tak bisa--pergi.

Pak Tua yang Membaca Kisah CintaNovelaLuis SepúlvedaPenerjemah: Ronny AgustinusMarjin KiriRp48.000Di desa kecil di tenga...
25/08/2024

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Novela
Luis Sepúlveda
Penerjemah: Ronny Agustinus
Marjin Kiri
Rp48.000

Di desa kecil di tengah rimba raya Ekuador, seorang kakek tua menyepi mencari kedamaian ditemani novel-novel cinta picisan yang didapatnya dari rumah bordil hilir sungai. Tapi kedamaian rupanya mustahil saat "peradaban" terus merangsek masuk menembus hutan. Ladang minyak. Demam emas. Perburuan. Alam pun membalas dendam lewat seekor macan kumbang. Seisi desa terancam dan si kakek tua tahu tak ada yang sanggup menghadapi hewan itu selain dirinya.

Kisah memukau tentang belantara Amazon dari seorang penulis Cile yang diasingkan oleh rezim militer Pinochet. Telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa dan difilmkan ke layar lebar.

Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan PalestinaSarah IrvingPenerjemah: Pradewi Tri ChatamiMarjin KiriRp77.000"Bobot buku...
24/08/2024

Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina
Sarah Irving
Penerjemah: Pradewi Tri Chatami
Marjin Kiri
Rp77.000

"Bobot buku kecil ini menonjok melebihi ketebalannya. Pembaca bukan hanya akan mendapat pemahaman mengenai ikon revolusioner Leila Khaled, tapi juga gerakan kiri Palestina yang lebih luas." Electronic Intifada

Di saat perjuangan kemerdekaan Palestina saat ini lebih banyak di(salah)pahami sebagai perang agama, penting dan menarik untuk melihat hidup dan kiprah salah satu ikon pembebasan Palestina, Leila Khaled, sebagai cara untuk menyelami realitas kompleks perjuangan Palestina­–mulai dari aksi-aksinya pada 1970an yang membawa sorotan dunia pada permasalahan Palestina, penentangannya terhadap kesepakatan Oslo, serta aktivismenya yang tak surut hingga kini dalam gerakan kiri.

Selain itu, kisah hidup Leila juga memberi gambaran tentang tegangan antara perjuangan bersenjata dan perjuangan politik, tegangan antara berbagai pandangan politik yang ada di Palestina, serta peran yang dimainkan pejuang-pejuang perempuan dalam sebuah masyarakat yang didominasi oleh nilai-nilai patriarki.

1970Henrique SchneiderDiterjemahkan dari bahasa Portugis oleh: Gladhys Elliona ISBN 978-602-0788-44-9134 + iv hlm; 14 x ...
24/08/2024

1970
Henrique Schneider
Diterjemahkan dari bahasa Portugis oleh: Gladhys Elliona
ISBN 978-602-0788-44-9
134 + iv hlm; 14 x 20,3 cm
Rp69.000

Peraih Prêmio Paraná de Literatura

21 Juni 1970. Final Piala Dunia 1970. Brasil lawan Italia. Seorang pemuda dilepaskan ke jalanan begitu saja dari sebuah mobil. Lebih dari seminggu sebelumnya dia diculik oleh aparat rezim militer, disekap dan disiksa atas tuduhan subversif. Pemuda itu—seorang pegawai bank biasa—tahu bahwa negerinya berada di bawah kediktatoran militer, tetapi tak pernah menggubrisnya atau menganggapnya masalah. Politik adalah hal yang dia rasa jauh dari kehidupan sehari-harinya. Sampai tiba malam penculikan dan penyekapan itu, politik dan tuntutan akan kebebasan tiba- tiba memperoleh makna baru baginya.
Namun di tengah keriuhan warga mengelu-elukan tim nasional Brasil berlaga di final Piala Dunia, adakah yang peduli dengan penderitaannya, adakah yang mendengar kisahnya? Lebih penting lagi, benarkah dia sudah bebas?

Matinya Toekang KritikAgus NoorEsai Pengantar dan Epilog: Ignas Kleden & Seno Gumira AjidarmaLamaleraRp35.000Esensi buku...
24/08/2024

Matinya Toekang Kritik
Agus Noor
Esai Pengantar dan Epilog: Ignas Kleden & Seno Gumira Ajidarma
Lamalera
Rp35.000

Esensi buku ini membicarakan ragam kritik, atau lebih tepatnya satir bahkan sarkas, terhadap berbagai ketimpangan sosial yang melanda Indonesia. Ketimpangan sosial ini terutama berkaitan dengan pola-pola relasi kuasa yang dijalankan institusi-institusi “mapan”, seperti negara, agama juga lembaga-lembaga masyarakat lainnya. (ekorantt.com)

Hanya penulis yang mengenal dunia panggung dan selalu membayangkan teater sebagai peristiwa komunikasi sosial, yang bisa menyiapkan teks sebagai ruang bermain seorang aktor, karena tugas seorang aktor memang memberi nyawa setiap kata-kata. Bersyukur saya bisa berpartner dengan Agus Noor untuk selalu menghidupkan naskah-naskah monolognya. Selain bisa menguji kemampuan seni peran yang saya tekuni, saya juga bisa menyerap dan mencicipi kecerdasannya. Juga plastisitasnya dalam bersastraria. (Butet Kertarejasa, Aktor)

Lucu, cerdas, penuh sentilan menyegarkan. Membaca buku ini seperti menghidupkan pertunjukan dalam pikiran. (Rieke Dyah Pitaloka, Artis)

Tukang Kritik dalam Matinya Tukang Kritik adalah tukang kritik gadungan, dan yang gadungan lebih meyakinkan daripada yang asli. (Ayu Utami, Novelis)

Address

Jalan Mutis Tuan, Kelurahan Naimata
Kupang
85361

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Toko Buku Naimata posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Toko Buku Naimata:

Shortcuts

Share

Category