Plaza Lawu Madiun

Call Directions

Plaza Lawu Madiun Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Plaza Lawu Madiun, Shopping centre, Jalan Pahlawan No. 47, Madiun.

 ・・・Salah satu menu favorit JaCilious adalah COIN.Enak banget terutama Kalo diberi toping saos Dan sweet mayo. Cocok bua...
10/03/2019


・・・
Salah satu menu favorit JaCilious adalah COIN.

Enak banget terutama Kalo diberi toping saos Dan sweet mayo. Cocok buat lauk juga.

Btw, ini produk impor loh kawan kawan JaCilious.

Penasaran kan RASAnya gimana?
Langsung datang aja ke gerainya😁

Tahu bioskop Lawu Madiun? Selamat, anda termasuk generasi jaman ku now :D :D BIOSKOP LAWUditulis oleh Mas TridjokoPada s...
01/03/2019

Tahu bioskop Lawu Madiun? Selamat, anda termasuk generasi jaman ku now :D :D

BIOSKOP LAWU
ditulis oleh Mas Tridjoko

Pada suatu hari di tahun 2005 dalam perjalanan darat Semarang-Madiun, anak saya Ditta Ayu nanya,”Pah, dulu waktu masih di Madiun papa kalau begadang (hang out) dengan teman-teman papah kalau malam Minggu dimana ?”, tanyanya asal-asalan.

“Hah, begadang ?“, tanya saya balik seolah mau konfirmasi. Padahal saya lagi menarik satu atau dua tarikan nafas untuk menjawab pertanyaan yang mudah-mudah-sulit itu. Apalagi konsentrasi kedua tangan saya lagi sibuk megangi stir mobil E-class saya mengikuti jalanan hutan jati Ngawi yang berliuk-liuk naik turun itu. (E-class = sebutan saya untuk mobil Escudo saya. Malahan sebenarnya bukan Escudo tapi Sidekick, versi yang lebih murah daripada Escudo)..

Sayapun menghela satu dua nafas lagi sambil tetap nyopir. Isteri saya di sebelah tambah nyenyak tidurnya, seolah-olah guncangan mobil tambah meninabobokannya. Anak saya yang satu lagi Dessa Ayu mengompori adiknya, “Iya pah, iya pah, ceritain dong….”

“Di depan bioskop Lawu !!” jawaban saya mengejutkan seolah disetrum belut listrik Afrika. “Dimana tuh letak Bioskop Lawu, selama ke Madiun kok aku nggak pernah lihat“, kata Ditta.

Yah, sebelumnya waktu jaman awal-awal Orde Baru (1967-1977), saya agak sedih tapi bangga melihat perkembangan kota kecil saya Madiun. Sedih karena Madiun tidak sepesat perkembangan kota-kota lainnya seperti Solo, Yogya ataupun Kediri yang kira-kira seukuran dengan Madiun. Seolah Madiun sengaja diacuhkan pembangunannya oleh penguasa Orde Baru. Maklum, stigma Madiun sebagai kota “kiri” dan “Orde Lama”, masih sangat kental. Saya yang dari kecil tinggal di Madiun bisa merasakan, dulu waktu jaman Orde Lama, kota Madiun sangatlah gegap gempita dikunjungi oleh masyarakat internasional, dimana banyak pilot-pilot bule dari Ceko dan Soviet banyak yang tinggal di Madiun. Maklum lapangan terbang militer terbesar dan terpenting berada di desa Maospati, sekitar 7 kilometer di sebelah barat kota Madiun. Sekitar tahun 1963, lapangan terbang Maospati (saya lupa apakah waktu itu sudah bernama Lanud Iswahyudi ?) mempunyai puluhan bahkan ratusan pesawat militer berbagai jenis, ada pesawat latih, pesawat tempur buru sergap, pesawat tempur pembom dan serangan darat, serta pesawat-pesawat pembom berbadan ramping yang bisa terbang tinggi semacam Tu-16.

Bangga, karena dengan tidak berkembangnya Madiun dalam 10 tahun pertama Orde Baru berkuasa, semuanya yang ada di Madiun seolah di-freeze perkembangannya alias keaslian kota Madiun dipreservasi. Sehingga layout kota Madiun, bangunan-bangunan kotanya, masyarakatnya, semua nyaris tidak berubah. Dengan “dihabiskannya“ beberapa perguruan tinggi di Madiun – mungkin secara sengaja dan terencana – anak-anak lulusan SMA Madiun kalau melanjutkan kuliah harus pergi ke Yogya atau Surabaya. Akibatnya, Madiun dihuni oleh orang-orang tua atau pensiunan. Saya menyebutnya “kota pensiunan“. Banyak pegawai negeri, pegawai swasta, pensiunan ABRI, yang sudah memasuki masa pensiun akhirnya membeli tanah dan rumah di Madiun yang mungkin harganya agak miring dibandingkan dengan di Solo atau Yogya (di Amerika Serikat, negara bagian Florida adalah tujuan 80% pensiunan yang ingin meluangkan waktu tua dengan nyaman, makanya ada film “Golden Girls” yang dulu pernah diputar secara serial di RCTI. Kemanapun kita melangkah di Florida, kita bakalan ketemu bule-bule sepuh yang pakai baju santai bahkan bikini !!)…

Pada saat saya lulus SMA bulan Desember 1975, di Madiun masih ada 3 gedung bioskop yaitu Lawu di depan Hotel Merdeka di Jalan Pahlawan, lalu Arjuna yang terletak persis di sebelah utara alun-alun, dan yang lahir terakhir adalah Madiun Theatre di Jalan H.O.S. Cokroaminoto agak ujung sebelah selatan, sudah mendekati daerah Sleko (kita menyebutnya “Slekoslovakia“, Ibu Ling Ling yang dulu bekerja di Binus punya rumah di daerah ini)…

Jika gedung bioskop Madiun Theatre sudah dengan arsitektur tahun 1970an, maka gedung bioskop Arjuna arsitekturnya mirip hanggar atau gudang lengkap dengan atap sengnya.

Tapi memang yang paling keren adalah gedung bioskop Lawu yang dimiliki oleh pemerintah kota Madiun yang berarsitektur Art Deco ini. Bentuk bangunan yang merupakan gabungan antara garis-garis tegas dan lengkung ini didominasi oleh warna abu-abu. Seingat saya Hotel Merdeka yang terletak persis di depan bioskop Lawu aslinya juga berarsitektur Art Deco. Selain itu di kota Madiun yang berarsitektur Art Deco adalah gedung kantor walikota Madiun yang juga terletak di Jalan Pahlawan..(gedung ini sangat anggun, bahkan mungkin paling anggun di antara gedung-gedung tua kota Madiun, dan untungnya sampai sekarangpun gedung ini masih tetap dipreservasi bentuknya..)..

Dibanding dengan masa SD dan SMP yang gilang-gemilang, masa SMA saya termasuk menyedihkan, bahkan…saya tidak mau mengenangnya barang sedetikpun. Mungkin selepas SMP Desember 1972, seharusnya saya memilih SMA 2 daripada SMA 1 yang terkenal borjuis. Lompatan kondisi sekolah dari SMP 2 yang proletar dan dekat Pasar Kawak ke SMA yang borjuis sangat membingungkan jiwa saya. Semua anak pejabat, anak orang kaya, anak-anak nakal dan susah diatur, semuanya ada di SMA 1. Bahkan waktu saya SMA, tidak ada anak lelaki yang tidak berambut panjang, padahal anak lelaki siswa SMA lainnya yaitu SMA 2 dan SMA 3 pada plontos-plontos rambutnya..(ada cerita menarik tentang hal ini, lain kali saya akan cerita)…

Jadi, dengan kondisi seperti itu, 99% dari malam Minggu saya kelabu. Akhirnya jika malam Minggu saya dan kawan-kawan lainnya hanya melihat saja orang nonton bioskop di Madiun Theatre. Memang melihat siapa saja pasangan yang nonton di bioskop paling top ini merupakan pemandangan menarik. Ibaratnya melihat pasangan artis yang sering muncul di Infotainment sedang nonton di 21 Plaza Senayan.. (Untunglah, sebatang rokok Kerbau, Gudang Garam, Wismilak atau Dji Sam Soe “save the game” dengan mengalihkan perhatian dari pemandangan glamour ke suasana hening dan transedental..Makanya, jika ada orang yang mencap merokok itu 100% buruk, I would not agree…)

Selepas melihat pasangan selebritis si X dan si Y melenggang masuk gedung bioskop, rombongan saya yang biasanya terdiri dari 2-3 motor dengan 4-6 orang kawan ini menuju ke “buk“ (sebutan dari tempat duduk dari semen, mungkin dari bahasa Belanda) bioskop Lawu yang letaknya sekitar 1 km ke sebelah utara.

Tidak seperti Madiun Theatre yang glamor, bioskop Arjuna di utara alun-alun dan bioskop Lawu di Jalan Pahlawan suasananya agak buram dan suram dengan lampu-lampunya yang temaram. Tidak hanya filmnya yang kebanyakan “second run“ tapi harga tanda masukpun tidak mahal. Anehnya, keadaan gedung bioskop yang kumuh dan agak buram justru lagi ngetrend di luar negeri, seperti yang saya lihat di Indiana movie theater di Jalan Kirkwood, Bloomington dulu (bahkan WCnyapun tidak ada pintunya, suatu hari saya lihat bule lagi “ngeden” pas boker di belakang saya sewaktu saya mau buang air kecil. Mana tahan ?)..

Lampu-lampu temaram di depan bioskop Lawu, jalan Pahlawan yang lebar dengan mobil, motor dan sepeda lalu lalang, seolah cepat menghapus kegundahan yang barusan didapat di bioskop Madiun Theatre. Obrolan antar kawanpun semakin malam semakin gayeng, rokok 1 pakpun kami bagi habis untuk diisap di malam Minggu kelabu yang panjang ini. Semakin malam, kalau perlu 1 batang rokokpun diisap bergantian antar 2-4 orang teman, yang penting gayeng …..

Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 12 malam. Kota Madiunpun semakin diselimuti kantuk. Motor, becak dan sepeda di jalanan semakin jarang. Kami memutuskan untuk pulang. Setelah ngobrol lagi di rumah kawan yang letaknya 1-2 blok dari rumah saya, sayapun pulang dengan gontai pada jam 02.30 pagi.

Sesampai di depan rumah, pagar saya buka pelan-pelan. Kaki sayapun menginjak batu-batu koral yang sengaja ditaruh oleh bapak saya untuk menandai kapan saya pulang. Rupanya bapak saya belum tidur atau masih tidur-tidur ayam. Beliau menjawab suara gesekan batu koral dengan berdehem, “Ehm…ehm….” dengan suara agak keras. Sayapun melompat pagar setinggi 2,5 meter dan menuju kamar saya di pavilyun. Tanpa melepas pakaian dan sepatu, sayapun segera jatuh tertidur…..zzzz….zzzz…..zzzz…..

Epilog : di sekitar tahun 2003, gedung bioskop Lawu diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta. Gedung dengan arsitektur Art Deco yang anggun dengan Perpustakaan yang penuh buku-buku sastra di sayap sebelah utaranya itu lalu diratakan dengan tanah dan berdirilah mall dengan nama Sri Ratu.

Saya kehilangan situs sejarah masa muda saya, dan anak saya Dessa dan Dittapun sulit membayangkan seperti apa gedung bioskop Lawu yang anggun itu di jaman dulu. Untuk itulah cerita ini ditulis…

Sumber:

Pada suatu hari di tahun 2005 dalam perjalanan darat Semarang-Madiun, anak saya Ditta Ayu nanya,”Pah, dulu waktu masih di Madiun papa kalau begadang (hang out) dengan teman-teman papah kalau malam …

Address

Jalan Pahlawan No. 47
Madiun
63131

Opening Hours

Monday 09:00 - 22:00
Tuesday 09:00 - 22:00
Wednesday 09:00 - 22:00
Thursday 09:00 - 22:00
Friday 09:00 - 22:00
Saturday 09:00 - 22:00
Sunday 09:00 - 22:00

Telephone

+6285103953577

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Plaza Lawu Madiun posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share